BAGIAN YANG SELAMAT

Sabtu, 24 Desember 2011

Bacaan : Matius 2:13-18

2:13. Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.”

2:14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,

2:15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”

2:16. Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.

2:17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:

2:18 “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

BAGIAN YANG SELAMAT

Saat terjadi bencana longsor di Wasior, Papua Barat, ada banyak korban meninggal. Sayang, daerah bencana itu sulit dijangkau. Namun, seorang pemuda setia mengantar para relawan dengan perahunya ke Wasior, dengan biaya murah. Cukup mengganti biaya bensin, ia bersedia berangkat kapan saja. Saat ditanya alasan ia mau membaktikan diri, jawabnya ialah karena ia adalah bagian dari mereka yang selamat. Orangtua, saudara, dan kerabatnya tewas dalam bencana itu. Sementara, ia selamat karena sedang keluar kota. Maka, itulah caranya menyikapi kepedihan. Bukan hanya meratap, melainkan berbuat sesuatu untuk sesamanya.

Dengan singkat, tetapi memesona, Matius menuturkan sukacita Natal yang pertama. Mesias yang dijanjikan Allah selama berabad-abad, telah datang. Orang Majus, yang dianggap kaum cerdik pandai dari dunia timur, sujud menyembah-Nya. Mereka datang tidak dengan tangan hampa, tetapi membawa upeti layaknya persembahan bagi raja.

Namun, secara mengejutkan Matius menyelipkan kisah pilu para ibu di Betlehem, yang meratap karena bayi mereka dibunuh tentara Herodes. Rupanya Herodes marah karena merasa dibohongi Orang Majus. Maka, ia memerintahkan pembunuhan itu karena ia tak mau seorang raja lain tumbuh dan kelak menumbangkan takhtanya. Akan tetapi, sepasang suami istri muda dengan berani membawa lari bayi mungil mereka, yakni bayi Yesus. Bayi yang kelak akan memberikan seluruh hidup-Nya untuk menebus dosa dunia. Termasuk dosa Anda dan saya! Sekarang, sebagai orang yang diberi hak hidup karena diselamatkan dari kematian kekal, apa yang seharusnya kita lakukan bagi mereka yang masih dikungkung dosa? –SST

SEBAGAI ORANG YANG DIBEBASKAN DARI BENCANA KEMATIAN

KITA HARUS TERUS MENCARI JIWA YANG PERLU DISELAMATKAN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

MEMBUKA PINTU KESEMPATAN

Minggu, 26 Desember 2010

Bacaan : 2 Timotius 2:23-26

23Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran,

24sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar

25dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran,

26dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

MEMBUKA PINTU KESEMPATAN

Kita sadar ia sudah berdosa karena menikah dengan pasangan yang tidak seiman. Setahun sudah ia meninggalkan gereja, tidak beribadah sama sekali. Pada malam Natal, hatinya rindu untuk kembali mengikuti ibadah Natal. Ia pun pergi ke gereja. Sesampainya di sana, teman-teman yang mengenalnya justru menyambutnya dengan tatapan dingin, curiga, bahkan sinis. “Tumben datang ke gereja, ” sapa seorang rekan dengan nada tak ramah. “Ada konsumsi, sih, ” bisik teman lainnya menyindir. Nita merasa malu dan terpukul. Sejak itu ia tidak mau datang ke gereja lagi.

Dalam hidup bergereja, kita perlu bersabar menghadapi orang yang sedang undur atau melawan kehendak Tuhan. Inilah pesan Paulus kepada Timotius, yang sekaligus juga ditujukan kepada kita. Selama seseorang masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertobat, kita pun perlu menerimanya dengan kasih. Penghakiman yang kita tunjukkan hanya akan menyudutkan, bahkan menghalangi kuasa Tuhan bekerja. Menutup kesempatan baginya. Sebaliknya, keramahan dan kasih yang tulus membuka ruang dan peluang bagi pertobatan.

Adakah orang yang selama ini Anda anggap sesat, terhilang, atau memberontak pada Tuhan? Sudahkah Anda menunjukkan kesabaran dan keramahan? Ataukah, Anda bersikap dingin dan mengha-kimi? Tuhan Yesus sengaja turun ke dunia agar manusia berdosa punya peluang bertobat. Dia membuka pintu kesempatan. Itulah inti berita natal. Pada masa natal ini, tunjukkanlah kesabaran dan keramahan agar pintu-pintu kesempatan terbuka. Natal kita pun akan penuh makna –JTI

PENGHAKIMAN AKAN MENJERAT DAN MELUMPUHKAN

PENERIMAAN AKAN MEMBUKA PINTU KESEMPATAN

Sumber : www.sabda.org

GEDHE-GEDHENING SUMBER

Jumat, 24 Desember 2010

Bacaan : Lukas 2:8-20

8Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.

9Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.

10Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:

11Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

12Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”

13Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:

14″Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

15Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”

16Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

17Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.

18Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.

19Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

20Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

GEDHE-GEDHENING SUMBER

Dalam pandangan orang Jawa, kata “Desember” merupakan akronim dari ungkapan gedhe-gedhening sumber. Artinya, “sumber atau berkat yang dicurahkan secara besar-besaran”. Berkat dalam ungkapan tersebut juga lekat hubungannya dengan hujan. Pada bulan Desember, Indonesia umumnya mengalami musim hujan. Dan, bagi kebanyakan orang, hujan lebat di sepanjang Desember mendatang-kan berkat besar.

Pada setiap Desember, kita pun-sebagai umat kristiani-memaknainya sebagai bulan gedhe-gedhening sumber; sebab penuh dengan berita dan kesukaan besar. Bulan peringatan kelahiran Yesus, yang telah dinubuatkan para nabi ratusan tahun sebelumnya. “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yesaya 7:14).

Dan, nubuat itu menjadi nyata bagi dunia ketika untuk pertama kalinya Lukas menuliskan berkumandangnya kabar itu di antara para gembala di padang. Beberapa sumber mengatakan bahwa para gembala masa itu merupakan kaum miskin dan susah. Kepada mereka, bala malaikat berkata: “… aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10, 11). Mereka pun bergegas ke Betlehem. Dan, semua yang mereka dengar itu benar; sesuai dengan apa yang dikatakan kepada mereka (ayat 20).

Natal merupakan momen berbagi sukacita; kepada siapa saja di sekeliling kita-rekan sekerja, sopir taksi yang kita temui, orang-orang yang terbaring di rumah sakit, anak-anak jalanan, orang-orang tua yang tak punya siapa-siapa. Sudikah Anda berbagi? –SS

NATAL BUKAN MASA PESTA BESAR-BESARAN

NATAL ADALAH MASA BERBAGI SUKACITA BESAR-BESARAN

Sumber : www.sabda.org

KASIH VERSI NATAL

Selasa, 21 Desember 2010

Bacaan : 1 Korintus 13:1-8

1Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

2Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

3Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

4Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

5Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

6Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

7Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

8Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

KASIH VERSI NATAL

Seorang penulis memarafrasekan 1 Korintus 13 untuk menjelang momen Natal, demikian: “Jika saya menghias rumah begitu sempurna, dengan rangkaian lampu dan bola-bola, tetapi tidak menunjukkan kasih, maka saya hanya pendekor ruangan. Jika saya bersusah payah membuat kue Natal, menyiapkan hidangan Natal istimewa, tetapi tidak menunjukkan kasih, maka saya ini sekadar koki yang bekerja keras. Jika saya menyanyi di panti-panti dan memberi sumbangan Natal, tetapi tidak melakukannya dengan kasih, maka itu tak ada gunanya sama sekali.

“Kasih membuat seseorang berhenti memasak, agar ia dapat memeluk anaknya. Kasih mengesampingkan pekerjaan mendekor rumah agar ia dapat mencium suaminya. Kasih tetap sabar, meski seseorang sedang sibuk dan lelah. Kasih tidak cemburu kepada tetangga yang telah menata keramik dan taplak bertema Natal. Kasih tidak menghardik anak-anak agar tidak ribut, tetapi justru mensyukuri keberadaan mereka. Kasih tidak hanya memberi kepada mereka yang dapat membalas, tetapi justru bersukacita memberi kepada mereka yang tak mampu membalas. Kasih menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, menahan segala sesuatu. Kasih tak pernah gagal. Video games akan berlalu, kalung mutiara akan hilang, klub olahraga akan berakhir, tetapi kasih tak berkesudahan.”

Masa Natal adalah puncak kegembiraan, sekaligus puncak kesibukan bagi hampir setiap umat kristiani. Namun, jangan sampai kita kehilangan kasih, agar dengannya kita mampu bersikap benar dan turut menghadirkan damai di bumi –AW

SEMPURNAKAN KEINDAHAN NATAL DENGAN MEMBUBUHKAN KASIH

PADA SETIAP KESIBUKAN DAN PERAYAAN

Sumber : www.sabda.org

MAKNA NATAL

PESAN GEMBALA

12 DESEMBER 2010

EDISI156 TAHUN 3

 

MAKNA NATAL

Shallom…salam miracle

Jemaat Tuhan, hari-hari ini kita sudah mulai sibuk untuk merayakan Natal tahun ini, namun banyak diantara umat Kristen yang belum mengerti sebenarnya makna natal. Dalam Yesaya 9:5-6 mengatakan “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena Ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya…” Nabi Yesaya melihat suatu musim yang baru yaitu datangnya seorang Juruselamat, Mesias, Raja ke dalam dunia. Allah yang perkasa akan ada bersama umat-Nya.

Natal memiliki arti dan makna yang berbeda-beda satu dengan yang lain, tergantung perspektif masing-masing dalam memandangya. Bagi anak-anak, natal berarti mendapatkan banyak hadiah. Bagi anak muda, natal berarti pesta dan makan enak dan tukar kado. Bagi pegawai kantor, natal berarti ada THR dan bonus akhir tahun dan belanja. Bagi ibu-ibu, natal berarti masak-masak merapikan rumah. Bagi pengusaha, natal adalah omzet penjualan meningkat. Bagi pekerja gereja, natal adalah bertambahnya kesibukan kegiatan gerejawi.

Bagi saudara apa arti dan makna Natal?

Di dalam Lukas 1:30-32 dikatakan “Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan Seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi.” Di ayat itu, Malaikat menunjukkan kepada Maria tujuan Allah dengan kelahiran Yesus, yaitu bahwa ANAK ALLAH ITU AKAN MENJADI BESAR DAN PERKASA. Lalu kata Malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa, Tuhan: hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud.”

Natal bukan sekedar perayaan setahun sekali. Natal adalah mengenai kepercayaan saudara kepada Allah yang perkasa. Saudara harus melihat Tuhan seperti nabi Yesaya melihat. Para nabi Perjanjian Lama dan Yohanes Pembaptis, juga Rasul Paulus meihat Dia yaitu sebagai ANAK ALLAH. Ketika malaikat menemui para gembala di padang penggembalaan, kemudian menyampaikan firman Allah (Lukas 2:15-17) SEGERA para gemabala pergi menemui Yusuf dan Maria. Selanjutnya memberitakan kelahiran Yesus Kristus. Ketika bertemu dengan Tuhan, maka kehidupan kita akan berubah, seperti yang dialami oleh para gembala, keadaan dan pengharapan berubah. Yang dialami oleh para gembala adalah mereka memiliki sukacita, damai sejahtera, dan memiliki suatu tujuan. Mereka tetap sebagai gembala, namun mereka menyadari bahwa tujuan hidup mereka adalah membagikan Firman Allah.

Lukas 2:43 “Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.” Maria dan Yesus tidak mengetahui dimana Yesus berada karena mereka melakukan hal-hal rutnitas seperti yang biasa mereka lakukan. Demikian pula yang terjadi dengan kebanyakan orang Kristen. Ada yang melihat Tuhan Yesus, mereka diberkati dan dijamah Tuhan, tetapi ada juga yang melihat Tuhan tapi tidak melihat apa-apa. Mereka tidak mengalaminya karena kehilangan tujuan sehingga melakukan hal-hal sebagai rutinitas.

Tuhan mau kita bertindak atas firman-Nya. Tidak hanya ritual, rutinitas, dan sekedar program Gereja, tetapi percaya pada Dia bahwa Tuhan adalah Penyelamat, penyembuh, Raja, dan Tuhan semesta alam.”

Dua hal yang harus diperhatikan

APA YANG ANDA LIHAT

Apa dan bagaimana saudara melihat adalah sesuatu yang sangat penting. Adalah hal yang baik kalau kita sering membicarakan hal-hal yang baik seperti system yang baru, tahun ajaran baru bagi anak sekolah, pengalaman baru, kemenangan dalam pertandingan olahraga, dan lain sebagainya, hal ini sangat penting sebab bisa menggairahkan kehidupan kita. Apabila kita sering membicarakan perkara-perkara negatif, maka akan semakin menambah masalah yang sudah ada. Memang sering kita mendengar berita atau informasi yang negatif dari televisi, koran yang bisa membawa kemerosotan moral, keputusasaan, dan lainnya, namun akan lebih baik kita sering membicarakan sesuatu yang positif terutama bicarakan kebaikan dan kebesaran Tuhan.

APA YANG ALLAH LIHAT

Yesus datang ke bumi untuk membawa sesuatu yang baru, pengharapan baru, masa depan baru, dan musim yang baru. Apa yang Allah lihat hari ini? Mata Tuhan mencari tempat dimana Dia bisa menyatakan diri-Nya. Dia mencari kesempatan untuk menyatakan kasih karunia-Nya, memberikan kemurahan dan kebaikan-Nya.

SELAMAT NATAL 2010…

TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA.

AMIEN

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA



Edisi Natal 2009

PESAN GEMBALA

25 DESEMBER 2009

EDISI NATAL

Ada dua macam pandangan tentang sejarah. Yang pertama, sejarah sebagai lingkaran. Sejarah dipandang sebagai rentetan peristiwa yang berputar dan berulang kembali tanpa arah dan tujuan. Seperti perputaran matahari atau bulan, sejarah adalah perputaran peristiwa yang tak berujung pangkal. Sejarah adalah ibarat lingkaran yang tidak ada habis-habisnya. Apa yang dulu lenyap akan muncul lagi untuk kemudian lenyap lagi dan kemudian muncul lagi.

Yang kedua, sejarah sebagai garis lurus. Sejarah dipandang sebagai rentetan peristiwa yang berkaitan satu sama lain dan mempunyai satu arah dan suatu tujuan. Jadi, sejarah mempunyai makna. Sejarah adalah ibarat garis lurus yang terus memajang dan bahkan menanjak menuju masa depan.

Pandangan kedua inilah yang dikembangkan umat Israel sepanjang kitab Perjanjian Lama. Umat itu menghayati peristiwa demi peristiwa sebagai titik demi titik yang terus memajang dan membentuk garis lurus.

Penghayatan umat itu mulai timbul karena mereka menyaksikan dan mengalami perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah. Misalnya, pembebasan dari perbudakan di Mesir, penyebrangan di Laut Merah, perjanjian dengan Allah di Sinai dan puluhan peristiwa lainnya sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian. Umat mulai biasa berpikir, berorientasi dan berpengharapan mengarah ke masa depan.

Apa isi pengharapan itu? Datangnya Mesias, datangnya Kerajaan Allah. Pengharapan itu bukan timbul karena umat mencita-citakan sesuatu yang belum ada. Sebaiknya, pengharapan itu timbul karena umat sudah menyaksikan perbuatan Allah di masa lampau, dalam  hal ini, sepanjang perjalanan “exodus” ke tanah perjanjian.

Lalu terjadilah kelahiran Yesus. Kejadian ini adalah satu titik dan momen yang menentukan dalam garis sejarah. Yesus datang sebagai pewujud yang mula-mula dalam Kerajaan Allah yang dinantikan itu. Yesus berkata, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allaah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 4:18, 19). Sebab itu, kelahiran dan kedatangan Yesus membuka babak baru dalam garis sejarah. Sejarah memasuki babak di mana tanda-tanda Kerajaan Allah mulai ditampakkkan oleh Yesus. Tanda-tanda yang ditampakkan Yesus secara sempurna, yaitu keadaan baru di bumi ini dan dimana kedaulatan dan pemerintahan Allah ditaati manusia.

Mungkin Anda berkata, “Mengapa tidak langsung saja Yesus mendirikan Kerajaan Allah yang sempurna itu, dan mengapa masih banyak ketidakberesan di dunia padahal Yesus sudah datang?”

Baiklah pertanyaan Anda dijawab dengan satu contoh. Dalam Perang Dunia II seluruh daratan Eropa dikuasai Hilter. Pada suatu hari, tibalah saat yang menentukan. Pasukan sekutu mendarat untuk membebaskan Eropa. Hari itu disebut “D-Day” atau “Decision Day” atau Hari Penentuan. Tetapi D-day tidak berarti bahwa daratan Eropa langsung menjadi bebas. Sama sekali tidak. Yang terjadi adalah peningkatan dan percepatan pertempuran. D-Day malah menimbulkan pertempuran besar yang mengakibatkan banyak penderitaan. Pertempuran itulah yang kemudian membebaskan daratan Eropa. Akhirnya seluruh daratan Eropa bebas. Itulah yang disebut “V-Day” yaitu “Victory Day” atau Hari Kemenangan.

Natal adalah D-Day. Yesus datang dengan Injil yang membebaskan, yaitu berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaharuan yang tersedia bagi manusia (Markus 1:15), serta kebebasan, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan yang dikehendaki Allah untuk dunia (Lukas 4:18-21). Sesudah mengutip ayat-ayat itu, Tuhan Yesus menegaskan, “Pada hari ini genaplah nas ini…” (Lukas 4:21).

Lalu apa yang harus kita lakukan? Dalam perumpamaan di Matius 24 Yesus berkata,”Berjaga-jagalah kamu.” Ini bukan berarti menunggu atau meramalkan masa depan. Melainkan turut bekerja dengan Yesus menampakkan tanda-tanda Kerajaan Allah itu. Akan tibalah nanti suatu “V-Day”, dimana Allah sendiri akan menyempurnakan Kerajaan-Nya itu (Baca Wahyu 21).

Sekarang kita hidup dalam babak sejarah antara D-Day dan V-Day. Inilah babak peningkatan dan percepatan tugas. Babak untuk mendengarkan dan memperdengarkan Injil. Sekarang kita hidup di babak sejarah dimana, dalam garis lurus yang memanjang dan menanjak ke masa depan, kita diberi kesempatan menjadi “kawan sekerja Allah” (I Korintus 3:9). Dan Yesus berkata, “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang” (Matius 24:46)

SAATNYA UNTUK MEMBERI

Sabtu, 26 Desember 2009

Bacaan : Matius 1:18-25, 2:9-11

1:18. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:

1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.

1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

1:25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

2:9. Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.

2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

SAATNYA UNTUK MEMBERI

Tanggal 26 Desember di Inggris dikenal sebagai Boxing Day. Sejarahnya, dulu di Inggris, para pelayan diharuskan tetap bekerja pada hari Natal. Tenaga mereka dibutuhkan karena majikan mereka biasanya mengadakan pesta Natal. Sehari setelah Natal barulah mereka bisa pulang kepada keluarganya. Biasanya pada saat mereka pulang itu, para majikan membekali mereka dengan berbagai hadiah. Saat ini, Boxing Day berkembang menjadi saat memberi hadiah kepada orang-orang yang sepanjang tahun telah mengabdikan dirinya melayani di berbagai bidang. Misalnya, para pekerja rumah tangga, penjaga mercusuar, tukang sampah, dan polisi lalu lintas.

Semangat utama yang melandasi Natal adalah semangat memberi. Berawal dari Allah yang memberi Putra-Nya Yang Tunggal untuk menyelamatkan manusia. Lalu, Maria dan Yusuf yang memberi dirinya untuk dipakai Allah sebagai sarana karya penyelamatan-Nya (Matius 1:18-25). Juga para majus yang datang jauh-jauh dari Timur untuk memberi benda-benda berharga sebagai persembahan buat Sang Bayi Kudus (Matius 2:9-11).

Maka, sebaiknyalah semangat memberi ini pula yang kita hidupi pada masa Natal ini; memberi kepada para sahabat dan handai taulan; memberi kepada orang-orang yang sehari-hari kita temui di kantor, di jalan, di gereja. Pemberian kita bisa berupa materi, bisa juga berupa tangan yang siap membantu, telinga yang siap mendengar, hati yang terbuka untuk menjadi saluran kasih sayang dan tercermin dalam senyum ramah, ungkapan terima kasih yang tulus, dan sapaan hangat. Mari kita jadikan Natal sebagai saat untuk memberi –AYA

PADA MASA NATAL INI BERAPA BANYAK ORANG

YANG TELAH MERASAKAN SUKACITA KARENA PEMBERIAN KITA?

Sumber : www.sabda.org