IKAN BAKAR

Sabtu, 19 November 2011

Bacaan : Mazmur 57:1-12 

57:1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam Dari Daud, ketika ia lari dari pada Saul, ke dalam gua. (57-2) Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.

57:2 (57-3) Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku.

57:3 (57-4) Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. Sela Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya.

57:4 (57-5) Aku terbaring di tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam.

57:5 (57-6) Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!

57:6 (57-7) Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku, ditundukkannya jiwaku, mereka menggali lobang di depanku, tetapi mereka sendiri jatuh ke dalamnya. Sela

57:7. (57-8) Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur.

57:8 (57-9) Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!

57:9 (57-10) Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;

57:10 (57-11) sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.

57:11 (57-12) Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!

IKAN BAKAR

Tempat makan ikan bakar kesukaan saya adalah sebuah warung di pinggir sebuah sungai, di daerah perumahan yang bersebelahan dengan kompleks perumahan tempat saya tinggal. Lokasi warung ini cukup sulit dicari. Bahkan, walaupun sudah terlihat, warung itu tidak tampak meyakinkan. Namun, warung ini hampir tidak pernah sepi pengunjung. Bagaimana orang-orang itu, termasuk saya, bisa tahu mengenai warung tersebut? Melalui cerita dari orang-orang yang merasa puas dengan kelezatan ikan bakar yang dijualnya.

Adalah normal kalau seseorang bercerita dan mengajak orang lain untuk ikut merasakan pengalaman menyenangkan yang sudah dialaminya. Tak heran, setelah Daud merasakan kasih Allah yang menyelamatkannya dari musuh, ia begitu antusias menceritakannya kepada orang-orang. Daud merasa sedemikian bersukacita sehingga ia sangat terdorong untuk bersaksi tentang Allah kepada siapa pun.Termasuk kepada bangsa-bangsa yang belum mengenal Dia.

Seperti Daud, sebagai orang-orang yang sudah dikasihi Tuhan, bukankah seharusnya kita juga selalu antusias bersaksi tentang Tuhan? Namun, mengapa banyak orang kristiani belum melakukannya? Penghalang pertama, sangat mungkin adalah kurangnya kesadaran kita akan karya Tuhan. Maka, kita perlu kerap menyediakan waktu untuk mengingat segala berkat Tuhan di hidup kita. Khususnya bagaimana di kayu salib Yesus mengingat dosa kita dan menghapusnya di situ. Penghalang kedua, bisa jadi adalah rasa takut berbagi. Untuk ini, mintalah keberanian dari Roh Kudus. Jika pengalaman makan ikan bakar yang nikmat bisa dibagikan dengan antusias, mengapa pengalaman dikasihi Allah tidak bisa kita ceritakan? –ALS

BIASAKAN DIRI UNTUK MENERUSKAN HAL-HAL BAIK

KHUSUSNYA SETIAP KARYA TUHAN YANG TERUS TERJADI DI HIDUP KITA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

CADANGAN KEKUATAN ROHANI

Selasa, 22 Februari 2011

Bacaan : Ulangan 8

1″Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu.

2Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.

3Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.

4Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.

5Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.

6Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia.

7Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung;

8suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya;

9suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga.

10Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu.

11Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini;

12dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya,

13dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak,

14jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan,

15dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras,

16dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya.

17Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.

18Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.

19Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa;

20seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.”

CADANGAN KEKUATAN ROHANI

Seorang mahasiswi bimbingan skripsi saya datang dengan muka sembab dan mata merah. Tampaknya ia habis menangis. Ketika saya tanya apa yang terjadi, ia menjawab bahwa seluruh tulisan yang seharusnya hendak ia konsultasikan kepada saya, terhapus oleh virus di persewaan komputer. Saya mencoba menenangkan hatinya dan memberinya waktu lebih untuk mengetik ulang. Sebelum ia pergi, saya mengingatkannya untuk menduplikasi failnya di beberapa tempat dan menyimpannya dengan baik. Ia harus punya cadangan data.

Perbuatan-perbuatan Tuhan kepada nenek moyang Israel pada masa lalu selalu disimpan dalam ingatan mereka dan dicatat, untuk kemudian diteruskan oleh bangsa Yahudi kepada keturunan mereka. Pengalaman masa lalu ketika Tuhan pernah menuntun mereka keluar dari Mesir, melewati Sinai, dan memasuki Kanaan, merupakan cadangan kekuatan rohani yang-jika diingat kembali-akan menguatkan generasi yang tidak mengalami langsung kejadian-kejadian tersebut (ayat 11). Selain itu, ingatan akan kedahsyatan Tuhan akan membuat Israel tidak memegahkan diri atas kebesaran yang mereka capai, tetapi hanya karenaTuhan (ayat 17, 18).

Kita tak boleh lupa menyimpan cadangan kekuatan rohani. Cadangan yang berisi pengalaman dan kemenangan rohani bersama Tuhan adalah “fail” yang patut disimpan di ingatan dan catatan. Maka, penting jika setiap kali selesai berwaktu teduh, kita menuliskan hal-hal yang penting untuk diingat. Hingga ketika hidup jadi berat, ingatan dan catatan itu akan memberi kekuatan rohani saat dibaca kembali –FZ

INGAT-INGATLAH KEBAIKAN TUHAN

KALA KITA MENCARI KEKUATAN DI TENGAH PERGUMULAN

Sumber : www.sabda.org

MENGALAMI SENDIRI

Selasa, 8 Februari 2011

Bacaan : Ayub 42:1-7

1Maka jawab Ayub kepada TUHAN:

2″Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

3Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.

4Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.

5Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

6Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

7Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.

MENGALAMI SENDIRI

Saat Anne Graham Lotz-putri Billy Graham-masih remaja dan bergumul dengan imannya, ia dinasihati seorang pemimpin rohaninya. “Selama ini kau masih memandang Allah melalui sebuah prisma. Pandangan ibu, ayah, dan gerejamu, masih sangat mewarnai pandanganmu tentang Allah. Mulai sekarang, pandanglah Allah dengan cara pandangmu sendiri. Majulah bersama Allah.” Anne sadar, ia tak dapat hidup berkenan kepada Allah hanya karena ia mempunyai orangtua yang hebat dalam pelayanan. Ia harus mengalami sendiri hubungan pribadi dengan-Nya. Sejak, itu ia mengalami kemenangan dan sukacita di hidupnya.

Ketika Tuhan mengizinkan Iblis mendatangi Ayub dengan berbagai ujian, Ayub mendapat kesempatan untuk mengalami sendiri siapa Tuhan yang selama ini ia abdi. Ayub adalah orang yang paling saleh, jujur, dan takut akan Tuhan, di antara orang-orang di seluruh bumi (Ayub 1:1, 8). Namun, baru setelah melalui segala ujian itu, di akhir kitab Ayub kita membaca bahwa ia tak hanya mengenal Tuhan dari kata orang, tetapi dari pengalamannya sendiri (42:5). Maka, ia bisa bersaksi mantap tentang Tuhan. Dan, sanggup menyimpulkan pengalamannya bukan dengan hujat atau keluh, melainkan dengan pengakuan akan kebesaran Tuhan yang berdaulat atas hidupnya (42:2).

Memiliki sendiri pengalaman rohani bersama Tuhan adalah kunci untuk bertumbuh secara rohani. Jangan hanya mendengar tentang kebesaran Tuhan dari kesaksian para rohaniwan atau rekan seiman. Praktikkan iman kita dan alami sendiri kemenangan bersama-Nya. Maka, dari hidup dan mulut kita akan keluar kesaksian tiada henti-yang menguatkan iman kita dan membesarkan nama Tuhan –AW

MENDENGAR TENTANG KEBESARAN TUHAN ITU MENYENANGKAN

MENGALAMI KEBESARAN TUHAN ITU MENGHIDUPKAN IMAN

Sumber : www.sabda.org

APA KATA ANDA?

Selasa, 7 Desember 2010

Bacaan : Matius 16:13-20

13Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”

14Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.”

15Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”

16Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

17Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

18Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

19Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

20Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.

APA KATA ANDA?

Murid-murid Yesus telah cukup panjang melewatkan waktu bersama Yesus. Mereka telah melihat berbagai karya dan mukjizat Yesus; memberi makan lima ribu orang; memberi makan empat ribu orang; menyembuhkan banyak orang sakit; dan sebagainya. Suatu saat, Yesus dan murid-murid tiba di Kaisarea Filipi. Di situ Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya mengenai siapa diri-Nya. Dia ingin tahu pendapat para murid mengenai diri-Nya. “Menurut kamu, siapa Aku ini?” Anehnya, dari dua belas murid itu, hanya satu yang angkat bicara. Apakah satu suara ini mewakili sebelas suara lain? Atau, sebelas yang lain itu tak punya pendapat karena bingung?

Lewat pertanyaan itu, Yesus ingin para murid memberi jawaban yang berasal dari pengalaman dan penghayatan hidup mereka bersama Yesus, bukan mengutip kata orang lain. Ketika Petrus mengatakan “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!”, ini jawaban yang berbeda dengan pendapat umum yang menyebut Yesus “Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang nabi.” Jawaban yang muncul dari pengenalan pribadi semacam ini dihargai Yesus sebagai karya Allah dalam hati orang beriman. Kata Yesus: “… bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku” (ayat 17).

Siapa Yesus menurut Anda? Adakah jawaban Anda berasal dari pengalaman bersama Tuhan? Atau, kita masih mengutip kata-kata orang, khotbah pendeta, tulisan dalam sebuah buku? Hal-hal itu memang berguna, tetapi lebih dari itu Tuhan ingin kita mengenal-Nya secara pribadi melalui kehidupan yang dijalani bersama-Nya. Kiranya setiap hari kita makin mengenal Yesus, agar dapat bersaksi kepada dunia dengan keyakinan bahwa Dialah Tuhan –DKL

PENGENALAN PRIBADI YANG TERBAIK TERHADAP ALLAH

ADALAH DENGAN HIDUP BERSAMA-NYA MELALUI SEGALA PERISTIWA

Sumber : www.sabda.org

BANGUN LAGI

Senin, 1 November 2010

Bacaan : Yosua 1:1-9

1:1. Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian:

1:2 “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.

1:3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.

1:4 Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu.

1:5 Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.

1:6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.

1:7 Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.

1:8 Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.

1:9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

 

BANGUN LAGI

Bruce adalah raja negeri Skotlandia pada zaman dulu. Enam kali ia gagal memimpin pasukannya melawan Inggris. Mereka selalu kalah dihajar musuh dan terpaksa melarikan diri ke hutan. Sementara bersembunyi di gubuk kosong-menyesali kegagalannya dan berputus asa, ia melihat laba-laba yang merajut sarang. Enam kali berturut-turut serangga itu berusaha sekuat tenaga mengaitkan salah satu ujung benang ke balok kayu di seberang, tetapi selalu gagal. “Kasihan, seharusnya kau menyerah saja!” bisik hati Bruce. Namun, laba-laba itu mencoba lagi dan berhasil! Ini memberinya inspirasi dan semangat baru. “Aku akan bertempur lagi untuk yang ketujuh kalinya!” teriak Bruce. Ia bangun, mengumpulkan dan melatih lagi sisa-sisa pasukannya; mengatur strategi dan menggempur kembali pertahanan musuh, sampai mereka terusir dari tanah airnya.

Semangat juang dan pantang menyerah memang perlu, terlebih di masa kesukaran. Yosua, sepeninggal Musa, mesti memimpin Israel masuk tanah perjanjian. Tuhan memberinya semangat supaya tidak kecut dan tawar hati (Yosua 1:9). Sebab, tawar hati hanya membuat kekuatan berkurang. Seperti nasihat penulis Amsal: “Tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali” (Amsal 24:16).

Salah satu penyebab orang tawar hati adalah kegagalan berulang kali. Namun, banyak tokoh besar dunia punya sederet pengalaman gagalsebelum berhasil tiba di puncak. Sebut saja Abraham Lincoln dan Albert Einstein. Yang pasti, keberhasilan mereka tak akan terpatri di sejarah jika pada kegagalan terakhir mereka tidak mau bangun lagi. Apakah kegagalan sedang menimpa Anda? Jangan tawar hati atau menyerah; bangkit dan berjuanglah lagi! –PAD

TAK SOAL BERAPA KALI ANDA JATUH

YANG PENTING, MASIHKAH ANDA MAU BANGUN KEMBALI?

Sumber : www.sabda.org

 

Keputusan yang Mengubahkan

PESAN GEMBALA

17 JANUARI 2010

EDISI 109 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati…Kita telah menjalani tahun 2010 selama setengah tahun, kiranya berkat-berkat Allah senantiasa menyertai kita IMANUEL…!

Dalam Yosua 2:1-21 dikisahkan disana tentang 2 orang pengintai utusan Yosua dan seorang perempuan sundal yang bernama Rahab, kesempatan ini kita lebih menyoroti Rahab, dia adalah seorang penduduk suatu negeri yang dipenuhi dengan berbagai kejahatan, dan memang demikianlah cara hidup orang Kanaan.

Tetapi saat kaum Ibrani mengalahkan Yerikho, ia mendengar tentang Allah yang benar dan hidup yaitu YEHOVA. Rahab mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara allah-nya dengan Alah Israel. Allah Israel bukan hanya menjanjikan pertolongan tetapi juga Allah yang mampu membebaskan. Sehingga memahami bahwa ia telah diperhadapkan pada janji-janji palsu allahnya.

Allah yang didengarnya ini lebih kuat dan hebat daripada allah-allahnya. Rahab menanggapi bahwa 2 orang pengintai dari Israel itu menunjukkan adanya penyertaan Tuhan mereka, sehingga bertemu dengan dia satu-satunya penduduk Yerikho yang hatinya mau percaya.

Rahab berkata kepada kedua pengintai itu “AKU TAHU, BAHWA TUHAN TELAH MEMBERIKAN NEGERI INI KEPADA KAMU… SEBAB TUHAN ALLAHMU IALAH ALLAH DI LANGIT DI ATAS DAN DI BUMI DI BAWAH…”

Hal yang luar biasa terjadi yaitu seorang pelacur yang memiliki iman yang kuat. Kisahnya mengajarkan kita bahwa kita jangan pernah menghakimi kondisi rohani seseorang dengan pandangan yang sekilas saja. Hal ini tidak mengejutkan sebab ketika Yesus datang ke dunia ini, bukan orang-orang religius, bangsawan, atau tokoh hebat yang menerima Dia, bahkan mereka menolak Yesus, tetapi justru yang menerima adalah pemungut cukai, orang-orang sederhana bahkan orang-orang berdosa.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, masa lalu kita seringkali menentukan kemana kita akan menuju di masa yang akan datang, dan itu menolong kita untuk memutuskan apa yang harus kita kerjakan. Pengalaman kita membentuk nilai-nilai yang akan mempengaruhi keputusan kita.

Pengalaman-pengalaman itu dapat mengubah kehidupan kita dan mempersiapkan kita untuk menjalani kehidupan di masa mendatang. Rahab memiliki sebuah pilihan dari beberapa pilihan. Pilihannya yang pertama adalah pilihan yang mudah. Suara hatinya tentu mengatakan kepadanya “segalanya akan berjalan baik, hidupmu menyenangkan, maka serahkan saja kedua mata-mata itu dan kamu pasti menjadi pahlawan”. Namun kemudian Rahab berpikir kembali “apa untungnya menjadi pahlawan di kota yang jahat”.

Kita seringkali juga berpikir demikian, mungkin hidupku tidaklah berarti, mungkin aku tidak dapat berdiri dengan teguh dalam iman, tapi hidupku sudah menyenangkan, sehingga aku tidak mau melakukan sesuatu yang akan menghancurkan perahuku.

Kunci untuk menikmati kehidupan ini adalah tetap mencari keamanan bagi diri sendiri. Jadi saudara, setiap saat, menentukan/menguji kesetiaan kita. Oleh karena itu setiap kita akan diperhadapkan seperti seperti yang dialami oleh Rahab. Kepada siapakah kita akan setia? Kita dapat menjadi terkenal dan nyaman di Yerikho kita, atau kita akan maju menuju ke dalam kerajaan yang baru, suasana yang baru.

Rahab tidak melakukan dengan memilih keduanya. Dia harus memilih apakah orang Ibrani itu diserahkan dan kalah, atau Yerikho yang mengalami kehancuran, dia harus mengambil keputusan yang tepat, demikian juga kita. Ini bukanlah suatu keputusan yang mudah bagi Rahab, Yerikho adalah kota yang indah dengan pengairan yang baik, serta adanya taman-taman yang menarik, dan banyak sejarah baginya. Untuk mengambil keputusan bagi Allah, berarti ia harus bersiap menggantikan dunianya. Kemenangan orang Ibrani berarti bahwa ia harus kehilangan penghidupannya, rumahnya akan menjadi berantakan bahkan reruntuhan, walaupun ia dan keluarganya saja yang selamat.

Mengapa Rahab memilih keputusan itu dan berani melakukannya? Dimanakah ia menemukan keberanian untuk membuat lompatan iman kepada Allah yang belum dikenalnya? Surat Ibrani memberikan jawabannya kepada kita, “Dalam iman, mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikannya itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” (Ibrani 11:13-16). “Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.(Ibrani 11:31)..jadi dengan IMAN.

Keputusan yang menentukan dan akhirnya tidak tergoyahkan. Allah tidak pernah meninggalkan setiap kita yang datang kepada-Nya. Hal yang paling buruk dalam hidup bukanlah salah membuat keputusan, melainkan menolak untuk membuat keputusan. Semua orang percaya kepada Allah, masa lalunya telah dikuburkan di Yerikho dan telah dibangkitkan di dalam Kristus. Allah ingin menguburkan dosa-dosa dan menciptakan hidup baru dalam Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA