DUA MACAM KUIS

Selasa, 9 Agustus 2011

Bacaan : Lukas 16:19-31

16:19. “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,

16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.

16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,

16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.

16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”
 

DUA MACAM KUIS

Daya tertarik pada sebuah terusan imel yang berisi dua macam kuis. Kuis pertama meminta responden menyebutkan nama lima orang terkaya di dunia, sepuluh pemenang hadiah Nobel, dan pemenang kontes Miss Universe dalam lima tahun terakhir. Dapatkah Anda menjawabnya? Kuis yang kedua meminta para responden menyebutkan dua sahabat yang pernah menolong mereka saat dalam kesulitan. Lima guru yang pernah membesarkan semangat mereka. Lima orang terdekat yang pernah membuat mereka merasa spesial dan dihargai. Bila Anda mengikuti dua kuis ini, manakah yang dapat Anda jawab dengan lebih mudah?

Nyatanya, popularitas sehebat apa pun bisa berlalu. Prestasi sebesar apa pun-bisa dilupakan. Sebaliknya, kepedulian dan perhatian tulus seseorang, dapat sangat berarti dan mengubah hidup. Bukan berarti prestasi tak penting. Namun, ada tugas kehidupan yang juga penting kita lakukan selagi ada kesempatan. Yakni berbagi berita keselamatan dan berbagi hidup dengan sesama, agar hidup lebih bermakna.

Jangan sia-siakan kesempatan, seperti si orang kaya dalam perumpamaan Yesus. Ketika ia masih hidup, kesenangan hidup menutupi mata hatinya untuk berbagi dengan Lazarus-orang yang ia kenal dan dapat ia jangkau. Lalu ketika hidupnya di dunia berakhir, ia tak dapat mengulang waktu atau mengubah sikap. Padahal, andai dulu ia mau berbagi dengan Lazarus, sangat mungkin kisah hidupnya tak sama. Ia bisa berdampak bagi Lazarus. Sebaliknya, Lazarus pun bisa saja membagikan kebenaran yang menyelamatkan hidup si orang kaya. Maka, jangan takut merasa rugi untuk berbagi. Hidup kita pasti semakin berarti kala kita peduli –AW

TUHAN MEMBERI MANUSIA HATI YANG PEDULI

AGAR HIDUPNYA BERARTI TAK HANYA BAGI DIRI SENDIRI

Dikutip : http://www.sabda.org

 

Iklan

SUKSES TETAPI KASIHAN

Selasa, 26 April 2011

Bacaan : Markus 10:17-30

17Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

18Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.

19Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!”

20Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.”

21Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

22Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

23Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

24Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.

25Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

26Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”

27Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”

28Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!”

29Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya,

30orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.

SUKSES TETAPI KASIHAN

Sungguh pemuda sukses yang hebat! Ia masih belia, tetapi sudah menjadi pemimpin dan kaya raya (bandingkan Matius 19:20-22 dengan Lukas 18:18). Tak hanya kaya materi, tetapi juga secara “rohani”. Sejak muda ia dididik mendalami Hukum Taurat dan menjalankannya (ayat 20). Ia dikagumi di lingkungan komunitas Yahudi saat itu. Ia juga dipandang berbakti kepada orangtua, sebab ia menghormati ayah-ibunya sejak belia dan tetap menghormatinya meski sudah sukses. Siapa tak bangga punya anak seperti ini?

Dengan kerinduan dan semangat, ia berlutut di hadapan Yesus rabi muda yang menyedot massa karena kharisma dan kuasa-Nya dalam berkhotbah dan mengadakan tanda ilahi. Ia mohon petunjuk Yesus; apa lagi yang perlu diperbuat agar layak masuk ke Kerajaan Allah. Dalam berelasi dengan sesama, ia patut diacungi jempol. Dalam berbuat baik, ia hebat. Namun, ada satu yang kurang, dan hanya Yesus yang tahu: bahwa kekayaan materi, martabat sosial, dan “kekayaan rohani” yang ia punya menjadi ilah yang diandalkan sebagai “tiket” ke surga menggantikan Allah. Maka, ia diminta menjual semua, membagikannya ke orang miskin, dan mengikut Yesus, sebagai bukti bahwa ia diselamatkan hanya oleh belas kasihan Allah. Betulkah ia merasa perlu petunjuk Yesus? Tidak! Sebab ia kecewa dan mengabaikan tawaran sejati untuk memasuki Kerajaan Allah. Alasan utamanya karena “banyak hartanya” (ayat 22).

Pemuda “sehebat” ini ternyata tak layak masuk Kerajaan Allah. Bagaimana dengan Anda? Beranikah Anda meletakkan seluruh kebanggaan Anda sebagai manusia, lalu datang kepada Allah sebagai orang yang miskin dan haus akan kebenaran? –SST

SEGALA KEHEBATAN MANUSIA TAK MEMBAWA KE SURGA

SUNGGUH HANYA KEMURAHAN YESUS YANG MEMBAWA KITA KE SANA

Dikutip dari : www.sabda.org

 

TRAGEDI

Jumat, 3 Desember 2010

Bacaan : Lukas 16:19-31

19″Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

20Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,

21dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

22Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.

23Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

24Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

25Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

26Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

27Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,

28sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

29Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

30Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.

31Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

TRAGEDI

Film garapan James Cameron, Titanic, melukiskan tragedi tenggelamnya kapal pesiar raksasa yang memakan korban ribuan jiwa pada malam dingin di tengah Samudra Atlantik. Di hari tuanya, se-orang saksi hidup, Rose Calvert, mengenang tragedi itu dan berkomentar dalam sinisme pedih: “Malam itu ada 1.500 orang tewas bersama tenggelamnya kapal. Hanya 6 jiwa yang berhasil diselamatkan, termasuk aku. Padahal ada 20 kapal sekoci di dekat kami, yang sebenarnya masih bisa menampung pe-numpang, tetapi mereka diam dan menunggu. Menunggu pertolongan lain datang dan menunggu satu per satu jiwa melayang ….”

Tragedi selalu ada. Namun, ada tragedi yang sebetulnya tak perlu terjadi. Paling tidak, tak perlu separah itu, asal ada orang yang mau berbuat sesuatu. Kematian tragis Lazarus dalam perumpamaan Yesus ini adalah contohnya. Mati karena sakit dan lapar, sementara di dekatnya ada orang kaya yang punya segala kesempatan dan potensi untuk menolong. Namun, ternyata ia tidak berbuat apa-apa, sampai terjadi tragedi itu. “Kemudian matilah orang miskin itu …” (ayat 22).

Mengapa ia tidak berbuat sesuatu? Adegan di alam maut menjawabnya. Ia tak pernah tahu rasanya kesakitan. Baru di situ ia tahu rasa! Tahu benar perihnya kulit terbakar dan keringnya kerongkongan karena dahaga (ayat 24). Sayang, sudah terlambat. Andai waktu masih hidup ia tahu sakitnya penderitaan Lazarus, mau peduli dan berempati, ceritanya akan lain.

Belum terlambat bagi kita untuk berempati dan peduli. Masih banyak “Lazarus” yang menanti seseorang berbuat sesuatu. Daripada menunggu, lebih baik berbuat sesuatu –PAD

JANGAN BIARKAN TRAGEDI TERJADI

HANYA KARENA KITA TIDAK MAU BEREMPATI DAN PEDULI

Sumber : www.sabda.org

ILUSI

Sabtu, 27 November 2010

Bacaan : Lukas 12:13-21

13Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”

14Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”

15Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

16Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.

17Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.

18Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.

19Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!

20Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? 21Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

ILUSI

Ilusi adalah bayangan yang menipu. Disangka nyata, padahal tidak. Ada satu ilusi di hidup ini yang begitu dipercaya manusia. Yakni bahwa seakan-akan manusia bisa “punya” sesuatu. Bukankah manusia berjuang agar bisa “punya” ini dan itu? Jika belum “punya”, ia ingin “punya”. Jika sudah “punya”, ia ingin “punya” lebih. Semua iklan menggelitik “rasa belum punya” kita. Orang yang dianugerahi talenta untuk berkarya, dibilang “punya” prestasi. Orang yang dikaruniai anak, mengaku “punya” anak. Orang kaya sering disebut “orang berpunya”. Betulkah manusia bisa benar-benar “punya”?

Perumpamaan Yesus menyingkap kebenaran, sekaligus membongkar kepalsuan (ilusi). Tokoh “orang kaya” ini menghidupi bayangan semu seolah-olah ia “punya”. Ia dilukiskan sebagai orang yang berdialog dengan diri sendiri tentang topik “punya”. Mulai dari posisi “belum punya” (ayat 17), “ingin punya” (ayat 18), sampai akhirnya membayangkan kalau “sudah punya” (ayat 19). Namun, akhir kisahnya tragis: jiwanya diambil, dan ia tak berdaya! Artinya, sebenarnya ia tak “punya” apa-apa. Apa yang ada padanya cuma titipan, karunia Allah. Termasuk jiwanya sendiri, ia tak ikut “punya”.

Berlagak “punya”, saling menuntut “punyaku, bukan punyamu” adalah sumber sengketa, termasuk di antara saudara. Seperti orang yang meminta Yesus menjadi penengah soal warisan di awal perum-pamaan (ayat 13). Ilusi ini menyesatkan. Padahal Sang Empunya segala sesuatu adalah Tuhan. Kita hanya pengelola segala milik-Nya yang dipercayakan: waktu, tenaga, harta, talenta, keturunan. Ber-syukurlah atasnya. Bekerja keraslah untuknya. Berbagilah dengannya. Bertanggung jawablah kepada Pemiliknya –PAD

KITA “DATANG” DAN “PERGI” TAK MEMBAWA APA-APA

SEGALANYA HANYA KARUNIA DARI SANG EMPUNYA SEGALA

Sumber : www.sabda.org

MEMILIH UNTUK SEDERHANA

Kamis, 22 Juli 2010

Bacaan : Yakobus 5:1-6

5:1. Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!

5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!

5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.

5:4 Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu.

5:5 Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.

5:6 Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.

MEMILIH UNTUK SEDERHANA

Wal-Mart memang tidak ada di Indonesia, tetapi ada kisah menarik dari bisnis ritel ini. Dalam skala global, Wal-Mart menempati urutan teratas jaringan ritel. Bahkan, buku 100 Great Business Ideas mencatat bahwa hasil penjualan satu hari di Wal-Mart lebih besar dari Pendapatan Domestik Bruto dari 36 negara. Namun di balik cerita sukses tersebut, ada cerita menarik. Sam Walton, pemimpin jaringan Wal-Mart, justru terkenal karena penampilannya yang sederhana dan hobinya yang dinilai eksentrik: minum kopi di belakang toko seperti karyawan biasa. Sam Walton tidak sendiri. Ingvar Kamprad, miliarder pemilik IKEA (peritel terbesar perabot untuk rumah) tidak pernah memakai jas, selalu terbang dengan tiket kelas ekonomi, mengendarai Volvo yang umurnya sudah sepuluh tahun dan tidak ragu menaiki kendaraan umum.

Orang-orang kaya kerap digambarkan sebagai sosok yang tak disukai di dalam Alkitab. Apakah orang kristiani tidak boleh kaya? Pangkal persoalannya bukan di sini. Perikop hari ini menekankan bahwa hal yang tidak disukai Tuhan dari “orang kaya” adalah apabila ia berfokus mengumpulkan harta duniawi (ayat 3), mencurangi orang lain demi materi (ayat 4), dan bergaya hidup hedonis (ayat 5).

Disadari atau tidak, kita kerap menempatkan kesederhanaan dalam posisi yang berbanding lurus dengan kemiskinan; karena itu kita ingin menghindarinya. Namun, prinsip ini jelas tidak berlaku bagi Sam Walton atau Ingvar Kamprad. Juga terlebih bagi Kristus sendiri, yang meneladankan hidup penuh kesederhanaan. Maka, kita belajar bahwa sikap sederhana justru menunjukkan kekayaan batin seseorang –OLV

BERGAYA HIDUP SEDERHANA TAK ADA RUGINYA

MALAH MENOLONG KITA TAK EGOIS DAN

BERBAGI DENGAN SESAMA

Sumber : www.sabda.org