MELAYANI TUHAN

PESAN GEMBALA

02 MEI 2010

EDISI 124 TAHUN 3

MELAYANI TUHAN

Shallom…Salam miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati…Kali ini kita membahasa tentang melayani Tuhan, semua pelayanan yang kita kerjakan seharusnya tertuju kepada Allah. Dalam melayani Allah, kita mengenal siapa Allah dan apa hubungan kita dengan Dia. Sejarah mencatat bahwa ketaatan seorang bawahan atau hamba yang dengan senang dan sukarela memberikan kesetiaan, dedikasi, dan bahkan nyawanya bagi atasannya atau tuannya.

Dalam zaman Raja Alexander Agung terjadi peperangan yang sangat hebat di Sungai Granicus. Dalam peperangan tersebut Alexander Agung memimpin pasukannya, dan terjadilah peristiwa yang luar biasa ketika Raja Alexander Agung terdesak dan dalam bahaya, maka sahabatnya yang bernama Clitus, menyelamatkan nyawanya. Sahabatnya itu dengan kerelaan menyelamatkan teman sekaligus Rajanya.

Alfonso de Albuquerque sangat berdedikasi dan tetap setia kepada raja Emanuel dari Portugal, walaupun raja itu seringkali mengabaikan dia.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama dikisahkan tentang kesetiaan Daud yang melayani raja Saul, walaupun Saul dikuasai dengan iri hati dan berusaha untuk membunuh Daud berulang kali, namun Daud tetap setia dan menghormati Saul. Apabila contoh-contoh tersebut di atas dengan jelas dan berani dapat dengan setia menyerahkan diri mereka untuk melayani raja, bukankah kita harus lebih lagi melayani Allah kita yang penuh dengan kemuliaan?

Raja yang kita layani tidak lain adalah pencipta alam semesta. Dia berdaulat terhadap semua peristiwa, segala makhluk, dan manusia. Dia yang membentuk kita, mengasihi kita, dan menyelamatkan kita. Raja kita adalah Raja yang mulia, penuh hikmat, penuh kasih karunia dan kemurahan, baik, tidak berubah dan penuh kuasa.

Dalam Wahyu dikatakan demikian: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Jika manusia mau melayani raja-raa seperti Alexander Agung, yang membiarkan egonya mendorong membunuh temannya yang telah menyelamatkan nyawanya; raja Emanuel yang mengkhianati hambanya yang setia ke dalam tangan musuhnya, apa seharusnya tanggapan kita terhadap Tuhan dan Raja?

Kita harus melayani Tuhan dengan setia..!! Dalam pencobaan di Padang Gurun, Yesus menanggapi setan dengan kata-kata: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4:8). Dalam ketidakmengertian kita, kita memberikan hidup kita kepada pekerjaan, sambutan meriah, pengaruh, atau kepada keberuntungan. Ambisi pribadi telah merampas waktu kita dan menyakiti hati kita. Kita pikir kita dapat bermain-main dengan materialisme dan menaruh Allah di temapt yang telah kita bangun untuk Dia, tetapi itu tidak benar.

Yesus menjelaskan dengan berkata: “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13). Bodoh kalau kita mencoba membagi perhatian kita antara materialisme dan Bapa.

Allah kita adalah Allah yang cemburu, bukan cemburu yang emosional melainkan cemburu yang ditandai dengan semangat untuk melindungi suatu hubungan kasih. Betapa beruntungnya kita bahwa Allah yang cemburu meneguhkan hubungan kasih kita dengan Dia. Jika kita tidak memilikinya, maka hubungan akan berada dalam bahaya. Untuk kemuliaan-Nyalah dan untuk kebaikan kita sehingga dalam kekuatan-Nya kita mempunyai jaminan kasih-Nya.

Kita harus menanggapi apa yang Allah lakukan dan kasih-Nya kepada kita dengan tekun melayani Dia. Dalam perintahnya kepada jemaat di Roma, Paulus mendorong mereka untuk melayani dengan tekun: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Dia.” (Roma 12:11). Dengan kasih Allah dan dengan dikasihi Allah, kita melayani Dia dengan sepenuh hati, dengan ketaatan tanpa kompromi. Dalam semua yang kita lakukan, perhatian kita bukan pada penghormatan, kemakmuran atau kemasyuran, tetapi untuk menyenangkan Allah saja.

Yesus adalah teladan kita dalam ketekunan dan semangat. Setelah Dia menyucikan bait Allah dari mereka yang mengejar uang, “Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yohanes 2:17). Seperti Yesus, kita harus dikuasai oleh keinginan untuk melayani Tuhan kita.

Bagi kita semua, baik dalam mimbar, sekolah minggu, Y4C, dan kelompok FA, harus berusaha mengenal Allah lebih sungguh dan untuk membantu orang lain memperluas pengetahuan orang lain untuk mengenal Allah. Para pelayan yang melayani membagi kehidupannya dengan Allah dalam Doa. Sehingga mampu mendorong orang lain untuk melayani Dia dengan Kasih. Sehingga perlu menjaga kehidupan dari dosa dan segala hal yang dapat menghilangkan hubungan dengan Allah, ketika orang lain jatuh dalam dosa, maka melalui pelayanan kita dapat membawa orang itu untuk bertobat dan mengakuinya di hadapan Allah. Pelayanan kepada Allah meluapkan pelayanan kepada manusia. Jemaat yang dikasihi Tuhan…Kiranya kita semua semakin dapat melayani Allah kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

MELAYANI TUHAN

PESAN GEMBALA

02 MEI 2010

EDISI 124 TAHUN 3

MELAYANI TUHAN

Shallom…Salam miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati…Kali ini kita membahasa tentang melayani Tuhan, semua pelayanan yang kita kerjakan seharusnya tertuju kepada Allah. Dalam melayani Allah, kita mengenal siapa Allah dan apa hubungan kita dengan Dia. Sejarah mencatat bahwa ketaatan seorang bawahan atau hamba yang dengan senang dan sukarela memberikan kesetiaan, dedikasi, dan bahkan nyawanya bagi atasannya atau tuannya.

Dalam zaman Raja Alexander Agung terjadi peperangan yang sangat hebat di Sungai Granicus. Dalam peperangan tersebut Alexander Agung memimpin pasukannya, dan terjadilah peristiwa yang luar biasa ketika Raja Alexander Agung terdesak dan dalam bahaya, maka sahabatnya yang bernama Clitus, menyelamatkan nyawanya. Sahabatnya itu dengan kerelaan menyelamatkan teman sekaligus Rajanya.

Alfonso de Albuquerque sangat berdedikasi dan tetap setia kepada raja Emanuel dari Portugal, walaupun raja itu seringkali mengabaikan dia.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama dikisahkan tentang kesetiaan Daud yang melayani raja Saul, walaupun Saul dikuasai dengan iri hati dan berusaha untuk membunuh Daud berulang kali, namun Daud tetap setia dan menghormati Saul. Apabila contoh-contoh tersebut di atas dengan jelas dan berani dapat dengan setia menyerahkan diri mereka untuk melayani raja, bukankah kita harus lebih lagi melayani Allah kita yang penuh dengan kemuliaan?

Raja yang kita layani tidak lain adalah pencipta alam semesta. Dia berdaulat terhadap semua peristiwa, segala makhluk, dan manusia. Dia yang membentuk kita, mengasihi kita, dan menyelamatkan kita. Raja kita adalah Raja yang mulia, penuh hikmat, penuh kasih karunia dan kemurahan, baik, tidak berubah dan penuh kuasa.

Dalam Wahyu dikatakan demikian: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Jika manusia mau melayani raja-raa seperti Alexander Agung, yang membiarkan egonya mendorong membunuh temannya yang telah menyelamatkan nyawanya; raja Emanuel yang mengkhianati hambanya yang setia ke dalam tangan musuhnya, apa seharusnya tanggapan kita terhadap Tuhan dan Raja?

Kita harus melayani Tuhan dengan setia..!! Dalam pencobaan di Padang Gurun, Yesus menanggapi setan dengan kata-kata: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4:8). Dalam ketidakmengertian kita, kita memberikan hidup kita kepada pekerjaan, sambutan meriah, pengaruh, atau kepada keberuntungan. Ambisi pribadi telah merampas waktu kita dan menyakiti hati kita. Kita pikir kita dapat bermain-main dengan materialisme dan menaruh Allah di temapt yang telah kita bangun untuk Dia, tetapi itu tidak benar.

Yesus menjelaskan dengan berkata: “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13). Bodoh kalau kita mencoba membagi perhatian kita antara materialisme dan Bapa.

Allah kita adalah Allah yang cemburu, bukan cemburu yang emosional melainkan cemburu yang ditandai dengan semangat untuk melindungi suatu hubungan kasih. Betapa beruntungnya kita bahwa Allah yang cemburu meneguhkan hubungan kasih kita dengan Dia. Jika kita tidak memilikinya, maka hubungan akan berada dalam bahaya. Untuk kemuliaan-Nyalah dan untuk kebaikan kita sehingga dalam kekuatan-Nya kita mempunyai jaminan kasih-Nya.

Kita harus menanggapi apa yang Allah lakukan dan kasih-Nya kepada kita dengan tekun melayani Dia. Dalam perintahnya kepada jemaat di Roma, Paulus mendorong mereka untuk melayani dengan tekun: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Dia.” (Roma 12:11). Dengan kasih Allah dan dengan dikasihi Allah, kita melayani Dia dengan sepenuh hati, dengan ketaatan tanpa kompromi. Dalam semua yang kita lakukan, perhatian kita bukan pada penghormatan, kemakmuran atau kemasyuran, tetapi untuk menyenangkan Allah saja.

Yesus adalah teladan kita dalam ketekunan dan semangat. Setelah Dia menyucikan bait Allah dari mereka yang mengejar uang, “Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yohanes 2:17). Seperti Yesus, kita harus dikuasai oleh keinginan untuk melayani Tuhan kita.

Bagi kita semua, baik dalam mimbar, sekolah minggu, Y4C, dan kelompok FA, harus berusaha mengenal Allah lebih sungguh dan untuk membantu orang lain memperluas pengetahuan orang lain untuk mengenal Allah. Para pelayan yang melayani membagi kehidupannya dengan Allah dalam Doa. Sehingga mampu mendorong orang lain untuk melayani Dia dengan Kasih. Sehingga perlu menjaga kehidupan dari dosa dan segala hal yang dapat menghilangkan hubungan dengan Allah, ketika orang lain jatuh dalam dosa, maka melalui pelayanan kita dapat membawa orang itu untuk bertobat dan mengakuinya di hadapan Allah. Pelayanan kepada Allah meluapkan pelayanan kepada manusia. Jemaat yang dikasihi Tuhan…Kiranya kita semua semakin dapat melayani Allah kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA