KOK BISA, YA?

Selasa, 24 Juli 2012

Bacaan : Hakim-hakim 2:6-14

2:6. Setelah Yosua melepas bangsa itu pergi, maka pergilah orang Israel itu, masing-masing ke milik pusakanya, untuk memiliki negeri itu.

2:7 Dan bangsa itu beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua dan sepanjang zaman para tua-tua yang hidup lebih lama dari pada Yosua, dan yang telah melihat segenap perbuatan yang besar, yang dilakukan TUHAN bagi orang Israel.

2:8 Dan Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, mati pada umur seratus sepuluh tahun;

2:9 ia dikuburkan di daerah milik pusakanya di Timnat-Heres, di pegunungan Efraim, di sebelah utara gunung Gaas.

2:10 Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel.

2:11 Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal.

2:12 Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN.

2:13 Demikianlah mereka meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret.

2:14 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel. Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan perampok dan menjual mereka kepada musuh di sekeliling mereka, sehingga mereka tidak sanggup lagi menghadapi musuh mereka.

 

KOK BISA, YA?

“Kok bisa, ya? Padahal orangtuanya tidak begitu.” Anda mungkin pernah mendengar ekspresi demikian ketika anak-anak muda dianggap tidak mengikuti teladan orangtuanya. Misalnya saja sang bapak pendeta, tetapi si anak terjerat narkoba; sang ibu guru Sekolah Minggu, tetapi si anak biang keributan. Herankah Anda? Atau Anda biasa melihat fenomena serupa?

Saat mengamati ayat ke-10, mungkin Anda juga bertanya, “Kok bisa, ya?” Bukankah ayat 7 mencatat bahwa sepanjang hidup Yosua dan para tua-tua yang pernah dipimpinnya, bangsa Israel setia beribadah kepada Tuhan? Bagaimana mungkin angkatan sesudah mereka tak lagi mengenal Tuhan? Kita tak tahu pasti prosesnya, tetapi akibatnya terekam jelas: terbentuk generasi baru yang melakukan kejahatan di mata Tuhan, berpaling menyembah ilah lain (ayat 11-13). Sebab itu, Tuhan murka dan menyerahkan mereka ke tangan musuh (ayat 14). Besar kemungkinan, Ulangan 6:4-9 tidak lagi diterapkan secara konsisten oleh para orangtua. Ibadah-ibadah raya mungkin tetap berlangsung, tetapi anak-anak tidak memahami apa bedanya dengan ibadah bangsa lain. Mereka mungkin melihat ritualnya, tetapi tak mengenal Tuhan-nya.

Lebih dari sekadar memperkenalkan gedung gereja dan membawa anak ke Sekolah Minggu, orangtua bertanggung jawab memperkenalkan Tuhan kepada anak-anaknya. Dari hati yang mengenal dan mencintai Tuhan, akan lahir sikap beribadah kepada-Nya. Gereja perlu lebih bersungguh hati memperlengkapi para orangtua untuk bisa mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak, dan makin sering mengumandangkan peringatan ini: kelalaian generasi kita dapat menyebabkan kehancuran bagi generasi berikutnya. –ELS

PENGENALAN AKAN TUHAN YANG DIPELIHARA DI TIAP KELUARGA

AKAN MEWARISKAN IMAN YANG BERTUMBUH PADA GENERASI BERIKUTNYA.

Iklan

MENDIDIK ANAK

Sabtu, 24 Juli 2010

Bacaan : 1 Samuel 2:12-26

2:12 Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,

2:13 ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu. Setiap kali seseorang mempersembahkan korban sembelihan, sementara daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu bergigi tiga di tangannya

2:14 dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke dalam belanga atau ke dalam periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri. Demikianlah mereka memperlakukan semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo.

2:15 Bahkan sebelum lemaknya dibakar, bujang imam itu datang, lalu berkata kepada orang yang mempersembahkan korban itu: “Berikanlah daging kepada imam untuk dipanggang, sebab ia tidak mau menerima dari padamu daging yang dimasak, hanya yang mentah saja.”

2:16 Apabila orang itu menjawabnya: “Bukankah lemak itu harus dibakar dahulu, kemudian barulah ambil bagimu sesuka hatimu,” maka berkatalah ia kepada orang itu: “Sekarang juga harus kauberikan, kalau tidak, aku akan mengambilnya dengan kekerasan.”

2:17 Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN.

2:18 Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN; ia masih anak-anak, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan.

2:19 Setiap tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya, apabila ia bersama-sama suaminya pergi mempersembahkan korban sembelihan tahunan.

2:20 Lalu Eli memberkati Elkana dan isterinya, katanya: “TUHAN kiranya memberikan keturunan kepadamu dari perempuan ini pengganti yang telah diserahkannya kepada TUHAN.” Sesudah itu pulanglah mereka ke tempat kediamannya.

2:21 Dan TUHAN mengindahkan Hana, sehingga dia mengandung dan melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan lagi. Sementara itu makin besarlah Samuel yang muda itu di hadapan TUHAN.

2:22 Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan,

2:23 berkatalah ia kepada mereka: “Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu?

2:24 Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran.

2:25 Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?” Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.

2:26 Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.

MENDIDIK ANAK

Film Horsemen yang beredar di Indonesia pada September 2009, berkisah tentang seorang detektif yang bernama Aidan Breslin. Istrinya telah meninggal dan ia harus mengurus dua anaknya sendirian. Kesibukannya dalam pekerjaan membuat ia jarang sekali punya waktu buat kedua anaknya. Apalagi ketika ia ditugaskan untuk menyelidik kasus pembunuhan sadis di kotanya. Akhir kisah, Breslin berhasil mengungkap kasus pembunuhan tersebut yang ternyata bersumber pada anak-anak yang kehilangan perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Tragisnya, Alex, anak sulungnya, ternyata juga terlibat.

Dalam kasus yang berbeda, Eli mengalami hal serupa. Anak-anaknya hidup bergelimang dosa. Alkitab menyebut mereka orang-orang dursila (ayat 12). Tampaknya kesibukan Eli sebagai imam bagi bangsa sebesar Israel dengan berbagai tuntutan dan persoalannya, telah begitu banyak menyita waktu dan tenaga Eli. Sehingga, ia tidak lagi dapat memantau anak-anaknya. Ia hanya mendengar dari orang lain tentang perbuatan mereka (ayat 23). Kerap kali sebagai orangtua, kita hanya fokus pada kebutuhan materi anak-anak. Padahal kebutuhan rohani, berupa waktu bersama dan perhatian, tidak kalah penting.

Selain itu, rupanya Eli juga tidak tegas kepada anak-anaknya. Ketika tahu bahwa anak-anaknya telah berbuat dosa, ia tidak mendisiplin mereka (1 Samuel 3:13). Tidak sedikit orangtua karena berbagai alasan, enggan untuk mendisiplin anak-anaknya. Akibatnya, tindakan mereka menjadi tidak terkendali. Semoga kita belajar dari kisah Eli dan anak-anaknya itu, sehingga kita pun tidak melakukan kesalahan yang sama pada anak-anak kita –AYA

SALAH SATU PEMBERIAN TERBAIK ORANGTUA

BUAT ANAK-ANAKNYA ADALAH WAKTU BERSAMA

Sumber : www.sabda.org

FIGUR BAPA

Sabtu, 5 September 2009

Bacaan : Efesus 6:1-9

6:1. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.

6:2 Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:

6:3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

6:5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,

6:6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah,

6:7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.

6:8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.

6:9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

 FIGUR BAPA

Salah satu penyebab terbesar rusaknya generasi ini adalah karena mereka tidak mendapatkan figur bapa. Jika figur bapa dipulihkan, maka generasi ini juga akan mengalami pemulihan. Dalam buku Father’s Connection karya Josh McDowell, ada sebuah data yang sangat menarik.

Pertama, Dr. Loren Moshen menemukan bahwa sebagian besar pelanggaran hukum yang dilakukan remaja dan pemuda sebenarnya bukan karena kemiskinan, tetapi karena ketidakhadiran ayah. Mereka tidak memiliki figur bapa. Kedua, 60% gadis remaja yang dibesarkan tanpa ayah, cenderung melakukan hubungan seks sebelum menikah. Ketiga, hampir sebagian besar hidup manusia dipengaruhi oleh orangtua. Jika dibesarkan dengan kecaman, anak jadi suka mencela. Jika dibesarkan dalam permusuhan, anak jadi suka bertengkar. Jika orangtua tak pernah mendukung, anak jadi minder dan tak percaya diri. Dan sebagainya.

Jika anak kita bertumbuh menjadi anak yang nakal, suka memberontak, bahkan melakukan tindakan-tindakan kriminal, yang pertama kali mesti dikoreksi bukanlah mereka, melainkan kita. Terlebih dulu kita perlu menjawab pertanyaan ini, “Apakah kita sudah menjadi figur bapa yang baik bagi mereka?”

Mungkin selama ini kita frustrasi mengubah sikap anak kita yang buruk. Sampai-sampai kita merasa gagal mendidik mereka. Kini, izinkan Roh Kudus membuka mata rohani kita, sehingga kita bisa lebih dulu berkomitmen untuk berubah. Agar kita dapat menjadi orangtua yang tak hanya berteori, tetapi memberi teladan hidup yang baik. Orangtua yang bijak dan punya integritas. Orangtua yang mampu membuat hati anak-anak bangga memiliki kita! -PK

KETIKA FIGUR BAPA DALAM DIRI KITA DIPULIHKAN

ANAK-ANAK KITA JUGA PASTI MENGALAMI PEMULIHAN!

Sumber : www.sabda.org

PEMBODOHAN

Jumat, 24 Juli 2009

Bacaan : Matius 23:1-12

23:1. Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:

23:2 “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

23:5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;

23:6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;

23:7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

23:8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

23:9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.

23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

23:11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

23:12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

 

PEMBODOHAN

Tujuan pendidikan adalah membuat seseorang yang tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak bisa menjadi bisa. Dari yang sudah tahu menjadi lebih tahu. Dan dari yang sudah bisa menjadi lebih bisa. Sehingga ada perubahan dalam hidup. Dan untuk mewujudkan semuanya itu diperlukan seorang guru yang memang memiliki hati untuk mendidik siswanya.

Yesus menegur orang-orang Farisi dengan sangat keras karena mereka tidak menjadi guru yang baik bagi umat. Orang Farisi sebagai orang yang duduk di kursi Musa, yaitu orang yang memahami hukum dan peraturan agama, memiliki tugas membawa umat menjadi orang-orang yang hidup sesuai hukum Tuhan. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Baca lebih lanjut