1 TON EMAS

Jumat, 16 Desember 2011

Bacaan : Keluaran 12:35-36, 38:21-31

12:35 Orang Israel melakukan juga seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain.

12:36 Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu.

38:21. Inilah daftar biaya untuk mendirikan Kemah Suci, yakni Kemah Suci, tempat hukum Allah, yang disusun atas perintah Musa, oleh orang Lewi di bawah pimpinan Itamar, anak imam Harun.

38:22 Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, membuat segala yang diperintahkan TUHAN kepada Musa,

38:23 dan bersama-sama dengan dia turut Aholiab, anak Ahisamakh, dari suku Dan, seorang tukang dan ahli, seorang yang membuat tenunan yang berwarna-warna dari kain ungu tua, dari kain ungu muda, dari kain kirmizi dan dari lenan halus. —

38:24 Segala emas yang dipakai untuk segala pekerjaan mendirikan tempat kudus itu, yakni emas dari persembahan unjukan, ada dua puluh sembilan talenta dan tujuh ratus tiga puluh syikal, ditimbang menurut syikal kudus.

38:25 Perak persembahan mereka yang didaftarkan dari antara jemaah itu ada seratus talenta dan seribu tujuh ratus tujuh puluh lima syikal, ditimbang menurut syikal kudus:

38:26 sebeka seorang, yaitu setengah syikal, ditimbang menurut syikal kudus, untuk setiap orang yang termasuk orang-orang yang terdaftar, yang berumur dua puluh tahun ke atas, sejumlah enam ratus tiga ribu lima ratus lima puluh orang.

38:27 Seratus talenta perak dipakai untuk menuang alas-alas tempat kudus dan alas-alas tiang tabir itu, seratus alas sesuai dengan seratus talenta itu, jadi satu talenta untuk satu alas.

38:28 Dari yang seribu tujuh ratus tujuh puluh lima syikal itu dibuatnyalah kaitan-kaitan untuk tiang-tiang itu, disalutnyalah kepala tiang itu dan dihubungkannya tiang-tiang itu dengan penyambung-penyambun

38:29 Tembaga dari persembahan unjukan itu ada tujuh puluh talenta dan dua ribu empat ratus syikal.

38:30 Dari padanya dibuatnyalah alas-alas pintu Kemah Pertemuan, dan mezbah tembaga dengan kisi-kisi tembaganya, segala perkakas mezbah itu,

38:31 alas-alas pelataran sekelilingnya, alas-alas pintu gerbang pelataran itu, segala patok Kemah Suci dan segala patok pelataran sekelilingnya.

1 TON EMAS

Pernahkah Anda menghitung berapa banyak emas, perak, dan tembaga yang dikumpulkan bangsa Israel untuk membangun Kemah Suci? Apabila dihitung dengan konversi takaran masa kini, 1 syikal setara dengan 11, 4 gram, dan 1 talenta setara dengan 34 kilogram. Maka, seluruh emas yang dikumpulkan bangsa Israel untuk membangun Kemah Suci dan isinya adalah sekitar 1 ton! Dengan harga emas yang kini berkisar Rp400.000, 00 per gram maka nilai emas yang mereka bawa adalah sekitar 400 miliar rupiah! Belum termasuk perak dan tembaga yang juga terkumpul sangat banyak saat itu.

Ini tentu nilai harta yang sangat besar, apalagi bagi sekumpulan orang yang baru saja dibebaskan dari perbudakan. Dari manakah mereka mendapatkan harta sebanyak itu? Alkitab mencatat bahwa harta tersebut mereka peroleh dari Tuhan, melalui orang-orang Mesir: “Dan Tuhan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka” (Keluaran 12:36). Artinya, harta yang mereka persembahkan bagi Tuhan ini sebenarnya berasal dari Tuhan juga.

Apabila direnungkan, bukankah demikian pula asal harta yang kita miliki? Setiap berkat itu datang dari Tuhan. Dan, diberikan kepada kita melalui tangan orang-orang yang Tuhan pakai. Dengan kesadaran seperti ini, selayaknya kita meneladani apa yang dilakukan bangsa Israel. Ketika Tuhan Sang Pemberi berkat itu meminta mereka memberi persembahan, mereka menyerahkan harta yang dimiliki tanpa menahan-nahan. Apabila saat ini ada pekerjaan Tuhan yang menanti uluran tangan Anda, jangan ragu untuk memberi dengan sukacita –ALS

KARENA SEGALA YANG KITA MILIKI BERASAL DARI TUHAN

BERILAH PERSEMBAHAN BAGI-NYA TANPA MENAHAN-NAHAN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

DI MANA HATI KITA?

Senin, 14 Maret 2011

Bacaan : Matius 6:19-21

19″Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.

20Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

21Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

DI MANA HATI KITA?

Secara jenaka, seseorang menuliskan bagaimana anak balita “mengklaim” suatu barang: 1. Kalau aku menyukai sesuatu, berarti benda itu punyaku; 2. Kalau sebuah benda kupegang, berarti itu milikku; 3. Kalau aku bisa merebut sesuatu darimu, benda itu jadi punyaku; 4. Kalau aku melihat sesuatu lebih dulu, benda itu jadi milikku; 5. Kalau kamu bermain dengan sesuatu, lalu kamu menaruhnya, benda itu otomatis jadi punyaku; 6. Kalau benda yang kita perebutkan pecah, maka itu jadi milikmu.

Ketamakan sangat serupa dengan nafsu-keinginan besar untuk memiliki sesuatu demi kesenangan pribadi. Serupa gambaran tentang balita di atas, orang tamak hendak memiliki semua yang disukai dan diingininya. Padahal, ketamakan tak pernah dapat dipuaskan. Dan, keinginan yang tak terkendali dapat membahayakan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Itu sebabnya Amsal 23:2 memperingatkan, “Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!”

Jadi, bagaimana melawan nafsu tamak ini? Tuhan meminta kita menujukan hati pada harta yang kekal (Matius 6:21). Terlalu memburu harta di bumi hanya akan membuat kita terikat dan diperhamba harta. Menghabiskan waktu dan kesehatan untuk menumpuk harta, yang takkan pernah kita bawa di akhir hayat (ayat 19). Sebaliknya, jika Tuhan menjadi yang terutama, sesungguhnya kita akan hidup lebih tenang. Kita akan bekerja dengan tahu batas waktu tidak mengorbankan keluarga, bahkan masih punya waktu untuk melakukan pelayanan. Pula, kita bisa bijak menggunakan harta untuk memberkati sesama dan mendukung pekerjaan Tuhan –AW

MENUMPUK HARTA DI BUMI HANYA BERGUNA SEMENTARA

MENUMPUK HARTA DI SURGA TAK TERBATAS KEUNTUNGANNYA

Sumber : www.sabda.org

PERSEMBAHAN TERLALU BANYAK

Minggu, 20 September 2009

Bacaan : Keluaran 36:2-7

36:2 Lalu Musa memanggil Bezaleel dan Aholiab dan setiap orang yang ahli, yang dalam hatinya telah ditanam TUHAN keahlian, setiap orang yang tergerak hatinya untuk datang melakukan pekerjaan itu.

36:3 Mereka menerima dari pada Musa seluruh persembahan khusus, yang telah dibawa oleh orang Israel untuk melaksanakan pekerjaan mendirikan tempat kudus. Tetapi orang Israel itu masih terus membawa pemberian sukarela kepada Musa tiap-tiap pagi.

36:4 Dan segala orang ahli yang melakukan seluruh pekerjaan untuk tempat kudus itu, datanglah masing-masing dari pekerjaan yang dilakukannya,

36:5 dan berkata kepada Musa: “Rakyat membawa lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan.”

36:6 Lalu Musa memerintahkan, supaya dimaklumkan di mana-mana di perkemahan itu, demikian: “Tidak usah lagi ada orang laki-laki atau perempuan yang membuat sesuatu menjadi persembahan khusus bagi tempat kudus.” Demikianlah rakyat itu dicegah membawa persembahan lagi.

36:7 Sebab bahan yang diperlukan mereka telah cukup untuk melakukan segala pekerjaan itu, bahkan berlebih.

 

PERSEMBAHAN TERLALU BANYAK

Pengurus bidang misi di sebuah gereja berencana mengajak jemaat memberi persembahan rutin untuk mendukung kegiatan misi gereja. Untuk itu mereka membuat rancangan anggaran, lalu mempresentasikannya kepada jemaat. Setelah itu mereka mengajak jemaat memberi janji persembahan sukarela. Berapa jumlahnya, bukan masalah, yang penting rela. Namun, seorang jemaat menyeletuk, “Rela ya rela, tetapi kalau yang terkumpul lebih dari yang dibutuhkan, bagaimana? Rugi dong?”

Cerita tentang persembahan yang terlalu banyak juga kita baca dalam perikop Alkitab hari ini. Saat itu bangsa Israel mengumpulkan persembahan untuk membuat Kemah Suci dan segala isinya. Ternyata yang terkumpul lebih dari yang dibutuhkan, sampai-sampai Musa meminta mereka berhenti. Dan tak seperti jemaat di atas, situasi ini justru diceritakan dengan nada sukacita.

Mengapa? Karena bangsa Israel memberikan persembahan dengan hati yang rindu terlibat dalam “mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan” (ayat 5), yakni membangun Kemah Suci. Maka, mereka masing-masing memberikan apa yang mereka bisa berikan tanpa berpikir berapa yang telah terkumpul, atau membanding-bandingkan dengan persembahan orang lain. Jadi, ketika ternyata yang terkumpul terlalu banyak, mereka tidak menyesal atau merasa rugi. Melainkan bersukacita karena itu artinya pekerjaan Tuhan bisa segera dirampungkan.

Apabila ada kesempatan lagi untuk memberi bagi pekerjaan Tuhan, izinkan hati kita bersukacita memberi. Sebab dari setiap pemberian sukarela kita, pasti ada pekerjaan Tuhan yang dapat diselesaikan -ALS

BERIKAN PERSEMBAHAN TANPA BERHITUNG-HITUNG

SEBAB BERKAT TUHAN TIAP HARI PUN SUDAH TAK TERHITUNG

Sumber : www.sabda.org

CAMPUR TANGAN TUHAN

Kamis, 23 April 2009

Bacaan : Mazmur 107:4-32

107:4 Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan;

 

107:5 mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka.

 

107:6 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.

 

107:7 Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang.

 

107:8 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,

 

107:9 sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.

 

107:10. Ada orang-orang yang duduk di dalam gelap dan kelam, terkurung dalam sengsara dan besi.

 

107:11 Karena mereka memberontak terhadap perintah-perintah Allah, dan menista nasihat Yang Mahatinggi,

 

107:12 maka ditundukkan-Nya hati mereka ke dalam kesusahan, mereka tergelincir, dan tidak ada yang menolong.

 

107:13 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nyalah mereka dari kecemasan mereka,

 

107:14 dibawa-Nya mereka keluar dari dalam gelap dan kelam, dan diputuskan-Nya belenggu-belenggu mereka.

 

107:15 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,

 

107:16 sebab dipecahkan-Nya pintu-pintu tembaga, dan dihancurkan-Nya palang-palang pintu besi.

 

107:17. Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka;

 

107:18 mereka muak terhadap segala makanan dan mereka sudah sampai pada pintu gerbang maut.

 

107:19 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka,

 

107:20 disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur.

 

107:21 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia.

 

107:22 Biarlah mereka mempersembahkan korban syukur, dan menceritakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dengan sorak-sorai!

 

107:23. Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas;

 

107:24 mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam.

 

107:25 Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang meninggikan gelombang-gelombangnya.

 

107:26 Mereka naik sampai ke langit dan turun ke samudera raya, jiwa mereka hancur karena celaka;

 

107:27 mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk, dan kehilangan akal.

 

107:28 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dikeluarkan-Nya mereka dari kecemasan mereka,

 

107:29 dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang.

 

107:30 Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka.

 

107:31 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia.

 

107:32 Biarlah mereka meninggikan Dia dalam jemaat umat itu, dan memuji-muji Dia dalam majelis para tua-tua.

 

CAMPUR TANGAN TUHAN

Kita hidup dalam dunia yang terbiasa mengabaikan campur tangan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Tengok saja liputan media yang cenderung menyampaikan sesuatu hanya dari perspektif logika. Atau, kurikulum pendidikan sekolah yang cenderung mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi bisa dijelaskan dengan ilmiah.

Situasi ini membuat banyak orang kristiani kesulitan melihat pekerjaan Tuhan. Segala yang terlihat normal dan bisa dijelaskan dengan logika dipersepsikan sebagai peristiwa yang terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Hanya yang bersifat mukjizat yang diakui sebagai pekerjaan Tuhan. Padahal, banyak dari kita yang selama hidup ini mungkin tidak akan pernah mengalami hal yang ajaib dan spektakuler tersebut. Akibatnya, kita bertanya-tanya apakah Tuhan sungguh masih bekerja di tengah kita, atau bahkan apakah Dia sungguh ada. Akhirnya, iman kita goyah.

Kalau kita lihat di Alkitab, sebetulnya Tuhan kerap bekerja lewat cara-cara yang justru sangat biasa dan natural. Dalam firman Tuhan hari ini, kita temukan empat contoh kejadian semacam itu. Ada orang yang menemukan kembali jalannya, ada yang terbebas dari penjara, ada yang sembuh dari sakit, dan ada yang selamat dari badai. Semuanya adalah peristiwa yang tampaknya biasa. Namun, semuanya diimani pemazmur sebagai hasil pekerjaan Tuhan.

Dalam setiap detail kehidupan kita, baik keberhasilan dan sukacita, maupun kegagalan dan kesedihan, Tuhan terus bekerja. Yang kita perlukan adalah iman seperti yang dimiliki pemazmur; yang mampu melihat campur tangan Tuhan dalam setiap hal tersebut —ALS

TUHAN MASIH TERUS BEKERJA DALAM SETIAP DETAIL KEHIDUPAN KITA TETAPI
DIPERLUKAN IMAN UNTUK MELIHATNYA

Sumber : http://www.sabda.org