PENDATANG

Sabtu, 19 Maret 2011

Bacaan : Kisah Para Rasul 2:1-13

1Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.

2Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;

3dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.

4Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

5Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.

6Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

7Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?

8Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:

9kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,

10Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,

11baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.”

12Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?”

13Tetapi orang lain menyindir: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”

PENDATANG

Perpindahan penduduk adalah sesuatu yang tak terhindarkan di Indonesia. Tingkat ekonomi belum merata di daerah yang satu dengan daerah lain. Ini membuat banyak orang merantau untuk mengadu nasib ke luar daerah, mencari penghidupan yang lebih baik. Akan tetapi, perpin-dahan ini tak jarang menimbulkan masalah. Budaya, tata nilai, dan sistem kepercayaan (termasuk agama) yang berbeda antara kaum pendatang dengan penduduk setempat kerap kali menjadi sumber permasalahan, bahkan kecurigaan. Apalagi penduduk Indonesia yang begitu besar jumlahnya, juga memiliki keanekaragaman yang sangat banyak.

Namun, bukankah sebenarnya kedatangan para pendatang tersebut menjadi kesempatan emas untuk menunaikan tugas mengabarkan Kristus kepada “semua bangsa”? Kita tidak perlu pergi jauh-jauh untuk bertemu dengan “semua bangsa”. Tuhan membawa para pendatang ke tempat kita, agar kita dapat bersaksi kepada mereka. Situasinya mirip dengan peristiwa yang terjadi pada hari Pentakosta. Saat itu, Yerusalem dipenuhi para pendatang dari berbagai daerah (ayat 9-11). Dalam keadaan demikian, Tuhan mencurahkan Roh Kudus dan memampukan para rasul untuk mewartakan Kristus kepada berbagai suku bangsa yang sedang berada di sana, dengan bahasa mereka masing-masing (ayat 6-8).

Itu sebabnya, terhadap para pendatang Tuhan meminta kita bersikap ramah dan tidak menindas. Melainkan menerima mereka sebagai sesama, sebagai bagian dari masyarakat kita. Untuk membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Untuk menjadi sahabat dan saluran berkat. Itulah tugas saksi Tuhan –ALS

SETIAP ORANG BARU YANG DITEMPATKAN DI DEKAT KITA

MERUPAKAN LADANG BARU YANG MENANTI TABURAN KESAKSIAN KITA

Sumber : www.sabda.org

Iklan