MAU JADI APA?

Rabu, 27 Juni 2012  

Bacaan : Keluaran 31:1-11

31:1. Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

31:2 “Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda,

31:3 dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan,

31:4 untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga;

31:5 untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan.

31:6 Juga Aku telah menetapkan di sampingnya Aholiab bin Ahisamakh, dari suku Dan; dalam hati setiap orang ahli telah Kuberikan keahlian. Haruslah mereka membuat segala apa yang telah Kuperintahkan kepadamu:

31:7 Kemah Pertemuan, tabut untuk hukum, tutup pendamaian yang terletak di atasnya, dan segala perabotan kemah itu,

31:8 yakni meja dengan perkakasnya, kandil dari emas murni dengan segala perkakasnya, mezbah pembakaran ukupan,

31:9 mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya,

31:10 pakaian jabatan, baik pakaian kudus kepunyaan imam Harun, maupun pakaian anak-anaknya, untuk memegang jabatan imam,

31:11 minyak urapan dan ukupan dari wangi-wangian untuk tempat kudus; tepat seperti yang telah Kuperintahkan kepadamu haruslah mereka membuat semuanya.”

 

MAU JADI APA?

Waktu kita masih kecil, orang sering menanyakan: “Kalau besar nanti mau jadi apa?” Pertanyaan yang sama juga terus mengejar kita sepanjang menempuh studi di SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi. Kita terus bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan saya lakukan di masa depan?” Pekerjaan seperti apa yang tepat bagi saya?” Pada masa paruh baya, pertanyaan tersebut masih ada, “Apakah ini saatnya untuk berganti pekerjaan? Apakah saya mau melakukan pekerjaan ini sepanjang sisa hidup saya?” Banyak bagian hidup kita yang berkenaan dengan pertanyaan tentang panggilan hidup dan pekerjaan.

“Panggilan” menyiratkan adanya seseorang yang memanggil. Tuhan adalah Pribadi yang memanggil, menunjuk (ayat 2), dan menetapkan (ayat 6). Bagaimana mengetahui panggilan-Nya bagi pekerjaan kita? Dengan mengenali rancangan-Nya di dalam diri kita: “Dalam hati setiap orang ahli telah Kuberikan keahlian” (ayat 6). Bagi Bezaleel dan Aholiab itu berarti menjadi pengrajin emas, perak, tembaga, batu permata, dan kayu (ayat 3-5). Tuhan bertujuan membangun Kemah Pertemuan dan segala perkakasnya (ayat 7-11), keahlian yang Dia berikan merupakan cara mewujudkannya. Tuhan bertujuan menghadirkan kerajaan-Nya di tengah dunia, pekerjaan adalah cara kita mengambil bagian di dalamnya.

Tuhan tak merancang kita secara acak, tetapi dengan maksud tertentu. Dia membentuk keterbebanan, kemampuan, dan kepribadian kita agar kita dapat menunaikan pekerjaan yang diperuntukkan bagi kita. Jika Anda sedang menggumulkan panggilan pekerjaan, mari mengenali dan mengikuti rancangan-Nya melalui evaluasi diri yang jujur dan nasihat orang lain yang mengenal kita. –JOO

APAKAH PANGGILAN SAYA DI DALAM PEKERJAAN TUHAN DI DUNIA INI,

SEHINGGA MELALUINYA TUHAN PALING DIMULIAKAN?

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

VOCATIO

Senin, 27 Februari 2012

Bacaan : Yohanes 17:1-8

17:1. Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.

17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.

17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.

17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

17:6. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.

17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.

17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

VOCATIO

Apakah Anda bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja? Pada kedua hal tersebut terdapat perbedaan pandangan dan pemaknaan yang sa ngat besar terhadap natur kerja. Jika kita bekerja untuk hidup, maka pekerjaan sekadar menjadi sarana untuk sesuatu yang lain. Tak heran banyak orang ingin segera memiliki “kemerdekaan finansial” supaya tidak lagi harus melelahkan diri bekerja mencari uang. Jika kita hidup untuk bekerja, maka pekerjaan menjadi sasana di mana kita mempersembahkan hidup kita bagi kemuliaan Tuhan. Tuhan menghendaki kita mengasihi dan melayani Dia, dan pekerjaan menjadi cara kita melakukannya.

Hari ini kita membaca catatan doa Tuhan Yesus menjelang akhir hidup-Nya. Memperhatikan doa-Nya, kita tahu tujuan hidup Yesus adalah agar Bapa dikenal dan dimuliakan. Yang menarik adalah cara Yesus melakukannya: “dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku …” (ayat 4). Dan, kita diutus ke dalam dunia sebagaimana Kristus telah diutus (ayat 18). Kata pekerjaan dalam bahasa Inggris adalah vocation, yang berasal dari bahasa Latin vocatio yang berarti panggilan. Pekerjaan dan panggilan seharusnya merupakan hal yang sama.

Apakah Anda menghayati pekerjaan Anda sekarang sebagai panggilan Tuhan? Menemukan panggilan bukan hanya berlaku ketika seseorang menggumulkan menjadi pendeta atau misionaris, tetapi seharusnya meliputi semua vocation lainnya. Hanya dengan demikian kita baru bisa mengalami pekerjaan yang otentik, di mana kita memiliki pekerjaan yang tepat, untuk alasan yang benar, dan menikmati hasil-hasilnya. –JOO

Memuliakan Tuhan meliputi menemukan dan menyelesaikan

panggilan/pekerjaan yang Tuhan berikan untuk kita lakukan

Dikutip : www.sabda.org

BEREBUT KEPEMIMPINAN

Kamis, 15 Desember 2011

Bacaan : Matius 20:20-28

20:20. Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”

20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.

20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

BEREBUT KEPEMIMPINAN

Perilaku anak-anak kerap membuat kita geli dan gemas. Kita memaklumi tingkah mereka sebab mereka memang tengah dalam tahap pertumbuhan dan pencarian jati diri. Akan tetapi, apabila perilaku itu terus terbawa sampai orang itu dewasa, itu bisa membuat muak. Kita menyebutnya kekanak-kanakan.

Sikap kekanak-kanakan itulah yang diperlihatkan oleh para murid ketika mempertengkarkan siapa yang lebih besar, siapa yang paling pantas memimpin, di antara mereka. Mereka ingin berada di posisi kepemimpinan, suatu posisi yang menuntut kedewasaan, tetapi mereka memandang kepemimpinan sebagai dunia yang berpusat pada aku, diriku, dan milikku. Kepemimpinan disambut sebagai wahana untuk memuaskan kepentingan dan ambisi pribadi.

Tuhan Yesus mengoreksi pandangan tersebut. Dia mengajukan cara pandang yang menjungkirbalikkan perspektif para murid. Kepemimpinan sejati tidak berfokus pada diri sendiri, tetapi pada kesejahteraan orang lain. Bekal utamanya ialah kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani sesama. Seorang pemimpin akan rela menyingkirkan kepentingan pribadinya demi memberikan sumbangsih yang bermakna bagi orang banyak. Kepemimpinan, dalam pandangan Yesus, bukan terutama mengacu pada kedudukan, melainkan pada sikap dan motivasi hati.

Bagaimana kecenderungan kita? Mengejar posisi atau mengutamakan kesediaan untuk melayani sesama? Mengincar keuntungan pribadi atau sungguh-sungguh rindu untuk memberkati orang lain, kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan diri? Bersediakah kita merendahkan diri sebagai pelayan? –ARS

KEPEMIMPINAN ADALAH PANGGILAN YANG LUHUR DAN TINGGI

SEHINGGA UNTUK MERAIHNYA KITA HARUS MERENDAHKAN DIRI

Dikutip : www.sabda.org

DI TEMPAT PERTAMA

Minggu, 5 Desember 2010

Bacaan : Matius 1:18-25

18Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

19Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

20Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

21Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

22Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:

23″Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita.

24Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

25tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

DI TEMPAT PERTAMA

Mengapa kamu hendak mundur dari pelayanan?” tanya seorang hamba Tuhan sebuah gereja pada Jelita. Jelita hanya terdiam dengan tatapan sedih. Malah, kekasih Jelita yang menjawab, “Saya yang memintanya untuk berhenti pelayanan. Anda tidak boleh memaksanya.” Jelita hanya tertunduk sedih, lalu meninggalkan hamba Tuhan tersebut.

Kita kerap menginginkan agar orang-orang terdekat kita memberi paling banyak perhatian untuk kita. Bahkan, ketika mereka memberi banyak waktu untuk melayani, kita bisa merasa terganggu. De-ngan bersikap demikian, tanpa sadar kita telah menganggap Tuhan sebagai “pesaing”. Mungkin karena kita merasa “memilikinya”, maka kita berhak atas dirinya. Kita lupa bahwa baik kita maupun orang-orang terdekat kita adalah milik Tuhan, yang diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik yang telah Dia persiapkan sebelumnya.

Ini pula yang Yusuf lakukan. Ketika Malaikat memberi tahu bahwa anak yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus, Yusuf taat dengan tetap mengambil Maria sebagai istrinya. Ia tidak bersetubuh dengan Maria, sampai Maria melahirkan. Ini menunjukkan betapa Yusuf membuang egonya sebagai suami dan mendukung Maria menggenapi rencana Allah. Yusuf menjaga Maria dan bayinya dengan segenap hati. Demikianlah Yusuf bersama Maria menggenapkan rencana Allah yang kekal melalui kehidupan mereka.

Ketika Tuhan menyatakan panggilan dan kehendak-Nya dalam hidup kita maupun orang-orang terdekat, kita mesti menaati-Nya. Indah, jika kita bersama-sama menggenapi rencana Tuhan. Seperti Yusuf dan Maria saling mendukung pelayanan yang dilakukan –VT

TUHANLAH YANG MENJADI PUSAT KEHIDUPAN DAN RELASI KITA

MAKA DIA SAJA YANG PANTAS BERADA DI TEMPAT PERTAMA

Sumber : www.sabda.org