BERDISIPLIN DENGAN TUJUAN

Selasa, 2 Oktober 2012

Bacaan : 1 Timotius 4:1-10

4:1. Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan

4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.

4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur,

4:5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.

 

4:6. Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

4:9 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.

4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.

BERDISIPLIN DENGAN TUJUAN

Mungkin kita pernah terkagum-kagum dengan pemain musik yang hebat. Saya punya beberapa rekan musisi yang luar biasa sejak muda. Mereka seolah dilahirkan dengan keahlian itu. Namun, semua orang yang pernah mencoba main musik pasti tahu bahwa kepiawaian mereka tidak muncul begitu saja. Ada ribuan jam latihan yang telah mereka lewati dengan penuh kedisiplinan sebelum akhirnya mereka “merdeka” memainkan nada-nada yang indah. Prinsip yang sama juga berlaku dalam pertumbuhan rohani. Elton Trueblood berkata, “Disiplin adalah harga yang harus dibayar untuk mengalami kemerdekaan.”

Disiplin berlatih juga menjadi nasihat rasul Paulus kepada Timotius muda. Paulus ingin agar anak rohaninya itu menjadi pelayan yang mumpuni dalam mengajarkan firman Tuhan (ayat 6, 13). Namun, hal itu tidak dapat terjadi begitu saja. Timotius harus melatih diri dalam membaca Kitab Suci dan menggunakan karunianya mengajar. Kata “latihlah” dalam bahasa Yunani adalah gumnazo, yang juga merupakan asal kata Inggris gymnasium, tempat para olahragawan berlatih fisik. Tidak ada jalan pintas. Tentu saja, menjadi pelayan yang disiplin bukan tujuan akhir. Latihan rohani hanyalah sarana yang menjadikan Timotius leluasa dipakai Allah membawa keselamatan dan pertumbuhan bagi banyak orang

Apa yang paling Anda rindukan dalam kehidupan kristiani Anda? Jika rencana Allah adalah membuat anak-anak-Nya menjadi serupa dengan Kristus (1 Yohanes 3:2b), tidakkah hal itu juga seharusnya menjadi kerinduan kita? Disiplin apa saja yang harus kita latihkan untuk mewujudkannya? –ELS

DISIPLIN ROHANI MENOLONG KITA

BERTUMBUH SERUPA KRISTUS DENGAN SUKACITA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

CERMIN ALLAH

Minggu, 4 Maret 2012

Bacaan : 2 Korintus 3

3:1. Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu?

3:2 Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.

3:3 Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.

3:4 Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus.

3:5 Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.

 

3:6. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.

3:7 Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemuliaan Allah menyertainya waktu ia diberikan. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya. Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian

3:8 betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh!

3:9 Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran.

3:10 Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti.

3:11 Sebab, jika yang pudar itu disertai dengan kemuliaan, betapa lebihnya lagi yang tidak pudar itu disertai kemuliaan.

 

3:12. Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian,

3:13 tidak seperti Musa, yang menyelubungi mukanya, supaya mata orang-orang Israel jangan melihat hilangnya cahaya yang sementara itu.

3:14 Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya.

3:15 Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka.

3:16 Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.

3:17 Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.

3:18 Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.

 

CERMIN ALLAH

Mendengar “Just Do It” kita teringat pada sepatu olahraga Nike. Mendengar “Enak Dibaca dan Perlu” kita teringat pada majalah berita mingguan Tempo. Mendengar “Life Is Good” kita teringat pada produk eletronik LG. Kita mengenal produk-produk yang diiklankan, tetapi biasanya tidak tahu orang atau agen periklanan yang mencetuskan kalimat pengingat yang mewakili produk tersebut.

 

Seperti peran agen periklanan bagi produk iklannya, demikianlah kira-kira peran kita bagi Allah. Paulus menggambarkannya sebagai “mencerminkan kemuliaan Tuhan”. Dalam terjemahan lain, misalnya versi King James, dikatakan “memandang kemuliaan Tuhan seperti di dalam cermin”. Manakah yang betul? Paulus memakai istilah bahasa Yunani katoptrizomai yang dapat diartikan keduanya. Ia mengacu pada pengalaman Musa di Gunung Sinai. Di atas gunung, Musa memandang sekilas kemuliaan Allah. Ketika ia turun dari gunung, “cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya” (ayat 7). Dengan memandang kemuliaan Tuhan, Musa memancarkan kemuliaan-Nya. Dengan memandang kemuliaan Tuhan, kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya.

 

Paulus hendak mendorong kita untuk hidup berpusat pada Tuhan. Kita memandang Tuhan antara lain dengan meluangkan waktu untuk bersekutu secara pribadi dengan Dia. Selanjutnya, dalam interaksi keseharian dengan sesama, kita mesti mencerminkan kemuliaan Tuhan melalui sikap, pikiran, ucapan, dan tindakan kita. –ARS

MEMANDANG KEMULIAAN ALLAH DAN MEMANCARKANNYA

ADALAH

KEBAHAGIAAN TERTINGGI BAGI MANUSIA.

Dikutip : www.sabda.org

 

HAMBA KRISTUS

Senin, 30 Januari 2012

Bacaan : 1Korintus 4:1-21

4:1. Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.

4:2 Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.

4:3 Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi.

4:4 Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.

4:5 Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.

4:6 Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: “Jangan melampaui yang ada tertulis”, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.

4:7. Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?

4:8 Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu.

4:9 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.

4:10 Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina.

4:11 Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara,

4:12 kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;

4:13 kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.

4:14. Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi.

4:15 Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.

4:16 Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!

4:17. Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat.

4:18 Tetapi ada beberapa orang yang menjadi sombong, karena mereka menyangka, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu.

4:19 Tetapi aku akan segera datang kepadamu, kalau Tuhan menghendakinya. Maka aku akan tahu, bukan tentang perkataan orang-orang yang sombong itu, tetapi tentang kekuatan mereka.

4:20 Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.

4:21 Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?

HAMBA KRISTUS

Bagaimana rasanya kalau ada orang yang memanggil atau memperlakukan Anda dengan sebutan “hamba”? Dalam Alkitab, “hamba” berasal dari kata doulos yang berarti “budak belian”, yang tidak memiliki hak apa pun dalam hidupnya kecuali ia ditebus orang atau dibebaskan oleh majikan yang murah hati. Kristus menyebut pengikut-Nya sebagai murid dan sahabat-Nya, bukan hamba (lihat Yohanes 13:35; 15:15). Namun, Dia sendiri meneladankan hidup sebagai seorang hamba, dan mengajarkan bagaimana seharusnya para murid bersikap sebagai seorang hamba (lihat Yohanes 13:1-20; Lukas 17:7-10)

Rasul Paulus sering menyebut sendiri dirinya dan teman-temannya sebagai hamba-hamba Kristus (lihat Roma 1:1; Titus 1:1; Filipi 1:1), sama seperti yang kita baca hari ini. Bukan dengan nada sedih atau terpaksa, melainkan dengan nada bangga, karena Tuhan memercayakan kepada mereka tugas yang penting (ayat 1). Dalam perselisihan jemaat Korintus (lihat pasal 3), Paulus tidak memegahkan diri sebagai pemimpin yang hebat. Bukan penilaian orang yang penting baginya, tetapi penilaian Tuhan (ayat 3-4). Mengapa? Karena ia adalah hamba-Nya.

Bagaimana kita memandang diri kita di hadapan Tuhan? Kesadaran bahwa kita adalah budak dosa yang telah ditebus oleh Kristus seharusnya membanjiri hati kita dengan rasa syukur dan kasih kepada Dia yang telah membebaskan kita. Mendorong kita menjalani setiap hari bukan untuk menyenangkan orang lain melainkan untuk menyenangkan Sang Pemilik hidup kita. Seperti Paulus, kita bangga dikenal sebagai hamba-hamba Kristus –ACH

MELAYANI TUHAN ADALAH SUKACITA DAN KEHORMATAN

SIAPAKAH AKU HINGGA BOLEH MENJADI HAMBA-MU?

Dikutip : www.sabda.org

BEREBUT KEPEMIMPINAN

Kamis, 15 Desember 2011

Bacaan : Matius 20:20-28

20:20. Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”

20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.

20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

BEREBUT KEPEMIMPINAN

Perilaku anak-anak kerap membuat kita geli dan gemas. Kita memaklumi tingkah mereka sebab mereka memang tengah dalam tahap pertumbuhan dan pencarian jati diri. Akan tetapi, apabila perilaku itu terus terbawa sampai orang itu dewasa, itu bisa membuat muak. Kita menyebutnya kekanak-kanakan.

Sikap kekanak-kanakan itulah yang diperlihatkan oleh para murid ketika mempertengkarkan siapa yang lebih besar, siapa yang paling pantas memimpin, di antara mereka. Mereka ingin berada di posisi kepemimpinan, suatu posisi yang menuntut kedewasaan, tetapi mereka memandang kepemimpinan sebagai dunia yang berpusat pada aku, diriku, dan milikku. Kepemimpinan disambut sebagai wahana untuk memuaskan kepentingan dan ambisi pribadi.

Tuhan Yesus mengoreksi pandangan tersebut. Dia mengajukan cara pandang yang menjungkirbalikkan perspektif para murid. Kepemimpinan sejati tidak berfokus pada diri sendiri, tetapi pada kesejahteraan orang lain. Bekal utamanya ialah kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani sesama. Seorang pemimpin akan rela menyingkirkan kepentingan pribadinya demi memberikan sumbangsih yang bermakna bagi orang banyak. Kepemimpinan, dalam pandangan Yesus, bukan terutama mengacu pada kedudukan, melainkan pada sikap dan motivasi hati.

Bagaimana kecenderungan kita? Mengejar posisi atau mengutamakan kesediaan untuk melayani sesama? Mengincar keuntungan pribadi atau sungguh-sungguh rindu untuk memberkati orang lain, kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan diri? Bersediakah kita merendahkan diri sebagai pelayan? –ARS

KEPEMIMPINAN ADALAH PANGGILAN YANG LUHUR DAN TINGGI

SEHINGGA UNTUK MERAIHNYA KITA HARUS MERENDAHKAN DIRI

Dikutip : www.sabda.org

MENGEJAR EKOR SENDIRI

Selasa, 10 Agustus 2010

Bacaan : Markus 10:35-45 10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!”

10:36 Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?”

10:37 Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.”

10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?”

10:39 Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.

10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”

10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.

10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

MENGEJAR EKOR SENDIRI

Seekor anak anjing bergerak lucu “mengejar” ekor pendeknya sendiri untuk menggigitnya. Jelas ia berputar-putar terus, tanpa pernah mencapai tujuannya. Anjing tua berkata kepadanya, “Lupakanlah itu! Tak usah kaukejar ekormu itu. Berjalanlah saja, maka dengan sendirinya ia akan mengikutimu.”

Dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak dapat diraih dengan terus sibuk mengejarnya. Salah satunya adalah kehormatan atau kemuliaan. Kian dikejar, kian menjauh. Sejenak teraih, sekejab raib lagi. Membuat kita jadi gila. Haus kuasa. Gila hormat. Di samping hasilnya sia-sia, harga yang harus dibayar pun amat mahal. Korban pasti berjatuhan. Tuhan Yesus meluruskan kekeliruan murid-murid-Nya dalam hal serius yang satu ini. Hidup ini bukan untuk “mengejar” kemuliaan, kehormatan, kedudukan dan kekuasaan. Sebab, orang pasti akan “berputar-putar” dalam keributan, pertengkaran, dan aksi kekerasan. Semua payah, semua susah, semua kalah! Yesus menekankan bahwa kemuliaan, kehormatan, kedudukan, dan kekuasaan hanya bisa dicapai ketika kita merendahkan hati, menjadi pelayan; menjadi hamba (ayat 43, 44). Teladan yang sejati adalah Yesus sendiri (ayat 45).

Tugas kita adalah untuk “berjalan saja” memenuhi panggilan hidup, yaitu memuliakan Tuhan dengan cara melayani sesama; memberikan yang terbaik. Lupakan pamrih. Jauhkan keinginan untuk dimuliakan. Kemuliaan adalah hak Tuhan. Dia lebih tahu bagaimana melengkapi kita dengan anugerah-Nya. Berkat pasti “mengikuti” kita selaras dengan kemurahan-Nya atas karya pengabdian kita yang tulus –PAD

LAKUKAN SAJA KARYA TERBAIK ANDA

TUHAN TAHU MENGARUNIAKAN APA YANG TERBAIK

UNTUK ANDA

Sumber : www.sabda.org

Hal Kecil Membawa Hasil Sesuatu Yang Besar

PESAN GEMBALA

10 JANUARI 2010

EDISI 108 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati, Elia adalah seorang nabi yang hidup di masa kelaparan atau masa kekeringan dengan kondisi masyarakat yang serba memprihatinkan, baik secara fisik, kesehatan maupun kondisi mental kerohaniannya.

Tidak ada hujan selama tiga setengah tahun. Hal ini membawa dampak negatif bagi umat Tuhan. Elia tidak begitu dikenal masyarakat ketika itu. Alkitab juga tidak mencatat apa pun tentang orang tuanya, mereka berasal dari Tisbe, yang merupakan tempat tidak terkenal yang terletak di pegunungan.

Elia merupakan contoh teladan yang  baik dari banyak umat Tuhan yang sering berkata “saya tidak mampu melakukan apa pun bagi Allah karena saya tidak mempunyai gelar, tidak pandai, tidak banyak harta, tidak berasal dari orang-orang yang mendapat kesempatan”. Memang sebenarnya Elia keadaannya juga seperti demikian, bahkan menurut Alkitab, Elia dipanggil dari suatu tempat yang samar-samar, namun suatu hari Elia mengucapkan suatu statemen pengumuman yang luar biasa “tidak akan turun hujan sampai aku memberitahukan kembali”.

Saudara, apakah ini suatu pernyataan kesombongan dari seorang yang tidak dikenal? Bahkan dia mendapatkan jalannya menuju istana raja dan mengumumkan:”Demi Tuhan yang hidup, Allah Isreal yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan” (I Raja-raja 17:1).

Setelah setahun kelaparan, Tuhan menyuruhnya untuk mengunjungi istana kembali membawa perintah bahwa Allah akan menurunkan hujan ke bumi. Apa yang membuat Elia percaya diri demikian? Kepekaan terhadap Allah dan firman Allah yang luar biasa, sama sekali bukan kesombongan berlebihan.

Bertahun-tahun sebelumnya di kitab Ulangan, Elia mencatat, “Apabila engkau menyembah berhala-berhala di tanah yang telah kuberikan kepadamu sebagai janji maka Aku akan menutup langit sehingga tidak ada hujan”. Firman Allah telah berdiam di hati Elia. Ia bertindak sesuai dengan Firman Allah, suatu tindakan, berdasarkan pernyataan Ulangan, didukung oleh kepercayaan yang tak tergoyahkan akan siapa Allah, dan suatu keyakinan bahwa Allah dan firman-Nya adalah satu. Juga memiliki kepekaan akan suara Allah.

Kisah ini sangat terkenal dan spektakuler, di langit Elia melihat sebuah awan yang berukuran kecil kira-kira sebesar kepalan tangan orang, hal yang kecil. Tanda yang tidak mengejutkan, dan ketika melihatnya, ia menyuruh hamba-hambanya untuk menyiapkan sebuah kereta guna memberitakan kepada raja Ahab bahwa hujan akan segera turun. Hanya sekepal awan, hanya dua ikan dan lima roti, hanya sebuah buli-buli kecil. Tidak ada apa-apa, kecuali kemudian Allah menyatakan bahwa Ia bersedia dan mampu melakukan “jadilah kepadamu sesuai dengan imanmu”.

Jemaat yang diberkati Tuhan, apa yang ada padamu sekarang? Adakah iman kepercayaan? Seharusnya iman sebesar biji sesawi harus ada. Iman bahwa Allah mampu mengambil apa yang tidak begitu berarti dan melipatgandakannya sesuai dengan kemampuan Allah yang tidak terbatas. Pada waktu yang lalu saya sarankan kepada jemaat supaya menyelidiki di dalam rumah, apakah yakin bahwa Roh Kudus ada di rumah, di tempat pekerjaan, dan sebagainya. Ketika Roh Kudus turut bekerja di dalam rumah dan pekerjaan, maka perkara-perkara yang terjadi bisa terselesaikan dengan berhasil.

Apa yang membuat pelipatgandaan dapat terjadi? Bahwa bagi janda dengan buli-buli minyak dan Elia dapat menurunkan hujan adalah ketika dengan iman, prinsip ini kiranya dapat memotivasi kita untuk mempergunakannya dalam keseharian kita. Mari senantiasa mempergunakan iman kita dan terus menuangkan minyak seperti ibu janda yang hanya memiliki sedikit minyak dalam buli-buli, menuangkan minyak dari kasih dan kasih Kristus ke dalam hidup orang lain. Semakin kita menuangkan maka kita akan semakin diisi penuh oleh persediaan dari Allah. Perlu adanya pembelajaran baik kepada mereka yang diberkati dengan harta benda dunia dan kemudian mengambil bagian secara finansial dari dalam rumahnya dan menuangkan ke dalam hidup orang-orang yang lebih menderita lewat kekuatan finansialnya, juga kepada setiap umat Tuhan yang hanya memiliki harta dunia yang “sedikit”, tetap harus menuangkan minyak yang “sedikit” itu. Tak peduli apa pun latar belakang budaya atau status sosial, status finansialnya, semua sama tingginya di bawah kaki Salib Kristus. Apabila hal ini dikerjakan maka semuanya akan menerima pelipatgandaan dari Tuhan kita. Dan alami di tahun kelimpahan, mujizat dan pemulihan..!!!

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

MENJADI PELAYAN

Senin, 31 Agustus 2009

Bacaan : Matius 20:20-28

20:20. Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”

20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.”

20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”

20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.

20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

 

MENJADI PELAYAN

Ketika kita sudah menduduki posisi puncak, rasanya apa pun yang kita katakan akan menjadi titah yang harus terwujud. Kita mulai berhenti mendengarkan dan sibuk berbicara. Kita sibuk berpikir dan lupa melihat apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Tingkat kesabaran kita menipis jika segala sesuatunya tidak terlayani dengan sempurna.

Di balik semua itu, kita tidak pernah tahu ada yang pontang-panting kewalahan memenuhi keinginan kita. Tidak banyak yang mengamati bahwa seorang pelayan yang masih tersenyum sabar sebenarnya sedang memikirkan anaknya yang sakit keras di rumah. Hampir tak ada yang memikirkan bahwa penataan ruangan untuk sebuah acara istimewa yang digelar satu atau dua jam saja, membutuhkan kerja keras semalam suntuk dari sejumlah orang yang di antaranya sampai kelelahan bahkan jatuh sakit karena terpaksa harus begadang.

Sudahkah kita menerapkan gaya kepemimpinan Yesus? Yesus tak pernah meninggikan diri, tetapi merendahkan diri-Nya dengan rela. Ibarat raja yang turun takhta dan menyamar menjadi rakyat jelata, Dia mau merasakan dan memahami perasaan rakyat. Dengan begitu Dia dapat mengarahkan mereka kepada kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna. Dalam budaya Jawa kita mengenal filosofi yang berbunyi “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Artinya: di depan memberi teladan, di sisi memberi bimbingan, dari belakang memberi dorongan. Seorang pemimpin yang baik bukan penguasa yang hanya bisa memerintah; pemimpin adalah pengayom, panutan, sekaligus rekan berbagi hati. Sudah siapkah kita menjadi hamba seperti Yesus? -GGC

BARANGKALI POSISI KITA BISA DI PUNCAK

TETAPI BIARLAH HATI KITA TETAP ADA DI TEMPAT RENDAH

Sumber : www.sabda.org