MENDIDIK ANAK

Sabtu, 24 Juli 2010

Bacaan : 1 Samuel 2:12-26

2:12 Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,

2:13 ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu. Setiap kali seseorang mempersembahkan korban sembelihan, sementara daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu bergigi tiga di tangannya

2:14 dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke dalam belanga atau ke dalam periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri. Demikianlah mereka memperlakukan semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo.

2:15 Bahkan sebelum lemaknya dibakar, bujang imam itu datang, lalu berkata kepada orang yang mempersembahkan korban itu: “Berikanlah daging kepada imam untuk dipanggang, sebab ia tidak mau menerima dari padamu daging yang dimasak, hanya yang mentah saja.”

2:16 Apabila orang itu menjawabnya: “Bukankah lemak itu harus dibakar dahulu, kemudian barulah ambil bagimu sesuka hatimu,” maka berkatalah ia kepada orang itu: “Sekarang juga harus kauberikan, kalau tidak, aku akan mengambilnya dengan kekerasan.”

2:17 Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN.

2:18 Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN; ia masih anak-anak, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan.

2:19 Setiap tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya, apabila ia bersama-sama suaminya pergi mempersembahkan korban sembelihan tahunan.

2:20 Lalu Eli memberkati Elkana dan isterinya, katanya: “TUHAN kiranya memberikan keturunan kepadamu dari perempuan ini pengganti yang telah diserahkannya kepada TUHAN.” Sesudah itu pulanglah mereka ke tempat kediamannya.

2:21 Dan TUHAN mengindahkan Hana, sehingga dia mengandung dan melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan lagi. Sementara itu makin besarlah Samuel yang muda itu di hadapan TUHAN.

2:22 Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan,

2:23 berkatalah ia kepada mereka: “Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu?

2:24 Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran.

2:25 Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?” Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.

2:26 Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.

MENDIDIK ANAK

Film Horsemen yang beredar di Indonesia pada September 2009, berkisah tentang seorang detektif yang bernama Aidan Breslin. Istrinya telah meninggal dan ia harus mengurus dua anaknya sendirian. Kesibukannya dalam pekerjaan membuat ia jarang sekali punya waktu buat kedua anaknya. Apalagi ketika ia ditugaskan untuk menyelidik kasus pembunuhan sadis di kotanya. Akhir kisah, Breslin berhasil mengungkap kasus pembunuhan tersebut yang ternyata bersumber pada anak-anak yang kehilangan perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Tragisnya, Alex, anak sulungnya, ternyata juga terlibat.

Dalam kasus yang berbeda, Eli mengalami hal serupa. Anak-anaknya hidup bergelimang dosa. Alkitab menyebut mereka orang-orang dursila (ayat 12). Tampaknya kesibukan Eli sebagai imam bagi bangsa sebesar Israel dengan berbagai tuntutan dan persoalannya, telah begitu banyak menyita waktu dan tenaga Eli. Sehingga, ia tidak lagi dapat memantau anak-anaknya. Ia hanya mendengar dari orang lain tentang perbuatan mereka (ayat 23). Kerap kali sebagai orangtua, kita hanya fokus pada kebutuhan materi anak-anak. Padahal kebutuhan rohani, berupa waktu bersama dan perhatian, tidak kalah penting.

Selain itu, rupanya Eli juga tidak tegas kepada anak-anaknya. Ketika tahu bahwa anak-anaknya telah berbuat dosa, ia tidak mendisiplin mereka (1 Samuel 3:13). Tidak sedikit orangtua karena berbagai alasan, enggan untuk mendisiplin anak-anaknya. Akibatnya, tindakan mereka menjadi tidak terkendali. Semoga kita belajar dari kisah Eli dan anak-anaknya itu, sehingga kita pun tidak melakukan kesalahan yang sama pada anak-anak kita –AYA

SALAH SATU PEMBERIAN TERBAIK ORANGTUA

BUAT ANAK-ANAKNYA ADALAH WAKTU BERSAMA

Sumber : www.sabda.org

Iklan

Ketegangan Keluarga

Senin, 20 Oktober 2008

Bacaan : Efesus 6:1-4

6:1. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.

6:2 Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:

6:3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

 

Ketegangan Keluarga

Banyak konflik orangtua dan anak dibingkai oleh kata-kata: “Bapak Ibu itu kuno!” Atau, “Anak zaman sekarang tidak tahu menghormati orangtua, beda dengan zaman kami dahulu”. Begitulah yang kerap terjadi dalam banyak rumah tangga. Lalu bagaimana ketegangan seperti ini mesti dikelola?

Paulus berpesan agar orangtua mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan serta bertindak sedemikian rupa agar anak paham yang mereka terima merupakan ekspresi kasih semata. Bisa jadi ajaran dan nasihat mengambil bentuk yang tegas, tetapi tak pernah ketegasan itu keluar dari hati yang membenci.

Sebaliknya, anak diminta menghormati orangtuanya, bukan hanya agar si anak beruntung (“supaya lanjut umurmu”, ayat 3). Anak perlu taat kepada orangtua yang hidup dalam Tuhan karena ini merupakan sebuah perintah; suatu keharusan! Namun, ingat juga pesan Paulus, “taatilah orangtuamu di dalam Tuhan”. Artinya, perspektif ketaatan pada orangtua mesti berpusatkan kepada Tuhan. Nilai-nilai ketuhanan itulah yang menjadi dasar ketaatan anak terhadap ayah dan ibunya.

Bisa saja orangtua berbuat salah, bahkan jahat. Terhadap kasus seperti ini, anak tentu harus lebih memegang kebenaran sebagai ekspresi imannya kepada Tuhan sebagai sumber segala kebenaran. Sekalipun demikian, janganlah orangtua diabaikan. Mereka tetap layak menerima hormat. Semoga sebagai anak, kita selalu menghargai orangtua dengan hati yang hormat, bukan dengan hati yang merasa “lebih” lalu meremehkan bahkan menihilkan orangtua sendiri -DKL