IKAN BESAR

Jumat, 11 Mei 2012

Bacaan : Yunus 1:17-2:10

1:17 Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.

2:1. Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,

2:2 katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.

2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.

2:4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?

2:5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku

2:6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.

2:7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

2:8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.

2:9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!”

 

2:10. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

 

IKAN BESAR

Orang Ibrani mempunyai keyakinan bahwa “dunia orang mati” itu berada di bawah. Ya, jauh di kedalaman di bawah sana. Gelap; mengerikan; jauh dari hadirat Tuhan. Ketika Yunus dilempar ke dalam lautan yang sedang bergelora, pastilah ia merasa bahwa dirinya sedang dikirim ke “dunia orang mati” itu. Ternyata tidak! Seekor “ikan besar” menelannya atas perintah Tuhan!

Yunus berada di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam. Ia menyadari, ternyata di pusat lautan, ia masih hidup (ayat 3). Tuhan belum selesai berurusan dengannya. Yunus bukan saja dikejar-Nya dengan “badai besar” (lihat Yunus 1:12), melainkan juga ditangkap-Nya dengan “ikan besar”. Kini, ia layaknya seorang anak dalam genggaman erat tangan bapanya. Yunus sadar, jika “badai besar” dan “ikan besar” saja taat kepada Tuhan, bukankah sepatutnya ia mematuhi panggilan Tuhan? Ia teringat kepada Tuhan (ayat 7). Dan, dalam kesempatan hidup yang kedua itulah Yunus bertekad memenuhi nazarnya kepada Tuhan dalam rasa syukur, Yunus berdoa kepada Tuhan (ayat 9). Perut ikan itu seolah malah menjadi sebuah ruang doa yang hening bukan kuburan sepi baginya.

Apakah kita merasa tengah berada di “perut ikan besar” yang menelan kita setelah kesalahan besar yang kita lakukan pada masa lampau? Mungkin itu adalah kondisi sakit parah, ekonomi yang sedang jatuh, studi yang gagal, cinta yang kandas, atau bahkan jeruji penjara. Tuhan belum selesai dengan kita. Berpalinglah kepada-Nya dan berdoalah, dengan diiringi keyakinan bahwa kondisi kini apa pun itu justru dapat Dia pakai sebagai “perut ikan” yang akan mengembalikan kita kepada tujuan-Nya yang mulia. –PAD

SEKALIPUN RENCANA KITA GAGAL TERLAKSANA,

TUHAN TAK PERNAH GAGAL MEMENUHI RANCANGAN-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

PURA-PURA TULI

Selasa, 21 Februari 2012

Bacaan : 1 Samuel 10:17-27

10:17. Kemudian Samuel mengerahkan bangsa itu ke hadapan TUHAN di Mizpa

10:18 dan ia berkata kepada orang Israel itu: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Aku telah menuntun orang Israel keluar dari Mesir dan telah melepaskan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan segala kerajaan yang menindas kamu.

10:19 Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, dengan berkata: Tidak, angkatlah seorang raja atas kami. Maka sebab itu, berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu.”

10:20 Lalu Samuel menyuruh segala suku Israel tampil ke muka, maka didapati suku Benyamin.

10:21 Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati Saul bin Kish. Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan.

10:22 Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: “Apa orang itu juga datang ke mari?” TUHAN menjawab: “Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang.”

10:23 Berlarilah orang ke sana dan mengambilnya dari sana, dan ketika ia berdiri di tengah-tengah orang-orang sebangsanya, ternyata ia dari bahu ke atas lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.

10:24 Dan Samuel berkata kepada seluruh bangsa itu: “Kamu lihatkah orang yang dipilih TUHAN itu? Sebab tidak ada seorangpun yang sama seperti dia di antara seluruh bangsa itu.” Lalu bersoraklah seluruh bangsa itu, demikian: “Hidup raja!”

10:25 Kemudian Samuel menguraikan kepada bangsa itu tentang hak-hak kerajaan, menuliskannya pada suatu piagam dan meletakkannya di hadapan TUHAN; sesudah itu Samuel menyuruh seluruh bangsa itu pulang, masing-masing ke rumahnya.

10:26 Saulpun pulang ke rumahnya, ke Gibea, dan bersama-sama dengan dia ikut pergi orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah.

10:27 Tetapi orang-orang dursila berkata: “Masakan orang ini dapat menyelamatkan kita!” Mereka menghina dia dan tidak membawa persembahan kepadanya. Tetapi ia pura-pura tuli.

PURA-PURA TULI

Seorang perempuan yang terkenal suka bergunjing mendatangi raja dengan banyak keluhan negatif mengenai saudaranya. Raja menjawab, “Itu bukan urusan saya.” Perempuan itu pun mengganti topik pembicaraan; menyampaikan keluhan negatif dari saudaranya tentang raja. Raja berkomen tar, “Itu bukan urusanmu.” Inilah contoh sikap pemimpin yang dapat memilah hal-hal yang perlu didengar dan ditanggapi.

Kita kerap mendapat kesan buruk tentang Saul, raja pertama Israel. Namun demikian, Alkitab pun mencatat kebaikannya, khususnya saat ia akan memulai pelayanannya sebagai raja. Sebagai pemimpin ia tahu memilih mana suara yang perlu didengarkan di antara yang sama sekali tidak perlu. Terhadap jerit tangis putus asa bangsanya atas ancaman bangsa Amon, ia mampu mendengar dengan prihatin dan menanggapi dengan sigap (1 Samuel 11:1-7). Sedangkan, atas olokan dan penghinaan segolongan orang yang meragukan kemampuan dan kepemimpinannya, ia bersikap “pura-pura tuli” (ayat 27). Ia tak mau membuang energi sekadar meladeni mereka.

Apakah pendapat miring dan bernada nyinyir dari orang lain, saat kita tengah menjalani pekerjaan pelayanan yang Tuhan percayakan, kerap melemahkan kita? Kita lantas habis tenaga dan pikiran menanggapinya. Mintalah hikmat dan kesabaran dari-Nya sehingga kita dapat memilah dan memilih mana yang perlu dan tidak perlu kita tanggapi secara serius. Supaya, kita tetap berfokus pada panggilan Tuhan dan tugas utama yang mesti kita kerjakan. –PAD

Kita perlu selektif dalam hal mendengar

agar fokus kita pada panggilan Tuhan tidak buyar

Dikutip : www.sabda.org

DOA PERTOBATAN

Minggu, 15 Januari 2012

Bacaan : Yohanes 17:14-26

17:14 Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

17:15 Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.

17:16 Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

17:17. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

17:18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;

17:19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.

17:20. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;

17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:

17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

17:24. Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.

17:25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;

17:26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”

DOA PERTOBATAN

Martin Luther mengatakan bahwa tiap orang kristiani seharusnya mengalami dua pertobatan. Pertobatan pertama adalah menanggapi panggilan Tuhan untuk keluar dari dunia masuk ke dalam gereja. Yang kedua adalah diutus kembali ke dalam dunia untuk membawa pesan dan mewujudkan kerajaan Allah.

Perkataan Luther ini menggaungkan doa Yesus menjelang akhir hayat-Nya. Benar bahwa para pengikut Yesus memang dipanggil keluar dari kegelapan dunia menjadi warga kerajaan Allah. Mereka berbeda dari dunia (ayat 14, 16). Tetapi, orang-orang ini tidak langsung dibawa pergi dari dunia (ayat 15). Mereka justru diutus kembali ke dalam dunia, hidup di tengah-tengah masyarakat (ayat 18). Persekutuan orang percaya atau gereja, dalam bahasa Yunani disebut ekklesia, yang secara harfiah berarti “dipanggil keluar”. Orang percaya juga disebut sebagai garam dunia (lihat Matius 5). Dunia yang tidak sedap dan sedang membusuk memerlukan keasinan dan kehadiran garam, yaitu para pengikut Yesus yang memenuhi hakikat dan panggilan keberadaannya.

Ketika berbalik dari dosa dan memercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita telah mengalami pertobatan pertama. Namun, sudahkah kita juga mengalami pertobatan yang kedua? Bagaimanakah hubungan kita dengan dunia di mana Tuhan menempatkan kita: tempat kerja, lingkungan pergaulan, keluarga besar, bahkan orang-orang yang belum percaya? Apa yang dapat kita lakukan agar kehadiran kita sungguh menjadi utusan kabar baik kerajaan Allah dan mewujudkan “tubuh” kehadiran Kristus di sana? –JOO

BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA

SEBERAPA BESAR KASIH ANAK-ANAK-NYA?

Dikutip : www.sabda.org

WUJUD IMAN

Kamis, 29 September 2011
Bacaan : Kejadian 12:4-9 

12:4. Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

12:5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.

12:6. Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.

12:7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.

12:8 Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.

12:9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.

WUJUD IMAN

Sebuah pepatah mengatakan, “life begins at forty” (hidup dimulai pada usia 40). Salah satu artinya ialah: sebelum umur 40, seseorang masih boleh bereksperimen; berganti-ganti karier dan profesi. Namun setelah umur 40, ia harus sudah mantap di satu tempat, menekuni kariernya. Sebab, jika di usia itu ia masih berpindah tempat tinggal dan berganti profesi, ia akan cenderung tak meraih apa-apa.

Namun, lihatlah keberanian Abram menjawab panggilan Tuhan. Yakni ketika Tuhan memintanya meninggalkan tanah kelahiran, sanak keluarga, dan hidup yang sudah mapan di Haran. Waktu itu Abram berusia 75 tahun. Sudah usia senja. Tapi inilah responsnya: “pergilah Abram seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya”. Walau ia belum tahu negeri mana yang dijanjikan Tuhan! Bagaimana ia dapat bersikap demikian? Pertama, Abram sadar benar siapa Tuan atas hidupnya. Kedua, Abram sadar hidupnya milik Tuhan dan ia menghidupi kesadaran ini secara nyata. Ketiga, bila hidupnya milik Tuhan, Abram percaya bahwa masa depan dan hidup matinya ada di tangan Tuhan. Itu sebabnya Abram diberi gelar bapak orang beriman (Galatia 3:7). Iman bukan dogma indah dengan dukungan argumen filsafat yang sulit. Iman itu sederhana dan nyata, yaitu ketaatan melakukan kehendak dan panggilan Bapa.

Dalam hidup kita pribadi; benarkah Yesus menjadi Tuan atas hidup kita? Adakah kita menaati dan meyakini bahwa Dia sanggup menuntun dan memelihara? Beranilah melangkah untuk menjawab panggilan-Nya. Ambillah bagian dalam pelayanan-Nya. Arahkan hidup kepada tanah perjanjian di surga, dan jangan melekat pada harta duniawi. Mari beriman! –SST

BERIMAN ADALAH MENANGGALKAN KEYAKINAN PADA KEMAMPUAN SENDIRI

DAN MENYANDARKANNYA KEPADA TUHAN YANG KASIH-NYA TERBUKTI

Dikutip : www.sabda.org

DISENTIL TUHAN

Minggu, 14 November 2010

Bacaan : Yunus 1

1:1. Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian:

1:2 “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.”

1:3 Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.

 

1:4. Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur.

1:5 Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak.

1:6 Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: “Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa.”

1:7 Lalu berkatalah mereka satu sama lain: “Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini.” Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi.

1:8 Berkatalah mereka kepadanya: “Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?”

1:9 Sahutnya kepada mereka: “Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan.”

1:10 Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: “Apa yang telah kauperbuat?” –sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka.

 

1:11. Bertanyalah mereka: “Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora.”

1:12 Sahutnya kepada mereka: “Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu.”

1:13 Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka.

1:14 Lalu berserulah mereka kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki.”

1:15 Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk.

1:16 Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar.

1:17 Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.

 

DISENTIL TUHAN

Dalam acara bincang-bincang kaum dewasa muda, saya diminta menjadi narasumber bersama seorang rekan yang jauh lebih senior dari saya, mewakili komunitas yang melayani orang miskin kota. Rekan saya ini sudah sangat lama melayani anak-anak jalanan secara penuh waktu. Saya pun banyak belajar darinya. Dalam perbincangan, seorang peserta bertanya kepada kami: “Sampai kapan kalian akan tetap setia atau kapan kalian akan berhenti melakukan pelayanan ini?”

Kalau mau jujur, saya tak ingin menghabiskan hidup saya untuk melayani mereka yang terpinggirkan. Pelayanan ini sangat melelahkan; secara fisik dan emosi. Jadi, saya menjawab bahwa saya akan tetap setia di jalur pendidikan anak, tanpa menspesifikasikan bentuk nyata kontribusi saya seperti apa. Berbeda dari saya, rekan senior saya tadi-yakni Benyamin Lumy-dengan tegas menyatakan: “Sampai sekarang saya tidak menemukan alasan untuk berhenti melayani mereka yang terpinggirkan. Pilihan hidup saya mungkin tidak terlihat berkelimpahan, tetapi saya menemukan bahwa dalam segala hal Tuhan mencukupkan. Saya tidak mau seperti Yunus, harus disentil dulu sama Tuhan untuk mau melayani. Daripada capek berlari dari panggilan Tuhan, lebih baik saya setia saja biar tidak perlu disentil. Toh, tidak ada alasan untuk berhenti.”

Banyak orang tahu cerita Yunus, tetapi hanya sedikit yang mau belajar dari kesalahan Yunus. Terlalu banyak “Tarsis” yang hendak kita tuju, dan “Niniwe” yang ingin kita abaikan. Jika kita sedang melayani di suatu bidang-bahkan yang tak dilirik orang-lakukan saja dengan setia. Tuhan ada di sana. Dia menanti orang yang mau berkarya tulus, menjadi utusan yang melakukan kehendak-Nya –SL

KETIKA KAKI HENDAK MELANGKAH UNTUK MELAYANI

PASTI ADA TANTANGAN DAN GODAAN YANG MENGUJI HATI

Dikutip : www.sabda.org

KENCANA WINGKA

Jumat, 19 Maret 2010

Bacaan : Mazmur 127

127:1. Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.

127:2 Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah–sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

127:3 Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.

127:4 Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.

127:5 Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.

KENCANA WINGKA

Wingka ialah pecahan genting, sedangkan kencana berarti emas. Meskipun sejatinya hanya pecahan genting, ia dianggap sebagai sebungkah kencana, emas yang amat berharga. Begitulah cara pandang orang Jawa terhadap sosok anak. Mereka menggunakan istilah kencana wingka untuk menggambarkan kasih sayang orangtua kepada anak mereka. Sejelek-jeleknya, sebodoh-bodohnya, atau senakal-nakalnya si anak, orangtua akan tetap mengasihi dan menyayanginya, bahkan jika perlu membela kelemahannya itu.

Pandangan ini mengandung kebaikan selama kita menerapkannya secara wajar. Sayangnya, orang cenderung bersikap berlebihan. Di satu sisi, sebagian orangtua menganggap anak sebagai kencana yang tidak boleh dicolek sedikit pun: dimanjakan, dituruti semua permintaan dan kemauannya, dibiarkan saja ketika melakukan pelanggaran atau tidak taat. Di sisi lain, ada orangtua yang memperlakukan anak sebagai “wingka”, merendahkan dan menginjak-injaknya, seperti yang terungkap dalam berbagai kasus kekerasan di dalam rumah tangga.

Alkitab menyetujui pandangan bahwa anak itu kencana. Ya, anak adalah karunia Tuhan yang sangat berharga. Ia pun diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. Namun, anak kita juga mengandung wingka, tabiat dosa yang mencemari semua manusia. Jadi, kita sepatutnya mengasihi dan menghargai anak tanpa mengabaikan kecenderungan berdosa yang membuatnya suka melawan. Untuk itu, kita tidak boleh melalaikan pendidikan dan pendisiplinan anak, yang akan membentuknya menjadi “anak panah di tangan pahlawan”, memenuhi panggilan Tuhan bagi hidupnya -ARS

KASIH BUKAN HANYA DIUNGKAPKAN MELALUI PELUKAN

NAMUN JUGA MELALUI TEGURAN DAN DIDIKAN

Sumber : http://www.sabda.org


BUKAN PETERNAK BIASA

Senin, 1 Maret 2010

Bacaan : Amos 1:1,2

1:1. Perkataan yang dinyatakan kepada Amos, salah seorang peternak domba dari Tekoa, tentang Israel pada zaman Uzia, raja Yehuda, dan dalam zaman Yerobeam, anak Yoas, raja Israel, dua tahun sebelum gempa bumi.

1:2 Berkatalah ia: “TUHAN mengaum dari Sion dan dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya; keringlah padang-padang penggembalaan dan layulah puncak gunung Karmel.”

BUKAN PETERNAK BIASA

Ia bukan anak nabi. Ia bukan pula anak imam. Ia peternak domba, pekerjaan yang tidak mengingatkan kita pada pelayanan rohani. Ia bisa saja tinggal tenang di daerahnya, Tekoa, menekuni pekerjaannya, mencukupi kebutuhan keluarga, dan beribadah kepada Tuhan. Namun, Tuhan memberinya penglihatan dan menyuruhnya menyampaikan pesan kepada Israel. Ia menaatinya, dan kita pun mengenalnya sebagai nabi Tuhan. Ia menulis salah satu kitab yang dimuat di dalam Alkitab: Amos.

Menurut takaran saat ini, Amos bukan rohaniwan. Ia pekerja sekuler. Toh Tuhan memanggilnya sebagai jurubicara untuk menyampaikan peringatan ilahi kepada bangsanya. Panggilan yang mengubahkan hidupnya.

Panggilan Tuhan tidak dibatasi sekat-sekat pekerjaan. Memang ada orang yang secara khusus dipanggil untuk melayani Tuhan secara penuh waktu. Selain itu, seperti dialami Amos, tidak jarang pula Tuhan memanggil orang yang sedang tekun melakukan tugas dan pekerjaannya sehari-hari serta meminta orang itu menjalankan suatu pelayanan tertentu.

Saat ini pekerjaan Anda mungkin juga tidak berbau “rohani” atau menjanjikan kesuksesan yang berdampak besar. Atau, Anda malah sudah merasa mapan dan mantap dengan suatu pekerjaan. Yang jelas, Anda tidak pernah membayangkan suatu ketika akan menjadi hamba Tuhan. Tetapi, siapa tahu Tuhan memberikan suatu panggilan khusus bagi Anda untuk melayani Dia? Dalam hal ini, Anda perlu mengembangkan keterbukaan dan kepekaan terhadap panggilan Tuhan, serta keberanian untuk menanggapi panggilan tersebut-ARS

TIDAK ADA PEKERJAAN YANG BIASA-BIASA SAJA

SELAMA KITA MELAKUKANNYA UNTUK MEMULIAKAN TUHAN

Sumber : www.sabda.org