ORANG FASIK, ORANG BENAR

Senin, 12 Desember 2011

Bacaan : Mazmur 1:1-6

1:1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

1:4. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;

1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

ORANG FASIK, ORANG BENAR

Kitab Mazmur mengisahkan hubungan antara orang beriman dan Tuhan. Maka, tak salah jika pengumpul kitab Mazmur meletakkan Mazmur 1 ini menjadi bagian pertama dari kumpulan mazmur. Dengan tegas, pemazmur menasihati agar orang beriman jangan hidup sembrono. Sekalipun “cuma” duduk di lingkungan pencemooh dan berdiri di lingkungan orang berdosa, itu bisa membuatnya terjerumus. Sebab, dosa akan melahirkan dosa. Maka, kita dinasihati supaya mengenali siapa orang fasik, siapa orang benar, dan menjaga hati kita saat bergaul dengan banyak orang.

Orang fasik ialah orang yang mengetahui kebenaran, tetapi mengabaikannya. Malah, hidupnya begitu banyak diisi dengan keinginan guna menyenangkan orang lain. Ia tak memiliki prinsip, hidupnya menjadi seperti sekam yang diterbangkan kian kemari oleh badai hidup. Walau bisa tampak hebat, tetapi dengan mudah ia bisa lenyap hingga tak berbekas.

Orang benar ialah orang yang bergaul dekat dengan Tuhan lewat firman-Nya. Hidupnya terus “bertumbuh seperti pohon yang ditanam di tepi sungai”. Maka, sekalipun badai mengguncang dan panas terik melanda, ia tetap kokoh, bahkan terus berbuah. Inilah tandanya orang yang bergaul dengan Tuhan: hidupnya banyak memberkati orang lain dengan kebaikan dan kebenaran. Selain itu, secara pribadi ia diberkati dengan kebahagiaan dan kepuasan, sebab hidupnya melekat kepada Sang Sumber hidup.

Jaga hati kita dalam pergaulan dengan penuh kewaspadaan. Jadilah orang benar yang mengalami kepuasan dan kebahagiaan, serta menjadi berkat bagi orang lain. Yakni, dengan bergaul karib dengan Tuhan, melalui firman-Nya –SST

RAHASIA HIDUP YANG BERHASIL ADA PADA KETERLEKATAN KITA KEPADA SANG PENCIPTA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

SUARA HATI

Jumat, 30 September 2011

Bacaan : Amsal 14:10-16 

14:10. Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya.

14:11. Rumah orang fasik akan musnah, tetapi kemah orang jujur akan mekar.

14:12. Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.

14:13. Di dalam tertawapun hati dapat merana, dan kesukaan dapat berakhir dengan kedukaan.

14:14. Orang yang murtad hatinya menjadi kenyang dengan jalannya, dan orang yang baik dengan apa yang ada padanya.

14:15. Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.

14:16. Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman.

14:17. Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.

14:18. Orang yang tak berpengalaman mendapat kebodohan, tetapi orang yang bijak bermahkotakan pengetahuan.

14:19. Orang jahat tunduk di dekat orang baik, orang fasik di depan pintu gerbang orang benar.

14:20. Juga oleh temannya orang miskin itu dibenci, tetapi sahabat orang kaya itu banyak.

14:21. Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita.

14:22. Tidak sesatkah orang yang merencanakan kejahatan? Tetapi yang merencanakan hal yang baik memperoleh kasih dan setia.

14:23. Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja.

14:24. Mahkota orang bijak adalah kepintarannya; tajuk orang bebal adalah kebodohannya.

14:25. Saksi yang setia menyelamatkan hidup, tetapi siapa menyembur-nyemburkan kebohongan adalah pengkhianat.

14:26. Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.

14:27 Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut.

14:28. Dalam besarnya jumlah rakyat terletak kemegahan raja, tetapi tanpa rakyat runtuhlah pemerintah.

14:29. Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.

14:30. Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.

14:31. Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.

14:32. Orang fasik dirobohkan karena kejahatannya, tetapi orang benar mendapat perlindungan karena ketulusannya.

14:33. Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal.

14:34. Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.

14:35. Raja berkenan kepada hamba yang berakal budi, tetapi kemarahannya menimpa orang yang membuat malu.

SUARA HATI

Arl Weisman mewawancarai 1.036 orang yang telah bercerai untuk meneliti penyebabnya. Ternyata 80% menyatakan bahwa sebelum menikah, sudah muncul keraguan dalam hati mereka untuk bisa bertahan hidup bersama pasangannya. Ada yang terasa mengganjal di hati. Namun, perasaan itu ditutupi rasa optimis bahwa sesudah menikah semuanya akan berubah. Atau, sudah telanjur memastikan tanggal pernikahan. Weisman, dalam bukunya, Serious Doubts (Keraguan Serius) berkata: “Jika Anda sangat ragu menikahi seseorang, jangan nekat! Dengarkan suara hati agar jangan salah jalan.”

Hati adalah pusat kehidupan batin. Tempat diolahnya perasaan dan pikiran terdalam. Dari hati muncul penilaian jujur pada diri sendiri. Suara hati membisikkannya kepada kita, terutama jika ada yang tak beres. Kita bisa saja mengabaikannya dan lebih menuruti apa kata orang. Namun, hati akan merana (ayat 10, 13). Orang bijak tak akan bertindak berdasarkan apa kata orang (ayat 15). Ia akan berhati-hati melangkah; peka mendengar suara hati. Ia tak akan ceroboh mengambil jalan yang disangka lurus. Ia tidak akan menjalaninya sebelum yakin bahwa jalan itu benar-benar lurus.

Salah jalan memang bukan akhir. Tuhan bisa membuat keputusan-keputusan keliru yang kita buat menjadi sesuatu yang berakhir baik. Anda, dengan pertolongan Tuhan, bisa kembali menempuh jalan yang benar. Namun, prosesnya menghabiskan waktu dan tenaga. Menguras pikiran dan perasaan. Anda akan mengalami kesusahan yang tak perlu terjadi. Jadi, sebelum mengambil keputusan penting, datanglah kepada Tuhan. Mintalah kepekaan untuk mendengar pimpinan-Nya, bahkan lewat suara hati Anda –JTI

SUARA HATI ADALAH SOBAT YANG PALING BERANI BICARA

IA BERANI BERKATA “TIDAk” SAAT SEMUANYA BERKATA “YA”

Dikutip : www.sabda.org


LALANG DAN GANDUM

Shalom…salam miracle, jemaat yang diberkati Tuhan.

Cerita mengenai panen akhir tidak lepas dari perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam Matius 13:24-30, yaitu tentang gandum dan lalang. Bagian menarik dapat saudara temukan dalam ayat 29-30 “tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berbekas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku. Ayat-ayat ini berbicara mengenai panen akbar yang akan terjadi pada akhir zaman.

 

Tetapi sebelum panen itu terjadi, terjadi pemisahan antara lalang dan gandum, kedua jenis tanaman itu sama-sama bertumbuh di tempat yang sama. Jadi kedua tanaman ini berbicara mengenai orang benar dan orang fasik yang dibiarkan hidup berdampingan bersama-sama atau orang yang tinggal dalam kegelapan dengan kita yang telah menjadi anak terang. Lalu apa dampaknya? Yang jelas keduanya mempunyai cara dan gaya hidup sendiri-sendiri.

 

Tuhan sengaja membiarkan kita berada di tengah-tengah tetangga yang mungkin setiap hari mengolok karena kekristenan kita. Atau mungkin juga seseorang yang menyebalkan dengan tingkah lakunya, mungkin teman-teman kerja atau bahkan sahabat yang setiap hari menjebak saudara untuk berbuat dosa dengan melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hati Tuhan, atau saudara kecewa dengan arus informasi negatif melalui media massa, tontonan televisi atau internet yang mempengaruhi kejiwaan atau mental anak-anak. Saudara tidak bisa berdoa meminta supaya mereka disingkirkan, dipindahkan dari sekitar saudara atau “diangkat” Tuhan, sebab Tuhan izinkan ilalang itu tumbuh.

 

Yang penting disini adalah menjaga status saudara sebagai “gandum”. Perbuatan-perbuatan gandum itu terang dan memuliakan Bapa di Surga, senantiasa ada kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kelemahlembutan, juga penguasaan diri. Dan perbuatan-perbuatan terang dari gandum itu membuat heran kelompok ilalang. Seperti yang dikatakan Rasul Petrus dalam 1 Petrus 4:4 “sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka dalam kubangan  ketidaksenonohan yang sama, dan mereka menfitnah kamu.”

Sementara Rasul Yohanes menyampaikan nasehat terhadap mereka yang menutup hati, tidak menjadi terang terhadap saudaranya yang mungkin menyebalkan (1 Yohanes 3:17) dengan teguran, apakah ada kasih dalam orang tersebut? Untuk itu biarlah “terang” senantiasa ada dalam kehidupan kita semua sehingga dapat menjadi berkat bagi orang lain. Saudara dipanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain dengan apa yang saudara miliki sekarang ini.

 

Saya mau sampaikan kepada jemaat Tuhan semua sebagai “warga gandum” bahwa saudara mempunyai harga diri sebagai gandum, saudara bukan ilalang!! Bahkan kewargaan saudara disebutkan ada di dalam Surga (Filipi 3:20). Kalau saudara melakukan perbuatan-perbuatan yang memalukan dan senatiasa berbuat dosa, yang sebenarnya saudara sudah mengetahui bahwa itu perkara DOSA, itu berarti saudara menjerumuskan diri sendiri dan masuk dalam kubangan atau comberan. Saya percaya kita semua tidak mau tinggal dan diam dalam kubangan dosa, sebab betapa menyedihkan hal tersebut

Untuk itu pastikan bahwa saudara adalah gandum.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…!!

 

 

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Gembala Sidang

“KACAMATA” ALLAH”

Jumat, 25 Maret 2011

Bacaan : Mazmur 73:12-28

12Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! 13Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.

14Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.

15Seandainya aku berkata: “Aku mau berkata-kata seperti itu,” maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu.

16Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,

17sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.

18Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.

19Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!

20Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina.

21Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya,

22aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu.

23Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.

24Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.

25Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.

26Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.

27Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau.

28Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.

“KACAMATA” ALLAH”

Saat kita melihat apa yang terjadi di dunia ini, bisa jadi kita merasa seolah-olah Tuhan tidak adil. Mengapa? Sebab Tuhan sepertinya membiarkan ketidakbenaran merajalela. Orang jahat bisa bebas melakukan kejahatan tanpa terkena hukuman. Itulah yang akan kita lihat jika melihat dunia dari “kacamata” kita.

Pemazmur pernah mengalami hal yang sama. Ia melihat bahwa orang fasik hidup dengan makmur dan sukses (ayat 12). Sedangkan dirinya, malah tidak demikian. Itu membuatnya berpikir bahwa mempertahankan hidup benar adalah hal yang sia-sia (ayat 13). Namun semuanya berubah tatkala ia memandang hal tersebut dari sudut pandang Allah (ayat 17). Kesudahan orang fasik yang diperlihatkan kepadanya, sungguh membukakan mata (ayat 18-20). Membuatnya sadar bahwa hal paling berharga dalam dirinya adalah Allah sendiri, bukan hal-hal fana seperti yang dikejar orang fasik. Hanya Tuhan yang menjaminnya masuk dalam kemuliaan kekal, bukan kemakmuran duniawi apa pun. Itu sebabnya ia mengatakan bahwa yang ia ingini di bumi dan di surga hanyalah Allah (ayat 25, 26).

Maka, mari lihat segala sesuatu dari “kacamata” Allah, sehingga kita dapat melihat kebenaran yang sesungguhnya. Tidak perlu kita mengingini hal-hal yang dicapai orang lain secara tidak benar. Sebab, keadilan Tuhan tidak dapat dipermainkan oleh manusia. Dengan demikian, jangan berhenti untuk selalu hidup dan berlaku benar di hadapan Allah. Walau ganjarannya tak segera tampak. Ingatlah bahwa Tuhan memberi kesudahan hidup setiap manusia, sesuai dengan kebenaran yang dihidupinya. Ganjaran-Nya selalu adil –RY

KIRANYA HIDUP KITA TAK MENGEJAR YANG FANA SAJA

KEJARLAH TUHAN SEBAGAI HARTA YANG PALING BERHARGA

Sumber : www.sabda.org

JANGAN MARAH!

Rabu, 12 Mei 2010

Bacaan : Mazmur 37:1-20

37:1. Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang;

37:2 sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.

37:3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,

37:4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

37:5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

37:6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.

37:7. Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.

37:8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

37:9 Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.

37:10 Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.

37:11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.

37:12 Orang fasik merencanakan kejahatan terhadap orang benar dan menggertakkan giginya terhadap dia;

37:13 Tuhan menertawakan orang fasik itu, sebab Ia melihat bahwa harinya sudah dekat.

37:14 Orang-orang fasik menghunus pedang dan melentur busur mereka untuk merobohkan orang-orang sengsara dan orang-orang miskin, untuk membunuh orang-orang yang hidup jujur;

37:15 tetapi pedang mereka akan menikam dada mereka sendiri, dan busur mereka akan dipatahkan.

37:16 Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik;

37:17 sebab lengan orang-orang fasik dipatahkan, tetapi TUHAN menopang orang-orang benar.

37:18 TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya;

37:19 mereka tidak akan mendapat malu pada waktu kecelakaan, dan mereka akan menjadi kenyang pada hari-hari kelaparan.

37:20 Sesungguhnya, orang-orang fasik akan binasa; musuh TUHAN seperti keindahan padang rumput: mereka habis lenyap, habis lenyap bagaikan asap.

JANGAN MARAH!

Pernahkah Anda melihat anak nelayan memancing kepiting? Mereka mengikatkan tali di sebatang bambu. Ujungnya diikatkan pada batu kecil. Lalu bambu itu diayun ke arah kepiting yang diincar, dan disentak-sentakkan agar kepiting itu marah. Begitu si kepiting marah, ia akan mencengkeram batu kecil itu dengan kuat dan terjeratlah ia karena kemarahannya!

Karena adanya akibat serupa dengan gambaran di atas, itulah sebabnya amarah anak Tuhan tidak boleh terpancing melihat orang jahat. Tiga kali pemazmur menasihati para pembacanya agar jangan marah kepada orang yang berbuat jahat (ayat 1, 7, 8). Alasannya, itu hanya akan membawa kita pada kejahatan. Emosi tinggi bisa membuat kita berbuat sesuatu yang berakibat buruk. Misalnya karena ingin melampiaskan kemarahan, kita justru menyakiti orang lain_fisik atau perasaan. Bahkan, sekalipun kemarahan itu beralasan! Anak Tuhan bisa menjadi marah atau iri hati terhadap orang jahat, yang bebas berbuat jahat, tetapi seolah-olah hidup mereka tetap aman dan terlindungi dari murka Allah. Seakan-akan Allah tidak adil. Sepertinya Dia membiarkan saja jika orang benar lebih kerap bermasalah dibanding orang jahat. Benarkah?

Jika kita harus menyaksikan kefasikan merajalela dan anak Tuhan tak bisa berbuat apa-apa, kita harus meneguhkan hati untuk tidak marah. Ya, marah kepada orang fasik hanya membuat kita masuk ke dalam pancingan mereka. Dan kemarahan yang tak terkendali justru akan menjerat pelakunya ke dalam dosa. Ingat saja kata pemazmur. Orang fasik takkan bertahan lama dalam keberdosaan, kejahatan mereka akan terbongkar. Tuhan selalu adil. Dia tidak menutup mata atas kefasikan. –ENO

KEBERUNTUNGAN ORANG FASIK HANYA SEMENTAR

KEBERUNTUNGAN ORANG BENAR SUNGGUH TAK TERKIRA

Sumber : www.sabda.org