MENABURKAN KEBAIKAN

Senin, 11 Februari 2013

Bacaan: Galatia 6:1-10

6:1. Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.

6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

6:3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.

6:4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.

6:5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

6:6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.

6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

MENABURKAN KEBAIKAN

Dalam sebuah rapat, ketika berbicara tentang program sosial yang akan dilakukan oleh gereja kami, seorang majelis bertanya, “Apa untungnya kegiatan ini bagi gereja kita?” Lalu pendeta menjelaskan bahwa salah satu tujuan kehadiran gereja di dunia adalah menjadi berkat bagi orang lain, khususnya bagi orang-orang miskin. Kita tidak memikirkan keuntungan pribadi ketika melakukan pelayanan.

Banyak orang Kristen yang terperangkap dalam pemikiran “memberi dan menerima”. Orang tergoda untuk memikirkan apa yang akan ia peroleh jika melakukan suatu kebaikan kepada orang lain. Akibatnya, jika ia tidak melihat adanya keuntungan yang akan ia dapatkan, ia urung bertindak. Ia menahan kebaikan dari orang yang memerlukan. Padahal, menabur kebaikan tidak sama dengan berinvestasi dalam dunia bisnis. Kita tidak selalu menerima balasan dari orang yang kita bantu, namun tidak jarang kita “menuai” kebaikan di tempat lain. Tidak dapat diprediksi, dan karena itu malah berpotensi mendatangkan kejutan yangmenyenangkan.

Paulus mendorong jemaat di Galatia untuk saling menolong dan saling menanggung beban. Itu suatu cara praktis bagi orang percaya untuk menggenapi hukum Kristus, yaitu hukum kasih. Kasih seharusnya memancar kepada semua orang. Apakah Anda tergoda menahan kasih dari orang yang memerlukannya, hanya karena mereka berbeda dari Anda? Atau, karena Anda merasa tak akan mendapatkan keuntungan dari perbuatan baik itu? Penuhilah hukum Kristus dengan menabur kebaikan kepada semua orang. –HEM

MENABURKAN KEBAIKAN DALAM KASIH

 BERARTI BERBUAT BAIK TANPA PILIH KASIH

Dikutip : www.sabda.org

SETAN KALAH TELAK

Senin, 10 Desember 2012

 Bacaan: Markus 1:21-28

1:21 Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar.

1:22 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.

1:23. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak:

1:24 “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.”

1:25 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!”

1:26 Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya.

1:27 Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: “Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.”

1:28 Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.

SETAN KALAH TELAK

Apakah Anda percaya dengan keberadaan setan? Ada beberapa kalangan yang tak percaya dan menganggap orang yang disebut kerasukan sebenarnya mengalami penyakit syaraf dan kejiwaan tertentu. Namun, banyak pula yang percaya bahwa setan itu ada. Bahkan, dalam beberapa acara televisi, kerap ditampilkan tayangan mengenai “orang berilmu” yang sedang melawan roh halus alias setan. Orang ini memejamkan mata serta merapal doa dan mantra. Alkitab jelas menyatakan setan itu ada. Tuhan Yesus kerap kali “berjumpa” dengan setan. Dan, dalam setiap kesempatan itu, Dia mampu mengatasi dan menaklukkannya.

Berbagai cara pengusiran setan juga dikenal dalam praktik Yahudi. Namun, Yesus mengejutkan orang banyak karena Dia melakukannya hanya dengan kata-kata. Cukup dengan sekali hardikan saja (ayat 25). Betapa besar otoritas yang ada dalam diri Yesus! Roh jahat itu ketakutan karena mengenali siapa sesungguhnya Yesus dan tahu tujuan kedatangan-Nya (ayat 24). Ini hanya yang pertama dari sekian peristiwa Yesus mengusir setan yang dicatat dalam Injil. Di kayu salib, Yesus menuntaskan apa yang Dia mulai di rumah ibadah di Kapernaum ini, yakni menghancurkan kuasa roh jahat, setan, dan iblis untuk selama-lamanya.

Setan masih bisa meneror kita hari ini, tetapi sesungguhnya otoritasnya terbatas dan ia tidak berdaya menghadapi Kristus, Tuhan kita. Mengimani kebenaran ini adalah kunci kesaksian kita di tengah dunia yang seringkali takut dan putus asa menghadapi kuasa-kuasa jahat zaman ini. Dunia ini, walau tampaknya masih penuh teror iblis, telah ditaklukkan oleh otoritas Allah di dalam Yesus yang penuh kasih. Wartakan kabar baik ini! –ICW

MENYATAKAN KEMENANGAN MUTLAK KRISTUS ATAS KUASA SETAN

 ADALAH OTORITAS DAN TUGAS GEREJA DI SETIAP GENERASI.

Dikutip : www.sabda.org

AMANAT AGUNG

Selasa, 30 Oktober 2012

Bacaan : Matius 28:16-20

28:16. Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.

28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.

28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

 

AMANAT AGUNG

Ucapan Yesus di akhir pelayanan-Nya di bumi tentulah sangat penting. Dia bisa memilih mengatakan hal lain, tetapi kalimat-kalimat inilah isi hati dan fokus-Nya. Ini bukan sekadar curhat, melainkan sebuah amanat dari Pribadi yang berkuasa atas alam semesta. Seberapa sering kita yang mengaku pengikut Yesus telah merenungkan dan melakukannya?

Mari memikirkan amanat ini bersama. Pertama-tama, Yesus menghendaki para murid-Nya untuk pergi, melakukan sesuatu, tidak tinggal diam di zona nyaman. Mereka harus mengambil inisiatif, berusaha sedemikian rupa, agar orang lain juga dapat menjadi murid Yesus seperti mereka. Caranya? Dengan membaptis dan mengajar. Dengan dibaptis, seseorang memutuskan untuk meninggalkan cara hidup yang lama dan menggantungkan diri sepenuhnya pada anugerah Allah. Dengan diajar, ia belajar untuk mencerminkan pengajaran dan kehidupan Kristus, yang kini menjadi Tuhan dan Juru Selamatnya. Orang dengan kualitas murid ini harus dihasilkan di semua bangsa, atau lebih tepatnya, semua suku bangsa. Ketika diajar melakukan segala perintah Kristus, artinya para murid baru ini juga harus mengulangi proses yang sama: pergi, menjadikan murid dengan membaptis dan mengajarkan semua perintah Kristus

Amanat Yesus menegaskan apa yang Dia kehendaki dari para murid-Nya. Kita tidak dipanggil untuk sekadar menjadi jemaat yang aktif dalam persekutuan dan kegiatan sosial. Kita diperintahkan untuk menghasilkan murid dari segala suku bangsa! Mari periksa lagi semua kesibukan kita sebagai seorang kristiani. Adakah kita sedang menaati amanat Yesus? –PBS

AMANAT TERAKHIR-NYA SEHARUSNYA

MENJADI PERHATIAN KITA YANG TERUTAMA

Dikutip : www.sabda.org

DI MANA SAJA, KAPAN SAJA

Rabu, 24 Oktober 2012

Bacaan : Ulangan 6:1-9

6:1. “Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya,

6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.

6:3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

 

6:4. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

 

DI MANA SAJA, KAPAN SAJA

Banyak orangtua yang mengeluh karena tidak lagi menemukan waktu yang tepat dan cukup untuk duduk bersama anak-anak. Mereka merasa kehilangan sarana untuk mengajar prinsip-prinsip hidup yang mereka yakini. Namun, sebenarnya pembelajaran yang diprogramkan secara teratur pun punya risiko, yaitu anak-anak didik bisa menjadi bosan dengan pertemuan rutin. Membingungkan bukan?

Pikirkanlah para orangtua Israel di zaman Musa. Mereka diminta mengajaranak-anaknya untuk mengasihi Allah dengan segenap hati. Prinsip yang sangat penting ini harus diajarkan berulang kali, dengan berbagai cara dan di berbagai kesempatan. Ini artinya para orangtua didorong untuk peka dan kreatif dalam menyampaikan kebenaran-kebenaran Allah. Mereka harus memakai setiap kesempatan di sepanjang hari, bukan hanya jam tertentu saja. Pengajaran yang kaya dengan cara dan tidak dibatasi oleh waktu serta tempat inilah yang akan lebih memberikan hasil yang kokoh. Allah sendiri adalah contoh pendidik yang kreatif di mana Dia mengajar umat-Nya berulang kali, di berbagai kesempatan dan dengan berbagai macam cara

Mungkinkah kita terhambat dalam mengajarkan kebenaran karena berpikir bahwa proses belajar itu hanya dapat berlangsung di tempat, jam, dan cara tertentu? Mungkin selama ini kita justru mengabaikan waktu dan kesempatan yang baik karena kita anggap itu bukanlah jam dan tempat belajar. Kalau kita belajar untuk peka dan kreatif, maka membagikan kebenaran tidak akan mengenal halangan tempat dan waktu. Temukanlah kesempatan itu! –PBS

SETIAP KESEMPATAN DAPAT MENJADI PELUANG

UNTUK MENYAMPAIKAN KEBENARAN

Dikutip : www.sabda.org

HIDUP BARU

Sabtu, 7 Juli 2012

Bacaan : Efesus 4:17-32

4:17. Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia

4:18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.

4:19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

4:20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.

4:21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,

4:22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,

4:23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

4:28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

 

HIDUP BARU

Selama 16 tahun, John Kovancs tinggal di terowongan kereta api bawah tanah nan gelap. Saat ada perbaikan terowongan, ia terpaksa mencari tempat tinggal baru. Suatu saat, ia terpilih menjadi orang pertama yang memenangkan program “mengubah tunawisma menjadi penghuni rumah tetap” yang diadakan The New York Times. John meninggalkan tempat tinggal lamanya dan menjadi petani organik di New York. Katanya, “Udara di luar sini terasa lebih baik. Saya tak akan merindukan kehidupan lama saya. Saya tak akan kembali ke sana lagi.”

Pernyataan John semestinya juga mewakili sikap hati kita dalam menjalani kehidupan manusia baru di dalam Kristus. Paulus menyebutnya “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru” (ayat 22-23). Mengapa mesti menanggalkan manusia lama? Manusia lama itu jauh dari hidup yang berasal dari Allah (ayat 18). Oh, adakah yang lebih buruk daripada hidup yang jauh dari Allah? Hidup yang diliputi kebodohan dan kekerasan hati; membuat perasaan menjadi tumpul sehingga hawa nafsu, serakah, dan perbuatan cemarlah yang dilakukan setiap kali (ayat 19). Sementara itu, mengenakan manusia baru berarti dibarui dalam roh dan pikiran (ayat 23); diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (ayat 24). Jadi, ada perubahan selera dan orientasi hidup; meneladan Kristus (ayat 20); ramah, penuh kasih mesra, saling mengampuni (ayat 32).

Masihkah kita menginginkan manusia lama? Dalam hal apa kita cenderung berbalik kepada manusia lama? Mari mohon pengampunan Tuhan. Diiringi pertolongan Roh Kudus, serukanlah komitmen John Kovancs: “Saya tak akan kembali ke sana lagi!” –NIL

MANUSIA BARU MEMUNCULKAN SELERA HIDUP YANG BARU.

INJIL PALSU

Jumat, 15 Juni 2012

Bacaan : Galatia 1:6-10

1:6. Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,

1:7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.

1:8 Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.

1:9 Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.

 

1:10. Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

 

INJIL PALSU

Menurut cerita, ada kebiasaan unik di lingkungan bank untuk melatih pegawainya mengenali uang palsu. Selama beberapa bulan mereka diminta untuk menghitung uang, yang tentunya asli, dalam jumlah banyak. Kemudian setelahnya, diselipkan beberapa lembar uang palsu didalam tumpukan yang harus dihitung. Menarik sekali, dengan mudah para pegawai ini mengenali uang palsu tersebut. Kebiasaan memegang uang asli menolong mereka dengan cepat merasakan adanya uang palsu.

Paulus sangat geram ketika jemaat Galatia dengan mudah menerima suatu pengajaran yang berbeda dengan yang pernah ia ajarkan. Dengan mudah para pengajar Injil palsu ini memutarbalikkan kebenaran dan mengacaukan jemaat (ayat 7). Jemaat dengan cepat menerima dan dikacaukan karena mungkin pengajaran ini memiliki beberapa kemiripan dengan pengajaran yang pernah mereka terima. Namun, sesuatu yang mirip tetap bukanlah sesuatu yang asli. Sesuatu yang “agak salah” jelas bukanlah sesuatu yang benar. Bahkan Paulus tidak segan-segan mengatakan mereka yang memberitakan Injil yang berbeda itu sebagai “terkutuk” (ayat 8-9). Seseorang yang menggeser pentingnya salib Kristus dari kehidupan orang percaya, sesungguhnya sedang merendahkan karya agung Allah.

Terkadang kita sulit membedakan keaslian atau kepalsuan suatu pengajaran. Apa upaya kita untuk terhindar dari meyakini pengajaran yang salah? Paling tidak sudahkah kita secara pribadi tekun membaca sumber kebenaran, yaitu Alkitab? Kebiasaan untuk bergaul dengan Injil yang murni akan mempermudah kita mengenali yang tidak murni. –PBS

PEMAHAMAN KITA AKAN KEBENARAN YANG ASLI

AKAN MEMAMPUKAN KITA MENGENALI PENGAJARAN YANG PALSU.

Dikutip : www.sabda.org

SENTUHAN KASIH

Kamis, 31 Mei 2012

Bacaan : Galatia 6:1-10

6:1. Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.

6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

6:3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.

6:4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.

6:5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

6:6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.

6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

 

SENTUHAN KASIH

Anda pernah terpeleset dan jatuh? Saat menyusuri rawa untuk suatu tugas, tanpa sengaja saya menginjak batu yang licin. Keseimbangan saya goyah dan jatuh terpeleset. Tangan dan kaki lecet; badan basah penuh lumpur. Kala itu, ada rekan yang tertawa; ada yang “berkhotbah” panjang; ada pula yang tak peduli dan memaksa melanjutkan perjalanan–membuat saya tak nyaman. Namun, ada juga rekan yang mengulurkan tangan; menawari untuk membawa sebagian perlengkapan saya; atau berhenti menemani sampai saya siap melanjutkan perjalanan. Mereka meringankan beban saya dan membuat saya berbesar hati.

Bagaimana sikap yang benar saat menjumpai orang yang terpeleset, jatuh dalam dosa? Paulus menasihati jemaat Galatia agar dengan lemah lembut mereka membimbing orang-orang yang “terpeleset” kembali ke jalan yang benar (ayat 1) dan bertolong-tolongan menanggung beban (ayat 2). Menariknya, Alkitab versi Firman Allah Yang Hidup (FAYH) menuliskan: “Ikutlah merasakan kesukaran dan kesulitan orang lain (ayat 2a). Kehadiran dan pertolongan kita merupakan sarana sentuhan kasih yang nyata bagi orang lain yang tengah jatuh. Sebab itu, kita tak boleh jemu melakukannya (ayat 9).

Respons kita terkadang menunjukkan tingkat kepedulian kita pada orang lain. Ada orang, sengaja atau tidak, pernah “terpeleset” ke rawa dosa. Dan, itu membuat terluka. Bukan cemoohan, khotbah panjang, atau membiarkan mereka seorang diri, melainkan uluran tangan penuh kasih. Kiranya Roh Kudus memberi kepekaan akan kebutuhan orang lain serta kelemahlembutan untuk “mengangkat” dari kejatuhan–lewat sentuhan kasih kita kepada mereka. –SCL

ULURAN KASIH KITA KEPADA SAUDARA YANG MENGALAMI KEJATUHAN

AKAN MENOLONGNYA BANGKIT DARI KETERPURUKAN.

Dikutip : www.sabda.org