JUJUR ITU MUJUR

Sabtu, 9 Maret 2013

Bacaan: Amsal 11:1-11

11:1. Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat.

11:2. Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.

11:3. Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.

11:4. Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut.

11:5. Jalan orang saleh diratakan oleh kebenarannya, tetapi orang fasik jatuh karena kefasikannya.

11:6 Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.

11:7. Pengharapan orang fasik gagal pada kematiannya, dan harapan orang jahat menjadi sia-sia.

11:8. Orang benar diselamatkan dari kesukaran, lalu orang fasik menggantikannya.

11:9. Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia, tetapi orang benar diselamatkan oleh pengetahuan.

11:10. Bila orang benar mujur, beria-rialah kota, dan bila orang fasik binasa, gemuruhlah sorak-sorai.

11:11 Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.

 

JUJUR ITU MUJUR

Ketika sampai di rumah, seorang pensiunan di kota Braunschweig, Jerman sangat terkejut. Ia membeli daging seharga Rp69.000, namun ternyata kantong yang dibawanya pulang berisi uang sebanyak Rp24.700.000. Rupanya secara tak sengaja pegawai toko memberinya bungkusan yang salah. Segera ia menelepon polisi dan mengembalikan uang itu. Sebagai imbalan atas kejujurannya, ia mendapatkan hadiah sekeranjang sosis dan uang Rp1.200.000.

Firman Tuhan menyatakan bahwa kejujuran bukan hanya bermanfaat untuk orang yang bersangkutan, namun meluas ke lingkungan tempat tinggalnya. Tindakan yang jujur bersumber dari hati yang tulus (ay. 3), kesediaan untuk mempraktikkan kebenaran, dan penghargaan pada proses kerja yang berbuah langgeng. Orang fasik, sebaliknya, mengejar hasil yang melimpah secara manipulatif (ay. 1). Kejujuran mendatangkan berkat; kefasikan merusak masyarakat.

Komunitas apa pun tidak mungkin berkembang menjadi maju dan nyaman untuk didiami jika tidak dibangun di atas dasar kejujuran dan ketulusan warganya. Menurut sebuah survei, keunggulan suatu negara dan kepuasan warganya tidak ditentukan oleh kekayaan alam yang mereka miliki. Penentunya adalah bangunan relasi masyarakat yang berlandaskan kejujuran, kerja keras, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintahan dan penegak hukum, serta adanya penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Anda rindu bangsa ini menjadi bangsa yang unggul? Sebagai orang beriman, kita dapat berperan dengan mengedepankan kejujuran dalam berkarya. –SST

KEJUJURAN MENDATANGKAN BERKAT
KEFASIKAN MERUSAK MASYARAKAT

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BUKAN PENCITRAAN

Rabu, 20 Februari 2013

Bacaan: Amsal 10:26-32

10:26. Seperti cuka bagi gigi dan asap bagi mata, demikian si pemalas bagi orang yang menyuruhnya.

10:27. Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek.

10:28 Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.

10:29. Jalan TUHAN adalah perlindungan bagi orang yang tulus, tetapi kebinasaan bagi orang yang berbuat jahat.

10:30 Orang benar tidak terombang-ambing untuk selama-lamanya, tetapi orang fasik tidak akan mendiami negeri.

10:31. Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat.

10:32 Bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik hanya tahu tipu muslihat.

BUKAN PENCITRAAN

Ibrani 11 sebuah pasal yang unik. Isinya biografi singkat sekian banyak tokoh iman Perjanjian Lama. Menariknya, penulis hanya menderetkan kemenangan iman mereka, tanpa menyebutkan satu pun kegagalan mereka. Jika saat ini terbit biografi semacam itu, yang isinya hanya hal positif tentang si tokoh, orang bisa jadi akan mencibir. Buku itu, terutama bagi yang mengenal kehidupan si tokoh, akan dianggap sebagai pencitraan belaka. Apakah penulis kitab Ibrani juga melakukan pencitraan?

Salomo mengingatkan, tidak semua hal perlu dibicarakan. Kita perlu memilahnya secara arif. Inilah tampaknya yang dilakukan penulis Ibrani. Meskipun setiap tokoh memiliki kelemahan, bahkan ada yang melakukan dosa mengerikan, ia memilih tidak membeberkan dan mengungkitnya kembali. Ia memilih menyoroti iman mereka (frasa “karena iman” muncul 19 kali dalam Ibrani 11). Ini bukan pencitraan; ini sudut pandang Allah yang penuh anugerah terhadap mereka. Allah memperhitungkan iman mereka, bukan menimbang antara perbuatan baik dan perbuatan buruk mereka. Bukankah ini kabar baik yang menyenangkan, yang membangkitkan sukacita?

Sebagai penerima anugerah, kita bersukacita karena Allah telah mengampuni segala dosa kita dan tidak lagi mengungkit kesalahan kita, namun merayakan kemenangan kita bersama-Nya. Kiranya sukacita itu melimpah dalam hubungan kita dengan sesama: kita memilih untuk mengampuni dan melupakan kesalahan mereka, serta lebih senang membicarakan hal-hal yang membangun iman satu sama lain. –ARS

PENCITRAAN MENONJOLKAN KEBAIKAN DAN KEUNGGULAN MANUSIA;

 ANUGERAH MENONJOLKAN KEBAIKAN DAN KEUNGGULAN ALLAH

Dikutip : www.sabda.org

TEORI PENGASUHAN ANAK

Senin, 14 Januari 2013

Bacaan: Amsal 14:24–33

14:24. Mahkota orang bijak adalah kepintarannya; tajuk orang bebal adalah kebodohannya.

14:25. Saksi yang setia menyelamatkan hidup, tetapi siapa menyembur-nyemburkan kebohongan adalah pengkhianat.

14:26. Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.

14:27 Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut.

14:28. Dalam besarnya jumlah rakyat terletak kemegahan raja, tetapi tanpa rakyat runtuhlah pemerintah.

14:29. Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.

14:30. Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.

14:31. Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.

14:32. Orang fasik dirobohkan karena kejahatannya, tetapi orang benar mendapat perlindungan karena ketulusannya.

14:33. Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal.

TEORI PENGASUHAN ANAK

Grace, anak saya, bercerita tentang suka duka dalam merawat anaknya, Jane. Menurutnya, teman-temannya sesama ibu muda mengalami tantangan serupa. Mereka membaca teori tentang pengasuhan anak dari banyak buku yang ditulis penulis Barat. Menarik, namun metode pendekatan dan penekanannya berbeda-beda. Timbul kesan, beberapa aspek hanya cocok dengan kebiasaan orang Barat. Jadi, bagaimana pengasuhan yang alkitabiah itu? Apakah yang utama dalam mendidik anak itu?

Salomo menunjukkan pentingnya takut akan Tuhan. Maksudnya tentu saja bukan takut akan hukuman Tuhan atau takut ditolak oleh-Nya, melainkan rasa hormat dan gentar akan keagungan dan kekudusan-Nya. Takut akan Tuhan mendatangkan berkat bagi keturunan kita (ay. 26) dan merupakan sumber kehidupan sejati (ay. 27). Rasa takut yang muncul berdasarkan pengenalan pribadi akan Allah ini melandasi kebahagiaan yang murni dan tak berkesudahan, serta memampukan kita untuk menangkal dosa dan pencobaan.

Nah, bukankah itu hal yang terpenting bagi orangtua dalam mendidik anak: mendorong mereka untuk memiliki takut akan Tuhan? Sebagai orangtua, kami bersyukur atas anugerah-Nya sehingga anak kami boleh mengenal Tuhan sejak dini -Grace pada umur 12; Lisa pada umur 11; Yahya pada umur 10–dan mereka bertumbuh jadi anak yang takut akan Tuhan. Maka, dalam percakapan tadi, Grace menyimpulkan, hal yang utama dalam mendidik Jane adalah menolongnya mengenal Tuhan Yesus dan bertumbuh dalam pengenalan itu sehingga ia memiliki takut akan Tuhan. –SJ

MENDORONG ANAK BERGAUL KARIB DENGAN TUHAN SEJAK DINI

 ADALAH SUMBANGSIH TERPENTING KITA SEBAGAI ORANGTUA

Dikutip : www.sabda.org

SUKA MENUNDA

Minggu, 16 Desember 2012

Bacaan: Amsal 12:24-28

12:24. Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa.

12:25. Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.

12:26. Orang benar mendapati tempat penggembalaannya, tetapi jalan orang fasik menyesatkan mereka sendiri.

12:27. Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.

12:28. Di jalan kebenaran terdapat hidup, tetapi jalan kemurtadan menuju maut.

 

SUKA MENUNDA

Salah satu penyakit saya semasa kuliah adalah suka menunda-nunda. Meski tak berniat untuk malas, kerap saya mengalir begitu saja menjalani hari, mengabaikan jadwal yang sebenarnya sudah saya buat. Ketika tugas harus dikumpul atau ujian tiba, saya terpaksa harus begadang. Heran juga kalau melihat bahwa semua itu sebenarnya dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat ketika saya benar-benar fokus. Jika saya sedikit lebih rajin, tentu saya tak perlu begadang dan yang saya kerjakan bisa lebih optimal.

Alkitab berulang kali memberi nasihat tentang kemalasan. Salah satunya yang kita baca hari ini. Kemalasan mengakibatkan kerja paksa. Kemalasan bisa membuat seseorang tidak menikmati, apalagi memetik manfaat dari apa yang dikerjakannya. Mungkin akhirnya ia merasa didikte orang lain yang lebih rajin (ayat 24). Mungkin akhirnya ia merasa sering gagal (ayat 27). Di sini penulis Amsal berbicara tentang sesuatu yang realistis untuk dicapai, tetapi tidak kesampaian karena usaha yang diberikan terlalu sedikit.

Kemalasan atau keengganan melakukan sesuatu pada waktunya bisa bersumber dari banyak hal. Mungkin sesuatu itu memang kurang kita sukai. Mungkin cara kita menata waktu perlu dibenahi. Temukan dan bereskanlah akar masalahnya. Setiap orang punya kecenderungan untuk bermalas-malasan. Kita lebih suka mengatur jadwal sesuka hati dari pada memperhatikan kepentingan orang lain. Kemalasan bisa merebut sukacita dan berkat dalam bekerja serta hidup bersama. Mari melatih diri untuk rajin dan persembahkan upaya terbaik kita untuk menghormati Tuhan. –ITA

KESEMPATAN YANG TUHAN BERIKAN

TAK PANTAS KITA JALANI DENGAN BERMALAS-MALASAN.

Dikutip : www.sabda.org

BUKAN SEKADAR LEWAT

Selasa, 5 Juni 2012

Bacaan : Mazmur 1:1-6

1:1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

 

1:4. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;

1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

 

BUKAN SEKADAR LEWAT

Donald S. Whitney mengamati bahwa “banyak jiwa yang merana adalah para pembaca Alkitab yang tekun.” Mengapa? Karena mereka hanya membaca saja, dan tidak merenungkannya. Ia menulis, “Jika kita tidak hati-hati, perkataan Alkitab hanya akan menjadi aliran kumpulan kata yang melewati pikiran kita. Segera setelah kata-kata itu lewat dalam pikiran kita … kita harus segera mengalihkan perhatian pada hal yang sekarang ada di hadapan kita. Ada begitu banyak hal yang harus kita olah dalam otak kita; jika kita tidak menyerap beberapa di antaranya, tidak ada yang akan memengaruhi diri kita.”

Yang disebut pemazmur “berbahagia” juga bukan orang yang sekadar membaca firman Tuhan, tetapi yang merenungkannya siang dan malam. Merenungkan firman Tuhan berarti menyerapnya masuk dalam sistem berpikir kita. Pikiran yang dipengaruhi firman Tuhan inilah yang membuat orang tidak lagi suka berdekatan dengan dosa (ayat 1). Orang yang suka merenungkan firman Tuhan diibaratkan seperti pohon di tepi aliran air. Agar tidak layu, air haruslah diserap dan mengaliri semua bagian di dalam pohon itu, bukan sekadar lewat.

Seberapa banyak Anda “merenungkan” firman Tuhan selama ini? Pakailah 25-50% waktu pembacaan Alkitab untuk merenungkan satu ayat, frasa, atau kata. Lontarkan pertanyaan. Berdoalah. Buatlah catatan tentang hal itu. Pikirkan sedikitnya satu cara untuk menerapkannya. Jangan buru-buru. Benamkan diri Anda dalam firman. Jangan lagi biarkan jiwa Anda merana karena tak sempat menyerap apa-apa. Biarkan firman itu mengaliri dan menyegarkan Anda, memengaruhi hidup Anda dan membuat Anda berbuah-buah pada musimnya. –ELS

MAKIN BANYAK MEMBACA FIRMAN, MAKIN KITA AKAN MENGUASAINYA.

MAKIN BANYAK MERENUNGKAN FIRMAN, MAKIN KITA AKAN DIKUASAINYA.

Dikutip : www.sabda.org

AGAR DOA TAK TERHALANG

Kamis, 12 April 2012 

Bacaan : 1 Petrus 3:8-12 

3:8. Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,

3:9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:

3:10 “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.

3:11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.

3:12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”

AGAR DOA TAK TERHALANG

Pernahkah Anda merasa begitu sulit untuk berdoa? Saya pernah. Dan hari-hari itu mengerikan. Saya bisa kelihatan sedang berdoa, berusaha merangkai kalimat-kalimat doa, tetapi sebenarnya saya tidak sedang terhubung dengan Tuhan. Firman Tuhan sebenarnya sudah memperingatkan kita tentang hal ini.

Persis sebelum bagian yang kita baca, Petrus mengingatkan para suami untuk mengasihi dan menghormati istrinya agar doanya tidak terhalang. Lalu, Petrus meneruskan nasihatnya kepada seluruh jemaat agar mereka hidup dalam kasih dan damai, menjauhi yang jahat, karena Tuhan tidak akan mendengarkan permohonan orang-orang jahat (ayat 12). Jika kita meneruskan hingga 1 Petrus 4:7, sekali lagi kita akan menemukan bahwa Petrus menasihati jemaat untuk menguasai diri dan menjadi tenang supaya dapat berdoa. Dapatkah Anda melihat kesamaannya? Ada cara hidup yang menghalangi doa, ada cara hidup yang menolong kita memiliki kehidupan doa yang baik. Pesan ini diulang-ulang Petrus dalam suratnya.

Bayangkan Tuhan mendengar saya berdoa mohon damai sejahtera, tetapi tiap hari mengisi pikiran dan hati saya dengan kekecewaan dan kepahitan. Saya mohon hubungan yang penuh kasih, sementara saya sendiri tidak mau mengasihi. Menggelikan bukan? Bagaimana saya bisa menuntut Tuhan mendengar doa saya, sementara hidup saya menunjukkan bahwa saya tidak serius dengan apa yang saya doakan? Tuhan memanggil anak-anak-Nya untuk hidup dalam kebenaran. Adakah hal-hal yang harus Anda bereskan di tengah keluarga, rekan kerja, persekutuan orang percaya, supaya doa Anda tidak terhalang? –ELS

JIKA SERIUS DENGAN TUHAN, KITA AKAN SERIUS DALAM DOA;

JIKA SERIUS DENGAN DOA, KITA AKAN SERIUS DALAM CARA KITA HIDUP.

Dikutip : www.sabda.org

TAK ADA PENGADILAN?

Kamis, 23 Februari 2012

Bacaan : Habakuk 2:1-20

2:1. Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.

2:2 Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: “Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya.

2:3 Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.

2:4 Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.

2:5. Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya.”

2:6 Bukankah sekalian itu akan melontarkan peribahasa mengatai dia, dan nyanyian olok-olok serta sindiran ini: Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya–berapa lama lagi? –dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian.

2:7 Bukankah akan bangkit dengan sekonyong-konyong mereka yang menggigit engkau, dan akan terjaga mereka yang mengejutkan engkau, sehingga engkau menjadi barang rampasan bagi mereka?

2:8 Karena engkau telah menjarah banyak suku bangsa, maka bangsa-bangsa yang tertinggal akan menjarah engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu.

2:9 Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya, untuk menempatkan sarangnya di tempat yang tinggi, dengan maksud melepaskan dirinya dari genggaman malapetaka!

2:10 Engkau telah merancangkan cela ke atas rumahmu, ketika engkau bermaksud untuk menghabisi banyak bangsa; dengan demikian engkau telah berdosa terhadap dirimu sendiri.

2:11 Sebab batu berseru-seru dari tembok, dan balok menjawabnya dari rangka rumah.

2:12 Celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan.

2:13 Sesungguhnya, bukankah dari TUHAN semesta alam asalnya, bahwa bangsa-bangsa bersusah-susah untuk api dan suku-suku bangsa berlelah untuk yang sia-sia?

2:14 Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut.

2:15. Celakalah orang yang memberi minum sesamanya manusia bercampur amarah, bahkan memabukkan dia untuk memandang auratnya.

2:16 Telah engkau kenyangkan dirimu dengan kehinaan ganti kehormatan. Minumlah juga engkau dan terhuyung-huyunglah. Kepadamu akan beralih piala dari tangan kanan TUHAN, dan cela besar akan meliputi kemuliaanmu.

2:17 Sebab kekerasan terhadap gunung Libanon akan menutupi engkau dan pemusnahan binatang-binatang akan mengejutkan engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu.

2:18 Apakah gunanya patung pahatan, yang dipahat oleh pembuatnya? Apakah gunanya patung tuangan, pengajar dusta itu? Karena pembuatnya percaya akan buatannya, padahal berhala-berhala bisu belaka yang dibuatnya.

2:19 Celakalah orang yang berkata kepada sepotong kayu: “Terjagalah!” dan kepada sebuah batu bisu: “Bangunlah!” Masakan dia itu mengajar? Memang ia bersalutkan emas dan perak, tetapi roh tidak ada sama sekali di dalamnya.

2:20 Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!

TAK ADA PENGADILAN?

Peristiwa kerusuhan pada 14 Mei 1998 menyisakan kabut kelam dalam sejarah Indonesia. Menjelang Soeharto lengser, keonaran merebak di sejumlah kota, yang terparah terjadi di Jakarta. Perempuan-perempuan keturunan Tionghoa banyak yang diperkosa. Mal-mal dijarah dan dibakar. Banyak warga mati terpanggang. Namun, tak ada yang diadili dalam peristiwa itu. Sampai saat ini.

Benarkah Tuhan acuh tak acuh terhadap kejahatan? Kenapa orang jahat bisa hidup leluasa, sedangkan orang baik malah menderita? Ini adalah juga pertanyaan yang mengganggu nabi Habakuk. Dalam penglihatan, Tuhan menjawab nya. Kejahatan orang Yahudi akan dihukum melalui kedatangan bangsa Kasdim (lihat pasal 1). Dan, karena bangsa itu mendewakan kekuatan sendiri, mereka pun akan ditimpa celaka (ayat 5-19). Tuhan yang kudus tidak membiarkan kejahatan tidak diadili. Dari sisi manusia, adakalanya penghakiman Tuhan terasa lambat, namun Tuhan menegaskan waktunya “sungguh-sungguh akan datang” (ayat 3). Keadilan Tuhan akan ditegakkan. Bahkan, akan tiba saatnya semua orang diadili di hadapan Tuhan (Wahyu 20:12-13).

Anda mungkin pernah diperlakukan tidak adil, padahal Anda berbuat apa yang benar. Dalam kondisi semacam itu, banyak orang putus asa, bahkan tergoda untuk ikut-ikutan bertindak menyimpang. Kitab Habakuk mengingatkan betapa sia-sianya orang yang bermegah atas kejahatan mereka. Maukah kita tetap melakukan apa yang benar meski diperlakukan tidak adil? Orang jahat pasti akan diadili Tuhan. Dengan kepastian yang sama, “orang benar akan hidup oleh percayanya” (ayat 4). –ARS

Hiduplah dengan benar, bahkan dalam situasi sukar

Tuhan Yang Maha Melihat akan membalas pada waktu-Nya

Dikutip : www.sabda.org