EFATA – TERBUKALAH

Shalom…salam miracle

Puji Tuhan, kita sudah memasuki bulan Desember 2011, berarti sebentar lagi segera meninggalkan banyak kenangan, dan mempersiapkan diri memasuki babak baru di tahun 2012. Di bulan Desember ini nuansa kekristenan sangat terasa dimana-mana, di rumah tangga, perkantoran, pusat perbelanjaan, terlebih di gereja-gereja. Banyak aktifitas kegiatan gerejawi meningkat, dan berharap juga semakin meningkatkan hubungan secara pribadi kepada Tuhan Yesus Kristus. Imanuel yang berarti Allah menyertai kita, kiranya senantiasa terjadi dalam kehidupan umat Tuhan.

Pesan gembala hari ini didasari peristiwa yang luar biasa yang terdapat dalam Markus 7:33-35 “Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu, kemudian sambil menengadah ke langit, Yesus menarik nafas dan berkata kepada: “Efata!”, artinya: terbukalah!. Maka terbukalah telinga itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.” Kita dapat mempelajari peristiwa tersebut sebagai berikut:

1. KONDISI MANUSIA

Ada dua kelompok manusia yang akan kita bahasa yaitu kondisi yang terdapat dalam jumlah yang besar, yakni mereka yang masih dan tinggal dalam kegelapan, sehingga mengalami hal-hal yang berhubungan dengan kegelapan, diwakili oleh seseorang yang menderita bisu dan tuli tersebut. Jadi mereka mengalami ketulian, tidak mampu mendengar, sehingga tidak mengalami perkembangan, dan terjadilah keterbelakangan dalam banyak hal.

Firman Allah mengatakan…” Iman timbul dari PENDENGARAN, dan PENDENGARAN akan FIRMAN KRISTUS. Maka bagi orang yang mengalami ketulian harus ada sesuatu keajaiban, dan itu hanya dalam Tuhan Yesus. Selain tuli, orang yang tinggal di luar kebenaran, juga mengalami kebisuan. Orang-orang demikian kurang pandai berkomunikasi, suatu perkataan sangat menentukan keberadaan orang tersebut, sehingga apabila mengalami kebisuan, mempengaruhi respek orang lain kepadanya. Kondisi yang kedua adalah kondisi yang sudah dikhususkan, yaitu yang telah menerima dan merasakan kasih karunia Tuhan. Dengan demikian mereka mengerti kasih dan kebenaran, dalam bacaan diatas diwakili orang-orang yang membawa orang yang tuli dan bisu itu kepada Tuhan Yesus, kepedulian dan perhatian itu terjadi ketika seseorang yang sudah mengenal kebenaran membawa saudara yang lain untuk memperoleh kasih karunia yang sudah mereka terima. Jadilah seperti hal yang demikian.

2. ALLAH PUNYA BANYAK CARA DAN UNIK

Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Setiap tindakan Allah terhadap umat-Nya, pasti dalam pelaksanaan rancangan besar bagi umat Tuhan itu. Dan mari kita mempercayai bahwa tindakan dalam rancangan Allah itu semuanya BAIK. Meskipun pada kenyataannya apa yang kita alami terasa menyedihkan, memprihatinkan, terjadinya peristiwa yang tidak kita inginkan. Seperti apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus terhadap orang yang mengalami tuli dan bisu gagap ini. Tindakan Allah yang pertama adalah memisahkan diri dari orang banyak, dengan arti Tuhan menghendaki hubungan yang hanya Dia dengan orang tersebut dan tidak diganggu oleh orang lain. Seringkali opini dan pandangan orang lain bisa mempengaruhi hubungan pribadi dengan Tuhan, pada akhirnya mempengaruhi iman percayanya kepada Tuhan, dari hal itu Dia menghendaki supaya orang yang menderita tuli dan bisu tersebut, tidak dipengaruhi oleh tindakan dan pendapat orang lain.

Penting bagi kita untuk meluangkan waktu yang khusus untuk membangun hubungan secara pribadi dengan Tuhan. Yang kedua Tuhan memasukkan jarinya ke telinga orang tersebut, kemudian Dia meludah dan meraba lidah orang tersebut. Dari kejauhan banyak orang melihat tindakan Allah itu. Mari kita renungkan apabila ketika itu kita ada disana dan melihat peristiwa itu, pasti ada komentar dan pendapat. Kira-kira apa yang akan saudara katakan ketika melihat peristiwa tersebut? Saya percaya banyak diantara kerumunan massa ketika itu yang berkomentar negative dengan tindakan MELUDAH dan MERABA LIDAH…, bahkan mungkin ada yang menertawakannya sebagai sesuatu lelucon. Mungkin ada juga yang menghujat Yesus. Namun apapun komentar-komentar tersebut tidak mempengaruhi kepada orang yang tuli dan bisu, sebab yang terjadi adalah keseriusan hubungan pribadinya dengan Yesus. Semua yang dilakukan Allah senantiasa membawa kebaikan, itulah yang dipercayai oleh orang-orang tuli bisu itu, yang terpenting adalah percaya kepada Tuhan, apapun tindakan Allah…(Bersambung..!!!)

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Iklan

KEBABLASAN

Senin, 28 November 2011

Bacaan : Maleakhi 1:1-7; 2:17 

1:1. Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi.

1:2 “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” “Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub,

1:3 tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun.”

1:4 Apabila Edom berkata: “Kami telah hancur, tetapi kami akan membangun kembali reruntuhan itu,” maka beginilah firman TUHAN semesta alam: “Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya; dan orang akan menyebutkannya daerah kefasikan dan bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai selama-lamanya.”

1:5 Matamu akan melihat dan kamu sendiri akan berkata: “TUHAN maha besar sampai di luar daerah Israel.”

1:6. Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?”

1:7 Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” Dengan cara menyangka: “Meja TUHAN boleh dihinakan!”

KEBABLASAN

Harold Kushner, seorang rabi dan penulis termasyhur, pernah mengemukakan bahwa pada usia di atas lima puluh, biasanya manusia mempunyai satu kerinduan khusus, yakni kerinduan akan makna. Ia pun menanyai dirinya sendiri, “Apa arti dari semua yang kumiliki, apa arti hidupku?” Ia ingin mendapatkan arti hidup. Demikian pula kurang lebih perasaan Yakub dalam kisah yang kita baca hari ini.

Yakub telah begitu lama terpisah dengan Yusuf, anak kesayangannya. Bayangkan, 22 tahun! Dan, selama itu pula ia seolah-olah kehilangan makna hidup. Saat berjumpa lagi, pertemuan mereka begitu mengharukan! Yusuf memeluk leher ayahnya dan lama menangis di bahunya (ayat 29). Pertemuan itu menghadirkan keharuan memuncak, juga kelegaan yang mendalam bagi Yakub. Katanya, “Sekarang, bolehlah aku mati setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup …” (ayat 30). Kembali melihat Yusuf adalah hal yang menyempurnakan dan “memberi gizi” bagi jiwa Yakub pada masa tuanya.

Ada kalanya hidup seseorang begitu “pahit” sehingga ia melihat segala sesuatu dengan muram dan suram. Kehilangan, kerinduan akan sesuatu, harapan yang belum tercapai, masa lalu yang pedih, bisa menjadi musababnya. Dalam relasi dengan sesama, apakah kehadiran kita memberikan “nutrisi” atau “gizi” pada jiwa orang lain, sehingga hidup mereka kembali bermakna? Kita bisa memulainya, setidaknya dari lingkup terkecil, yakni keluarga. Hadirkan diri di situ. Berikan perhatian dan kasih yang nyata. Kita dapat menjadi penguat bagi mereka, agar tegar menghadapi serta mengelola segala kepahitan hidup yang mungkin menghampiri –DKL

JIKA PEKERJA DI BALIK LAYAR MELAKUKAN PERAN TERBAIKNYA

MAKA SEBUAH KARYA AKAN MENCAPAI PRESTASINYA

Dikutip : www.sabda.org


ALLAH YANG MAHAKUDUS

Minggu, 30 Januari 2011

Bacaan : Keluaran 20:18-21

18Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh.

19Mereka berkata kepada Musa: “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.”

20Tetapi Musa berkata kepada bangsa itu: “Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa.”

21Adapun bangsa itu berdiri jauh-jauh, tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada.

ALLAH YANG MAHAKUDUS

Bayangkan Anda sedang mengikuti sebuah ibadah. Sayangnya, dua jemaat yang duduk di depan Anda asyik berbisik-bisik. Sementara itu, jemaat lain yang duduk di belakang Anda sesekali tertawa cekikikan bersama teman di sebelahnya. Dan, ketika doa syafaat sedang dipanjatkan, sebuah telepon genggam berdering membuyarkan kekhusyukan ibadah yang sedang berlangsung.

Kini, coba kita beralih membayangkan suasana yang sama sekali berbeda, seperti yang diceritakan oleh apa yang kita baca hari ini. Saat itu segenap bangsa Israel sedang berkumpul untuk menghadap Tuhan. Dan, di hadapan-Nya, mereka semua gentar menyaksikan kekudusan dan kemuliaan-Nya. Begitu gentarnya mereka sampai-sampai mereka meminta Musa agar mewakili mereka. Dapat dipastikan saat itu tak seorang pun berani berbicara sendiri satu sama lain dan mengabaikan Allah.

Allah yang disaksikan bangsa Israel itu sesungguhnya sama dengan Allah yang kita hampiri setiap Minggu dalam ibadah di gereja. Dia adalah Allah Yang Mahakudus. Benar, karya Kristus memungkinkan kita untuk menghampiri Dia dengan penuh keberanian saat ini (Ibrani 4:16). Akan tetapi, itu bukan berarti kita kemudian tidak perlu menghormati-Nya, dan boleh mengabaikan-Nya dengan tidak sungguh-sungguh berkonsentrasi selama ibadah. Ibadah adalah pertemuan kita dengan Allah sendiri Yang Mahakudus. Itu sebabnya kita harus senantiasa mengarahkan seluruh hati, pikiran, dan perhatian hanya kepada-Nya saat menyanyikan lagu pujian, mendengarkan firman Tuhan, dan mengikuti seluruh rangkaian ibadah yang kita hadiri –ALS

SEBAB ALLAH YANG KITA SEMBAH MAHAKUDUS

KIRANYA TUBUH DAN HATI KITA PUN SEDIA BERSUJUD

Sumber : www.sabda.org

WAKTU BAGI KELUARGA

Jumat, 1 Oktober 2010

Bacaan : Pengkhotbah 2:4-11; 22-26

2:4 Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan bagiku rumah-rumah, menanami bagiku kebun-kebun anggur;

2:5 aku mengusahakan bagiku kebun-kebun dan taman-taman, dan menanaminya dengan rupa-rupa pohon buah-buahan;

2:6 aku menggali bagiku kolam-kolam untuk mengairi dari situ tanaman pohon-pohon muda.

2:7 Aku membeli budak-budak laki-laki dan perempuan, dan ada budak-budak yang lahir di rumahku; aku mempunyai juga banyak sapi dan kambing domba melebihi siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku.

2:8 Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik.

2:9 Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku; dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku.

2:10 Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku.

2:11 Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.

2:22 Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?

2:23 Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia.

2:24 Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah.

2:25 Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?

2:26 Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.

WAKTU BAGI KELUARGA

Lo Scalzo, jurnalis foto Amerika ternama, telah bertugas di enam puluh negara dan meraih banyak penghargaan internasional. Kesibukan tugas membuatnya sering sekali meninggalkan istrinya. Suatu hari, saat meliput perang Irak, istrinya dilarikan ke Rumah Sakit karena keguguran untuk kedua kali. Scalzo merasa sangat bersalah. Sejak itu, ia bertekad mengubah prioritas hidupnya. Ia berupaya hadir dalam keluarga, walaupun harus melewatkan banyak momen langka untuk meliput berita. Ia menulis: “Prestasiku sebagai jurnalis foto hebat akan segera dilupakan, tetapi prestasi sebagai ayah dan suami hebat akan dikenang selamanya oleh anak dan istriku.”

Banyak orang sibuk melakukan pekerjaan besar. Segenap waktu dan tenaga tercurah untuk meraih kesuksesan. Menurut Pengkhotbah, semua itu memang bisa membuat orang menjadi besar: kaya dan ternama (ayat 9). Namun, ketika menoleh ke belakang, ia akan sadar bahwa semua prestasi yang telah dicapai sia-sia (ayat 11). Mengapa? Karena semuanya cepat sirna. Banyaknya waktu yang dihabiskan untuk mengejar sukses membuat kita kehilangan banyak waktu untuk menikmati hidup-untuk mensyukuri makanan dan minuman, serta menikmati kebersamaan dengan keluarga.

Banyak orang bekerja keras dari pagi hingga larut malam, sampai jarang bisa bercengkerama dengan keluarganya. Mereka berdalih, “Aku berjerih payah mencari uang demi keluarga.” Benarkah itu? Apa artinya berkeluarga jika kita sulit ditemui? Tanpa kehadiran, kasih, dan perhatian, keluarga akan merana. Kalau sudah begitu, semua yang kita kumpulkan nantinya menjadi sia-sia! –JTI

INVESTASIKAN CUKUP WAKTU

BAGI TUHAN DAN KELUARGA

MAKA HIDUP ANDA TAK AKAN MENJADI SIA-SIA

Sumber : www.sabda.org

PELAYANAN YANG PENUH BUAH (3)

PESAN GEMBALA

23 AGUSTUS 2009

Edisi 88 Tahun 2

 

PELAYANAN YANG PENUH BUAH (3)

Shalom… Salam Miracle…

Jemaat yang diberkati Tuhan, hari ini kita akan melanjutkan pembahasan minggu lalu dalam Injil Yohanes 4:1-42 (baca terlebih dahulu ayat-ayat ini) dimana Tuhan Yesus bertemu dengan perempuan Samaria. Dalam pembacaan pasal 1 ini, ada banyak prinsip-prinsip yang dapat kita teladani ketika Yesus melayani perempuan Samaria tersebut.

  1. MEMPRIORITASKAN KEHENDAK ALLAH
  2. KASIHNYA YANG TULUS KEPADA ORANG BERDOSA
  3. MENARUH PERHATIAN KEPADA BANYAK ORANG DAN BERSOSIALISASI.

… (sambungan minggu lalu). Lukas 2:52 menceritakan kepada kita sesuatu yang menarik mengenai pertumbuhanNya dimulai sejak anak-anak. Dikatakan bahwa “Dia bertumbuh dalam hikmat (intelektual), besarNya (fisik), hubunganNya dengan Allah (rohani), dan dengan manusia (sosial).

 

Banyak orang Kristen saat ini yang hanya mengembangkan aspek rohani dan mengesampingkan hal-hal yang lainnya. Tidak demikian dengan Yesus. PertumbuhanNya seimbang dalam segala segi yang kita sebutkan, dan Dia menjadi teladan atas kita. Pelayanan yang sukses membutuhkan pertumbuhan dan kedewasaan.

 

Dalam seluruh hidupNya banyak waktu yang diberikan untuk bergaul dengan berbagai macam orang, salah satu diantaranya Dia berkhotbah di hadapan satu orang saja, yaitu Nikodemus, tetapi juga bisa berhadapan dengan ribuan orang, jadi selalu bisa membuat kontak sosial dan menjadi sahabat masyarakat.

 

Gunakan iman kitauntuk mengatasai rasa malu dan keengganan dalam bermasyarakat. Keluarlah dari rumah, berbicaralah dengan tetangga kita. Bersahabatlah dengan penjaga toko, sopir, polisi, birokrat, dokter, tukang ojek dan lain sebagainya. Jika Yesus adalah sahabat orang berdosa, kita dapat menjadi sahabat para tetangga kita. Berusahalah untuk dapat menjadi sahabat mereka, ambil waktu untuk membangun hubungann yang tulus dengan mereka.

 

       4. MEMBANGUN FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENARIK PERHATIAN

Ketika Tuhan Yesus mendapati perempuan Samaria, pada waktu itu ia sedang mengambil air. Lalu dengan segera Dia membangun hubungan dengannya dengan mengatakan kalau Ia haus dan sangat senang kalau perempuan itu mau memberikan air untukNya. Dalam hal ini Dia membuat hubungan dengannya secara bijaksana dan tepat. Yaitu meminta bantuannya. Cara Tuhan Yesus dapat membuat orang terpedaya, memikat dan bersahabat. Sikap ini menghilangkan permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaria. Yesus berhasil mematahkan penghalang budaya, penghalang ras, dan penghalang agama.

 

Orang-orang seringkali terpikat dan terpedaya ketika kita mengungkapkan rasa tertarik kita terhadap apa yang mereka lakukan atau segala sesuatu yang menarik perhatian mereka. Mereka akan membuka percakapan dengan seseorang yang mengungkapkan rasa tertarik dan antusiasnya terhadap segala sesuatu yang mereka sendiri merasa tertarik. Rasa tertarik akan membangun hubungan dengan orang lain, dan dapat membuka jalan untuk percakapan yang lebih serius.

 

     5.  TIDAK MENGHAKIMI DAN MENGHUKUM ORANG

Wanita Samaria muncul sebagai figur orang yang berdosa. Namun Yesus tidak menunjukkan sikap yang angkuh atau menghakimi. Dia tidak memulainya dengan kecaman terhadap perkawinannya dengan banyak orang dan hubungan yang bebas dengan semua orang. Ini bukan berarti Dia menyetujui atau memaklumi cara hidup wanita ini. Tetapi dengan jelas menandakan bahwa Dia datang bukan untuk menghakimi wanita itu. Hal ini juga bisa kita temui dalam Yohanes 8:1-11. Ketika Yesus menorehkan jariNya di atas tanah untuk memenuhi permintaan orang-orang Farisi yang marah, karena mengharapkan Dia menghakimi wanita yang kedapatan berzinah… (BERSAMBUNG).

 

TUHAN YESUS MEMBERKATI… AMIEN

 

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA