HARTA TAK TERNILAI

Kamis, 9 Juni 2011

Bacaan : Mazmur 37:1-24

37:1. Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang;

37:2 sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.

37:3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,

37:4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

37:5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

37:6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.

 

37:7. Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.

37:8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

37:9 Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.

37:10 Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.

37:11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.

37:12 Orang fasik merencanakan kejahatan terhadap orang benar dan menggertakkan giginya terhadap dia;

37:13 Tuhan menertawakan orang fasik itu, sebab Ia melihat bahwa harinya sudah dekat.

37:14 Orang-orang fasik menghunus pedang dan melentur busur mereka untuk merobohkan orang-orang sengsara dan orang-orang miskin, untuk membunuh orang-orang yang hidup jujur;

37:15 tetapi pedang mereka akan menikam dada mereka sendiri, dan busur mereka akan dipatahkan.

37:16 Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik;

37:17 sebab lengan orang-orang fasik dipatahkan, tetapi TUHAN menopang orang-orang benar.

37:18 TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya;

37:19 mereka tidak akan mendapat malu pada waktu kecelakaan, dan mereka akan menjadi kenyang pada hari-hari kelaparan.

37:20 Sesungguhnya, orang-orang fasik akan binasa; musuh TUHAN seperti keindahan padang rumput: mereka habis lenyap, habis lenyap bagaikan asap.

 

37:21. Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah.

37:22 Sesungguhnya, orang-orang yang diberkati-Nya akan mewarisi negeri, tetapi orang-orang yang dikutuki-Nya akan dilenyapkan.

37:23 TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;

37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

 

HARTA TAK TERNILAI

Kenalan dekat saya, seorang pengusaha sukses, merintis usaha baru, yakni persewaan alat berat pertambangan. Ia begitu menggebu dengan usaha baru ini sebab di situ ia bagai mendulang emas. Akibatnya, yang lama jadi tak terurus. Sayang, beberapa waktu kemudian banyak tagihan tak dibayar, bahkan seluruh alat beratnya ditelan mitra bisnis. Meski menang perkara, tetapi surat keputusan hakim tak punya kekuatan menghadapi preman. Ia pun frustrasi, menyesal, marah.

 

Saya mengingatkannya akan masa kecilnya yang miskin dan tak punya apa-apa. Bagaimana ia merintis bisnis dari nol. Saya juga mengingatkan janji Tuhan dalam Mazmur 37:6. Baru kemudian ia menyadari, ada harta lebih besar yang ia sia-siakan selama ini, yakni kekuatan dan penyertaan Tuhan. Ia sadar bahwa menangisi apa yang sudah dirampok orang hanya akan “menghabiskan” seluruh hidupnya. Maka, ia bangkit merintis pekerjaan lamanya, mengangsur utang di bank, dan melupakan kepahitan hatinya. Kini ia kembali berjaya, walau dengan perjuangan. Bertahun-tahun kemudian terungkap bahwa orang yang menipunya dulu, kini dipenjarakan sebagai koruptor besar uang negara.

 

Harta dunia adalah titipan Tuhan. Ketika berkat datang, kita bersukacita. Akan tetapi, ketika rugi, tertipu, bangkrut, bagaimanakah sikap kita? Kiranya kita meneladani Ayub saat menghadapi kemalangan, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil” (Ayub 1:21). Janganlah hati kita melekat pada harta. Mari berpaut pada Sang Sumber berkat, maka kita takkan berkekurangan –SST

APABILA BERKAT DATANG, BIARLAH KITA MENJADI

PENYALUR BERKAT

APABILA KEMALANGAN DATANG, PERCAYALAH

TUHAN SELALU ADA DEKAT

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

TIDUR TENTERAM

Selasa, 6 Juli 2010

Bacaan : Mazmur 3:1-9

3:1. Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku,

3:2 karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.

3:3 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,

3:4 maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.

3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

3:6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

3:7. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;

3:8 itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.

3:9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,

TIDUR TENTERAM

Tidur, yang bagi sebagian orang adalah hal mudah dan murah, bisa menjadi hal yang sulit dan mahal untuk dinikmati bagi sebagian orang yang lain. Banyak keadaan dapat membuat kita menjadi sulit tidur. Bisa karena adanya penyakit sulit tidur atau insomnia, atau karena kita sedang banyak pikiran sebab dirundung oleh situasi yang kita anggap genting!

Daud tidak sedang menghadapi masalah kecil. Ia sedang dalam situasi genting: diserang oleh anak kesayangannya sendiri, Absalom. Demi menghindari hal buruk, Daud memutuskan untuk melarikan diri dari Yerusalem (2 Samuel 15). Daud dimusuhi banyak orang (ayat 2) dan dianggap tidak mendapat pertolongan Allah (ayat 3). Begitulah keadaan Daud ketika menuliskan mazmur ini. Namun dalam kondisi begitu, Daud tetap mengandalkan Tuhan yang ia imani sebagai perisainya (ayat 4) dan yang menjawab seruannya (ayat 5). Itulah yang membuat Daud tetap tenang dalam situasinya yang genting, sehingga ia bisa bermazmur: “Aku mau membaringkan diri, lalu tidur”. Imannya akan Allah Sang Pelindung, membuatnya tetap dapat tidur, meski situasi genting!

Bagi Anda, mana yang lebih besar: Tuhan atau masalah yang sedang Anda hadapi? Kedamaian hati bukan terletak pada ketiadaan masalah, melainkan pada bagaimana kita memandang masalah. Kalau kita memandang masalah lebih besar dari Allah, tak heran jika hati gundah, hingga tidur pun resah. Sebaliknya, jika iman membuat Anda sadar bahwa Tuhan selalu lebih besar dari masalah, Anda akan dimampukan untuk bersikap tenang dan merasa tenteram meski sedang di tengah badai kehidupan –DKL

INGATLAH BAHWA ALLAH SELALU LEBIH BESAR

DARI PADA MASALAH

PASTI HATI JADI TENANG, TIDUR PUN TAK GELISAH

Sumber : www.sabda.org