ESTER AHN KIM

Jumat, 5 Oktober 2012

Bacaan : Mazmur 119:41-56

119:41. Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, keselamatan dari pada-Mu itu sesuai dengan janji-Mu,

119:42 supaya aku dapat memberi jawab kepada orang yang mencela aku, sebab aku percaya kepada firman-Mu.

 

119:43. Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu.

119:44 Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya.

 

119:45. Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu.

119:46 Aku hendak berbicara tentang peringatan-peringatan-Mu di hadapan raja-raja, dan aku tidak akan mendapat malu.

119:47 Aku hendak bergemar dalam perintah-perintah-Mu yang kucintai itu.

119:48 Aku menaikkan tanganku kepada perintah-perintah-Mu yang kucintai, dan aku hendak merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu.

 

119:49. Ingatlah firman yang Kaukatakan kepada hamba-Mu, oleh karena Engkau telah membuat aku berharap.

119:50. Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku.

119:51. Orang-orang yang kurang ajar sangat mencemoohkan aku, tetapi aku tidak menyimpang dari Taurat-Mu.

119:52. Aku ingat kepada hukum-hukum-Mu yang dari dahulu kala, ya TUHAN, maka terhiburlah aku.

 

119:53. Aku menjadi gusar terhadap orang-orang fasik, yang meninggalkan Taurat-Mu.

119:54. Ketetapan-ketetapan-Mu adalah nyanyian mazmur bagiku di rumah yang kudiami sebagai orang asing.

119:55. Pada waktu malam aku ingat kepada nama-Mu, ya TUHAN; aku hendak berpegang pada Taurat-Mu.

119:56 Inilah yang kuperoleh, bahwa aku memegang titah-titah-Mu.

 

ESTER AHN KIM

Jika Anda sudah tahu akan dijebloskan ke dalam penjara untuk waktu yang lama, apakah yang akan Anda lakukan? Sebagian orang mungkin ingin memaksimalkan waktu yang tersisa untuk menikmati hal-hal yang disenangi. Ester Ahn Kim, seorang kristiani di Korea, tahu bahwa ia pasti dipenjara karena ia menolak bersujud dalam kuil yang dibangun penjajah di negaranya. Menariknya, sebagai persiapan, ia melatih diri untuk menghafal lebih dari seratus pasal Alkitab, karena tahu ia tak akan diizinkan menyimpan Alkitabnya. Tuhan memakai kesiapannya untuk membawa banyak orang mengenal Juru Selamat dan mengalami hidup yang diubahkan selama ia hidup di balik terali besi

Persiapan Ester menunjukkan di mana hatinya berada. Ia tak mungkin bersusah payah menghafalkan isi Alkitab jika ia tidak menganggapnya cukup penting dan berharga. Ia tak ingin berpisah dengan Firman Tuhan. Kecintaan yang juga kita baca dari Mazmur 119. Pemazmur tak ingin berhenti memperkatakan Firman Tuhan, baik bagi dirinya sendiri (ayat 43-45), maupun bagi orang-orang di sekitarnya (ayat 42, 46). Firman Tuhan menjadi sumber pengharapan (ayat 50), sukacita (ayat 47), tuntunan (ayat 51), penghiburan (ayat 52), nyanyian (ayat 54), dan upahnya (ayat 56)

Kecintaan Ester dan pemazmur terhadap firman Tuhan membuat saya menginginkan keintiman yang lebih lagi dengan Tuhan. Dan jujur, disiplin yang lebih lagi. Bukan supaya dapat bermegah dengan banyaknya Firman Tuhan yang saya hafal, tetapi supaya saya makin peka mendengarkan suara Roh-Nya, dan hidup saya makin mengalirkan kasih-Nya. Adakah Anda juga memiliki kerinduan yang sama? –MEL

KETIKA FIRMAN TUHAN MELEKAT DALAM INGATAN,

MASALAH KITA HADAPI DENGAN PENUH KESIAPAN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BERDISIPLIN DENGAN TUJUAN

Selasa, 2 Oktober 2012

Bacaan : 1 Timotius 4:1-10

4:1. Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan

4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.

4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur,

4:5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.

 

4:6. Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

4:9 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.

4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.

BERDISIPLIN DENGAN TUJUAN

Mungkin kita pernah terkagum-kagum dengan pemain musik yang hebat. Saya punya beberapa rekan musisi yang luar biasa sejak muda. Mereka seolah dilahirkan dengan keahlian itu. Namun, semua orang yang pernah mencoba main musik pasti tahu bahwa kepiawaian mereka tidak muncul begitu saja. Ada ribuan jam latihan yang telah mereka lewati dengan penuh kedisiplinan sebelum akhirnya mereka “merdeka” memainkan nada-nada yang indah. Prinsip yang sama juga berlaku dalam pertumbuhan rohani. Elton Trueblood berkata, “Disiplin adalah harga yang harus dibayar untuk mengalami kemerdekaan.”

Disiplin berlatih juga menjadi nasihat rasul Paulus kepada Timotius muda. Paulus ingin agar anak rohaninya itu menjadi pelayan yang mumpuni dalam mengajarkan firman Tuhan (ayat 6, 13). Namun, hal itu tidak dapat terjadi begitu saja. Timotius harus melatih diri dalam membaca Kitab Suci dan menggunakan karunianya mengajar. Kata “latihlah” dalam bahasa Yunani adalah gumnazo, yang juga merupakan asal kata Inggris gymnasium, tempat para olahragawan berlatih fisik. Tidak ada jalan pintas. Tentu saja, menjadi pelayan yang disiplin bukan tujuan akhir. Latihan rohani hanyalah sarana yang menjadikan Timotius leluasa dipakai Allah membawa keselamatan dan pertumbuhan bagi banyak orang

Apa yang paling Anda rindukan dalam kehidupan kristiani Anda? Jika rencana Allah adalah membuat anak-anak-Nya menjadi serupa dengan Kristus (1 Yohanes 3:2b), tidakkah hal itu juga seharusnya menjadi kerinduan kita? Disiplin apa saja yang harus kita latihkan untuk mewujudkannya? –ELS

DISIPLIN ROHANI MENOLONG KITA

BERTUMBUH SERUPA KRISTUS DENGAN SUKACITA

Dikutip : www.sabda.org

HETOIMOS

Minggu, 30 September 2012

Bacaan : 1 Petrus 3:13-22

3:13 Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?

3:14 Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.

3:15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,

 

3:16. dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.

3:17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.

 

3:18. Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,

3:19 dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara,

3:20 yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.

 

3:21. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan–maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah–oleh kebangkitan Yesus Kristus,

3:22 yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.

 

HETOIMOS

Ketika saya kuliah, ada sebuah istilah yang menggambarkan cara belajar kebanyakan mahasiswa, yaitu SKS (Sistem Kebut Semalam). Bahan-bahan pelajaran baru dibaca semalam sebelum ujian. Entah kenapa, cara ini terasa begitu normal dilakukan. Apalagi saat ada banyak kesibukan lainnya.

Bukan demikian yang disarankan rasul Petrus dalam hal kesaksian peng

ikut Kristus. “Siap sedialah”, nasihatnya kepada jemaat mula-mula. “Hetoimos”, kata aslinya dalam bahasa Yunani yang juga dipakai Tuhan Yesus untuk memperingatkan para murid menyambut kedatangan-Nya kembali (lihat Matius 24:44; Lukas 12:40). Ini tidak berarti baru kalang kabut ketika ada orang yang bertanya tentang keyakinan mereka. Sebaliknya, jemaat harus tekun bertumbuh dalam pemahaman iman mereka dan bersiap diri untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang belum diajukan sekali pun. Mereka juga harus siap “pada segala waktu”, artinya mereka harus bisa menjelaskan iman mereka entah ketika mereka sedang digugat di mahkamah agama, maupun ketika mereka sedang ditanyai tetangga di pasar.

Mungkin kita juga lebih sering menerapkan sistem SKS daripada hetoimos. Memang ada kerinduan untuk memberitakan Kristus dengan cara yang relevan bagi beragam orang yang dikenal, namun, kita kurang tekun mempersiapkan diri untuk menjawab pergumulan-pergumulan mereka. Ketika ditanya, kita tidak siap, dan kesempatan memperkenalkan Kristus pun lewat begitu saja. Apa yang dapat kita lakukan sepanjang minggu ini untuk mulai mempraktikkan hetoimos? –ELS

HETOIMOS

SIAP SEDIALAH MENJELASKAN IMANMU KEPADA KRISTUS.

Dikutip : www.sabda.org

CERUTU DAN GARPU

Jumat, 21 September 2012

Bacaan : Matius 7:1-5

7:1. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.

7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

 

 

CERUTU DAN GARPU

Konon, Charles Spurgeon mengundang D.L. Moody untuk menjadi pembicara dalam suatu kebaktian. Moody menerima undangan itu. Ia berkhotbah tentang keburukan tembakau, dan mengapa Tuhan menentang orang Kristen merokok. Spurgeon, seorang pengisap cerutu, terkejut melihat Moody memakai mimbar untuk menghakiminya. Ketika Moody selesai berkhotbah, Spurgeon naik ke podium dan berkata, “Tuan Moody, saya akan berhenti mengisap cerutu jika Anda berhenti menggunakan garpu.” Moody berbadan sangat gemuk.

Kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, penting bagi orang percaya (bdk. Ibr. 5:14). Di sini Yesus mengecam penggunaannya yang salah arah. Kebanyakan orang menggunakannya untuk menghakimi pelanggaran orang lain, dan menutupi pelanggarannya sendiri. Hebatnya lagi, ia merasa sanggup membereskan dosa orang lain itu. Tantangan Yesus (ayat 5) dimaksudkan untuk menyadarkan para pendengar-Nya bahwa tidak ada seorang pun yang mampu membereskan dosanya sendiri, apalagi dosa orang lain. Hanya Yesus, Anak Domba Allah yang sanggup melakukannya (lihat Yohanes 1:29).

Ketika seorang penderita kanker sembuh, ia tidak akan menyombongkan kesembuhannya dan melecehkan penderita yang belum sembuh. Sebaliknya, ia akan bersaksi tentang dokter dan pengobatan yang dijalaninya, berupaya membangkitkan pengharapan penderita lain. Begitu juga kita dalam pergumulan dengan dosa. Alih-alih saling menghakimi, mengapa kita tidak mengarahkan mata satu sama lain pada Sang Penyembuh dan anugerah-Nya yang mujarab? –ARS

ORANG KRISTEN SANGAT MARAH TERHADAP ORANG KRISTEN LAIN YANG

MELAKUKAN DOSA YANG BERBEDA DENGAN DOSANYA. -PHILIP YANCEY

Dikutip : www.sabda.org

SYAFAAT ABRAHAM

Senin, 20 Agustus 2012

Bacaan : Kejadian 17:15-22

17:15. Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.

17:16 Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.”

17:17 Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?”

17:18 Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”

17:19 Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

17:20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.

17:21 Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.”

17:22 Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham.

SYAFAAT ABRAHAM

Teka-teki buat Anda: Berapakah anak Abraham? Satu? Dua? Jawabannya: delapan! Ya, anak Abraham secara jasmani ada delapan (1 Tawarikh 1:28- 32). Namun, hanya dua yang disebut langsung sebagai keturunan Abraham, yaitu Ishak dan Ismael. Sisanya disebut sebagai keturunan Ketura, gundik Abraham. Menarik, ya? Kepada dua anak ini Allah menjanjikan berkat yang tidak diberikan kepada saudara-saudara mereka yang lain.

Allah berjanji melalui keturunan Abraham, semua bangsa di bumi akan diberkati (12:3, 26:4). Dalam terang Perjanjian Baru, ini adalah janji tentang Mesias yang akan datang! Rencana Allah sangat jelas untuk menggenapinya melalui keturunan Ishak, anaknya dari Sara. Dua kali Allah menekankan hal ini (ayat 19 dan 21) menunjukkan bahwa rencana-Nya tak dapat diganggu-gugat! Sunat yang diterima Ismael bersama semua hamba laki-laki di rumah Abraham hari itu menunjukkan bahwa mereka juga menaruh pengharapan pada janji Allah. Kelak, mereka pun akan menjadi penerima berkat dari Sang Juru Selamat yang akan datang!

Allah juga secara khusus memberkati Ismael. Keturunannya akan sangat banyak (ayat 20). Kaum muslim berpendapat mereka adalah keturunan Ismael melalui Qaydar (Kedar) dan Nabit (Nebayot). Dan benar bahwa hari ini jumlah mereka sangat banyak! Janji Allah sedang digenapi! Bagaimana awalnya hingga Ismael diberkati? Abraham telah bersyafaat bagi anak ini (ayat 18). Ia mengasihinya dan tak ingin Ismael kehilangan berkat Allah. Adakah hari ini kita juga mengasihi dan mau bersyafaat bagi keturunan Ismael, agar berkat dari Sang Juru Selamat dapat sampai kepada mereka? –JOE

JANJI ALLAH SELALU DITEPATI.

KITA AKAN MELIHAT KAUM ISMAEL DIBERKATI.

Dikutip : www.sabda.org

KDRT

Rabu, 25 Juli 2012

Bacaan : 1 Petrus 3:1-7

3:1. Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya,

3:2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.

3:3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah,

3:4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

3:5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya,

3:6 sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman.

3:7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.

 

KDRT

Dalam situs telaga.org, Pendeta Tadius Gunadi menengarai bahwa Kekerasan dalam Rumah Tangga (KdRT) adalah persoalan yang kompleks. Menurut pengamatannya, kekerasan kerap digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan kemarahan; mengumbar kekuasaan; menyeimbangkan posisi dalam pernikahan. Apa jadinya jika nilai-nilai ini dianut oleh anggota keluarga kita.

Rasul Petrus, dalam suratnya yang pertama, mengangkat nilai-nilai yang penting dalam keluarga. Yang pertama dan diulang dalam 6 dari 7 ayat bacaan kita (dan selalu sama gemanya dalam bagian lain di Alkitab), adalah tentang ketundukan isteri kepada suami. Perhiasan terindah bagi seorang isteri adalah ketundukan kepada Allah, yang tercermin dari ketundukannya pada sang suami (ayat 3-5). Dandanan lahiriah mungkin bisa menundukkan suami sesaat, namun isteri yang hidup murni dan saleh dapat membawa suaminya menundukkan diri di bawah kebenaran firman Allah. Meski hanya satu ayat, pesan senada disampaikan pada para suami. Ketundukan pada Allah akan membawa suami menghargai isteri sebagai sesama pewaris kasih karunia- Nya, bukan memanfaatkan atau menyerang kelemahan-kelemahannya. Suami yang tidak merawat hubungan dengan isterinya dengan baik, akan mengalami kesulitan juga dalam menikmati hubungan yang indah dengan Allah (ayat 7).

Jadi, jika meneladan dan mengikuti firman Allah, keluarga semestinya bukan sasana untuk mengumbar kekerasan, baik dalam bentuk perkataan yang memojokkan, maupun tindakan fisik yang menyakitkan. Mari kembali pada rancangan Tuhan. Sama-sama menempatkan ketundukan dan kasih pada Tuhan di atas segalanya. Kiranya kasih yang bersumber dari Allah tinggal dengan limpahnya di tengah keluarga kita. –NDR

KDRT = KASIH DALAM RUMAH TANGGA

BERDOA SESUAI KEHENDAK-NYA

Senin, 14 Mei 2012

Bacaan : Roma 8:18-30

8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.

8:20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya,

8:21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.

8:23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?

8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

 

8:26. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

8:27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

 

8:29. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

 

 

BERDOA SESUAI KEHENDAK-NYA

Pernahkah Anda bingung saat hendak berdoa? Misalnya saja saat menghadapi penyakit. Haruskah berdoa minta kesembuhan atau mohon kekuatan untuk menanggungnya? Permintaan mana yang akan didengar Tuhan? Haruskah berdoa untuk keluar dari sebuah tempat yang sulit atau mohon kasih karunia untuk bertahan? Pada satu titik, saya sempat berhenti berdoa karena merasa tidak yakin apakah saya berdoa sesuai kehendak Tuhan.

Bacaan hari ini memberi penghiburan luar biasa: “Roh Kudus membantu kita dalam kelemahan kita”. Paulus mengingatkan jemaat di Roma bahwa sebagai anak-anak Tuhan, mereka memiliki pengharapan yang mulia, sekalipun mereka masih hidup di tengah berbagai penderitaan, keluhan, dan kesakitan di dunia ini (18-25). Dalam kelemahan itu, kita yang rindu berdoa dengan penuh iman pun acap kali tidak tahu pasti apa yang Tuhan mau. Syukur kepada Tuhan, ketika kita mengeluh dengan kerinduan bahwa kemuliaan Tuhan akan dinyatakan (ayat 18-19), Roh Kudus membantu kita berdoa sesuai kehendak-Nya (ayat 27). Dan, ketika Roh Tuhan sendiri yang berdoa, bukankah Dia pasti mendengarkan?

Ada hal-hal yang jelas kita kenali sebagai kehendak Tuhan, misalnya hidup dalam iman, kasih, dan kekudusan. Namun, kita tidak diminta mengetahui tiap detail kehendak-Nya. Dia memahami ketidaktahuan kita, dan karena itu Roh-Nya berdoa bagi kita. Yang diperhatikan-Nya bukan ketepatan kata, melainkan kesungguhan hati yang merindukan kemuliaan-Nya dinyatakan. Bersyukurlah bahwa karya Tuhan tidak dibatasi oleh kelemahan kita. Tetaplah datang kepada-Nya di tengah situasi sesulit apa pun. –ELS

KETIKA KITA MERINDUKAN KEMULIAAN TUHAN DINYATAKAN,

TIAP PERMOHONAN DISEMPURNAKAN-NYA JADI DOA YANG DIPERKENAN.

Dikutip : www.sabda.org