KENANGAN PERJAMUAN

Kamis, 28 Maret 2013

Bacaan: Lukas 22:14-20 

22:14 Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya.

22:15 Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.

22:16 Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah.”

22:17 Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: “Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu.

22:18 Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.”

22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

22:20 Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.

 

KENANGAN PERJAMUAN

Sahabat saya di asrama putri gemar menyeduh teh lalu menikmatinya di ruang tamu sore-sore. Ia menawari kami, teman-teman sekamarnya, ikut, dan kami pun asyik menyeruput teh sambil berbagi cerita. Sekarang sahabat saya itu sudah meninggal, namun saya terus mengenang kebersamaan dengannya, khususnya setiap kali saya minum teh. Meskipun ia sudah tiada, keakraban kami dulu seakan hidup kembali, menjadi suatu kenangan yang indah.

Menjelang wafat-Nya, Yesus mengadakan perjamuan terakhir dengan para murid. Saat memecah roti dan membagikannya, Dia berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (ay. 19). Perjamuan malam Paskah merupakan kenangan yang sakral, dan umat kristiani meneruskan tradisi ini. Setiap kali kita merayakan perjamuan, kita diajak untuk mengingat kembali bahwa Yesus telah memberikan hidup-Nya bagi kita. Artinya, kita sudah ditebus dan dipersatukan dengan Dia. Selain itu, Dia juga mempersatukan kita dengan pengikut-Nya yang lain.

Yesus meminta kita untuk mengenang pengurbanan-Nya melalui perjamuan. Kematian-Nya ibarat benih yang ditanam di tanah. Dia wafat untuk menumbuhkan tunas yang baru. Kitalah tunas-tunas itu. Tindakan-Nya untuk memberikan diri bagi kita dapat menjadi pendorong bagi kita agar kita pun berani memberikan diri dalam melayani sesama. Yesus tentu tidak ingin perjamuan itu hanya sekadar menjadi kenangan. Perjamuan Yesus itu menjadi indah apabila kita berani hidup dengan meneladani pengurbanan-Nya. –CKW

PERJAMUAN KUDUS ADALAH KESEMPATAN UNTUK MENGENANG KEMBALI
DAN MENSYUKURI PENEBUSAN KRISTUS YANG SEMPURNA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BANTUAN SANG PANGLIMA

Rabu, 27 Maret 2013

Bacaan: Yohanes 13:1-15 

13:1. Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.

13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.

13:3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.

13:4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,

13:5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.

13:6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?”

13:7 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”

13:8 Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.”

13:9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!”

13:10 Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.”

13:11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: “Tidak semua kamu bersih.”

13:12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?

13:13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.

13:14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;

13:15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

 

BANTUAN SANG PANGLIMA

Suatu ketika beberapa tentara Amerika bersusah payah memindahkan sebatang pohon besar yang mengalangi jalan. Di dekat mereka, sang kopral hanya berdiri sambil mengomel. Seorang penunggang kuda yang lewat melihatnya. Ia bertanya, mengapa kopral itu tak membantu anak buahnya. Kopral itu menjawab, “Aku ini kopral, yang berhak memberi perintah.” Tanpa berkomentar, si penunggang kuda turun dan membantu para tentara tadi sampai berhasil. Lalu, sambil naik kuda lagi, ia berkata, “Kalau anak buahmu butuh bantuan lagi, panggil saja panglima perangmu. Ia akan datang.” Seketika si kopral sadar bahwa penunggang kuda tadi tidak lain George Washington, panglima perang Amerika saat itu (dan nantinya menjadi presiden negara tersebut).

Menjelang penangkapan-Nya, Yesus menyampaikan pesan yang mengusik. Dia melepaskan jubah, mengambil kain lenan, dan mengikatkannya di pinggang. Lalu, Dia berlutut dan mencuci kaki para murid. Para murid bahkan belum pernah melakukan hal itu di antara mereka sendiri. Namun, Guru, Tuhan, dan Raja mereka tidak segan-segan untuk melayani. Pesan-Nya jelas: Dia menginginkan para pengikut-Nya saling melayani.

Betapa baiknya bila kita tak membiarkan diri merasa “lebih hebat” dari orang lain. Juga lebih sedikit berharap untuk dilayani. Lalu, mulai lebih banyak berpikir bagaimana dan apa saja yang bisa kita lakukan untuk melayani sesama. Siapa pun itu. Bahkan orang-orang yang kita anggap tidak patut dilayani. Mari kita menularkan semangat untuk saling melayani ini. –AW

KETIKA YESUS MERAJA DI HATI
PASTI MELUAP HASRAT UNTUK MELAYANI

Dikutip : www.sabda.org

BUKAN SOSOK TAK BERDAYA

Minggu, 8 April 2012

Bacaan : Yohanes 10:11-21 

10:11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;

10:12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

10:13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.

10:14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku

10:15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

10:16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

10:17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.

10:18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”

 

10:19. Maka timbullah pula pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu. Banyak di antara mereka berkata:

10:20 “Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?”

10:21 Yang lain berkata: “Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?”

BUKAN SOSOK TAK BERDAYA

Paskah tiba. Horeee … seru banyak anak. Saatnya mendapat telur-telur Paskah. Berbagai gereja mungkin punya ragam tradisi dalam menyambut Paskah. Namun, bagaimana Paskah membuat perbedaan dalam hidup kita?

Bacaan hari ini memuat salah satu pernyataan Yesus yang sangat gamblang tentang diri-Nya. Dia menggambarkan diri sebagai Gembala yang baik, yang memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (ayat 11). Gambaran ini mungkin membangkitkan keharuan. Kalau Dia sudah begitu mengasihi kita hingga menyerahkan nyawa-Nya, bukankah sudah seharusnya kita balas mengasihi-Nya? Ayat 17-18 membuyarkan konsep ini. Yesus yang mati dan bangkit bukanlah sosok tak berdaya dan memerlukan pertolongan kita. Dia punya kuasa atas nyawa-Nya kalau Dia mati, itu karena Dia memutuskan untuk memberikannya; dan kalau Dia bangkit, itu karena Dia punya kuasa untuk mengambilnya kembali. Para pendengar-Nya tercengang (ayat 19-21). Engkau kerasukan setan dan gila, Yesus! Siapa yang punya kuasa seperti itu? Namun, itulah faktanya. Yesus yang kita rayakan kebangkitan-Nya bisa bangkit karena Dia Tuhan, yang memiliki kuasa atas kehidupan dan kematian.

Dan, bukankah itu seharusnya memberi perbedaan yang besar dalam hari-hari yang kita jalani? Kalau Yesus menggenggam kehidupan dan kematian di tangan-Nya, adakah hal lain yang di luar kendali-Nya? Pasangan yang sulit, penyakit yang berat, masa depan yang tak menentu, hidup setelah kematian. Paskah membuka mata kita kepada Siapa kita harus berpaling. Ya, kepada Yesus, Sang Pemilik hidup-mati kita. –ELS

KEPADA SIAPA DIRI INI SEPENUHNYA KUSERAHKAN

KALAU BUKAN KEPADA PEMEGANG KENDALI KEHIDUPAN DAN KEMATIAN?

Dikutip : www.sabda.org

TERTUTUP DARAH

Jumat, 22 April 2011

Bacaan : Keluaran 12:1-28

1Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir:

2″Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.

3Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga.

4Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang.

5Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing.

6Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.

7Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya.

8Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.

9Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya.

10Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi; apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api.

11Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN.

12Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.

13Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.

14Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.

15Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertamapun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel.

16Kamu adakanlah pertemuan yang kudus, baik pada hari yang pertama maupun pada hari yang ketujuh; pada hari-hari itu tidak boleh dilakukan pekerjaan apapun; hanya apa yang perlu dimakan setiap orang, itu sajalah yang boleh kamu sediakan.

17Jadi kamu harus tetap merayakan hari raya makan roti yang tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir. Maka haruslah kamu rayakan hari ini turun-temurun; itulah suatu ketetapan untuk selamanya.

18Dalam bulan pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu pada waktu petang, kamu makanlah roti yang tidak beragi, sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan itu, pada waktu petang.

19Tujuh hari lamanya tidak boleh ada ragi dalam rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, orang itu harus dilenyapkan dari antara jemaah Israel, baik ia orang asing, baik ia orang asli.

20Sesuatu apapun yang beragi tidak boleh kamu makan; kamu makanlah roti yang tidak beragi di segala tempat kediamanmu.”

21Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: “Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak domba Paskah.

22Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi.

23Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi.

24Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu.

25Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, maka kamu harus pelihara ibadah ini.

26Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini?

27maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.” Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah.

28Pergilah orang Israel, lalu berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka.

TERTUTUP DARAH

Pada 26 November 2008 segerombolan teroris menyerbu Taj Mahal Palace di Mumbai, India. Korban mencapai 200 jiwa, tetapi ada seorang tamu hotel yang selamat secara ajaib. Ia dan teman-temannya sedang makan malam ketika terdengar suara tembakan. Seseorang merenggutnya dan menyeretnya ke bawah meja. Teroris memasuki restoran, menembak ke segala arah, sampai setiap orang (menurut perkiraan mereka) tewas. Ternyata, pria tadi terluput. Ketika diwawancarai wartawan, ia menjelaskan, “Karena saya tertutupi oleh darah orang lain, mereka mengira saya sudah mati.”

Bangsa Israel memiliki kesan yang amat mendalam terhadap darah. Menjelang Tuhan menimpakan tulah kesepuluh ke atas Mesir, Dia memerintahkan bangsa Israel untuk mengadakan persiapan untuk meninggalkan negeri yang memperbudak mereka itu. Antara lain, mereka harus menyembelih domba dan menyapukan darahnya pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu. Setiap rumah yang ditandai dengan darah akan terluput dari tulah, dan bangsa Israel pun terbebas dari Mesir.

Pengalaman bangsa Israel merupakan simbol dari karunia Allah melalui Yesus Kristus bagi kita semua.

Karena Dia sudah membayar hukuman atas dosa kita karena kita ditutupi oleh darah pengorbanan-Nya kita diselamatkan dan memperoleh kehidupan kekal. Kita mungkin sulit memahami bagaimana darah-Nya “menutupi” kita, tetapi kita dapat menerima dan mengalaminya oleh iman. Hari ini, bagaimana kalau kita meluangkan waktu secara khusus untuk merenungkan suatu ayat atau menyanyikan lagu tentang darah Kristus? –ARS

YESUS MENCURAHKAN DARAH DAN MENGALAMI KEMATIAN

AGAR KITA TERBEBAS DARI DOSA DAN MENGALAMI KEHIDUPAN

Dikutip dari : www.sabda.org

Lima Prinsip Dasar (3)

Shalom…salam miracle

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, kali ini saya menyampaikan beberapa (lima) prinsip penting dalam gereja dan merupakan petunjuk penting dalam pengetahuan pertumbuhan gereja, baik bersifat umum yaitu suatu organisasi, maupun gereja dalam arti pribadi umat percaya, kelima prinsip tersebut merupakan pelajaran dari Peter Wagner, yang adalah seorang pemimpin yang berwibawa dalam pertumbuhan gereja dan peperangan rohani, sebagai berikut:

  1. DOA
  2. BERKHOTBAH DAN MENGAJAR
  3. PUJIAN PENYEMBAHAN
  4. PERSEKUTUAN
  5. MISI DAN PENGINJILAN

Yang pertama adalah DOA

Yang kedua adalah BERKHOTBAH DAN MENGAJAR (Minggu lalu)

Yang ketiga adalah PUJIAN DAN PENYEMBAHAN.

Sebagaimana kita percaya bahwa tiap-tiap orang dipanggil untuk berdoa, kita juga percaya harus memuji Tuhan dan menyembah Tuhan. Pujian penyembahan dirancang untuk menarik setiap orang untuk masuk dalam hadirat Tuhan, bukan hanya sekedar menghibur dengan lagu dan syairnya. Dalam dunia hiburan atau pertunjukan, orang mengamati, menikmati dan kemudian bertepuk tangan karena terhibur dalam pertunjukan itu, namun dalam penyembahan, orang hanyut dan aktif di dalam Tuhan dan berpartisipasi. Dalam hal ini amatlah penting untuk peka terhadap aliran/lawatan Roh Kudus, Tim pujian penyembahan (Worship Leader, singer, pemusik, penari, operator LCD) dapat membuat atau memutuskan aliran/lawatan Roh Kudus dengan pemilihan, pembawaan dan penempatan lagu-lagunya dalam kebaktian-kebaktian. Jika lagu-lagu dan gaya-gaya tidak saling membangun, maka setelah ibadah atau dalam Fellowship musik pujian akan didiskusikan, mengoreksi dan mengevaluasinya. Nyanyian Tuhan, pemazmur dan suasana ibadah menempati posisi yang penting di Gereja Bethany. Nyanyian Tuhan adalah nubuat musical dari Tuhan atau sebuah ucapan ilahi yang dikemas dalam sebuah lagu. Nyanyian Tuhan dapat muncul melalui siapapun juga, namun jika pemazmur atau pembaca sajak punya dorongan profetik dengan sebuah lagu, hasilnya sangat menakjubkan. Pemazmur adalah seorang penyanyi yang punya panggilan untuk melayani melalui musik. Tujuan nomor satu dari pemazmur adalah peka terhadap pimpinan Roh Kudus, hingga dapat menciptakan atmosfer bagi beroperasinya karunia-karunia dari Tuhan. Melalui lagu, pemazmur itu memimpin orang atau jemaat ke dalam hadirat-Nya.

Orang tidak dapat berdiri dan memainkan sebuah alat musik atau menyanyi dalam gereja kita hanya karena dia suka melakukannya atau karena memiliki keahlian dan terampil dalam bermain musik ataupun suara yang merdu untuk menyanyi. Mereka harus mengerti bahwa untuk melayani di hadapan sidang jemaat Tuhan, mereka perlu menyerahkan karunia dan talenta mereka hanya bagi tujuan dan pelayanan-Nya, atau untuk kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Mereka harus mendedikasikan diri mereka sepenuhnya untuk Tuhan. Tujuan utama dalam pelayanan pujian dan penyembahan adalah supaya jemaat Tuhan dapat memuji dan menyembah dengan seluruh keberadaan mereka. Pujian yang kita naikkan seharusnya semangat dan ekspresif.

 

Dalam setiap ibadah-ibadah di gereja Bethany GTM, kita merindukan dan menciptakan suasana atau tempat penyembahan yang intim dan mulia dengan Tubuh Kristus secara bersama (korporat), yang dimaksud adalah jemaat dapat masuk bersama-sama dalam hadirat Tuhan, namun tiap-tiap orang memiliki pengalaman yang bersifat pribadi. Untuk mencapai hal itu, maka setiap jemaat harus terlibat dengan aktif. Jemaat Tuhan datang dengan sikap hati yang siap dan penuh harap untuk dilawat Tuhan, sementara pemusik, pemuji dan tim penyembahan harus sensitif untuk memimpin ke arah yang benar dan tepat.

 

Minggu depan kita akan membahas PERSEKUTUAN (bersambung)

Dalam kesempatan ini, saya juga menghimbau seluruh jemaat Tuhan kiranya di bulan April ini semakin iman percaya kita bertumbuh dan berbuah, bulan ini kita akan memperingati pengorbanan Yesus dalam karya penyelamatan umat manusia (PASKAH), bersyukurlah kalau saudara sudah diselamatkan dalam nama Yesus Kristus, untuk itu ikuti dan nikmati berkat Tuhan dalam kegiatan-kegiatan PASKAH di gereja kita.

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien.

 

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Gembala Sidang

YANG TERBAIK

Senin, 29 Maret 2010

Bacaan : Yohanes 12:1-8

12:1. Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.

12:2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.

12:3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.

12:4 Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:

12:5 “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”

12:6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.

12:7 Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.

12:8 Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.”

YANG TERBAIK

Petenis Amerika di era tahun 80-an, Jimmy Connors, adalah seorang jago tenis yang tak suka melewatkan kesempatan untuk melakukan yang terbaik di lapangan. Di segala kesempatan, ia selalu mengayunkan pukulan terbaiknya. Bahkan, jika posisi lawan sudah terkecoh dan bola tinggal dipukul ringan melampaui jala, ia tetap mengayun sekuat tenaga memberikan pukulan telak, smash terbaiknya. Mungkin bagi yang lain itu dianggap tidak perlu. Akan tetapi, ia memang selalu ingin memberikan pukulan terbaiknya.

Maria dari Betania melakukan hal serupa bagi Tuhan. Akibat pergaulannya yang karib dengan Yesus, ia sangat tahu bahwa tidak banyak waktu lagi untuk ada bersama Tuhan. Saat kematian-Nya sudah semakin dekat. Maka, kesempatan yang masih ada tidak boleh disia-siakan. Ia pun melakukan hal terbaik yang bisa dilakukannya. Yakni meminyaki kaki Yesus dengan “minyak narwastu murni yang mahal harganya” dan “menyekanya dengan rambutnya”. Yudas menganggap itu adalah pemborosan dan tidak perlu, bahkan berlebihan. Namun, tekad Maria sudah bulat. Selagi ada kesempatan, kasih kepada Tuhan harus dinyatakan. Bahkan, dinyatakan dengan cara dan kualitas yang terbaik.

Kasih sejati memang melampaui standar rata-rata. Selalu siap memberikan yang terbaik dari diri kita. Unik, istimewa, hangat, dan dikenang selamanya. Seperti tindakan Maria dari Betania. Senantiasa dikenang di masa Pra-Paskah. Sudahkah Anda dan saya memberikan yang terbaik sebagai bukti kasih kita: kepada orangtua, kekasih, suami, istri, anak-anak, sahabat … dan Tuhan? Belum terlambat untuk memulainya -PAD

Bila dari yang ada pada-Nya sudah Tuhan berikan semua

apakah yang patut kita tahan bagi-Nya?

Sumber : http://www.sabda.org


KEMATIAN YANG TRAGIS

Selasa, 28 April 2009

Bacaan : Lukas 13:1-9

13:1. Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.

 

13:2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.

 

13:3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.

 

13:4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,

 

13:5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.

 

13:6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?”

 

13:7 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”

 

13:8 Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.”

 

13:9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!”

 

KEMATIAN YANG TRAGIS

 wash-feet

Sebuah pesawat terbang jatuh di laut dan menenggelamkan semua penumpangnya. Sebuah mobil berpenumpang terjun dari atas tempat parkir bertingkat di mal. Seorang pejalan kaki tewas tertimpa papan reklame. Yang lain mati tersambar petir. Ketika melihat orang meninggal dengan cara tragis, terkadang muncul pertanyaan: “Apa dosa mereka, hingga mesti mati dengan cara demikian?” Orang kerap menuduh hal itu terjadi karena ada “dosa besar” yang telah dilakukan sang korban.

Pandangan semacam itu sudah muncul sejak zaman Yesus. Suatu hari, delapan belas pekerja bangunan mati tertimpa menara Siloam yang baru mereka bangun. Menara ini adalah proyek pemerintah Romawi, sang penjajah. Maka, orang pun berkata, “Itulah hukuman bagi mereka yang mau bekerja sama dengan penjajah!” Mereka mengira, jika Allah membiarkan seseorang mati secara tragis, pasti ada yang tidak beres dalam hidupnya. Ada “dosa serius”. Namun, Yesus membantah pandangan ini. “Dosa mereka tidak lebih besar dari dosamu,” kata-Nya. Kita tak boleh menilai layak tidaknya seseorang di mata Tuhan dari cara matinya, tetapi dari cara hidupnya. Sudahkah ada buah pertobatan? Orang yang matinya “terhormat” pun bisa kualat jika seumur hidup tidak bertobat.

Sudahkah kita memiliki buah pertobatan? Apakah tingkah laku kita saat ini sudah lebih baik dibanding dengan tahun-tahun lalu? Apakah kita sudah menjadi lebih sabar dan mampu menyangkal diri? Hidup beriman yang tidak menghasilkan perubahan adalah kehidupan yang tragis. Ini jauh lebih parah dan berbahaya daripada sebuah kematian yang tragis. Maka, hasilkanlah buah pertobatan —JTI

YANG PENTING BUKAN CARA KITA MATI

MELAINKAN CARA KITA HIDUP

Sumber : http://www.sabda.org