JERAT KEMISKINAN

Kamis, 8 Desember 2011

Bacaan : Imamat 25:35-43

25:35 “Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu.

25:36 Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.

25:37 Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba.

25:38 Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, untuk memberikan kepadamu tanah Kanaan, supaya Aku menjadi Allahmu.

25:39. Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia.

25:40 Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu.

25:41 Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya.

25:42 Karena mereka itu hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir, janganlah mereka itu dijual, secara orang menjual budak.

25:43 Janganlah engkau memerintah dia dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu.

 JERAT KEMISKINAN

Gokal ialah nama seorang petani miskin di India. Begitu miskinnya, sampai-sampai ia dan keluarganya tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan gizi minimal mereka sehari-hari. Akibatnya, tubuh mereka makin lama makin melemah dan malah tidak sanggup mengurus ladang mereka lagi. Kehidupan mereka pun tidak membaik, tetapi malah makin miskin. Gokal hanyalah satu dari jutaan orang di dunia ini, yang terjebak dalam jerat kemiskinan. Mereka sungguh-sungguh tidak mampu keluar dari situ, bahkan terjerat makin dalam tanpa harapan untuk bisa keluar dari sana.

Tuhan tahu beratnya jerat kemiskinan. Itu sebabnya Dia memberikan peraturan khusus mengenai hal ini kepada bangsa Israel. Bagian Alkitab yang kita baca hari ini adalah penggalan peraturan tersebut: Tuhan memerintahkan bangsa Israel merawat orang-orang miskin yang ada di antara mereka. Tidak hanya itu, Tuhan juga mengadakan tahun Yobel bagi Israel, untuk membuka peluang agar orang-orang miskin yang bekerja sebagai upahan, kelak dapat bebas dari jerat kemiskinan (ayat 40-41).

Saat ini, kita juga mengemban perintah untuk menolong orang-orang miskin di sekitar kita agar mereka keluar dari jerat kemiskinan. Kita dapat meneruskan pertolongan jangka pendek, yaitu mencukupkan kebutuhan sehari-hari mereka. Namun, kita juga perlu menyediakan pertolongan jangka panjang, yaitu menyelenggarakan pendidikan, pelatihan kerja, pendampingan usaha, dan sebagainya. Kita dapat melakukannya sendiri atau menyalurkannya melalui lembaga-lembaga yang dapat dipercaya. Lakukanlah dengan kasih kepada Allah, yang senang melihat kita peduli –ALS

BERBAGILAH DENGAN YANG KURANG AGAR KESAKSIAN ANAK TUHAN MAKIN BERKUMANDANG

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

MENGATASI DUKACITA

Sabtu, 27 AGUSTUS 2011

Bacaan : Matius 5:1-12

5:1. Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.

5:2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:

5:3. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

5:12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

MENGATASI DUKACITA

Seorang penyair pernah menulis, “Hal yang membuatmu tertawa kini, suatu saat nanti akan membuatmu menangis; dan apa yang membuatmu menangis saat ini adalah hal yang akan membuatmu tertawa kelak.”

Dalam khotbah-Nya, Yesus memberi beberapa tanda dari orang-orang yang disebut berbahagia (dalam bahasa Yunani memakai kata makarioi, yang artinya terberkati). Salah satunya adalah orang yang berdukacita (Yunani: pentheo). Pentheo artinya bersedih, meratap. Melihat konteks hidup dari para pendengar khotbah Yesus waktu itu, sangat mungkin kesedihan dan ratapan itu terkait dengan kea-daan sosial mereka yang adalah orang kebanyakan, mantan orang berpenyakitan, orang kecil yang tak punya banyak akses pada sumber-sumber kesejahteraan. Namun secara lebih luas, objek kesedihan dan ratapan ini bisa beragam; misalnya kematian orang terkasih, kehilangan barang, kekecewaan, sirnanya pengharapan, matinya angan-angan, dan lain-lain.

Kepada mereka yang kecil dan dikucilkan, Yesus bersabda bahwa mereka bisa berbahagia, dan terberkati, sebab mereka sedang berjalan menuju Sang Sumber Terang. Dalam iman kepada Yesus, tidak ada kesedihan dan ratapan yang abadi. Memang kesedihan ada, tetapi penghiburan yang mengimbangi kesedihan itu, selalu tersedia. Di sinilah terbukti bahwa Yesus sangat mengerti bagaimana manusia menjalani hidup di dunia ini. Maka, bagi setiap pribadi yang sedang berdukacita, Dia berjanji pasti untuk menyediakan penghiburan yang sejati, agar dalam kesedihan pun bisa terbit pengharapan –DKL

TUHAN SANGAT TAHU,

BANYAK DUKA BISA MENIMPA KITA DI DUNIA

MAKA DIA SIAP MEMBERI PENGHIBURAN

YANG CUKUP PADA SETIAP DUKACITA

Dikutip : http://www.sabda.org

MENCARI ATAU MENJADI?

Selasa, 20 Juli 2010

Bacaan : Amsal 19:4-7

19:4. Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya.

19:5. Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.

19:6. Banyak orang yang mengambil hati orang dermawan, setiap orang bersahabat dengan si pemberi.

19:7 Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabat-sahabatnya, mereka menjauhi dia. Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi.

MENCARI ATAU MENJADI?

Ada gula ada semut”, begitu bunyi pepatah lama yang kebenarannya tetap berlaku. Banyak orang akan berkumpul di sekeliling orang kaya. Berlagak sebagai kawan, tentu saja demi mendapat cipratan rezeki. Namun, kenyataan membuktikan bahwa mereka sebenarnya bukan teman, melainkan benalu; bukan sahabat, melainkan penjilat. Sikap mereka akan berubah drastis seiring keadaan yang berubah. Habis manis sepah dibuang.

Kenyataan di atas kerap dialami oleh orang yang tadinya kaya, kemudian jatuh miskin. Yang semula tebu, tetapi akhirnya tinggal jadi ampas. Maka, semua yang tadinya teman tiba-tiba saja menghilang. Namun, tidak berarti si kaya pun tidak merasakan “pahit”-nya kebenaran ini. Penulis Amsal adalah salah satu contohnya. Ia adalah si kaya yang sadar bahwa yang ada padanya bukan kawan. Yang berkerumun di sekelilingnya tak lebih daripada para penjilat. Padahal yang ia butuhkan adalah teman. Orang kaya pun punya kesusahan dan kesukaran. Mereka butuh solidaritas seorang sahabat sejati. Sedangkan “persahabatan” palsu menghadirkan kesepian dan kemuakan tersendiri bagi si kaya.

Semua orang perlu teman yang setia di segala waktu. Entah ia kaya atau miskin. Tidak ada manusia yang suka diperalat pada saat ia kaya, lalu dengan begitu saja dicampakkan pada saat ia miskin. Kenyataannya memang sulit mencari seorang sahabat, baik bagi si miskin maupun si kaya. Oleh sebab itu, siapa pun Anda, janganlah terpaku hanya “mencari” sahabat; justru sebaliknya “jadilah” sahabat bagi yang membutuhkan. Sama seperti Yesus tatkala hadir di dunia ini –PAD

DARIPADA MENCARI SAHABAT KE MANAMANA

LEBIH BAIK MENJADI KAWAN DI MANAMANA

Sumber : www.sabda.org