PENGGANTI ALLAH?

Rabu, 17 Februari 2010

Bacaan : Kejadian 50:15-21

50:15. Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.”

50:16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:

50:17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.

50:18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.”

50:19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?

50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

50:21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

PENGGANTI ALLAH?

Ada ungkapan negatif yang berkata, “Pembalasan harus lebih kejam dari perbuatan jahat seseorang.” Maksudnya orang akan merasa puas ketika berhasil membalas dendam pada orang yang pernah berbuat salah kepadanya. Menurut Anda, bolehkah kita membalas dendam?

Mari amati pengalaman Yusuf. Dari segi kepentingan, Yusuf “paling pantas untuk membalas”. Tanpa berbuat salah, ia dijual demi kepuasan hati kakak-kakak yang iri kepadanya. Ia harus berpisah dari bapa yang sangat dikasihinya. Dari seorang anak yang sangat dilindungi, secepat kilat ia harus menyesuaikan diri untuk bekerja keras menaati peraturan bagi budak. Yusuf mengalami semua itu di Mesir.

Kini, kakak-kakaknya sudah tak memiliki “tempat berlindung”. Ayah mereka telah meninggal. Dalam ketakutan, mereka memohon agar Yusuf sudi mengampuni. Bahkan demi pengampunan itu, mereka siap menjadi budak Yusuf (ayat 18)! Tetapi jawab Yusuf, “… aku inikah pengganti Allah?” (ayat 19).

Sebenarnya, itulah saat paling mudah bagi Yusuf untuk membalas dendam. Namun, Yusuf mengerti, pembalasan adalah hak Tuhan — bukan haknya. Maka, ia tidak membalas kejahatan saudara-saudaranya itu. Sebaliknya, ia justru mengingatkan mereka bahwa semuanya itu ada dalam rencana Tuhan yang indah (ayat 20)!

Bagaimana pandangan kita tentang “pembalasan”? Belajar dari Yusuf, kita disadarkan bahwa kita tidak layak mengambil alih hak Tuhan. Bagian yang harus kita kerjakan adalah menyatakan pengampunan bagi sesama. Selebihnya adalah bagian Tuhan. Biarlah melalui pengampunan yang tulus, kita menyatakan kebaikan Tuhan terhadap orang yang telah berbuat salah kepada kita –HA

LAKUKAN TUGAS UNTUK MENGAMPUNI, JANGAN MEMBALAS

SEBAB MANUSIA TIDAK LAYAK UNTUK MENJADI PENGGANTI ALLAH

Iklan