LEITOURGIA

Minggu, 11 November 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 13:1-3

13:1. Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.

13:2 Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.”

13:3 Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.

 

LEITOURGIA

Kebaktian doa malam itu kosong melompong. Di musim liburan seperti ini sebagian besar jemaat pergi ke luar kota. Matt, salah satu pemimpin kebaktian berkata, biasanya ia berbicara kepada jemaat tentang Tuhan. Namun, malam itu ia berbicara kepada Tuhan tentang jemaat. Ia mengaku, malam itu membuatnya banyak merenungkan kembali keutuhan makna sebuah leitourgia.

Leitourgia, kata Yunani yang kita serap menjadi kata liturgi, adalah kata yang digunakan untuk merujuk pada pelayanan para imam di Bait Allah. Kata ini dapat diterjemahkan sebagai ibadah atau penyembahan. Dalam bacaan hari ini sejumlah pengajar di Antiokhia sedang berkumpul menyembah Tuhan. Leitourgia. Apa yang mereka lakukan? Di satu sisi mereka berpuasa dan berdoa, menghadap Allah. Mungkin saja mereka memuji Tuhan yang secara ajaib membebaskan Petrus (pasal 12). Mungkin mereka bersyukur atas pertumbuhan rohani Saulus dan pelayanan Barnabas (pasal 11). Mungkin mereka membawa kondisi jemaat dan orang-orang yang rindu mereka jangkau di hadapan Tuhan. Di sisi lain mereka juga mendengarkan Tuhan berbicara kepada mereka (ayat 2), lalu meresponi dalam doa dan tindakan (ayat 3).

Penyembahan adalah suatu tugas keimaman orang percaya. Dalam terang Perjanjian Baru, kita semua yang telah ditebus Kristus adalah para imam yang melayani Sang Raja. Kita dipanggil bukan untuk memamerkan kemegahan sebuah ibadah di hadapan banyak “penonton”, melainkan untuk membawa tubuh Kristus dan dunia menghadap Tuhan dalam roh dan kebenaran, serta menerima karya anugerah-Nya. –JOE

LEITOURGIA=PENYEMBAHAN.

MENGHADAP TUHAN DAN MENANGGAPI KARUNIA-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

NYANYIAN YANG MENYEMBAH

Sabtu, 10 November 2012

Bacaan : Kolose 3:12-17

3:12. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

NYANYIAN YANG MENYEMBAH

Agama Kristen adalah agama yang bernyanyi. Julukan ini sangat tepat karena nyanyian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Allah. Sekitar setengah ibadah diisi oleh musik dan nyanyian pujian. Alkitab pun memuat begitu banyak referensi tentang betapa Allah menyukai nyanyian pujian. Namun, sadarilah bahwa tindakan menyanyikan lagu rohani tidak otomatis menjadikan hal tersebut sebagai penyembahan. Seringkali kita memuji Tuhan secara lahiriah tetapi tidak benar-benar menyembah Dia.

Bilamanakah suatu nyanyian menjadi penyembahan yang menyenangkan Allah? Ada tiga hal yang dapat kita amati dari nas hari ini. Pertama, nyanyian ini harus dipersembahkan oleh orang-orang percaya. Nasihat Paulus disampaikan kepada orang-orang yang telah menerima Kristus dan dibenarkan oleh-Nya (ayat 12). Hanya orang-orang yang demikian yang dapat memuji Allah atas karya keselamatan-Nya. Orang tidak percaya bisa saja menyanyikan lagu rohani dengan baik tetapi ia tidak sedang menanggapi pribadi dan karya Allah. Ia tidak sedang menyembah Allah. Kedua, nyanyian pujian harus selaras dengan Firman. Perkataan Kristus harus melandasi dan menuntun nyanyian kita (ayat 16). Akhirnya, nyanyian pujian harus ditujukan secara sadar kepada Allah (ayat 17). Melalui nyanyian pujian, kita berkomunikasi dengan Allah.

Marilah melantunkan nyanyian pujian bukan karena kita ikut-ikutan orang lain atau hanya menjalankan kewajiban agamawi. Namun, kita bernyanyi dengan didasari oleh Firman dan iman. Niscaya, pujian kita akan memperkenankan hati-Nya. –JIM

TANPA HATI PENYEMBAHAN, ENGKAU HANYA BERMAIN MUSIK,

BUKAN MENYEMBAH! -BOB KAUFLIN

Dikutip : www.sabda.org

MENANGGAPI SIAPA?

Kamis, 8 November 2012

Bacaan : Mazmur 95:1-11

95:1. Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.

95:2 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

95:3 Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.

95:4 Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunungpun kepunyaan-Nya.

95:5 Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.

95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

 

95:7. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

95:8 Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun,

95:9 pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

95:10 Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: “Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku.”

95:11 Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: “Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.

MENANGGAPI SIAPA?

Apa Anda merasa terganggu melihat orang yang memuji Tuhan  sambil bergoyang dan menari-nari? Atau sebaliknya, apa Anda merasa terganggu ketika melihat orang menyanyi dengan tenang dan diam di tempat saja? Menurut Anda, bagaimana seharusnya orang memuji dan menyembah Tuhan?

Kata Ibrani untuk berbagai ekspresi penyembahan menariknya memang terkait dengan postur tubuh. Misalnya: mengucap syukur=merentangkan tangan, memuji=berlutut, menyembah= sujud hingga wajah menyentuh tanah. Pengalaman akan Tuhan tak hanya memengaruhi pikiran, tetapi seluruh tubuh untuk berespons kepada-Nya. Dalam Mazmur 95, pemimpin ibadah mengajak umat menyembah Tuhan dengan dua ekspresi yang kontras. Yang pertama gegap gempita, sarat sorak dan pujian, kemungkinan besar dengan musik dan tari-tarian (ayat 1-2). Yang kedua hening teduh, diam di tempat dan bersujud khidmat. Namun, kedua ekspresi itu sama-sama dikaitkan dengan pengalaman dan pemahaman akan pribadi dan karya Tuhan: “Sebab Tuhan adalah Allah yang besar …Sebab Dialah Allah yang menuntun kita …” (ayat 3, 7). Ini adalah prinsip yang penting. Penyembahan bukanlah sekadar rangkaian kata atau gerakan tubuh, tetapi tanggapan hati terhadap Tuhan. Tidak ada penyembahan yang lahir dari hati yang keras, yang meragukan Tuhan dan tidak mengakui perbuatan-perbuatan-Nya (ayat 9).

Ketika kita tergoda menilai cara orang lain menyembah Tuhan dalam ibadah bersama, ingatlah untuk menguji hati sendiri. Apakah ekspresi kita lebih dipengaruhi oleh musik yang dimainkan, kebiasaan mayoritas, atau pengenalan kita akan pribadi dan karya Tuhan? –ELS

MENYEMBAH TUHAN BERARTI MENANGGAPI TUHAN,

BUKAN MENANGGAPI MUSIK ATAU ORANG DI SEKITAR KITA.

Dikutip : www.sabda.org

DIA MEMBUATKU BERLARI

Minggu, 9 September 2012

Bacaan : Wahyu 4

4:1. Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.

4:2 Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang.

4:3 Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.

4:4 Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka.

4:5 Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.

4:6 Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang.

4:7 Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.

 

4:8. Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.”

4:9 Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya,

4:10 maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata:

4:11 “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”

 

DIA MEMBUATKU BERLARI

Eric Liddell, dalam film Chariots of Fire, menunda keberangkatannya sebagai misionaris ke China untuk berlari di ajang Olimpiade. Jenny, adiknya, kesal atas keputusan itu. Mungkin ia menganggap olahraga lari sebagai sekadar aktivitas duniawi yang pantas dikorbankan demi suatu tugas yang lebih mulia. Bagaimana tanggapan Eric? Ia menjawab, “Aku percaya Allah menjadikanku dengan suatu tujuan. Dia membuatku dapat berlari cepat, dan ketika aku berlari, aku merasakan kegirangan hati-Nya.” Sang ayah mendukungnya dengan berkata, “Eric, engkau dapat memuliakan Allah dengan mengupas kentang jika engkau mengupasnya sebaik-baiknya.”

Kebanyakan dari kita bersikap seperti Jenny: menilai hal-hal tertentu saja sebagai pelayanan rohani. Namun, menyimak baik-baik Wahyu 4, tak ayal kita akan berpikir lain. Bagian ini menggambarkan sekelumit keadaan surga (ayat 1), di mana penyembahan kepada Allah berlangsung selama-lamanya (ayat 9-10). Nyanyian kedua puluh empat tua-tua menggarisbawahi betapa Tuhan layak menerima pujian dari segala macam makhluk. Dalam Alkitab versi King James ayat 11b ini diterjemahkan: “Untuk kesenangan hati-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Segala yang ada seharusnya menjadi ekspresi penyembahan untuk menyenangkan Sang Pencipta, bukan hanya hal-hal tertentu saja.

Anda merasa tugas harian Anda biasa-biasa saja, bahkan sepertinya tidak rohani? Tuhan merancang tiap-tiap orang berbeda, menempatkan kita di bidang-bidang yang khas di mana kita bisa melayani secara efektif. Adakah Allah digirangkan dengan apa yang Anda kerjakan saat ini? –ARS

HAL APAKAH YANG KETIKA ANDA LAKUKAN,

 ANDA MERASAKAN KEGIRANGAN HATI TUHAN?

Dikutip : www.sabda.org

SUNGAI YANG KERING

Sabtu, 5 Maret 2011

Bacaan : Wahyu 2:1-5

1″Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.

2Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.

3Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.

4Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.

5Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

SUNGAI YANG KERING

Setiap kali ke kampung halaman Papa, kami harus melewati sebuah sungai. Saya ingat, waktu SD saya harus menyeberangi sungai itu dengan sangat hati-hati karena sungai itu begitu lebar dan airnya sangat deras. Namun, kini sungai itu telah kering. Sungai itu kata para penduduk-perlahan-lahan semakin dangkal, sampai kini tampak seperti badan jalan saja. Hanya batu-batu besar yang masih ada menjadi pertanda bahwa dulu di tempat itu pernah ada sebuah sungai besar.

Hidup rohani kita juga bisa “mengering”. Tadinya, jemaat Efesus begitu taat dan bekerja sungguh-sungguh untuk Tuhan. Bahkan, mereka rela menderita dan tak kenal lelah melakukan pelayanan (ayat 2, 3). Namun Tuhan mencela mereka, karena mereka menjadi “kering” (ayat 5). Mereka menganggap diri hebat, paling benar, paling suci. Mereka terjatuh dalam kesombongan rohani dan kehilangan kasih mula-mula. Itu sebabnya, Tuhan mendesak mereka bertobat dan kembali pada kasih yang semula.

Kekeringan rohani bisa melanda siapa saja. Jemaat Efesus adalah buktinya. Proses itu biasanya berlangsung perlahan, seperti sungai kenangan saya-yang perlahan mendangkal dan akhirnya mengering. Kekeringan rohani itu bahkan bisa terjadi tanpa disadari. Dan, kita bisa mengalami kejatuhan yang amat dalam. Mari periksa kondisi rohani kita saat ini. Perhatikanlah, apakah kita masih bersukacita penuh atas hidup kita, pelayanan kita, dan doa-doa kita? Apakah kita masih bisa menikmati pujian dan penyembahan kita? Apakah hati kita nyaman beribadah dalam hadirat-Nya? Jika ada “sesuatu” yang terasa berbeda, segera temukan lagi semangat rohani kita agar tidak “telanjur mengering” –FZ

JANGAN BERHENTI MEMERIKSA KESEHATAN ROHANI KITA

AGAR KITA DIDAPATI TERUS HIDUP DAN BERTUMBUH DI DALAM TUHAN

Sumber : www.sabda.org

SUJUD MENYEMBAH

Senin, 6 Juli 2009

Bacaan : Mazmur 95

95:1. Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.

95:2 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

95:3 Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.

95:4 Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunungpun kepunyaan-Nya.

95:5 Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.

95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

 

95:7. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

95:8 Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun,

95:9 pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

95:10 Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: “Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku.”

95:11 Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: “Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”

 

SUJUD MENYEMBAH

Orang-orang Yunani dan orang-orang Roma zaman kuno menolak posisi berlutut sebagai bagian dari ibadah penyembahan. Mereka berkata bahwa posisi berlutut tidak patut dilakukan oleh orang merdeka. Posisi itu tidak cocok dengan budaya Yunani dan hanya sesuai untuk orang-orang yang belum beradab. Cendekiawan Plutarch dan Theophrastus menganggap bahwa berlutut merupakan ungkapan kepercayaan kepada takhayul. Aristoteles bahkan mengatakan bahwa berlutut merupakan bentuk kelakuan yang tidak beradab. Meskipun demikian, keyakinan ini sama sekali tidak pernah diikuti oleh umat Allah.

Dalam Mazmur 95:6, pemazmur menyatakan bahwa berlutut menunjukkan penghormatan yang sangat dalam kepada Allah. Di dalam satu ayat ini, pemazmur menggunakan tiga kata Ibrani yang berbeda untuk menunjukkan bagaimana seharusnya sikap dan posisi seorang penyembah.

Yang pertama, pemazmur menggunakan kata sujud, yakni posisi berlutut dengan dahi merapat ke lantai sebagai tanda hormat kepada Tuhan yang berarti setia kepada-Nya. Kata kedua yang digunakannya ialah menyembah, yang artinya bertelut untuk memberi hormat dan menyembah Tuhan. Kemudian, ia menggunakan kata berlutut, yang berarti melipat lutut sebagai tumpuan berdiri untuk memuji Allah.

Menurut pemazmur, berlutut di hadirat Allah adalah tanda penghormatan, bukan bentuk kelakuan tidak beradab. Meskipun demikian, yang penting bukan hanya posisi tubuh kita, melainkan juga sikap kerendahan hati kita –MLW

SIKAP KITA DALAM PENYEMBAHAN LEBIH BERHARGA
DARIPADA POSISI TUBUH KITA KALA MENYEMBAH

Sumber : http://www.sabda.org