HARVEY PEKAR

Kamis, 20 Oktober 2011

Bacaan : Markus 4:1-20 

4:1. Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu.

4:2 Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka:

4:3 “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.

4:4 Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

4:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.

4:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

4:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah.

4:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.”

4:9 Dan kata-Nya: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

4:10 Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.

4:11 Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,

4:12 supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.”

4:13 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?

4:14 Penabur itu menaburkan firman.

4:15 Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.

4:16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,

4:17 tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.

4:18 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu,

4:19 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

4:20 Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”

HARVEY PEKAR

Harvey Pekar, dalam novel grafisnya yang berjudul The Quitter, menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh kecemasan sehingga selalu gelisah di sekolah, gagal kuliah, dan berganti-ganti pekerjaan. Sebenarnya, ia sudah sukses dengan komik yang berjudul American Splendor, menang di Festival Cannes dan Sundance, mendapat pujian dari USA Today dan New York Times, juga mendapat kontrak-kontrak besar. Namun di halaman terakhir, Pekar berkata: “Mungkin aku akan selalu cemas … sekalipun buku-buku yang kutulis laku keras. Aku bermimpi bisa hidup tenang tanpa masalah dalam jangka panjang. Tetapi umurku sekarang sudah 65. Jadi, apa itu akan terjadi?”

Yesus mengibaratkan kecemasan seperti semak duri. Tuhan dapat menyentuh kita melalui firman-Nya lewat Alkitab atau peristiwa sehari-hari. Akan tetapi, apabila kita masih menyimpan “semak duri”, maka “benih iman” kita tak dapat bertumbuh. Yesus memaparkan dengan gamblang sumber-sumber kecemasan manusia: kekhawatiran dunia ini, tipu daya kekayaan, keinginan-keinginan akan hal yang lain (ayat 19). Hal-hal itu membelenggu kita dan membuat kita tak berbuah.

Harvey Pekar, jenius komik yang hatinya terikat kecemasan, akhirnya meninggal pada Juli 2010 lalu. Ia mengidap kanker. Namun, sumber utama kematiannya bukan kanker, melainkan terlalu banyak mengkonsumsi obat anti depresi. Ini mendorong kita untuk memeriksa diri: Apakah “semak duri” masih mengimpit hidup kita? Apakah firman Tuhan dan kebenaran-Nya sudah kita nomor duakan? Mari belajar berserah kepada Tuhan, sehingga benih firman Tuhan dan kebenaran-Nya di hati kita, dapat bertumbuh dan berbuah –OLV

KENDALIKAN DAN SERAHKAN KECEMASAN ANDA KEPADA TUHAN

SEBELUM KECEMASAN ITU MENGENDALIKAN KITA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

PERTUMBUHAN YANG TERIMPIT

Selasa, 23 Februari 2010

Bacaan : Lukas 8:4-15

8:4. Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan:

8:5 “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.

8:6 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.

8:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.

8:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

8:9 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.

8:10 Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.

8:11 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.

8:12 Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

8:13 Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

8:14 Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

8:15 Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

PERTUMBUHAN YANG TERIMPIT

Saya punya seorang teman yang gemar membaca buku rohani, mengikuti kegiatan pembinaan iman, dan bersemangat sekali ketika berbicara tentang teologia. Ia juga aktif melayani. Banyak orang menghormatinya sebagai orang kristiani yang baik. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika suatu hari ia mengaku telah meninggalkan iman kristiani. Ternyata dari pengakuan teman-teman dekatnya, ia sesungguhnya belum melepaskan gaya hidup foya-foya. Itu sebabnya dalam keseharian pun ia sangat labil. Bisa tiba-tiba kehilangan antusiasme dalam pelayanan atau susah bekerja sama dengan rekan lain.

Yesus berbicara tentang hal seperti ini ketika membicarakan firman yang jatuh di tanah bersemak duri. Firman itu memang bertumbuh. Memang menghasilkan buah. Namun, pertumbuhannya terimpit, sehingga buahnya tidak matang. Ada pengaruh lain yang mengimpit pertumbuhan firman. Kekhawatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup adalah tiga pengimpit yang disebut Yesus di sini. Dan pada masa modern sekarang ini, kenikmatan hidup merupakan salah satu tantangan berat yang kita hadapi. Ia meracuni pikiran kita, sehingga firman yang kita terima tak dapat bertumbuh.

Dalam dunia yang semakin menekan kita untuk mengejar kenikmatan hidup, sangatlah penting bagi kita untuk lebih banyak membaca firman Allah. Dengan menyerap sebanyak mungkin kebenaran firman, kita akan memiliki hikmat untuk menjaga hati. Dunia ini terus menaburkan “semak kenikmatan hidup” — melalui apa yang kita baca, tonton, dan nikmati — yang bisa berakar di hati kita. Maka, kita perlu memilih aktivitas yang mendukung kerohanian. Agar firman-Nya leluasa membarui hidup kita –DBS

CEGAHLAH KEDUNIAWIAN

MENGIMPIT PERTUMBUHAN FIRMAN TUHAN DI HATI KITA

Sumber : www.sabda.org

MENJAGA KOMITMEN

Kamis, 31 Desember 2009

Bacaan : Yohanes 4:31-38

4:31 Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: “Rabi, makanlah.”

4:32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”

4:33 Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?”

4:34 Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

4:35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.

4:36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.

4:37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.

4:38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”

MENJAGA KOMITMEN

Setiap tahun baru, banyak orang membicarakan resolusi: tahun baru, komitmen baru. Namun, apa yang terjadi dengan komitmen kita saat nanti, bulan demi bulan berlalu? Terkadang gemanya hampir tak terdengar lagi; bahkan terlupakan atau tak dipedulikan lagi. Ironis, bukan?

Mari belajar dari Yesus. Meskipun hidup-Nya di dunia diwarnai penolakan dari para pemimpin agama waktu itu, penyangkalan murid-Nya, bahkan berujung pada penderitaan di kayu salib, Dia tetap setia. Komitmen-Nya teguh dalam berbagai keadaan. Bagaimana Dia dapat tetap setia sampai akhir? Kuncinya terungkap dari ucapan-Nya, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (ayat 34).

Dia berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, dan selama itu Dia tak pernah absen melakukan kehendak Bapa. Dia pernah meminta agar cawan penderitaan berlalu dari-Nya, tetapi Dia menyerahkan kembali keputusan akhirnya ke tangan Bapa. Dia tidak pernah hidup di luar kehendak Bapa, sebab hidup-Nya adalah untuk melakukan kehendak Bapa. Inilah yang membuat hidup-Nya menjadi teladan komitmen yang sempurna. Komitmen yang dijaga dengan setia sampai akhir.

Bagaimana dengan kita? Hidup kita perlu diisi tidak hanya dengan berbagai perbuatan baik menurut ukuran dunia, tetapi juga dengan melakukan kehendak Bapa setiap saat. Tantangan pasti ada, tetapi mari kita teladani kesungguhan-Nya untuk melakukan kehendak Bapa dalam segala keadaan. Buatlah komitmen untuk setia menjadi saksi-Nya dan lakukanlah dengan setia hingga akhir. Dengan demikian, hidup kita memuliakan-Nya –HA

SEBUAH KOMITMEN MENJADI BERARTI

JIKA KITA MAU BERJUANG UNTUK TERUS MELAKUKANNYA

Sumber : www.sabda.org