MEMILIH NERAKA

Sabtu, 11 Februari 2012

Bacaan : Roma 1:18-32

1:18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.

1:19. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.

1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.

1:21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.

1:22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.

1:23 Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.

1:24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.

1:25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.

1:26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.

1:27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

1:28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:

1:29 penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.

1:30 Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,

1:31 tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.

1:32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

MEMILIH NERAKA

Mungkinkah Tuhan Yang Mahakasih menjebloskan manusia ke neraka? Pertanyaan ini pernah menggelisahkan batin saya cukup lama. Sampai saya memahami kebenaran firman-Nya.

Dalam surat kepada jemaat di Roma, Paulus menjelaskan tentang kabar baik keselamatan dari Tuhan. Namun sebelumnya, ia mulai dengan kabar buruk kondisi rohani umat manusia. Tuhan menyatakan Diri supaya manusia dapat mengenal-Nya dan memuliakan-Nya (ayat 19-20). Akan tetapi, manusia membelakangi penyataan-penyataan-Nya dan memberontak melawan Pencipta-Nya (ayat 21-23). Manusia lebih suka meng ikuti keinginan hatinya (ayat 24-25), hawa nafsunya (ayat 26-27), pikiran-pikirannya (ayat 28-29), dan memilih untuk berkubang dalam rupa-rupa kecemaran (ayat 30-31). Lebih celaka lagi, meski manusia tahu konsekuensi hukumannya, mereka tidak sekadar terus melawan Tuhan, tetapi juga bersukacita ketika orang lain ada dalam pemberontakan yang sama (ayat 32).

Tuhan tidak menjebloskan manusia ke neraka. Para pemberontak yang akhirnya berada di neraka memilih untuk tinggal di sana. Tuhan menghargai pilihan itu. Mengutip C.S. Lewis: ‚ÄúPada akhirnya akan ada dua macam orang: orang-orang yang berkata kepada Tuhan, ‘Jadilah kehendak-Mu, ‘ dan orang-orang yang kepadanya Tuhan berkata, ‘Jadilah kehendakmu.'” Apakah kita selama ini menyambut anugerah Tuhan dengan syukur dan penyerahan diri yang sungguh? Ataukah kita lebih memilih mengikuti keinginan hati seraya menuduh Tuhan yang tidak mengikuti kemauan kita sebagai Tuhan yang kurang kasih? –JOO

Tuhan Yang Mahakasih menyediakan jalan keselamatan

Apakah Anda menyambutnya, atau justru menjauh darinya?

Dikutip : www.sabda.org

KESEMPATAN GAGAL

Selasa, 19 April 2011

Bacaan : Kisah Para Rasul 15:36-40

36Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: “Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka.”

37Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus;

38tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka.

39Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus.

40Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan

KESEMPATAN GAGAL

Dalam bukunya Growing Kids God’s Way, Gary dan Anne Marie Ezzo mengatakan bahwa orangtua kerap tak memberi kebebasan kepada anak untuk mengalami kegagalan. Umumnya orang tua begitu suka akan kemenangan, hingga agak kehilangan perspektif dan tak bisa menghargai pelajaran yang dapat dipetik dari kegagalan. Maka anak lebih memperjuangkan bagaimana caranya ia tidak gagal dan mengecewakan orangtua, walau untuk itu ia kemudian takut pada tantangan.

Barnabas adalah sosok gembala yang memperhatikan orang-orang yang dibimbingnya. Suatu kali seorang muda bernama Markus menjadi murid bimbingnya. Sayang, Markus ini pernah gagal menjalankan tugasnya ia meninggalkan rombongan misi Paulus hingga mereka kekurangan orang di Pamfilia. Ini membuat Paulus kecewa (ayat 38). Tak heran, ketika Paulus hendak mengadakan perjalanan misi kembali, ia menolak permintaan Barnabas untuk mengajak Markus lagi. Namun Barnabas tetap memperjuangkan Markus hingga ia berpisah dengan Paulus (ayat 39). Oleh kegigihan Barnabas yang tidak menyerah membimbing pribadi yang pernah gagal, Markus menjadi pelayan Tuhan yang berharga.

Ketika orang-orang dekat kita keluarga, sahabat, rekan kerja mengalami kegagalan; gagal memenuhi harapan, gagal menepati janji, gagal mengambil keputusan yang benar, tak ada gunanya kita menunjukkan kekecewaan. Sebaliknya, yang perlu kita lakukan adalah menjadi pendukung yang tetap ada bagi mereka dan tak menyerah mendampingi. Tetap memberinya kesempatan dan kepercayaan baru. Tetap mendukungnya saat ia belajar tentang arti perjuangan, kerendahan hati, serta penyerahan diri kepada Tuhan –AW

SETIAP MOMEN KEGAGALAN SESUNGGUHNYA BISA MENJADI PINTU

UNTUK SESEORANG MEMASUKI BABAK KEDEWASAAN YANG BARU

Dikutip dari : www.sabda.org