MENGAKHIRI DENGAN BAIK

Sabtu, 31 Maret 2012 

Bacaan : Pengkhotbah 7:1-14 

1Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran. 

2Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. 

3Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. 

4Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.

5Mendengar hardikan orang berhikmat lebih baik dari pada mendengar nyanyian orang bodoh. 

6Karena seperti bunyi duri terbakar di bawah kuali, demikian tertawa orang bodoh. Inipun sia-sia. 

7Sungguh, pemerasan membodohkan orang berhikmat, dan uang suap merusakkan hati. 

8Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati.

9Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh. 

10Janganlah mengatakan: “Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?” Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu. 

11Hikmat adalah sama baiknya dengan warisan dan merupakan suatu keuntungan bagi orang-orang yang melihat matahari.

12Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang. Dan beruntunglah yang mengetahui bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya. 

13Perhatikanlah pekerjaan Allah! Siapakah dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkan-Nya? 

14Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.

MENGAKHIRI DENGAN BAIK

Mana yang lebih mudah? Memulai sesuatu atau melanjutkan dan menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai? Tergantung tipe orangnya. Bagi orang praktis, apalagi kaya ide, memulai sesuatu hanya semudah ia berpikir atau berucap. Namun, bagi orang yang banyak berhitung, membayangkan dulu proses detailnya, memulai sesuatu adalah tantangan besar. Perlu energi besar untuk mengambil langkah pertama. Sementara bagi yang mudah memulai, energi lebih besar diperlukan untuk tetap bertekun dan tak cepat beralih memulai hal lain lagi.

Perkataan Pengkhotbah dalam ayat pilihan hari ini menarik. Ia tidak cuma menunjukkan suatu perbandingan yang dihayatinya benar: “Akhir suatu hal lebih baik daripada awalnya”. Ia juga menyertakan kualifikasi pendukungnya: “Panjang sabar lebih baik daripada tinggi hati”. Untuk setia sampai akhir jelas dibutuhkan ke”sabaran yang panjang. Dan, kita perlu waspada agar tidak tergoda untuk berhenti dari sesuatu yang belum selesai karena tinggi hati. Karena takut ketahuan gagal, misalnya; atau bosan; atau tidak siap menjalani proses “perendahan” dan pemurnian karakter yang semakin berat dan sulit.

Yesus telah memberi teladan agung saat Dia melapor kepada Bapa: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku” (Yohanes 17:4). “Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendah”kan diri-Nya dan taat” (Filipi 2:8). Apakah kita juga rindu memuliakan Tuhan dalam pekerjaan dan pelayanan kita? Mari tunaikan tugas yang dipercayakan kepada kita dengan tidak setengah hati dan juga tidak setengah jadi. –ODY

KITA DIPANGGIL TIDAK HANYA UNTUK MEMULAI SUATU PEKERJAAN BAIK,

TETAPI JUGA UNTUK MENYELESAIKAN DAN MENGAKHIRINYA DENGAN BAIK.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

Dalam Tujuan Allah

Shalom…salam miracle

Yesaya 49:15-16 “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” Sebelum dunia dan segalanya dijadikan, Tuhan sudah mempunyai rencana atas hidup kita. Bahkan sebelum dunia kita muncul di benak orang tua kita. Tuhan sudah mempunyai rencana atas hidup kita. Hal ini dinyatakan dalam keberadaan kita ada dalam tangan-Nya yang kuat. Tidak ada yang lahir di dunia ini karena ketidaksengajaan atau kebetulan, bahkan mereka yang lahir di luar nikah sekalipun, ada dalam kekuasaan Tuhan.

 

Yang perlu direnungkan bukan bagaimana proses dan kejadian kita dilahirkan, namun bagaimana kita dapat menyelesaikan kehidupan sekarang ini. Allah tidak menjadikan jemaat yang pasif dan tidak menghasilkan, tetapi untuk menjadi jemaat yang produktif yang mampu menghasilkan buah, tentunya dalam kehendak dan perkenanan Tuhan. Marilah kita menggunakan kesempatan kehidupan ini dengan sebaik mungkin sebagai orang-orang percaya kepada Tuhan, terlebih mampu menikmati kehidupan dalam kelimpahan yang dijanjikan Tuhan.

 

Dalam Yohanes 10:10 “…Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Dari hal itu maka bisa kita ketahui bahwa Allah mempunyai tujuan dalam kehidupan kita. Begitu pula dengan setan yang juga mempunyai tujuan selama di bumi ini? Kebanyakan anak-anak Tuhan datang ke Gereja karena kebiasaan, karena tugas dan kewajiban. Perlu diperhatikan bahwa Kekristenan bukan tugas, bukan hanya hari Minggu dengan ibadah-ibadah raya. Kekristenan adalah pola dan gaya hidup dalam keseharian kita, dan setiap saat berjalan bersama Kristus. Yesus datang ke dunia pun dengan tujuan, Dia datang tidak hanya sekedar melihat bumi, tetapi dengan suatu tujuan besar yang berkaitan dengan kehidupan kekal umat manusia.

 

Ada beberapa hal yang harus kita benahi ketika kita mengerti Yohanes 10:10 dan tidak menikmati kelimpahan sesuai dengan ayat yang dimaksud, yakni karena sikap kita yang kurang pas di hadapan Allah. Sebagai contoh, ketika kita tidak mendapatkan sesuatu tapi tidak seperti yang kita mau, maka kita sering mengomel, ngambek, kemudian marah-marah, dan selanjutnya. Kalau kita mau menikamti kehidupan dan melakukan yang terbaik, kita harus mengucap syukur kepada Tuhan. Sikap kita menentukan keberhasilan kita, atau seseorang bisa bahagia atau tidak tergantung dari sikap orang itu sendiri.

 

Efesus 2:10 “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalam-Nya.” Rasul Paulus mengajarkan bahwa ketika kita mengenal Kristus dan menjadi warga Kerajaan Allah, maka tujuan kita adalah untuk mencari tahu mengapa Allah menciptakan kita. Dalam 2 Timotius 1:9 berkata “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.” Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa sebelum zaman dimulai, atau sebelum bumi dijadikan, Tuhan sudah mempunyai rencana yang besar atas kehidupan kita. Kita dipanggil, kita menjadi orang pilihan, karena kita berharga dan bernilai di mata Tuhan. Mungkin ada orang tua yang mengatakan kepada anaknya tidak berguna, tapi Tuhan sangat memperhatikan setiap kita. Dia sangat mencintai kita, dan kita sangat berharga di mata-Nya bahkan disebut menjadi biji mata-Nya. Selain itu kita aman dalam perlindungan-Nya. Lebih berharga lagi Dia menyebut kita bukan hamba tetapi SAHABAT.

 

Mulai sekarang ini kenakanlah manusia barumu, memakai pikiran baru siapa kita di dalam Kristus. Jangan melihat diri kita sebagai orang yang tertolak dan tidak bisa diterima, dari keluarga yang tidak berharga, atau tidak ada yang mengasihi, itu semua bukan identias kita sekarang, mungkin identitas yang lama sebelum bertobat, ketika masih menjadi milik kegelapan, tetapi sekarang kita adalah anak Allah, dan dengan demikian kita akan lebih sering mengatakan kepada Tuhan “…TERIMA KASIH TUHAN…” sehingga dalam beraktifitas, ketika pergi beribadah ke gereja dan sebagainya dengan penuh kepercayaan diri sebab bersama dengan Allah. Kita adalah umat yang telah dipanggil, maksudnya dipanggil adalah dipisahkan hanya untuk Dia, dan kemudian Allah menguduskan kita. Ketika kita menerima panggilan Allah, maka kita akan berkata “INILAH AKU TUHAN, UTUSLAH AKU..” dan kita menjadi terang dan garam bagi dunia ini.

 

Di bulan Maret ini kiranya kita semakin mengerti tujuan dan rencana Allah dalah kehidupan jemaat Tuhan di Bethany GTM, dan dukung doa senantiasa buat pembangunan Gereja kita.

 

 

Tuhan Yesus memberkati.

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA