DIKTATOR YANG KEJAM?

Sabtu, 6 April 2013

Bacaan   : Ulangan 10:12-22

10:12. “Sekarang, Saudara-saudara, perhatikanlah apa yang dituntut TUHAN Allahmu dari kamu: Hormatilah TUHAN Allahmu dan lakukanlah segala perintah-Nya. Cintailah Dia dan beribadatlah kepada-Nya dengan seluruh jiwa ragamu.

10:13 Taatilah segala perintah TUHAN yang hari ini saya sampaikan kepadamu demi kebaikanmu sendiri.

10:14 TUHAN Allahmu memiliki langit tertinggi; bumi pun milik-Nya beserta segala yang ada di atasnya.

10:15 Tetapi kasih TUHAN kepada leluhurmu begitu besar, sehingga dari segala bangsa kamulah yang dipilih-Nya, dan sampai sekarang pun kamu umat-Nya yang terpilih.

10:16 Jadi mulai saat ini kamu harus taat kepada TUHAN dan janganlah berkeras kepala lagi.

10:17 TUHAN Allahmu ada di atas segala ilah dan melebihi segala kuasa. Ia Allah yang agung dan berkuasa yang harus ditaati. Ia tidak suka berpihak dan tidak juga menerima suap.

10:18 Ia membela hak yatim piatu dan janda supaya mereka diperlakukan dengan adil; Ia mengasihi orang asing yang hidup bersama bangsa kita dan memberi mereka makanan dan pakaian.

10:19 Maka kamu juga harus menunjukkan kasihmu kepada orang-orang asing itu, sebab dahulu kamu pun orang asing di Mesir.

10:20 Hormatilah TUHAN Allahmu dan beribadatlah kepada Dia saja. Hendaklah kamu tetap setia kepada-Nya dan bersumpah demi nama-Nya saja.

10:21 Pujilah Dia sebab Ia Allahmu. Dengan mata kepalamu sendiri kamu telah melihat perbuatan-perbuatan hebat dan dahsyat yang dilakukan-Nya untukmu.

10:22 Ketika nenek moyangmu pergi ke Mesir, jumlah mereka hanya tujuh puluh orang. Tetapi TUHAN Allahmu telah membuat jumlahmu sebanyak bintang-bintang di langit.”

 

DIKTATOR YANG KEJAM?

Hitler ingin membuktikan loyalitas rakyat Jerman kepadanya. Suatu malam ia menyamar sebagai orang biasa dan masuk ke gedung bioskop. Sebelum film diputar, terdengar sebuah pengumuman, “Para penonton yang terhormat, film ini melukiskan kegiatan terakhir pemimpin besar kita, Adolf Hitler!” Penonton pun serentak berdiri dan menghormat ke arah layar. Hitler begitu terharu sampai ia lupa berdiri. Tiba-tiba penonton di sampingnya berkata, “Hai, Bung, cepat berdiri! Saya tahu bagaimana perasaan Anda terhadap haram jadah itu. Tapi, kita sedang diawasi polisi rahasia!”

Anekdot itu menggambarkan penghormatan yang tidak tulus. Penghormatan yang terpaksa, dilakukan karena takut akan hukuman. Seperti itu jugakah “takut akan Tuhan” yang dimaksudkan dalam Kitab Suci? Ada orang yang taat bukan karena mengasihi Tuhan, melainkan karena takut mendapat hukuman jika ia tidak taat. Orang itu membayangkan Allah sebagai sesosok diktator kejam yang siap menghukum setiap ketidaktaatan.

Allah bukan diktator yang kejam. Sebaliknya, Dia adalah Bapa yang sangat baik dan bijaksana terhadap kita. Memang, Dia mendisiplinkan kita ketika kita melakukan kesalahan. Namun, Dia melakukannya bukan dengan mengancam dan menakut-nakuti kita. Dia mendidik kita agar kita semakin bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Dia sehingga kita semakin terlatih untuk hidup di dalam kebenaran. Dengan pengertian yang benar ini, kita pun akan memiliki sikap “takut akan Tuhan” yang benar pula. –PK

KONSEP KITA AKAN ALLAH

MENENTUKAN MOTIVASI KITA DALAM MENAATI DIA.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

LEBIH DARI SEKADAR UCAPAN

Sabtu, 3 November 2012

Bacaan : Yohanes 21:15-19

21:15. Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.

21:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.”

21:19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: “Ikutlah Aku.”

 

LEBIH DARI SEKADAR UCAPAN

Bagaimana perasaan Anda jika orang yang Anda kasihi berulang kali bertanya, “Apakah kamu mengasihiku?” Mungkin Anda sedih, merasa tidak dipercaya. Mungkin Anda jengkel, orang ini harus diyakinkan dengan cara apa lagi. Pertanyaan yang diajukan berulang-ulang jelas menunjukkan jawaban yang diharapkan bukanlah jawaban sekadarnya.

Petrus juga merasa sedih. Mungkin juga separuh jengkel dan putus asa. Tiga kali Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Tampaknya Yesus tidak puas dengan jawaban Petrus. Ia harus menjawab bagaimana lagi? Tidakkah Yesus mengenal hatinya? Bukankah Dia adalah Tuhan Yang Mahatahu? Lalu, untuk ketiga kalinya pula Yesus berkata, “Peliharalah domba-domba-Ku” (ayat 15, 16, 17). Mungkin kali ini perkataan itu membuat Petrus tersentak, karena Yesus menambahkan penjelasan panjang di belakangnya. Dari tadi ia berfokus pada diri sendiri, sedih karena Yesus seolah meragukan kasihnya. Kini ia diarahkan pada fokus yang berbeda: apa yang harus ia lakukan sebagai orang yang mengasihi Yesus. Seakan Yesus hendak berkata: Kamu mengasihi-Ku, Petrus? Lakukanlah apa yang kutugaskan dan ikutilah teladan-Ku.

Apakah artinya “mengasihi Tuhan” bagi Anda? Bisa jadi frase ini tidak lagi berarti apa-apa dalam hidup kita selain sebuah ungkapan yang indah untuk didengarkan atau dinyanyikan. Bukankah kita cenderung lebih suka dikasihi daripada mengasihi? Apalagi jika mengasihi itu melibatkan hal-hal yang membuat kita tidak nyaman, seperti yang diminta Yesus dari Petrus (ayat 18-19). “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku, ” kata Yesus. Sungguhkah kita mengasihi Tuhan? –MEL

KETIKA KITA MENGASIHI TUHAN,

KITA SENANG MELAKUKAN APA YANG DIA INGINKAN.

Dikutip : www.sabda.org

DI MANA SAJA, KAPAN SAJA

Rabu, 24 Oktober 2012

Bacaan : Ulangan 6:1-9

6:1. “Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya,

6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.

6:3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

 

6:4. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

 

DI MANA SAJA, KAPAN SAJA

Banyak orangtua yang mengeluh karena tidak lagi menemukan waktu yang tepat dan cukup untuk duduk bersama anak-anak. Mereka merasa kehilangan sarana untuk mengajar prinsip-prinsip hidup yang mereka yakini. Namun, sebenarnya pembelajaran yang diprogramkan secara teratur pun punya risiko, yaitu anak-anak didik bisa menjadi bosan dengan pertemuan rutin. Membingungkan bukan?

Pikirkanlah para orangtua Israel di zaman Musa. Mereka diminta mengajaranak-anaknya untuk mengasihi Allah dengan segenap hati. Prinsip yang sangat penting ini harus diajarkan berulang kali, dengan berbagai cara dan di berbagai kesempatan. Ini artinya para orangtua didorong untuk peka dan kreatif dalam menyampaikan kebenaran-kebenaran Allah. Mereka harus memakai setiap kesempatan di sepanjang hari, bukan hanya jam tertentu saja. Pengajaran yang kaya dengan cara dan tidak dibatasi oleh waktu serta tempat inilah yang akan lebih memberikan hasil yang kokoh. Allah sendiri adalah contoh pendidik yang kreatif di mana Dia mengajar umat-Nya berulang kali, di berbagai kesempatan dan dengan berbagai macam cara

Mungkinkah kita terhambat dalam mengajarkan kebenaran karena berpikir bahwa proses belajar itu hanya dapat berlangsung di tempat, jam, dan cara tertentu? Mungkin selama ini kita justru mengabaikan waktu dan kesempatan yang baik karena kita anggap itu bukanlah jam dan tempat belajar. Kalau kita belajar untuk peka dan kreatif, maka membagikan kebenaran tidak akan mengenal halangan tempat dan waktu. Temukanlah kesempatan itu! –PBS

SETIAP KESEMPATAN DAPAT MENJADI PELUANG

UNTUK MENYAMPAIKAN KEBENARAN

Dikutip : www.sabda.org

SANG PENOLONG

Rabu, 10 Oktober 2012

Bacaan : Yohanes 14:12-20

14:12. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;

14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.

14:14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”

 

14:15. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

14:17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

 

14:18. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.

14:19 Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.

14:20 Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

 

SANG PENOLONG

Tahukah Anda bahwa Alkitab memuat lebih dari 100 nama, sebutan atau deskripsi tentang Roh Kudus? Ini adalah hasil studi Elmer Towns dalam bukunya Nama-nama Roh Kudus (The Names of The Holy Spirit). Menurutnya, seringkali orang tidak memperhatikan berbagai sebutan itu karena Roh Kudus di pikiran mereka adalah semacam kuasa atau pengaruh supernatural, aktivitas Tuhan yang memberi penghiburan atau kemampuan tertentu, bukan pribadi yang memiliki nama

Dalam bacaan hari ini, kita menemukan salah satu sebutan untuk Roh Kudus, yaitu sang “Penolong”, atau dalam bahasa Yunani: parakletos. Artinya, penolong, penghibur, atau advokat yang mendampingi. Sebutan ini juga diulang Yesus dalam ayat 26, 15:26; 16:7. Yesus berkata, Dia akan memberikan seorang Penolong “yang lain”, atau dalam bahasa Yunaninya allos. Artinya, “yang lain” dari jenis yang sama. Yesus bisa saja menggunakan kata heteros–“yang lain” dari jenis yang berbeda–tapi tidak memilih kata tersebut. Dia dengan jelas menunjukkan bahwa Roh Kebenaran itu adalah Pribadi yang sama seperti diri-Nya. Kehadiran-Nya sama dengan kehadiran Allah Bapa dan Yesus sendiri (ayat 16, 23)

Mungkin selama ini kita memiliki pandangan yang kabur tentang Roh Kudus, kurang melihat kehadiran-Nya, baik dalam Alkitab maupun kehidupan kita. Karena tidak mengenal-Nya, kita pun mengabaikan-Nya dan hanya mencari Dia saat membutuhkan kuasa pertolongan-Nya. Mari mohon Tuhan membukakan mata kita untuk melihat dan mengenal Roh Kudus lebih lagi. –LIT

ROH KUDUS BUKAN SEKADAR KUASA TAK BERPRIBADI,

DIA PRIBADI TUHAN YANG HARUS KITA HORMATI

Dikutip : www.sabda.org

BAPA PEMELIHARA

Sabtu, 10 September 2011

Bacaan : Ulangan 8 

8:1. “Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu.

8:2 Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.

8:3 Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.

8:4 Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.

8:5 Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.

8:6 Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia.

8:7 Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung;

8:8 suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya;

8:9 suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga.

8:10. Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu.

8:11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini;

8:12 dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya,

8:13 dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak,

8:14 jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan,

8:15 dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras,

8:16 dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya.

8:17 Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.

8:18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.

8:19 Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa;

8:20 seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.”

BAPA PEMELIHARA

Saat George Müller hendak mendirikan panti asuhan di Bristol untuk menampung anak-anak yang kehilangan orangtua karena wabah penyakit hebat, George sama sekali bukan orang kaya. Namun, ia yakin Bapa di surga begitu kaya dan sanggup memelihara. Ia pun memulai panti asuhan dengan bergantung total kepada Tuhan. Dan, berkat doa-doa yang terus dipanjatkan dengan penuh kepercayaan, Tuhan memenuhi segala keperluan mereka bahkan dengan cara-cara ajaib. Hingga akhirnya, George berhasil mendirikan dan mengelola sampai lima panti asuhan, dengan total 9.500 anak yang terawat dengan sangat baik.

Manakala orang menjulukinya “raksasa iman”, George menanggapinya demikian, “Imanku tak berbeda dengan iman orang percaya lain. Cobalah sendiri, dan Anda akan menerima jawaban Tuhan.” Benar, pemeliharaan yang dialami George Muller dan anak-anak panti itu bukanlah hak eksklusif, melainkan hak universal yang boleh dinikmati setiap orang percaya. Seperti Tuhan juga menunjukkan pemeliharaan yang luar biasa dan tak masuk akal, pada umat Israel sekeluar mereka dari Mesir. Saat Tuhan berjanji memimpin, Dia tak pernah lalai memelihara. Tuhan terus menyediakan manna tiap hari, sampai mereka tiba di Kanaan (Keluaran 16:35). Bahkan, Tuhan membuat pakaian dan kasut mereka tak rusak, dan kaki mereka tak menjadi bengkak selama perjalanan 40 tahun itu (Ulangan 8:4, 29:5).

Buanglah segala kekhawatiran di hidup ini, sebab hidup kita tak berlangsung oleh kekuatan kita sendiri. Pemeliharaan Bapalah yang membuat kita hidup (Ulangan 8:17). Dia Bapa yang paling peduli pada hidup kita –AW

PENGANDALAN AKAN DIRI SENDIRI AKAN MEMBUAT KECEWA

PENGANDALAN AKAN TUHAN MEMBUAT KITA TERPELIHARA

Dikutip : www.sabda.org

Doa Puasa Raya Hari Ke-31 Kamis, 25 Agustus 2011

MENDAPAT BAGIAN KERAJAAN SURGA

I Korintus 15 : 50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan

kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam

Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.

– Perlu kita ketahui bahwa yang tinggal dalam surga adalah manusia rohani

kita, dan bukan manusia jasmani.

– Oleh sebab itu marilah kita memberikan manusia rohani kita untuk

dipelihara oleh Tuhan. Hidup kita dipelihara, istri/ suami / anggota keluarga kita juga turut dipelihara oleh Tuhan. Bagaimana caranya ?

– Kita harus menghormati lawatan/ kehadiran Tuhan. Contoh : Keluarga

Obed edom – menghormati kehadiran Tabut Perjanjian – Seluruh keluarganya diberkati luar biasa oleh Tuhan (II Samuel 6 : 11).

MENGHORMATI ROH KUDUS !

I Petrus 4 : 14 Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.

– Hadirnya Roh Kudus dalam manusia rohani kita sama dengan hadirnya

Tabut Perjanjian di rumah Obed-edom. Kita ingin diberkati, dipelihara dalam anugerah Tuhan, maka harus menghormati akan hadirnya Roh Kudus.

– Dengan Roh Kudus kita bisa mengalahkan segala permasalahan kita, Roh

Kudus akan memampukan kita menghadapi berbagai rintangan.

– Kita patut berbangga jika ada Roh Kudus dalam diri kita, artinya kita juga akan mendapatkan pelayanan dari para malaikat. (Ibrani 1 : 14)

– Jangan abaikan manusia rohani kita ! jangan juga abaikan manusia jasmani

kita (kesehatan tubuh) , keduanya harus tetap kita jaga sebagai anugerah

Tuhan. Jangan sia-siakan anugerah Tuhan.

II Timotius 1 : 14 – TETAP PERCAYA PADA-NYA

Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita,

oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.

KASIH ITU KEHARUSAN !!

I Korintus 13 : 13

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan

yang paling besar di antaranya ialah KASIH

Orang berpikir: saya akan mengasihi seseorang jika orang itu juga mengasihi saya . Mengapa saya harus mengasihi mereka yang tidak mengasihi saya ??

Apabila kita berbicara tentang KASIH pada hari ini , apakah menurut anda

? Apakah Kasih itu Hukum ? Adat Istiadat ? Sifat yang muncul dari hati

nurani manusia ? atau apakah ada istilah lainnya ?? Banyak orang kristen

menganggap kasih itu hanya Allah saja yang sanggup melakukannya , kita

tidak bisa karena dengan alasan kita penuh dengan kelemahan. Apakah

memang seperti demikian kenyataannya ? Bagaimana kita mempraktekan kasih itu setiap hari ? Dengan hanya ucapan sajakah ? perbuatankah ? Perbuatan yang bagaimana ? dengan uang ? bunga ? permen coklat , dll ?? Kita sudah punya iman, pengharapan … nah sekarang bagaimana kita melengkapinya dengan KASIH ?? Hari ini kita bukan hanya belajar tentang Kasih tetapi HARUS dan HARUS MeNGASIHI … ! AMIN

KASIH ITU PERINTAH !

Matius 22 : 37

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap

hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

KASIH itu Perintah / Keharusan ; dan bukan anjuran yang bisa kita lakukan

atau tidak. Kasih adalah Rambu Hidup yang memang harus kita taati. Kasih

itu adalah firman Allah sendiri, karakter Allah .

Perintah ini tidak dapat dilanggar Namun kenyataannya hal ini seringkali

kita langgar. Kalau tidak menguntungkan kita tidak melakukannya , kita tidak

perlu mengasihi ? Benarkah demikian ?

Kalau seandainya Kasih ini bukan perintah tapi ANJURAN, maka Tuhan

tidak akan mengambil tindakan mengasihi kita. Puji Tuhan Kasih itu bukan

anjuran, tetapi keharusan. Dan Tuhan SUDAH dan SEDANG melakukannya.

KASIH ITU PILIHAN PERTAMA & TERUTAMA

Galatia 5 : 14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”


TAAT ITU SEDERHANA

Rabu, 10 Agustus 2011 

Bacaan : Kejadian 3:1-10

3:1. Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,

3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

3:6. Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

3:8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

3:9. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”

3:10 Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

 

TAAT ITU SEDERHANA

Seorang anak dilarang makan permen oleh orangtuanya, karena sedang batuk. Namun ketika ia melihat satu stoples permen di meja makan yang warnanya begitu menarik, maka ia mulai tergoda. Ada keinginan untuk mengambil dan menikmati permen itu. Lalu ia teringat pada larangan orangtuanya. Hatinya bergumul. Ia tahu bahwa sebenarnya ia tidak boleh makan permen selama masih batuk, tetapi keinginannya untuk menikmati permen tersebut ternyata jauh lebih besar dari larangan orangtuanya. Akhirnya, ia lebih memilih keinginan hatinya.

Demikian juga dengan Hawa. Ia tahu bahwa buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, tidak boleh dimakan. Akan tetapi, godaan dan keinginan hatinya mengalahkan larangan tersebut. Ia melihat bahwa buah itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, apalagi buah itu akan memberi pengertian. Sungguh buah yang menarik hati. Dan, dari keinginan tersebut lahirlah perbuatan yang melanggar larangan Allah. Hingga jatuhlah Hawa ke dalam dosa karena ketidaktaatannya.

Sesungguhnya, ketaatan itu sederhana. Kita hanya diminta melakukan apa yang dikatakan Allah, tidak lebih dan tidak kurang. Namun, mengapa dalam kondisi tertentu kita sulit untuk taat? Sebenarnya yang sulit bukan perintah atau larangannya, tetapi mengendalikan keinginan hati kita. Keinginan hati yang bertentangan dengan perintah atau larangan Allah, bisa membuat kita merasa keberatan untuk taat. Mari terus kenali Tuhan dan segala kehendak-Nya, agar setiap keinginan hati kita semakin selaras dengan kerinduan-Nya –RY

KETAATAN ITU SEDERHANA SAJA:

LAKUKAN APA YANG ALLAH MINTA,

JAUHI APA YANG DIA LARANG

Dikutip : www.sabda.org

 

SAHABAT PALSU

Kamis, 17 Juni 2010

Bacaan : Yohanes 15: 9-16

15:9. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.

15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

SAHABAT PALSU

Budi dan Toni berteman baik. Kepada orang lain, Toni kerap mengaku sahabat Budi dan sering memuji Budi sebagai sahabat yang sangat baik. Anehnya, setiap kali Budi ingin berbicara dengan Toni, acap Toni menghindar dengan alasan sibuk. Ketika Budi meminta Toni melakukan sesuatu untuknya, Toni selalu menolak. Jadi, apakah mereka benar-benar bersahabat? Sepertinya tidak. Sahabat bukan sekadar seseorang yang mau mengakui atau memuji, tetapi yang bersedia untuk ada ketika sang sahabat memerlukannya.

Dalam Yohanes 15, Yesus berbicara tentang persahabatan. “Kamu adalah sahabat-Ku” (ayat 14). “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba _ tetapi _ sahabat” (ayat 15). Tak diragukan lagi, Kristus adalah Sahabat terbaik yang bisa kita miliki. Dia sudah membuktikan kasih-Nya. Dia memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya (ayat 13). Lalu, apa kita sudah menjadi sahabat yang baik bagi-Nya? Atau, selama ini kita hanya mengaku sahabat, tetapi tak pernah memberi waktu untuk berbicara dengan-Nya, meminta pendapat-Nya saat mengambil keputusan, atau melakukan apa yang membuat-Nya senang? Pedulikah kita pada hati Kristus yang menangis bagi jiwa yang terhilang? Pedulikah kita pada hal yang membuat Yesus sedih?

Pada ayat 14, Yesus berkata bahwa sebagai sahabat-Nya kita tak cukup hanya mengaku dan menyanyi bahwa Yesus adalah sahabat sejati. Sebagai sahabat-Nya, kita harus melakukan perintah-Nya, menghindari apa yang mendukakan-Nya, selalu setia kepada-Nya. Karena sahabat menaruh kasih setiap waktu, dalam kesesakan atau kesuksesan, waktu sehat atau sakit. Kristus mau menjadi sahabat Anda, maukah Anda menjadi sahabat-Nya? –GS

MEMILIKI KRISTUS SEBAGAI SAHABAT ADALAH

ANUGERAH TERBESAR

MENJADI SAHABAT KRISTUS ADALAH

KEHORMATAN TERBESAR

Sumber : www.sabda.org

TERGESA MEMBAWA CELAKA

Jumat, 8 Mei 2009

Bacaan : 1Samuel 13:1-14

13:1. Saul berumur sekian tahun ketika ia menjadi raja; dua tahun ia memerintah atas Israel.

13:2 Saul memilih tiga ribu orang dari antara orang Israel; dua ribu orang ada bersama-sama dengan Saul di Mikhmas dan di pegunungan Betel, sedang seribu orang ada bersama-sama dengan Yonatan di Gibea Benyamin, tetapi selebihnya dari rakyat itu disuruhnya pulang, masing-masing ke kemahnya.

13:3 Yonatan memukul kalah pasukan pendudukan orang Filistin yang ada di Geba; dan hal itu terdengar oleh orang Filistin. Karena itu Saul menyuruh meniup sangkakala di seluruh negeri, sebab pikirnya: “Biarlah orang Ibrani mendengarnya.”

13:4 Demikianlah seluruh orang Israel mendengar kabar, bahwa Saul telah memukul kalah pasukan pendudukan orang Filistin dan dengan demikian orang Israel dibenci oleh orang Filistin. Kemudian dikerahkanlah rakyat itu untuk mengikuti Saul ke Gilgal.

13:5 Adapun orang Filistin telah berkumpul untuk berperang melawan orang Israel. Dengan tiga ribu kereta, enam ribu orang pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki sebanyak pasir di tepi laut mereka bergerak maju dan berkemah di Mikhmas, di sebelah timur Bet-Awen.

13:6 Ketika dilihat orang-orang Israel, bahwa mereka terjepit–sebab rakyat memang terdesak–maka larilah rakyat bersembunyi di gua, keluk batu, bukit batu, liang batu dan perigi;

13:7 malah ada orang Ibrani yang menyeberangi arungan sungai Yordan menuju tanah Gad dan Gilead, sedang Saul masih di Gilgal dan seluruh rakyat mengikutinya dengan gemetar.

13:8. Ia menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia.

13:9 Sebab itu Saul berkata: “Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.” Lalu ia mempersembahkan korban bakaran.

13:10 Baru saja ia habis mempersembahkan korban bakaran, maka tampaklah Samuel datang. Saul pergi menyongsongnya untuk memberi salam kepadanya.

13:11 Tetapi kata Samuel: “Apa yang telah kauperbuat?” Jawab Saul: “Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas,

13:12 maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran.”

13:13 Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.

13:14 Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”

TERGESA MEMBAWA CELAKA

Alkisah pada masa Dinasti Song ada seorang petani yang tidak sabar. Ia merasa padi di sawahnya tumbuh sangat lambat. Akhirnya ia berpikir, “Jika saya menarik-narik padi itu ke atas, bukankah saya membantunya bertumbuh lebih cepat?” Lalu ia menarik-narik semua padinya. Sampai di rumah, dengan bangga ia bercerita kepada istrinya bahwa ia baru saja membantu padinya bertumbuh lebih cepat. Keesokan harinya ia pergi ke sawah dengan bersemangat, tetapi betapa kecewanya ia ketika melihat bahwa semua padi yang kemarin ditariknya ke atas sudah mati. Karena tidak sabar, “usahanya untuk membantu” malah membuatnya rugi besar.

Demikian pula dengan Saul, raja Israel. Sebelum Saul maju berperang ke Gilead melawan bangsa Filistin, Samuel sudah berpesan bahwa ia akan datang kepada Saul untuk mempersembahkan korban. Samuel meminta Saul menunggu ia datang untuk memberi instruksi (1 Samuel 10:8). Namun, Saul tidak mengindahkan perintah Samuel maupun hukum Tuhan. Ia tidak sabar menunggu Samuel. Ia lebih takut ditinggalkan rakyatnya daripada takut kepada Tuhan. Ketidaksabarannya membawa dampak yang fatal, Tuhan menolaknya sebagai raja (ayat 14).

Dalam hidup ini, kita juga acap kali tidak sabar menunggu waktu Tuhan. Ketika pertolongan Tuhan rasanya tak kunjung tiba, jangan tergesa mengambil jalan. Bukannya menyelesaikan masalah, malah kerap mendatangkan masalah baru yang lebih besar! Akar ketidaksabaran adalah tidak percaya. Jika kita sungguh-sungguh percaya Allah lebih dari mampu menolong, kita akan menanti Dia dengan sabar –GS

DALAM HIDUP ORANG YANG SABAR

SELALU ADA BANYAK KESEMPATAN UNTUK ALLAH BERKARYA