INI DOSA SIAPA?

Rabu, 19 September 2012

Bacaan : Yohanes 9:1-41

9:1. Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.

9:2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”

9:3 Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.

9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.

9:5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.”

9:6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi

9:7 dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.

 

9:8. Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: “Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?”

9:9 Ada yang berkata: “Benar, dialah ini.” Ada pula yang berkata: “Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” Orang itu sendiri berkata: “Benar, akulah itu.”

9:10 Kata mereka kepadanya: “Bagaimana matamu menjadi melek?”

9:11 Jawabnya: “Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat.”

9:12 Lalu mereka berkata kepadanya: “Di manakah Dia?” Jawabnya: “Aku tidak tahu.”

 

9:13. Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi.

9:14 Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat.

9:15 Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: “Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.”

9:16 Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata: “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka.

9:17 Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: “Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?” Jawabnya: “Ia adalah seorang nabi.”

9:18 Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya

9:19 dan bertanya kepada mereka: “Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?”

9:20 Jawab orang tua itu: “Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta,

9:21 tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.”

9:22 Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan.

9:23 Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: “Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri.”

9:24 Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: “Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.”

9:25 Jawabnya: “Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.”

9:26 Kata mereka kepadanya: “Apakah yang diperbuat-Nya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?”

9:27 Jawabnya: “Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?”

9:28 Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: “Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa.

9:29 Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang.”

9:30 Jawab orang itu kepada mereka: “Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku.

9:31 Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya.

9:32 Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta.

9:33 Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.”

9:34 Jawab mereka: “Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?” Lalu mereka mengusir dia ke luar.

 

9:35. Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?”

9:36 Jawabnya: “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya.”

9:37 Kata Yesus kepadanya: “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!”

9:38 Katanya: “Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah-Nya.

 

9:39. Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.”

9:40 Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?”

9:41 Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”

INI DOSA SIAPA?

 

Jika kita ditimpa kemalangan, kita cenderung bertanya, mengapa saya yang mengalami penderitaan ini. Kenapa bukan orang lain yang lebih jahat? Atau, andaikan orang lain yang berdosa, mengapa saya yang harus menanggung akibatnya? Pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab ini berpotensi membuat kita makin terpuruk dalam kesedihan dan mengobarkan kemarahan karena merasa Allah berlaku tidak adil atau menghukum kita terlalu berat. Selain itu, kita mungkin kehilangan simpati terhadap orang yang kurang beruntung, menganggap sudah selayaknyalah ia menanggung derita tersebut.

Ketika melihat orang yang buta sejak lahir, murid-murid Yesus menanyakan hal yang sama: Mengapa ia menderita? Penderitaan ini dosa siapa? Jawaban Yesus mencengangkan. Penderitaan si orang buta bukan akibat dosa siapa pun. Hal itu diizinkan Tuhan dengan tujuan. Peristiwa Yesus mencelikkan matanya menjadi salah satu bukti bahwa Yesus adalah Mesias (ayat 32-33). Sebuah kesaksian yang kuat di tengah tekanan orang Farisi yang membutakan hati dan menolak percaya. Apa kondisi yang harus ada agar pekerjaan Allah ini dinyatakan? Kita tahu jawabnya: orang ini harus terlahir buta.

Mungkin saat ini Anda mengalami penderitaan yang bukan karena kesalahan Anda. Mungkin tidak ada mukjizat yang terjadi. Tidak pasti juga sampai kapan Anda harus menanggung derita itu. Hendaknya Anda tidak terus terpuruk dalam kesedihan. Tuhan tidak pernah keliru. Dengan kepercayaan yang teguh, mohonlah Tuhan menyatakan pekerjaan-pekerjaan-Nya di dalam dan melalui tiap situasi yang Anda alami. –HEM

SUKACITA DIPEROLEH BUKAN KARENA PERTANYAAN KITA TERJAWAB,

MELAINKAN KARENA PEKERJAAN TUHAN TERLAKSANA MELALUI KITA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

MENANGKAP KESEMPATAN

Sabtu, 19 Mei 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 8:4-13

8:4. Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.

8:5 Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.

8:6 Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.

8:7 Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan.

8:8 Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu.

8:9 Seorang yang bernama Simon telah sejak dahulu melakukan sihir di kota itu dan mentakjubkan rakyat Samaria, serta berlagak seolah-olah ia seorang yang sangat penting.

8:10 Semua orang, besar kecil, mengikuti dia dan berkata: “Orang ini adalah kuasa Allah yang terkenal sebagai Kuasa Besar.”

8:11 Dan mereka mengikutinya, karena sudah lama ia mentakjubkan mereka oleh perbuatan sihirnya.

8:12 Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan.

8:13 Simon sendiri juga menjadi percaya, dan sesudah dibaptis, ia senantiasa bersama-sama dengan Filipus, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi.

 

MENANGKAP KESEMPATAN

Semenjak menerima amanat untuk menjadi saksi sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8), para murid terus giat bersaksi. Banyak orang yang menjadi percaya karena kesaksian mereka dan hal tersebut membuat marah para pemuka Yahudi. Mereka dengan keras melakukan pencegahan dan penganiayaan kepada para murid. Beberapa diantaranya dibunuh dan dipenjarakan.

Akibat adanya penganiayaan di Yerusalem, orang-orang kristiani kian terserak ke daerah-daerah sekitar. Akan tetapi, dicatat bahwa sambil menyingkir, Filipus dan para murid yang lain justru giat bersaksi. Kerinduannya untuk bersaksi mengalahkan ketakutannya akan penganiayaan. Apa yang bagi banyak orang adalah halangan pelayanan, ia tangkap sebagai peluang. Ia dan para murid lainnya dilatih untuk melihat bahwa dengan tersebarnya mereka ke segala tempat, dapat menjadi permulaan dari penggenapan untuk menjadi saksi sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8). Dalam kedaulatan Allah, penganiayaan dan keterserakan bisa dibaca sebagai “penempatan” untuk menjangkau segala bangsa. Yang mereka butuhkan adalah kepekaan terhadap setiap kesempatan yang Allah bukakan.

Masihkan kita memiliki kerinduan yang dalam agar segala bangsa mendengar Kabar Baik yang menyelamatkan? Apa yang telah atau sedang kita lakukan seiring dengan kerinduan tersebut? Pernahkah kita berpikir bahwa di mana pun kita di tempatkan, dapat diartikan bahwa kita sedang diutus ke sana menjadi berkat? Dengan tetap bersaksi di tempat kita masing-masing, paling tidak sebagian besar suku bangsa sedang diperkenalkan dengan Kabar Baik yang menyelamatkan tersebut. –PBS

MEMENANGKAN SEGALA BANGSA BISA

DIMULAI DARI TEMPAT DI MANA KITA BERADA.

Dikutip : www.sabda.org

BONGKAR MUATAN

Selasa, 27 Maret 2012

Bacaan : 1 Korintus 12:1-11

12:1. Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya.

12:2 Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.

12:3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.

12:4 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.

12:5 Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.

12:6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.

12:7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.

12:8 Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.

12:9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.

12:10 Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.

12:11 Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

 

 

BONGKAR MUATAN

Sebuah gambar mengilustrasikan gereja seperti gerobak yang ditarik susah payah oleh seorang pemimpin di depan dan didorong beberapa orang dari belakang. Roda gerobak itu terbuat dari kayu berbentuk kotak. Sementara, muatan gerobak ini adalah roda-roda karet yang bundar. Seperti gerobak itu, banyak gereja “dijalankan susah payah” oleh beberapa pemimpin dan aktivis. Sebagian besar jemaat mungkin seperti “roda-roda karet bundar” itu, tidak memahami di mana dan bagaimana harus melayani. Lalu, bagaimana kita dapat mengenali tempat dan panggilan pelayanan kita?

Paulus memberitahu jemaat di Korintus bahwa tiap anggota tubuh Kristus telah diberi beragam karunia (ayat 11), untuk dipakai bagi kepentingan bersama (ayat 7). Perhatikan tiga kalimat dengan struktur yang sama dalam ayat 4-6, tiap kali dengan perbedaan kata: karunia (kharisma), pelayanan (diakonia), dan perbuatan ajaib (energema). Kharisma merupakan kemampuan istimewa dari Tuhan untuk melayani-Nya. Diakonia tak hanya berarti pelayanan secara umum, tetapi juga bidang pelayanan di mana kemampuan tersebut paling baik digunakan. Energema adalah pengalaman akan pemberdayaan dan kuasa Roh Tuhan ketika kita melayani.

Tiap jemaat dapat terlibat melayani di tempat yang tepat dengan mengenali kemampuan yang Tuhan berikan, bidang keterbebanan di mana karunia tersebut paling baik digunakan, dan mengalami kuasa dari Tuhan ketika melakukannya. Mari kita bongkar muatan: temukan, kembangkan, dan pergunakan anugerah Tuhan yang disediakan bagi kita untuk terlibat dalam karya-Nya, di tengah tubuh Kristus dan di tengah dunia. –JOO

KENALI APA YANG TUHAN INGIN KITA KERJAKAN MELALUI KEBERADAAN KITA

DI TENGAH JEMAAT-NYA, DI TENGAH DUNIA MILIK-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

KOINONIA

Minggu, 12 Februari 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 2:41-47

2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

2:42. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

2:43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.

2:44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,

2:45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

2:46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,

2:47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

KOINONIA

Persekutuan merupakan salah satu istilah yang sangat umum dalam kekristenan. Sayang, istilah ini sering dimaknai secara dangkal. Bagi keba nyak-an orang, kata ini sudah berarti sama dengan pertemuan ibadah (“Datang ke persekutuan”) atau suatu perkumpulan rohani (“Menjadi pengurus persekutuan”).

Kata persekutuan dalam kehidupan jemaat mula-mula diterjemahkan dari kata Yunani koinonia (ayat 42), yang secara harfiah berarti “memiliki atau berbagi suatu hal bersama”. Perhatikan bacaan Alkitab kita, dan kita dapat menemukan banyak hal yang dimiliki dan dibagikan secara bersama di antara jemaat mula-mula, baik dalam kehidupan rohani maupun keperluan jasmani. Itulah yang terjadi ketika koinonia berfungsi sepenuhnya. Pertemuan raya di Bait Allah dan perkumpulan di rumah-rumah menjadi penting karena melaluinya jemaat mengalami koinonia (ayat 46). Persekutuan yang berfungsi sepenuhnya memikat hati banyak orang untuk datang dan beroleh selamat (ayat 47).

Sekadar kehadiran atau bahkan kepengurusan pada sebuah persekutuan tidak sama dengan hidup dalam koinonia. Persekutuan yang sejati perlu memiliki koinonia dalam visi, komitmen, dan praktik hidup sehari-hari. Kita hidup dalam zaman di mana ketidakpedulian pada orang lain dan keberpusatan pada diri sendiri mejadi nilai-nilai umum. Adakah dunia menemukan oasis yang memenuhkan dahaga mereka akan koinonia di tengah persekutuan orang percaya? Bagaimana dengan persekutuan di tempat Anda berada? –JOO

Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu

adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi (Yohanes 13:35)

Dikutip : www.sabda.org

Doa Puasa Raya Hari Ke-38 Kamis, 1 September 2011

22 tahun. Untung saya bodoh, Roh Kudus yang penuh hikmat muncul. Pada

akhirnya pengetahuan itu muncul. Itu tambang.

Pengetahuan dunia itu sejajar dengan pengetahuan Tuhan, anak2

disekolahkan ke Amerika, Sidney. Saya membuat sebuah tesis, similiar dengan

Ps.D. Hikmat Tuhan diakui dunia. Dengan itu, saya dapat gelar Professor.

Roh Kudus menjadi tambang pengetahuan, jika Roh Kudus ada dalam

diri saudara, maka engkau akan menjadi pintar. Dengan adanya hikmat dan

pengetahuan.

Dengan pengalaman yang saya alami, jika Roh Kudus tidak memenuhi

saya, hak tersebut tidak mungkin.

How to pray? Hormati Roh Kudus!

II Samuel 6:11

Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang

Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.”

Jika engkau dan seisi rumah saudara menghormati Roh Kudus, maka

engkau diberkati, apa saja yang engkau lakukan akan diberkati. Apa yang

dekat padamu, kerjakan, maka engkau diberkati, karena Roh Kudus menyertai.

Perkataan Immanuel itu benar benar terjadi dalam saudara. Berhati-hati agar

posisi saudara tidak dimurkai Tuhan.

Iman

Iman adalah tambang emas, mengadakan yang tidak ada menjadi ada.

Iman itu tambang, Roh Kudus bukan hanya membuat engkau pandai,

tambang pengetahuan, tapi juga tambang iman.

Jangan kuatir, hormati Roh Kudus, engkau menjadi orang yang diberkati.

Karunia Menyembuhkan

Memang ada tantangan, kemenangan kita adalah penguasaan diri, make

decision. Menyembuhkan ini adalah transformasi, dari jahat menjadi baik,

keluarga yang tidak baik menjadi baik. Jika engkau mengalami mujizat,

saksikan.

Karunia nubuatan

Banyak orang mengartikan menyampaiakan hari depan, dalam bahasa

aslinya adalah special view. Itu nabi nabi. Kita diberikan special view.

Seperti saat membangun Menara Jakarta dengan biaya 2,5 T. Dengan special 

view, saya melihat 2,5 T itu disediakan Tuhan. Jika engkau punya special view,

itu luar biasa. Kadang special view itu bertentangan dengan mata jasmani kita.

Ingat dalam dirimu ada tambang yang selalu diisi.

Orang yang berharap pada Tuhan atau berharap pada mamon. Seperti

pemuda yang kaya itu, diberi pilihan, ikut Yesus atau harta. Pengharapan kita

jangan pada mamon. Seperti Perempuan Sunem, karena dia menghormati,

eliza ada pada rumahnya. Orang yang menghormati Roh Kudus, selalu ada

janji Tuhan yang luar biasa. eliza bilang, tahun depan akan datang membawa

anak.

Iman itu mengadakan yang tidak ada menjadi ada. Pada akhirnya perempuan

ini punya anak dan makin diberkati.

Pengharapan itu anak, anak harus dipelihara well, tapi jangan menjadi

berhala. Waktu panen, pegawai menyabit, anak itu tiba tiba sakit kepala dan

mati. Karena kaya, pengharapannya pada mamon. Berbahaya. Tapi perempuan

ini sungguh sungguh, dia memeninta eliza datang ke rumah, dan eliza datang,

kemudian anak itu hidup. Itu pengharapan intim dengan Tuhan, mata dengan

mata, mulut dengan mulut, maka pengharapanan itu bangkit.

Gereja yang kaya itu warningnya lebih. Jika kita diberkati secara fisik, tipis

sekali pengharapan pada Tuhan atau mamon.

Gereja yang diberkati juga berbahaya, pengharapannya pada Tuhan atau

mamon. Mari kita bergantung pada Tuhan sampai pada akhir jaman.

KORBAN KRISTUS

Kita masuk tahun ini dengan satu pengertian, kita belajar bergaul dengan

Tuhan.

Kejadian 3:8-10

Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan

isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di

manakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau

ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku

bersembunyi.”

Keinginan Tuhan untuk bergaul dengan manusia sejak di taman eden.

Alangkah indahnya selalu bergaul dengan Tuhan. Kehendak Tuhan untuk

bergaul dengan Tuhan selalu tetap, tidak berubah, tetapi manusia yang jatuh

dalam dosa sehingga akhirnya Adam dan Hawa terpaksa terusir, ada suatu tirai

tebal yang menghalangi ( Kejadian 3:22-24 )

DitempatkanNYA malaikat dan kerub, sehingga antara Allah dengan

manusia ada batas, tapi kehendak Allah untuk bergaul dengan manusia tetap

sehingga ada suatu jalan, manusia yang pertama (Adam dan Hawa telanjang),

memalukan, dan ada kulit tersembelih untuk menjadi pakaian. Darah adalah

korban, darah yang “cry out,” untuk menutupi aib Adam dan Hawa secara

jasmani. Korban Darah Domba, bukan kulitnya. Dan dinubuatkan suatu hari

Tuhan akan menolong umatnya. ( Ibrani 9:13-14 )

Jika darah anak domba mensucikan secara lahiriah, maka darah Kristus

mensucikan sampai hati nurani kita. (Ibrani 10:19-20 )

Antara Adam Hawa dan Allah ada sekat yang digambarkan blue print,

ada ruang Maha Kudus disitu terdapat tirai yang tebal, walaupun diwakili

oleh imam-imam tapi tetap tidak ada hubungan antara Allah dan manusia,

tetapi tabir ini pecah, ada Allah yang jd manusia, Mesias yang menerjang

keruk, disalibkan. Son of Man, juga Son of God, Yesus Kristus menembus

tirai tersebut. Dia membawa darahNYA sendiri, yang pertama masuk ruang

Maha Kudus, untuk kita bisa bergaul kembali dengan Allah. Darah Kristus

mengembalikan pergaulan kita dengan Allah. Hanya darah Yesus Kristus 

KKR KUASA & KESEMBUHAN (21-22 Oktober 2010)

Hadirilah KKR Kuasa & Kesembuhan

Kota Tarakan penuh kemuliaan Tuhan

“MUJIZAT PASTI TERJADI”

Ps. Christ Hope (Sydney)

Tanggal : 21-22 Oktober 2010

Hari : Kamis & Jumat

Jam : 18.30 Wita

Di : Grand Tarakan Mall Lt.II

Datanglah untuk menerima Kuasa dan Lawatan Roh Kudus yang dashyat.

Gratis (terbuka untuk semua umat kristiani)

Peyelenggara : Dept. Misi & PI Bethany

 

Hal Kecil Membawa Hasil Sesuatu Yang Besar

PESAN GEMBALA

10 JANUARI 2010

EDISI 108 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati, Elia adalah seorang nabi yang hidup di masa kelaparan atau masa kekeringan dengan kondisi masyarakat yang serba memprihatinkan, baik secara fisik, kesehatan maupun kondisi mental kerohaniannya.

Tidak ada hujan selama tiga setengah tahun. Hal ini membawa dampak negatif bagi umat Tuhan. Elia tidak begitu dikenal masyarakat ketika itu. Alkitab juga tidak mencatat apa pun tentang orang tuanya, mereka berasal dari Tisbe, yang merupakan tempat tidak terkenal yang terletak di pegunungan.

Elia merupakan contoh teladan yang  baik dari banyak umat Tuhan yang sering berkata “saya tidak mampu melakukan apa pun bagi Allah karena saya tidak mempunyai gelar, tidak pandai, tidak banyak harta, tidak berasal dari orang-orang yang mendapat kesempatan”. Memang sebenarnya Elia keadaannya juga seperti demikian, bahkan menurut Alkitab, Elia dipanggil dari suatu tempat yang samar-samar, namun suatu hari Elia mengucapkan suatu statemen pengumuman yang luar biasa “tidak akan turun hujan sampai aku memberitahukan kembali”.

Saudara, apakah ini suatu pernyataan kesombongan dari seorang yang tidak dikenal? Bahkan dia mendapatkan jalannya menuju istana raja dan mengumumkan:”Demi Tuhan yang hidup, Allah Isreal yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan” (I Raja-raja 17:1).

Setelah setahun kelaparan, Tuhan menyuruhnya untuk mengunjungi istana kembali membawa perintah bahwa Allah akan menurunkan hujan ke bumi. Apa yang membuat Elia percaya diri demikian? Kepekaan terhadap Allah dan firman Allah yang luar biasa, sama sekali bukan kesombongan berlebihan.

Bertahun-tahun sebelumnya di kitab Ulangan, Elia mencatat, “Apabila engkau menyembah berhala-berhala di tanah yang telah kuberikan kepadamu sebagai janji maka Aku akan menutup langit sehingga tidak ada hujan”. Firman Allah telah berdiam di hati Elia. Ia bertindak sesuai dengan Firman Allah, suatu tindakan, berdasarkan pernyataan Ulangan, didukung oleh kepercayaan yang tak tergoyahkan akan siapa Allah, dan suatu keyakinan bahwa Allah dan firman-Nya adalah satu. Juga memiliki kepekaan akan suara Allah.

Kisah ini sangat terkenal dan spektakuler, di langit Elia melihat sebuah awan yang berukuran kecil kira-kira sebesar kepalan tangan orang, hal yang kecil. Tanda yang tidak mengejutkan, dan ketika melihatnya, ia menyuruh hamba-hambanya untuk menyiapkan sebuah kereta guna memberitakan kepada raja Ahab bahwa hujan akan segera turun. Hanya sekepal awan, hanya dua ikan dan lima roti, hanya sebuah buli-buli kecil. Tidak ada apa-apa, kecuali kemudian Allah menyatakan bahwa Ia bersedia dan mampu melakukan “jadilah kepadamu sesuai dengan imanmu”.

Jemaat yang diberkati Tuhan, apa yang ada padamu sekarang? Adakah iman kepercayaan? Seharusnya iman sebesar biji sesawi harus ada. Iman bahwa Allah mampu mengambil apa yang tidak begitu berarti dan melipatgandakannya sesuai dengan kemampuan Allah yang tidak terbatas. Pada waktu yang lalu saya sarankan kepada jemaat supaya menyelidiki di dalam rumah, apakah yakin bahwa Roh Kudus ada di rumah, di tempat pekerjaan, dan sebagainya. Ketika Roh Kudus turut bekerja di dalam rumah dan pekerjaan, maka perkara-perkara yang terjadi bisa terselesaikan dengan berhasil.

Apa yang membuat pelipatgandaan dapat terjadi? Bahwa bagi janda dengan buli-buli minyak dan Elia dapat menurunkan hujan adalah ketika dengan iman, prinsip ini kiranya dapat memotivasi kita untuk mempergunakannya dalam keseharian kita. Mari senantiasa mempergunakan iman kita dan terus menuangkan minyak seperti ibu janda yang hanya memiliki sedikit minyak dalam buli-buli, menuangkan minyak dari kasih dan kasih Kristus ke dalam hidup orang lain. Semakin kita menuangkan maka kita akan semakin diisi penuh oleh persediaan dari Allah. Perlu adanya pembelajaran baik kepada mereka yang diberkati dengan harta benda dunia dan kemudian mengambil bagian secara finansial dari dalam rumahnya dan menuangkan ke dalam hidup orang-orang yang lebih menderita lewat kekuatan finansialnya, juga kepada setiap umat Tuhan yang hanya memiliki harta dunia yang “sedikit”, tetap harus menuangkan minyak yang “sedikit” itu. Tak peduli apa pun latar belakang budaya atau status sosial, status finansialnya, semua sama tingginya di bawah kaki Salib Kristus. Apabila hal ini dikerjakan maka semuanya akan menerima pelipatgandaan dari Tuhan kita. Dan alami di tahun kelimpahan, mujizat dan pemulihan..!!!

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA