BAI FANG LI

Kamis, 31 Januari 2013

Bacaan: Yakobus 3:16-18

3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.

 

BAI FANG LI

Bai Fang Li, pengayuh becak dari Tianjin, China, tinggal di gubuk tua, di lingkungan kumuh tempat tinggal para pengayuh becak dan pemulung. Tak ada perabotan berharga di rumahnya. Ia hanya punya satu piring dan satu gelas kaleng sebagai alat makan. Ia tidur beralas karpet lama dengan selembar selimut tua sebagai penghangat, dan hanya diterangi lampu minyak.

Penghasilan Bai sebenarnya dapat membuatnya hidup lebih layak. Namun, sejak usia 74, ia menyumbangkan sebagian besar penghasilannya ke panti asuhan di Tianjin, yang menampung 300 anak dan mengelola sekolah untuk anak dari keluarga kurang mampu. Ketika pada umur 91 tahun ia tak sanggup lagi mengayuh becak, Bai telah menyumbangkan uang sebesar 350.000 yuan (Rp472.500.000, 00)! Meski tak berlimpah harta, ia memutuskan untuk tidak memikirkan diri sendiri dan berani memberi.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa bila manusia hanya memikirkan dirinya sendiri, berarti ia sedang mengikuti hikmatnya sendiri. Dari situ, bisa timbul kekacauan dan kejahatan (ay. 16). Bagaimana tidak? Kerap karena mengejar keinginan sendiri, manusia lantas menghalalkan segala jalan. Padahal, keinginan adalah sesuatu yang tak pernah dapat terpuaskan. Hikmat yang dari atas berkebalikan dengan itu. Mari cermati kembali ayat 17. Jika Tuhan berdiam di dalam diri kita, Dia akan mengubahkan cara kita mengingini sesuatu. Tuhan akan menolong kita untuk berhenti menyenangkan diri sendiri, serta bertumbuh semakin dewasa dengan menyenangkan Tuhan dan melayani sesama. –AW

KEEGOISAN TAK PERNAH DAPAT DIPUASKAN

 HANYA BERSAMA YESUS HIDUP KITA DIPENUHKAN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

HANYA SEBUAH KELING

Kamis, 29 Oktober 2009

Bacaan : Yakobus 3:13-18

3:13. Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.

3:14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!

3:15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.

3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.

HANYA SEBUAH KELING

Para ilmuwan telah sepakat bahwa keling yang cacat merupakan penyebab tenggelamnya kapal Titanic yang “tak dapat tenggelam” itu. Menurut para peneliti yang baru-baru ini menyelidiki bagian-bagian kapal yang berhasil dikumpulkan dari puing-puing Titanic, keling kapal yang terbuat dari besi tempa, bukannya baja, menyebabkan badan kapal terbuka seperti resleting. Nasib Titanic membuktikan bahwa menghabiskan uang untuk peralatan mewah dan promosi publik, tetapi mengabaikan bagian-bagian yang “kecil” adalah tindakan bodoh.

Dalam beberapa hal, gereja hampir sama seperti kapal, dan banyak orang di dalam gereja bertindak sebagai keling kapal. Meskipun keling sepertinya tidak penting, merekalah yang menyatukan bagian-bagian kapal dan menjaganya agar tetap mengapung.

Banyak orang merasa tidak penting, bahkan perasaan itu juga menyerang orang-orang kristiani, dan beberapa orang melakukan hal-hal yang menyakitkan untuk membuat mereka merasa penting. Yakobus berkata, “Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (3:16). Orang-orang yang terkorupsi oleh keinginan duniawi akan kecantikan, kekayaan, dan kekuasaan dapat meruntuhkan gereja-gereja besar, tetapi orang-orang yang murni dan tak bercacat (1:27) menyatukan gereja.

Sebagai anggota gereja, kita harus menjadi “keling-keling” yang tak bercacat. Jika kita murni (Yakobus 3:17), kuat (Efesus 6:10), dan berdiri teguh (1 Korintus 15:58), kita akan dipakai Tuhan untuk menjaga kapal-Nya agar tetap mengapung di tengah krisis –JAL

ADALAH HAL YANG BESAR UNTUK SETIA
DALAM HAL-HAL YANG KECIL

Sumber : www.sabda.org

Tetap Bertekun

Rabu, 28 Januari 2009

Bacaan : Yakobus 5:7-11

5:7 Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.

 

5:8 Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!

 

5:9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.

 

5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.

 

5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

 

Tetap Bertekun

agatha-christie

Agatha Christie adalah penulis cerita misteri terkenal di dunia. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa lima buku pertama yang ia tulis gagal total. Tidak laku. Menghadapi kegagalan tersebut, Christie tidak putus asa. Ia bertekad untuk menulis lagi sambil belajar dari kegagalannya. Hasilnya? Buku keenamnya mendapat sambutan luar biasa. Sejak saat itu Christie sukses. Ia pun bertekad untuk terus menulis. Minimal satu buku dalam setahun. Ketekunannya tersebut mendorongnya menjadi penulis produktif. Ia berhasil menulis 66 cerita misteri, ditambah 6 novel, dan banyak cerita pendek.

Kerja keras yang kita lakukan biasanya tidak langsung memberi hasil seperti yang kita harapkan. Inilah nasihat Yakobus kepada umat Tuhan yang telah berusaha keras hidup kudus. Dengan melakukannya, mereka berharap Tuhan akan datang segera. Namun ternyata tidak. Mereka pun menjadi jemu dan patah semangat. Yakobus mengingatkan bahwa kerja keras kita harus dibarengi dengan ketekunan. Seorang petani, misalnya, tidak cukup hanya bekerja keras merawat tanamannya tiap hari. Ia harus sabar dan bertekun; menunggu sampai hujan turun dan musim panen tiba (ayat 7). Tanpa ketekunan, ia akan menjadi jemu bahkan berhenti bekerja sebelum panen tiba. Sudah keburu patah semangat melihat tanamannya tak kunjung berbuah.

Apakah Anda tengah berjuang mengatasi sifat buruk? Ataukah Anda tengah bekerja keras untuk mencapai target tertentu dalam pekerjaan? Jangan mundur jika hasilnya belum tampak seperti yang Anda harapkan. Bertekunlah sambil menantikan pertolongan Tuhan -JTI

BANYAK ORANG GAGAL BUKAN KARENA KURANG KEMAMPUAN

MELAINKAN KARENA KURANG KETEKUNAN

Sumber : http://www.sabda.org

Menjadi Berkat

7 Desember 2008

Edisi 52 Tahun I

Menjadi Berkat

 

Inilah nasehat Paulus kepada jemaat di Kolose dalam Kolose 4:2-6: “…supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus…”

 

Rasul Paulus menulis surat ini kepada jemaat Tuhan yang ada di Kolose dengan maksud supaya  mereka bisa menhadi berkat bagi orang lain tentang kebenaran Kristus atau bisa menyampaikan keselamatan melalui Yesus Krisus kepada jemaat lain.

 

Ada tiga hal yang perlu kita ketahui untuk menjadi berkat bagi orang lain:

1.  Berdoa dan berjaga-jaga (ayat 2)

Siapapun kita tidak ada yang kebal tehadap dosa, sebab jalan untuk melakukan dosa sangat besar dan luas di depan kita, serta kapan saja bisa melakukannya. Mengapa banyak anak-anak  Tuhan jatuh? Bahkan hamba-hamba Tuhan atau pekerja biksa jatuh dalam dosa?

 

Hari-hari ini kita perlu meningkatkan doa dan berjaga-jaga, sebab roh memang penurut tetapi daging lemah, kalau tidak berdoa dan berjaga-jaga maka akan gampang sekali jatuh  dalam pencobaan dan terlibat dalam dosa. (Matius 26:41).

 

Allah melalui Rasul Yakobus menasehatkan kepada kita untuk bisa berjaga-jaga dan bisa memperoleh kemenangan untuk menjadi saksi (Yakobus 4:7-8).

 

Pertama, tunduk kepada Allah, taat melakukan perintahNya dan memiliki roh takut akan Tuhan.

 

Kedua, melawan iblis, dengan otoritas dari Tuhan kita dapat melawannya.

 

Ketiga, mendekat kepada Allah, Allah mau kita mendekat kepadaNya supaya kita tahu kehendak dan rencanaNya.

 

Keempat, hidup kudus, menjaga kekudusan. Sebab Allah kita kudus.

 

2.  Hidup dengan penuh hikmat dari Tuhan (ayat 5).

Untuk menjadi berkat harus memperoleh hikmat dari Tuhan, bukan hikmat dari dunia ini, sebab hikmat dari dunia mendatangkan kekacauan dan penuh dengan iri hati dan mementingkan diri sendiri. Bahkan beberapa orang yang merasa berhikmat malah memperkeruh suasana dan membuat keadaan menjadi kacau.

 

Hikmat Allah sangat dibutuhkan bagi kita orang percaya untuk menjadi saksi Kristus, dalam Yakobus 3:17,”Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”

 

Murni berarti tidak termotivasi untuk mementingkan diri sendiri.

 

Pendamai artinya tidak memecah belah satu sama lain, tetapi membawa damai.

 

Peramah, hikmat itu disampaikan dengan baik dan sopan.

 

Penurut artinya mau diarahkan dan dibimbing untuk menjadi baik.

 

Penuh belas kasihan, setiap tindakan selalu memperhitungkan kasih, memperhatikan keberadaan orang lain.

 

Tidak memihak artinya hikmat itu bijaksana dan adil, tidak pilih kasih.

 

Tidak munafik, tindakan kita tidak menjadi batu sandungan orang lain.

 

Bangsa kita perlu orang-orang yang berhikmat  dari Tuhan sehingga menjadi berkat bagi orang lain.

 

3.  Perkataan yang penuh kasih (ayat 6)

Orang yang menjadi berkat seharusnya memiliki perkataan yang penuh dengan kasih dan bukan perkataan yang hambar, bisa mengatur perkataan dan mengekang lidah. Setiap perkataan Tuhan Yesus selalu dengan kasih dan menyenangkan banyak orang. Dari hal itu mari kita semua bisa menjadi berkat bagi orang lain dengan mempunyai perkataan yang membangun, perkataan yang berdampak positif.

 

Apa yang diharapkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose ini biarlah menjadi bagian kita juga, sehingga kita menjadi berkat bagi orang lain dan menyenangkan hati Tuhan.

 

Tuhan Yesus memberkati

 

Gembala Sidang,

 

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA