OBSERVASI DALAM IMAN

Kamis, 14 Maret 2013

Bacaan: Amsal 9:1-10 

9:1. Hikmat telah mendirikan rumahnya, menegakkan ketujuh tiangnya,

9:2 memotong ternak sembelihannya, mencampur anggurnya, dan menyediakan hidangannya.

9:3 Pelayan-pelayan perempuan telah disuruhnya berseru-seru di atas tempat-tempat yang tinggi di kota:

9:4 “Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada yang tidak berakal budi katanya:

9:5 “Marilah, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur;

9:6 buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian.”

9:7 Siapa mendidik seorang pencemooh, mendatangkan cemooh kepada dirinya sendiri, dan siapa mengecam orang fasik, mendapat cela.

9:8 Janganlah mengecam seorang pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya, kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya,

9:9 berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.

9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.

 

OBSERVASI DALAM IMAN

Banyak dari kita yang dididik dengan sistem yang memisahkan antara observasi ilmiah dan iman. Kita diajarkan bahwa planet bergerak karena gaya gravitasi. Titik! Tidak diajarkan bahwa pergerakan planet tersebut berlangsung karena ada Pribadi Ilahi yang mengatur alam semesta.

Pola pikir semacam ini selanjutnya membentuk cara pandang kita terhadap hal-hal di sekitar kita. Kita terbiasa mengobservasi kejadian di sekitar kita hanya berdasarkan pada apa yang terlihat, tanpa mengkaitkannya dengan iman.

Sikap ini sebetulnya tidak sesuai dengan apa yang kita baca dalam perikop Alkitab hari ini. Di situ dikatakan bahwa untuk memperoleh pengetahuan dan hikmat, takut akan Tuhan adalah syarat mutlaknya (ay. 10). Ini berarti pengetahuan yang benar sebetulnya hanya bisa didapatkan di dalam iman. Ketika sebuah fakta diobservasi terlepas dari iman, banyak hikmat dan pengetahuan yang hilang begitu saja.

Mari kita ambil contoh proses penerbitan RH yang sedang Anda baca ini. Sepintas lalu tampaknya tidak ada yang spesial di sana. Tetapi, kalau kita observasi proses tersebut dalam iman, kita menemukan bagaimana Allah menginspirasi para penulis, memberi hikmat bagi redaksi dalam penyuntingan, menyediakan penerbit, menjaga selama proses pengiriman sampai renungan ini tiba di tangan Anda. Kita mendapati betapa Allah bekerja dalam segala hal dan betapa kita bergantung satu sama lain. Kita juga melihat betapa banyak hikmat yang bisa kita peroleh ketika kita mengobservasi sesuatu dalam iman. –ALS

MENGOBSERVASI DALAM IMAN MENELURKAN HIKMAT
DAN PENGETAHUAN YANG MELIMPAH

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

MENDENGARKAN PERTIMBANGAN

Kamis, 23 Agustus 2012

Bacaan : Amsal 18:1-24

18:1. Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan.

18:2. Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya.

18:3. Bila kefasikan datang, datanglah juga penghinaan dan cela disertai cemooh.

18:4. Perkataan mulut orang adalah seperti air yang dalam, tetapi sumber hikmat adalah seperti batang air yang mengalir.

18:5. Tidak baik berpihak kepada orang fasik dengan menolak orang benar dalam pengadilan.

18:6. Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan.

18:7 Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.

18:8. Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati.

18:9. Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak.

18:10. Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.

18:11. Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya.

18:12. Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.

18:13. Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.

18:14. Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?

18:15. Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan.

18:16. Hadiah memberi keluasan kepada orang, membawa dia menghadap orang-orang besar.

18:17. Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar, lalu datanglah orang lain dan menyelidiki perkaranya.

18:18. Undian mengakhiri pertengkaran, dan menyelesaikan persoalan antara orang-orang berkuasa.

18:19. Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat, dan pertengkaran adalah seperti palang gapura sebuah puri.

18:20. Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya.

18:21. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

18:22. Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan TUHAN.

18:23. Orang miskin berbicara dengan memohon-mohon, tetapi orang kaya menjawab dengan kasar.

18:24. Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.

 

MENDENGARKAN PERTIMBANGAN

Pernahkah Anda merasa enggan sekali bertemu orang lain? Saya cukup sering merasakannya, terutama ketika harus menghadapi orang-orang yang menurut saya menjengkelkan dan kurang menghargai saya. Apalagi jika orang-orang itu pernah terlibat konflik dengan saya. Pada situasi seperti itu, saya lebih suka menyendiri dan mengerjakan hal-hal yang saya sukai.

Meskipun adakalanya kita butuh waktu untuk sendirian, kita perlu berhati-hati dengan kecenderungan menarik diri dari pergaulan. Dengan terus terang, penulis kitab Amsal mengungkapkan tabiat buruk di balik keinginan mengasingkan diri itu. Orang yang menyendiri cenderung memikirkan dirinya semata. Orang lain menjadi gangguan baginya. Kritik dan nasihat, yang bijak sekalipun, ditanggapi dengan kemarahan. Mereka lebih suka berdebat dan mengungkapkan kejengkelannya daripada mendengarkan orang lain. Perilaku demikian bukanlah tindakan yang bijak (ayat 13). Sebaliknya, orang yang bijak adalah yang bersedia mendengarkan kata-kata hikmat (ayat 15), sekalipun ada kalanya hal itu dinyatakan dalam bentuk teguran yang pedas. Mendengarkan orang lain juga melatih kita untuk bersikap rendah hati (lihat ayat 12).

Ketika kita mendengarkan sikap dan kata-kata orang lain yang tidak kita sukai, usahakan untuk tidak serta-merta membantahnya. Sebaliknya, dengarkan lebih banyak apa yang ingin dikatakan oleh lawan bicara kita. Bukalah hati Anda lebar-lebar, renungkan apa yang Anda dengar. Anda akan kagum mengalami bagaimana melalui beragam orang di sekitar Anda, Tuhan menolong Anda memperoleh pengetahuan untuk hidup lebih baik. –HEM

MARAH SEBELUM MENDENGARKAN MENUTUP PINTU PENGERTIAN.

MENDENGARKAN PERTIMBANGAN MEMBUKA PINTU KEBIJAKSANAAN.

Dikutip : www.sabda.org

BAHAGIA MENCINTAI FIRMAN

Minggu, 1 Juli 2012  

Bacaan : Mazmur 119:97-105

119:97. Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.

119:98. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku.

119:99 Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.

119:100 Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu.

119:101. Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu.

119:102. Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku.

119:103. Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.

119:104 Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.

119:105. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

 

BAHAGIA MENCINTAI FIRMAN

Tahun 2012 Kelompok Pelayanan Gloria melakukan gerakan membaca Alkitab bersama di seluruh jajarannya. Dengan dibantu buku Warren Wiersbe, Hidup Bersama Firman: Pasal demi Pasal Seluruh Alkitab (terbitan Renungan Harian, Yayasan Gloria), setiap karyawan dan sukarelawan diajak membaca dua pasal Alkitab setiap hari, yang dipantau melalui pertemuan akuntabilitas kelompok setiap minggu. Jika konsisten, seluruh Alkitab dapat selesai dibaca dalam dua tahun. Dan jika konsekuen, setiap orang akan memiliki gambaran dan pemahaman yang lebih utuh tentang keseluruhan isi Alkitab.

Mazmur 119, pasal terpanjang di Alkitab, berbicara tentang bahagianya orang yang hidup bersama Firman. Pemazmur sendiri mengaku mendapat banyak manfaat dari merenungkan perkataan-perkataan Tuhan. Di antaranya: membuat lebih bijaksana (ayat 98), berakal budi (ayat 99), mengerti (ayat 100), dan masih banyak lagi. Namun, rahasia kebahagiaannya tersingkap di ayat 97, yaitu dalam hatinya yang penuh cinta: cinta akan Taurat Tuhan, yang merupakan ungkapan cintanya yang dalam kepada “Tuhan Taurat” itu sendiri. Jika John Stott menulis, “Melalaikan Alkitab berarti mengabaikan Tuhan”, pemazmur menghidupi kebenaran itu dengan cara “Mencintai Tuhan berarti memperhatikan Firman-Nya.”

Memasuki semester kedua bergulirnya gerakan membaca Alkitab ini, bagaimana dengan pembacaan Alkitab Anda? Apakah Anda sudah dan masih melakukan pembacaan Alkitab secara rutin dan menyeluruh, selain merenungkan kedalaman makna dan penerapannya melalui waktu teduh? Dan, apakah Anda melakukannya dengan rasa cinta yang besar kepada Sang Firman Hidup, yang terlebih dahulu dan selalu mencintai Anda? –ODY

MARI MEMBACA DAN MEMPERHATIKAN FIRMAN TUHAN

DENGAN DIALASI RASA RINDU DAN CINTA KEPADA KRISTUS, SANG FIRMAN.

Sumber : www.sabda.org

MAU JADI APA?

Rabu, 27 Juni 2012  

Bacaan : Keluaran 31:1-11

31:1. Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

31:2 “Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda,

31:3 dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan,

31:4 untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga;

31:5 untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan.

31:6 Juga Aku telah menetapkan di sampingnya Aholiab bin Ahisamakh, dari suku Dan; dalam hati setiap orang ahli telah Kuberikan keahlian. Haruslah mereka membuat segala apa yang telah Kuperintahkan kepadamu:

31:7 Kemah Pertemuan, tabut untuk hukum, tutup pendamaian yang terletak di atasnya, dan segala perabotan kemah itu,

31:8 yakni meja dengan perkakasnya, kandil dari emas murni dengan segala perkakasnya, mezbah pembakaran ukupan,

31:9 mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya,

31:10 pakaian jabatan, baik pakaian kudus kepunyaan imam Harun, maupun pakaian anak-anaknya, untuk memegang jabatan imam,

31:11 minyak urapan dan ukupan dari wangi-wangian untuk tempat kudus; tepat seperti yang telah Kuperintahkan kepadamu haruslah mereka membuat semuanya.”

 

MAU JADI APA?

Waktu kita masih kecil, orang sering menanyakan: “Kalau besar nanti mau jadi apa?” Pertanyaan yang sama juga terus mengejar kita sepanjang menempuh studi di SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi. Kita terus bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan saya lakukan di masa depan?” Pekerjaan seperti apa yang tepat bagi saya?” Pada masa paruh baya, pertanyaan tersebut masih ada, “Apakah ini saatnya untuk berganti pekerjaan? Apakah saya mau melakukan pekerjaan ini sepanjang sisa hidup saya?” Banyak bagian hidup kita yang berkenaan dengan pertanyaan tentang panggilan hidup dan pekerjaan.

“Panggilan” menyiratkan adanya seseorang yang memanggil. Tuhan adalah Pribadi yang memanggil, menunjuk (ayat 2), dan menetapkan (ayat 6). Bagaimana mengetahui panggilan-Nya bagi pekerjaan kita? Dengan mengenali rancangan-Nya di dalam diri kita: “Dalam hati setiap orang ahli telah Kuberikan keahlian” (ayat 6). Bagi Bezaleel dan Aholiab itu berarti menjadi pengrajin emas, perak, tembaga, batu permata, dan kayu (ayat 3-5). Tuhan bertujuan membangun Kemah Pertemuan dan segala perkakasnya (ayat 7-11), keahlian yang Dia berikan merupakan cara mewujudkannya. Tuhan bertujuan menghadirkan kerajaan-Nya di tengah dunia, pekerjaan adalah cara kita mengambil bagian di dalamnya.

Tuhan tak merancang kita secara acak, tetapi dengan maksud tertentu. Dia membentuk keterbebanan, kemampuan, dan kepribadian kita agar kita dapat menunaikan pekerjaan yang diperuntukkan bagi kita. Jika Anda sedang menggumulkan panggilan pekerjaan, mari mengenali dan mengikuti rancangan-Nya melalui evaluasi diri yang jujur dan nasihat orang lain yang mengenal kita. –JOO

APAKAH PANGGILAN SAYA DI DALAM PEKERJAAN TUHAN DI DUNIA INI,

SEHINGGA MELALUINYA TUHAN PALING DIMULIAKAN?

Dikutip : www.sabda.org

MARI BERENCANA

Senin, 18 Juni 2012

Bacaan : Amsal 24:1-7

24:1. Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka.

24:2 Karena hati mereka memikirkan penindasan dan bibir mereka membicarakan bencana.

 

24:3. Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan,

24:4 dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.

24:5 Orang yang bijak lebih berwibawa dari pada orang kuat, juga orang yang berpengetahuan dari pada orang yang tegap kuat.

24:6 Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak.

 

24:7. Hikmat terlalu tinggi bagi orang bodoh; ia tidak membuka mulutnya di pintu gerbang.

 

MARI BERENCANA

Grusah-grusuh adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang menggambarkan seseorang yang bertindak tanpa pertimbangan matang; serba terburu-buru; bertindak seketika. Akibatnya, yang dikerjakan tentu tidak maksimal, bahkan sangat mungkin banyak keputusan yang kemudian disesali.

Salomo, menasihati kita dengan sebuah analogi militer: “hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang” (ayat 6). Tentara yang banyak tidak cukup, perlu perhitungan yang matang untuk mengarahkan mereka. Analogi lain adalah dalam membangun rumah, memilih benda berharga, dan memiliki wibawa (ayat 3-5). Perencanaan menunjukkan adanya hikmat, kepandaian, pengertian, dan kebijaksanaan. Salomo melanjutkan, “kemenangan tergantung kepada penasihat yang banyak.” Banyak mendengar nasihat akan memampukan seseorang membuat sebuah rencana yang baik dan matang. Salomo sendiri dikenal sebagai tokoh yang dikaruniai hikmat melebihi segala manusia yang pernah ada (lihat 1 Raja-raja 3:12). Namun rupanya, hikmat luar biasa yang diberikan Tuhan tidak membuatnya menjadi sombong dan keras kepala. Sebaliknya, hikmat memberikannya kesadaran dan kerendahan hati untuk mendengar banyak nasihat.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita hidup dengan semangat grusah-grusuh atau penuh perencanaan? Jangan biarkan hidup berlalu sia-sia karena kita lalai atau malas berencana. Rencana lahir dari hikmat, dan hikmat berasal dari takut akan Tuhan (lihat Amsal 1:7). Tuhan merindukan kehidupan kita memuliakan-Nya. Sebab itu mari mohon hikmat Tuhan untuk berencana serta kerendahan hati untuk mendengar banyak nasihat. –CAP

HIDUP BERSAMA TUHAN BUKANLAH HIDUP TANPA RENCANA,

MELAINKAN BERENCANA SESUAI KEHENDAK ALLAH.

Dikutip : www.sabda.org

“TETAPI” UNTUK TUHAN?

Senin, 4 Juni 2012

Bacaan : Daniel 1

1:1. Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu.

1:2 Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya.

1:3 Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan,

1:4 yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.

1:5 Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.

1:6 Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya.

1:7 Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego.

1:8. Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.

1:9 Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu;

1:10 tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: “Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.”

1:11 Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya:

1:12 “Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum;

1:13 sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.”

1:14 Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari.

1:15 Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.

1:16 Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka.

1:17. Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.

1:18 Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja, bahwa mereka sekalian harus dibawa menghadap, maka dibawalah mereka oleh pemimpin pegawai istana itu ke hadapan Nebukadnezar.

1:19 Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja.

1:20 Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya.

1:21 Daniel ada di sana sampai tahun pertama pemerintahan Koresh.

“TETAPI” UNTUK TUHAN?

Apakah Anda adalah orang yang menaati Tuhan dengan segenap hati? Ataukah, Anda punya pengecualian jika dihadapkan pada situasi-situasi khusus? “Saya mau taat, tetapi dalam situasi ini semua orang juga pasti melakukannya.” “Saya mau taat, tetapi untuk urusan seperti ini tak mungkin bisa jujur.” “Saya mau taat, tetapi apa salahnya mengikuti syarat peningkatan jabatan dengan beralih keyakinan, bukankah itu hanya formalitas saja?” “Saya mau taat, tetapi kesempatan ini sungguh sayang jika dilepasbegitu saja.”

Bayangkanlah Anda ada pada posisi Daniel. Meski ia termasuk seorang buangan di Babel, ia adalah seorang pemuda dari kaum bangsawan dan punya keunggulan dibanding yang lain (ayat 4). Dengan modal itu ia punya kesempatan dididik secara khusus dan nantinya bekerja bagi raja. Ia dan kawan-kawannya bahkan ditawari makan dan minum dari santapan raja (ayat 5). Siapa pun pada zaman itu pasti mau. Lantas, apa yang dilakukan Daniel dan kawan-kawannya? “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja” (ayat 8). Seolah-olah ia mau berkata: “Jabatan dan kesempatan itu menggiurkan, tetapi saya hanya mau taat kepada Allah, ” bukan “Saya tahu santapan itu menajiskan, tetapi jabatan dan kesempatan itu mungkin bisa menjadi sarana diplomasi.” Kata “tetapi” ditujukan kepada raja, bukan kepada Tuhan.

Integritas dan iman kita sebagai orang kristiani akan kerap mendapat ujian. Setiap keputusan membawa risiko. Akankah kita taat dalam segala situasi? Pilihan-pilihan kita menunjukkan seberapa berharga Tuhan dibanding kedudukan, keamanan, atau kenyamanan yang ditawarkan dunia. –SCL

JANGAN ADA KATA “TETAPI” DALAM MENAATI TUHAN.

PENYERTAAN-NYA AKAN MENEGUHKAN DAN MEMAMPUKAN.

Dikutip : www.sabda.org

GENERASI ROHANI

Selasa, 28 Februari 2012

Bacaan : 2 Timotius 2:1-13

2:1. Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.

2:2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.

2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.

2:4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.

2:5 Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.

2:6 Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.

2:7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.

2:8. Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.

2:9 Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.

2:10 Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.

2:11 Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia;

2:12 jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita;

2:13 jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”

GENERASI ROHANI

Banyak teman saya yang menjadi dokter. Kebanyakan di antara mereka berasal dari keluarga dokter, dan memang sudah dipersiapkan untuk menjadi seorang dokter. Terlepas dari apa yang menjadi motivasi orangtua mereka dalam hal itu, saya kagum dengan keseriusan mereka mempersiapkan anak-anak mereka.

Paulus juga secara khusus mempersiapkan orang-orang yang akan meneruskan pelayanannya. Ia tahu hidup nya terbatas (pasal 4:6), dan kebenaran Tuhan tidak boleh berhenti diberita kan ketika ia mati. Sebab itu, Paulus (generasi I) telah secara khusus mengajar Timotius (gen. II), sedemikian supaya ia dapat meneruskan pengajaran itu kepada orang lain (gen. III), yang juga pandai mengajar orang lain (gen. IV). Jelas ini bukan pengajaran sekali tatap muka. Timotius telah cukup lama menjadi anak rohani Paulus hingga ia dapat dipercaya untuk meneruskan pelayanannya. Paulus ingin Timotius melakukan hal yang sama bagi orang lain.

Seberapa besar energi yang Anda curahkan untuk menolong orang bertumbuh dewasa dalam Kristus, supaya mereka juga dapat melakukan hal yang sama bagi orang lain? Sekadarnya, kalau sempat, atau penuh intensionalitas seperti Paulus? Seseorang pernah menghitung. Jika selama hidup Anda punya 12 anak rohani, dan tiap anak juga punya 12 anak rohani, dan berlipatganda demikian selama 5 generasi, maka Anda akan punya 248.832 keturunan rohani! Betapa besar dampaknya, jika kita tidak hanya sibuk dengan banyak kegiatan rohani, tapi mulai berfokus menghasilkan anak-anak rohani yang akan membawa kebenaran Tuhan dari generasi ke generasi. –ELS

Periksa fokus pelayanan kita:

Mengadakan kegiatan rohani atau

menghasilkan generasi rohani?

Dikutip : www.sabda.org