Berpikir Positif

21 November 2010

Edisi 153 Tahun 3

BERPIKIR POSITIF

Shallom…salam miracle…jemaat Tuhan di Gereja Bethany GTM yang diberkati Tuhan, suatu kali kami membahas dalam obrolan santai tentang krisis yang terjadi di Indonesia, Kebetulan ada seorang teman yang pandai berbahasa Cina, dan dia mengatakan bahwa kata Krisis adalah WEI JI. WEI artinya bahaya dan JI artinya kesempatan, dan dia menerangkan lebih jauh tentang kata itu, dan saya tangkap intinya adalah dalam setiap bahaya atau keadaan yang buruk selalu ada kesempatan untuk melakukan dan mendapatkan sesuatu yang baik.

 

Dalam 1 Samuel 17:32 menyatakan, berkatalah Daud kepada Saul: “Jangan seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud ketika melihat Goliat sang musuh yang gagah perkasa adalah musuh yang tentunya sangat sulit dirobohkan, hal itu juga dilihat oleh Raja Saul dan pasukan Israel. Daud mendengarkan tantangan dan ejekan yang juga di dengar oleh Raja Saul dan pasukan Israel. Daud berada di medan perang dimana Raja Saul dan pasukan Israel berada. Daud juga hidup pada tanggal, bulan dan tahun yang sama dengan Raja Saul dan pasukannya, tetapi sikap Daud dalam menanggapi situasi yang dilihat, didengar, dan dialami itu berbeda dari sikap Raja Saul dan pasukannya.Yang membedakannya adalah Raja Saul dan pasukannya berpikir negatif dan Daud berpikir positif.

 

Melanjutkan perbincangan dengan seorang yang berbahasa Mandarin di atas mengatakan bahwa ada pepatah Cina yang menyatakan lebih “LEBIH BAIK MENYALAKAN LILIN DARIPADA MENGUTUKI KEGELAPAN.” Orang yang berpikir negatif akan terus meratapi dan mengutuki kegelapan yang terjadi. Sementara orang yang berpikiran positif akan menyalakan lilin. Ketika PLN padam sekitar jam 7 malam, maka respon anak-anak berbeda, ada yang mengatakan “Wah dak bisa apa-apa nih, nonton tv, belajar pun jadi dak bisa.” tapi ada juga yang merespon “Asyik bisa melihat dengan jelas indahnya bulan di malam hari.”

 

Menanggapi sesuatu hal yang terjadi setiap orang mempunyai tanggapan atau respon yang berbeda-beda. Ada yang berpikir negatif dan ada yang berpikir positif. Orang yang berpikir negatif melihat masalah sebagai segala-galanya. Dia akan melihat bahwa masalah itu begitu besar dan menakutkan, tidak ada jalan keluar yang tampak. Orang ini akan berputar-putar di sekitar masalah tanpa berusaha memandang jalan keluar. Dia menjadi pesimis. Tuhan akan kelihatan sebagai sosok yang jauh yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalahnya. Masalah yang dihadapinya seolah-olah masalah yang paling besar dibandingkan dari persoalan-persoalan orang lain. Dalam menghadapi setiap hal, yang pertama muncul di depan matanya adalah kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan. Keluhan dan sungut-sungut mewarnai kehidupannya. Menyalahkan orang lain menjadi akibat yang timbul secara alamiah, karena dalam suatu masalah yang timbul, orang yang berpikir negatif jarang melihat dirinya dengan baik, baik itu potensi, kekuatan, kelemahan dan kekurangannya. Yang dilihat hanya orang lain dan karena sifatnya adalah negatif, orang lain selalu dijadikan sumber kesalahan dan dirinya yang benar. Orang itu sibuk mencari kambing hitam yang sebetulnya adalah dirinya sendiri. Dia sibuk berputar-putar di padang pasir tanpa menemukan genangan/ sumur air. Orang yang berpikir negatif sebetulnya orang yang sombong dengan tanpa disadarinya.

 

Orang yang berpikir positif juga seperti yang lain tetap memiliki masalah dan tantangan, namun orang yang demikian tidak terpaku kepada masalah yang dihadapinya. Dia memiliki pengharapan yang besar dan optimis. Cara pandangnya melihat bahwa Tuhan nampak jauh lebih besar daripada masalahnya. Dia melihat dan berpikir dengan jernih tentang jalan keluar dan peluang yang ada dalam krisis. Hatinya dipenuhi dengan puji-pujian dan sukacita. Berani membayar harga dan berkorban untuk membuat solusi yang mengubah keadaan ke arah yang lebih baik. Dia bisa tersenyum dengan kegagalannya karena bisa introspeksi dengan sehat dan jujur. Orang yang berpikiran positif tidak memiliki pembendaharaan kata “Tidak bisa” dalam menjalani kehidupan dan bersemangat. Orang yang berpikiran positif baru akan mengatakan demikian setelah berdoa dan Tuhan yang akan mengambil alih.

 

Optimis bukanlah kesombongan, tetapi rasa percaya diri yang shat. Dia tahu bahwa dia merupakan Problem Solver dan bukan sebagai Trouble maker. Dia akan selalu melihat berbagai jalan dan ribuan kemungkinan yang bisa didapat sebagai jalan keluar dari suatu masalah. Dia akan maju dan pantang menyerah menghadapi situasi apapun, bahkan ketika menghadapi kegagalan. Orang yang berpikir positif bukan hanya selalu melihat peluang dan kehidupan tetapi dia tidak menghitung berapa kali ia jatuh. Dia menghitung berapa kali dia bangkit dari kejatuhan itu. Itu sebabnya sejarah dunia dibuat oleh orang-orang yang berpikir positif.

 

Ketika Raja Saul dan pasukannya cemas dan ketakutan menghadapi Goliat, Daud berkata: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud bukan hanya melihat peluang kemenangan dengan optimis. Tetapi dia memberikan dirinya untuk maju. Dia tidak mengajukan kakaknya atau menasehati Raja Saul yang perkasa untuk berani maju menghadapi Goliat. Daud bukan hanya berbicara, tetapi integritasnya membawanya untuk membuktikan tindakan sesuai dengan ucapannya. Dia menawarkan solusi bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan segenap kehidupannya. Di atas awan masih ada awan, dan bagi Daud di atas Goliat masih ada Tuhan yang maha besar.

 

SELAMAT NATAL…KASIH ALLAH MEMENUHI KITA SEMUA…

TUHAN YESUS MEMBERKATI…

AMIEN

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Iklan

JANGAN TAKUT GAGAL

Sabtu, 11 September 2010

Bacaan : Kisah Para Rasul 15:35-41
15:35 Paulus dan Barnabas tinggal beberapa lama di Antiokhia. Mereka bersama-sama dengan banyak orang lain mengajar dan memberitakan firman Tuhan.

15:36. Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: “Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka.”

15:37 Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus;

15:38 tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka.

15:39 Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus.

15:40 Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan

15:41 berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ.

JANGAN TAKUT GAGAL

Michael Jordan, bintang NBA yang pernah paling populer berkata, “Saya bisa menerima kegagalan karena setiap orang bisa gagal menyelesaikan pekerjaan. Namun, saya tidak bisa menerima mereka yang tidak mau mencoba.” Sekali gagal, tidak berarti Anda telah mati. Akan tetapi, Anda dianggap mati jika telah putus asa. Tak seorang pun mau menerima dan mengharapkan kegagalan terjadi dalam hidupnya. Walau demikian, pada akhirnya kita akan mengalami kegagalan. Sebagian orang menjadi putus asa dan me-nyerah kalah, sementara sebagian orang lagi bersikap tegar dan melihat kegagalan sebagai proses yang mesti terjadi di hidupnya.

Takut mengalami kegagalan hanya akan membuat jiwa kita kerdil dan tak pernah mengalami terobosan-terobosan baru yang dikerjakan Allah dalam hidup kita. Dalam Alkitab, kita menjumpai seorang muda bernama Markus. Ia mengalami kegagalan saat membantu pelayanan Paulus dan Barnabas. Namun, sekalipun ia gagal dan menyebabkan retaknya hubungan Paulus dan Barnabas (ayat 39), ia tak mau berlarut-larut dalam kegagalan itu. Sebaliknya, ia mencoba bangkit dan melihat kegagalan sebagai proses pendewasaan. Itu sebabnya, Markus yang pernah gagal itu dipakai Tuhan untuk menulis salah satu kitab Injil.

Sebagai orang percaya, kita harus melihat kegagalan dengan kacamata positif. Sehingga, kita menjadi optimis dan berani mengadakan perubahan demi kemajuan diri. Mencoba lalu mengalami kegagalan jauh lebih baik daripada seolah-olah tidak pernah gagal karena tidak berani mengambil risiko untuk mencoba. Apakah Anda sedang mengalami kegagalan? Bangkit dan jangan menyerah! –PK

ORANG YANG OPTIMIS SELALU BISA

MELIHAT KESEMPATAN BELAJAR

BAHKAN DARI KESALAHAN DAN KEGAGALAN

Sumber : www.sabda.org

MATI ADALAH KEUNTUNGAN

Jumat, 27 Agustus 2010

Bacaan : Filipi 1:21-24

1:21. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik;

1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.

MATI ADALAH KEUNTUNGAN

Coyote adalah sejenis serigala yang berkembang biak sangat pesat di Amerika bagian utara. Para petani di sana memiliki pandangan yang berbeda terhadap binatang itu. Sebagian memandang coyote sebagai binatang perusak, karena menjadi ancaman bagi hewan peliharaan, seperti kucing dan anjing. Sebagian lagi memandang coyote sebagai binatang yang bermanfaat, karena dapat melindungi tanaman dari hama tikus dan hewan pengerat lainnya.

Begitulah, satu hal atau keadaan dapat dilihat dari dua sisi yang berbeda; sisi terang dan sisi kelam. Demikian juga hal kematian. Pada satu sisi kematian bisa dilihat sebagai peristiwa kelam. Karena itu, orang akan berduka jika mengetahui saat menghadapi kematiannya mendekat. Akan tetapi, dari sisi iman, kematian juga bisa dilihat secara optimis. Itulah yang dilakukan oleh Paulus. Ia sedang berada di penjara, dan ia dapat merasakan betul, bahwa kematiannya tidak akan lama lagi. Namun sebaliknya, daripada berduka dan patah arang, Paulus justru menghadapinya dengan penuh pengharapan. “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan, ” demikian ia menulis (ayat 21).

Kita suatu saat, cepat atau lambat, akan diperhadapkan pada kenyataan ini-atau mungkin sekarang kita tengah menghadapinya, bahwa hidup kita di dunia tidak akan lama lagi. Dalam situasi demikian, marilah kita berpegang pada iman dan pengharapan kita di dalam Kristus, sehingga kita dapat menghadapinya dengan tetap tenang, tidak kehilangan sukacita. Kita dapat menyongsong saat-saat kematian yang mendekat dengan hati lapang dan kepala tegak –AYA

DI DALAM KRISTUS

KITA HADAPI KEMATIAN

DENGAN SENYUM

Sumber : www.sabda.org

Kritik

Bacaan: Matius 13: 53-58

Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana– Amsal 24:16

kritikSuatu kali seorang pemusik muda mengadakan konser perdana, namun setelah konser ia dicela habis-habisan oleh banyak kritikus. Rasa depresi segera melanda pemuda itu. Hingga Jean Sibelius, komposer Finlandia yang terkenal menghiburnya. “ Ingat Nak, tidak ada satupun kota di seluruh dunia yang mendirikan patung penghargaan untuk kritikus.”

Mungkin kita juga pernah dicela dan dikritik oleh orang di sekitar kita. Apapun yang kita perbuat, sang kritikus siap “bernyanyi” dengan nada-nada sumbang. Tapi saya teringat pada Elvis Presley yang pernah dipecat oleh manajer Grand Ole Opry dengan komentar, “Kamu tidak terkenal, Nak. Sebaiknya kamu kembali menjadi supir truk.” Clint Eastwood juga pernah dipecat dari Universal Pictures hanya karena giginya cuwil. Decca Records pernah menolak 4 pemuda yang gugup ketika bermain untuk rekaman pertamanya. Mereka berkata, “Kami tidak suka mereka. Kelompok gitaris tidak begitu populer.” Keempat pemuda itu adalah The Beatles. Itulah contoh dari orang-orang yang pernah dikritik, dicela bahkan ditolak. Tetapi dari kritik itu, mereka bangkit sehingga hari ini, kita pasti mengenal nama-nama di atas sebagai legenda dalam bidangnya.

Mungkin saat ini sebagai karyawan atau usahawan yang baru dalam perintisan, Anda sudah mendapat kritikan. Satu yang bisa saya tulis untuk Anda, “Teruslah maju mencari peluang!” Percayalah Allah sedang mengerjakan rencana hebat untuk pekerjaan Anda. Saatnya kita melihat kritik sebagai dorongan orang lain agar kita tetap bersemangat dan mengembangkan potensi diri. Dari kritikan kita bisa melihat kelemahan-kelemahan yang mungkin belum kita sadari. Kritik juga melatih kita menjadi bermental unggul. Jangan lupa juga, seorang tokoh terbesar pun lahir di antara kritikan dan cemooh. Dialah Yesus yang kini telah menebus dosa kita. Ia lah yang akan menjadi pelatih mental kita agar dapat menggunakan kritik sebagai pemacu untuk meraih kesuksesan. Kritikan adalah satu rahasia kesuksesan. Jangan bunuh suara-suara kritik tetapi peliharalah demi keberhasilan pekerjaan Anda. Tetaplah optimis!

Kritik bisa membuat kita melihat kelemahan yang sering belum kita sadari

(Dioni)

» Ilustrasi Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit