DOA PAGI

Jumat, 19 April 2013

Bacaan   : Mazmur 5:1-13

5:1. Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan suling. Mazmur Daud. (5-2) Berilah telinga kepada perkataanku, ya TUHAN, indahkanlah keluh kesahku.

5:2 (5-3) Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa.

5:3 (5-4) TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.

5:4 (5-5) Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu.

5:5 (5-6) Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu; Engkau membenci semua orang yang melakukan kejahatan.

5:6 (5-7) Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu.

 

5:7. (5-8) Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau.

5:8 (5-9) TUHAN, tuntunlah aku dalam keadilan-Mu karena seteruku; ratakanlah jalan-Mu di depanku.

5:9 (5-10) Sebab perkataan mereka tidak ada yang jujur, batin mereka penuh kebusukan, kerongkongan mereka seperti kubur ternganga, lidah mereka merayu-rayu.

5:10 (5-11) Biarlah mereka menanggung kesalahan mereka, ya Allah, biarlah mereka jatuh karena rancangannya sendiri; buanglah mereka karena banyaknya pelanggaran mereka, sebab mereka memberontak terhadap Engkau.

5:11 (5-12) Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; dan karena Engkau akan bersukaria orang-orang yang mengasihi nama-Mu.

5:12 (5-13) Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.

 

DOA PAGI

Sebelum mengawali kegiatan rutin harian, saya meluangkan waktu beberapa menit untuk bersaat teduh, membaca firman Tuhan, dan berdoa secara pribadi. Dimulai dengan doa ucapan syukur, membaca firman Tuhan, dan dilanjutkan dengan doa permohonan pribadi serta doa syafaat. Momen ini sangat berharga karena memungkinkan saya bebas berbicara kepada Tuhan. Mengungkapkan segala keinginan dan memohon petunjuk agar Tuhan menunjukkan jalan terbaik dalam melakukan aktivitas harian. Menjalaninya sekian lama, saya merasa ada sesuatu yang kurang bila pada pagi hari tidak melakukannya.

Pemazmur mengawali doa pagi dengan mengatur persembahan bagi Tuhan (ay. 4). Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk ucapan syukur atas perlindungan yang Tuhan berikan (ay. 12-13), yang membuat pemazmur bersukacita (ay. 12). Pemazmur tidak hidup sembrono, namun berupaya mengamalkan kebenaran. Ia menjauhi kejahatan, penipuan, dan penumpahan darah (ay. 6-7). Daud menyadari, ia mampu melakukannya karena Tuhan memberkati dan memagarinya dengan anugerah-Nya sebagaimana perisai melindungi seseorang dari senjata lawan (ay. 13).

Pemazmur menjalin komunikasi yang intim dengan Tuhan. Ketika berkomunikasi dengan Tuhan, kita leluasa untuk mengungkapkan keinginan hati kita. Semakin sering kita berkomunikasi dengan Tuhan, semakin paham kita akan kehendak Tuhan bagi kehidupan kita. Dan oleh limpahan anugerah-Nya, kita akan dimampukan untuk melakukan kehendak-Nya tersebut dalam hidup kita. –WB

TUHAN BUKAN HANYA MENYATAKAN KEHENDAK-NYA BAGI KITA,

 NAMUN JUGA MELIMPAHKAN ANUGERAH-NYA UNTUK MEMAMPUKAN KITA.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Iklan

DITOPANG KESETIAAN

Sabtu, 20 Oktober 2012

Bacaan : Mazmur 91

91:1. Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa

91:2 akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

91:3 Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.

91:4 Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.

91:5 Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang,

91:6 terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.

91:7 Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.

91:8 Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik.

 

91:9. Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu,

91:10 malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu;

91:11 sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.

91:12 Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.

91:13 Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga.

91:14 “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.

91:15 Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.

91:16 Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.”

 

DITOPANG KESETIAAN

Karena tuntutan kerja, pasangan suami-isteri Robert dan Tiur sering harus bertugas di kota yang berbeda. Pernah teman Tiur berkomentar, “Tidak khawatir Robert mendapat godaan? Atau kamu yang tergoda?” Tiur tergelak. Pernikahan mereka kini sudah bertahan lebih dari 40 tahun. Rahasianya? “Kepercayaan itu kan bukan untuk diselewengkan, melainkan dipelihara. Jadi, meskipun sering berjauhan, kami tetap terbuka dan merawat kepercayaan satu sama lain, ” kata Tiur. Sebuah potret indah tentang kesetiaan

Kesetiaan, dalam bahasa Ibrani berarti sesuatu yang kokoh, teguh, pasti, dapat diandalkan. Itulah sebabnya, pemazmur menggambarkan kesetiaan Allah sebagai perisai dan pagar tembok, perlindungan yang tahan guncangan, sanggup menangkis berbagai serangan, dan mampu meluputkannya dari ancaman bahaya (ayat 4). Dalam perlindungan kesetiaan Allah, ia menemukan rasa aman yang sejati: bahwa Dia tidak berubah dan janji pemeliharaan-Nya dapat dipercaya (ayat 1-2, 9-11). Kesetiaan adalah karakter Allah sendiri yang terus-menerus menopang alam semesta

Bukan hanya Allah itu setia, Dia juga berkenan menjadikan kita orang-orang yang memiliki kesetiaan (Galatia 5:22). Sudahkah buah Roh Kudus ini kita miliki? Dia ingin kita mencerminkan kesetiaan-Nya. Sebagai orang percaya, kita digambarkan sebagai mempelai perempuan Kristus, dan Kristus adalah mempelai laki-laki yang setia. Makin teguh pengertian kita akan kesetiaan-Nya, makin kuat motivasi kita untuk setia baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama. –ARS

KESETIAAN ADALAH KARAKTER ALLAH

DAN SEHARUSNYA JUGA MENJADI KARAKTER KITA

Dikutip : www.sabda.org

MANDIRI ATAU BERGANTUNG?

Kamis, 5 Juli 2012

Bacaan : 2 Samuel 22

22:1. Daud mengatakan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul.

22:2. Ia berkata: “Ya, TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku,

22:3 Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.

22:4 Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku.

22:5 Sesungguhnya gelora-gelora maut telah mengelilingi aku, banjir-banjir jahanam telah menimpa aku,

22:6 tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku.

22:7 Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berseru. Dan Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong masuk ke telinga-Nya.

22:8 Lalu bergoyang dan bergoncanglah bumi, dasar-dasar langit gemetar dan bergoyang, oleh karena bernyala-nyala murka-Nya.

22:9 Asap membubung dari hidung-Nya, api menjilat keluar dari mulut-Nya, bara menyala keluar dari pada-Nya.

22:10 Ia menekukkan langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya.

22:11 Ia mengendarai kerub, lalu terbang, dan tampak di atas sayap angin.

22:12 Dan Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi pondok-Nya: air hujan yang gelap, awan yang tebal.

22:13 Karena sinar kilat di hadapan-Nya bara api menjadi menyala.

22:14 TUHAN mengguntur dari langit, Yang Mahatinggi memperdengarkan suara-Nya.

22:15 Dilepaskan-Nya panah-panah, sehingga diserakkan-Nya mereka, yakni kilat-kilat, sehingga dikacaukan-Nya mereka.

22:16 Lalu kelihatanlah dasar-dasar laut, alas-alas dunia tersingkap karena hardikan TUHAN karena hembusan nafas dari hidung-Nya.

22:17 Ia menjangkau dari tempat tinggi, mengambil aku, menarik aku dari banjir.

22:18 Ia melepaskan aku dari musuhku yang gagah, dari pada orang-orang yang membenci aku, karena mereka terlalu kuat bagiku.

22:19 Mereka menghadang aku pada hari sialku, tetapi TUHAN adalah sandaran bagiku;

22:20 Ia membawa aku keluar ke tempat lapang, Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku.

22:21 TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku; Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku,

22:22 sebab aku tetap mengikuti jalan TUHAN dan tidak menjauhkan diri dari Allahku sebagai orang fasik.

22:23 Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan dari ketetapan-Nya aku tidak menyimpang;

22:24 aku berlaku tidak bercela kepada-Nya dan menjaga diri terhadap kesalahan.

22:25 Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucianku di depan mata-Nya.

22:26 Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,

22:27 terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.

22:28 Bangsa yang tertindas Engkau selamatkan, tetapi mata-Mu melawan orang-orang yang tinggi hati, supaya mereka Kaurendahkan.

22:29 Karena Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku.

22:30 Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dengan Allahku aku berani melompati tembok.

22:31 Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.

22:32 Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu selain dari Allah kita?

22:33 Allah, Dialah yang menjadi tempat pengungsianku yang kuat dan membuat jalanku rata;

22:34 yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit;

22:35 yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melengkungkan busur tembaga.

22:36 Juga Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, dan kebaikan-Mu telah membuat aku besar.

22:37 Kauberikan tempat lapang untuk langkahku, dan mata kakiku tidak goyah.

22:38 Aku mengejar musuhku sampai mereka kupunahkan, dan tidak berbalik sebelum mereka kuhabiskan;

22:39 aku menghabiskan dan meremukkan mereka, sehingga mereka tidak bangkit lagi, dan mereka rebah di bawah kakiku.

22:40 Engkau telah mengikat pinggangku dengan keperkasaan untuk berperang, Engkau tundukkan ke bawah kuasaku orang yang bangkit melawan aku.

22:41 Kaubuat musuhku lari dari padaku, orang-orang yang membenci aku, mereka kubinasakan.

22:42 Mereka berteriak minta tolong, tetapi tidak ada yang menyelamatkan, mereka berteriak kepada TUHAN, tetapi Ia tidak menjawab mereka.

22:43 Aku menggiling mereka halus-halus seperti debu tanah, aku menumbuk mereka dan menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan.

22:44 Dan Engkau meluputkan aku dari perbantahan bangsaku; Engkau memelihara aku sebagai kepala atas bangsa-bangsa; bangsa yang tidak kukenal menjadi hambaku;

22:45 orang-orang asing tunduk menjilat kepadaku, baru saja telinga mereka mendengar, mereka taat kepadaku.

22:46 Orang-orang asing pucat layu dan keluar dari kota kubunya dengan gemetar.

22:47 TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan ditinggikanlah kiranya Allah gunung batu keselamatanku,

22:48 Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang telah membawa bangsa-bangsa ke bawah kuasaku,

22:49 dan yang telah membebaskan aku dari pada musuhku. Dan Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau telah melepaskan aku dari para penindas.

22:50 Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu, ya TUHAN, di antara bangsa-bangsa, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.

22:51 Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan anak cucunya untuk selamanya.” 22:1. Daud mengatakan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul.

 

22:2. Ia berkata: “Ya, TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku,

22:3 Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.

22:4 Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku.

22:5 Sesungguhnya gelora-gelora maut telah mengelilingi aku, banjir-banjir jahanam telah menimpa aku,

22:6 tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku.

22:7 Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berseru. Dan Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong masuk ke telinga-Nya.

22:8 Lalu bergoyang dan bergoncanglah bumi, dasar-dasar langit gemetar dan bergoyang, oleh karena bernyala-nyala murka-Nya.

22:9 Asap membubung dari hidung-Nya, api menjilat keluar dari mulut-Nya, bara menyala keluar dari pada-Nya.

22:10 Ia menekukkan langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya.

22:11 Ia mengendarai kerub, lalu terbang, dan tampak di atas sayap angin.

22:12 Dan Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi pondok-Nya: air hujan yang gelap, awan yang tebal.

22:13 Karena sinar kilat di hadapan-Nya bara api menjadi menyala.

22:14 TUHAN mengguntur dari langit, Yang Mahatinggi memperdengarkan suara-Nya.

22:15 Dilepaskan-Nya panah-panah, sehingga diserakkan-Nya mereka, yakni kilat-kilat, sehingga dikacaukan-Nya mereka.

22:16 Lalu kelihatanlah dasar-dasar laut, alas-alas dunia tersingkap karena hardikan TUHAN karena hembusan nafas dari hidung-Nya.

22:17 Ia menjangkau dari tempat tinggi, mengambil aku, menarik aku dari banjir.

22:18 Ia melepaskan aku dari musuhku yang gagah, dari pada orang-orang yang membenci aku, karena mereka terlalu kuat bagiku.

22:19 Mereka menghadang aku pada hari sialku, tetapi TUHAN adalah sandaran bagiku;

22:20 Ia membawa aku keluar ke tempat lapang, Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku.

22:21 TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku; Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku,

22:22 sebab aku tetap mengikuti jalan TUHAN dan tidak menjauhkan diri dari Allahku sebagai orang fasik.

22:23 Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan dari ketetapan-Nya aku tidak menyimpang;

22:24 aku berlaku tidak bercela kepada-Nya dan menjaga diri terhadap kesalahan.

22:25 Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucianku di depan mata-Nya.

22:26 Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,

22:27 terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.

22:28 Bangsa yang tertindas Engkau selamatkan, tetapi mata-Mu melawan orang-orang yang tinggi hati, supaya mereka Kaurendahkan.

22:29 Karena Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku.

22:30 Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dengan Allahku aku berani melompati tembok.

22:31 Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.

22:32 Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu selain dari Allah kita?

22:33 Allah, Dialah yang menjadi tempat pengungsianku yang kuat dan membuat jalanku rata;

22:34 yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit;

22:35 yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melengkungkan busur tembaga.

22:36 Juga Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, dan kebaikan-Mu telah membuat aku besar.

22:37 Kauberikan tempat lapang untuk langkahku, dan mata kakiku tidak goyah.

22:38 Aku mengejar musuhku sampai mereka kupunahkan, dan tidak berbalik sebelum mereka kuhabiskan;

22:39 aku menghabiskan dan meremukkan mereka, sehingga mereka tidak bangkit lagi, dan mereka rebah di bawah kakiku.

22:40 Engkau telah mengikat pinggangku dengan keperkasaan untuk berperang, Engkau tundukkan ke bawah kuasaku orang yang bangkit melawan aku.

22:41 Kaubuat musuhku lari dari padaku, orang-orang yang membenci aku, mereka kubinasakan.

22:42 Mereka berteriak minta tolong, tetapi tidak ada yang menyelamatkan, mereka berteriak kepada TUHAN, tetapi Ia tidak menjawab mereka.

22:43 Aku menggiling mereka halus-halus seperti debu tanah, aku menumbuk mereka dan menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan.

22:44 Dan Engkau meluputkan aku dari perbantahan bangsaku; Engkau memelihara aku sebagai kepala atas bangsa-bangsa; bangsa yang tidak kukenal menjadi hambaku;

22:45 orang-orang asing tunduk menjilat kepadaku, baru saja telinga mereka mendengar, mereka taat kepadaku.

22:46 Orang-orang asing pucat layu dan keluar dari kota kubunya dengan gemetar.

22:47 TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan ditinggikanlah kiranya Allah gunung batu keselamatanku,

22:48 Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang telah membawa bangsa-bangsa ke bawah kuasaku,

22:49 dan yang telah membebaskan aku dari pada musuhku. Dan Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau telah melepaskan aku dari para penindas.

22:50 Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu, ya TUHAN, di antara bangsa-bangsa, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.

22:51 Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan anak cucunya untuk selamanya.”

 

MANDIRI ATAU BERGANTUNG?

Hari itu tak seperti biasanya. Sam kecil berlari dengan air mata berderai saat kami muncul di kelompok bermainnya. Ia mendekap erat ayahnya. Rupanya, seorang teman telah merebut pisangnya. Ia meminta sang ayah mengambilnya kembali. Ia tahu kepada siapa ia mendapatkan rasa aman dan pertolongan.

Daud mengalami Tuhan yang melepaskannya dari musuhserta dari tangan Saul. Bagian firman Tuhan yang kita baca ialah gelora syukur yang memenuhi hati Daud, yang kemudian digubah dalam Mazmur 18. Pengalamannya dengan Tuhan memperdalam pengenalannya akan Dia, tempat berlindung yang dapat diandalkan (ayat 2-3). Saat dalam kesesakan dan sepertinya tak ada jalan keluar, Daud berseru kepada Tuhan (ayat 6-7). Sebagaimana Daud, tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham, Musa, Yosua, Daniel, Nehemia, Maria, dan Paulus dicirikan dengan kebergantungan mereka yang radikal kepada Tuhan.

Sebagaimana seorang balita bergantung pada ayah dan ibunya dalam segala hal, kita juga bergantung pada Tuhan dalam segala sesuatu. Beberapa orang berpikir bahwa kita seharusnya bertumbuh dari “masa balita” dalam hal kebergantungan pada Tuhan ini, menjadi lebih mandiri. Kebenarannya adalah bahwa kita selalu memerlukan Tuhan. Kita mengawali kehidupan kristiani dengan kebergantungan pada kasih karunia yang tidak layak kita terima. Kita juga melanjutkan kehidupan kristiani dengan kebergantungan pada Tuhan yang terus berkarya memulihkan, memimpin, mengasihi, menyediakan, memuaskan, dan memindahkan gunung. Ketika kita bergantung pada Tuhan, kita akan mendapati Dia dapat diandalkan dan bersuka memuliakan-Nya. –SWS

TUHAN DIMULIAKAN

KETIKA KITA MENARUH KEBERGANTUNGAN KITA

SECARA PENUH KEPADA-NYA.

RINDU YANG SEHARUSNYA

Senin, 02 Januari 2012

Bacaan : Mazmur 84:1-13

84:1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah. (84-2) Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!

84:2 (84-3) Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.

84:3 (84-4) Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku!

84:4 (84-5) Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela

84:5 (84-6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!

84:6 (84-7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.

84:7 (84-8) Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.

84:8. (84-9) Ya TUHAN, Allah semesta alam, dengarkanlah doaku, pasanglah telinga, ya Allah Yakub. Sela

84:9 (84-10) Lihatlah perisai kami, ya Allah, pandanglah wajah orang yang Kauurapi!

84:10 (84-11) Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.

84:11 (84-12) Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.

84:12 (84-13) Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu!

RINDU YANG SEHARUSNYA

Doug Banister dalam bukunya, Sacred Quest, bertanya: Beranikah saya berharap bahwa saya memiliki hubungan yang demikian dekatnya dengan Tuhan sehingga hati saya diisi dengan visi baru, dan keagamaan kering saya menjadi sebuah pencarian dengan hasrat yang kuat, serta penyembahan kepada Kristus yang hidup? Dapatkah saya benar- benar bertemu Kristus dengan keakraban yang membuat saya tidak lagi menelusuri tempat-tempat kecanduan saya? Dapatkah Yesus benar-benar menyentuh kesepian hati saya? Apakah ini sesuatu yang terlalu besar untuk diharapkan?

Mazmur ini menjawab: Tidak, justru itu yang seharusnya diharapkan tiap orang percaya! Seperti kerinduan pemazmur yang menggelegak, mengisi daging, jiwa, dan hatinya untuk berada dekat dengan Tuhan (ayat 2-5). Kemungkinan besar mazmur ini dinyanyikan dalam perjalanan ziarah orang Israel ke Bait Allah di Yerusalem. Hasrat akan keintiman dengan Tuhan mendorong mereka memulai perjalanan panjang tersebut (ayat 6-7). Makin lama, makin dekat dan kuat (ayat 8). Perjumpaan dengan Tuhan jauh lebih berharga dibanding hal-hal lainnya (ayat 11).

Bukankah hidup kita di dunia juga adalah sebuah perjalanan ziarah untuk mencari dan menemukan sukacita terbesar di dalam Tuhan? Adakah perjumpaan dengan Tuhan menjadi harapan yang menggelorakan hati kita? Mari bangkit dari kedangkalan rohani menuju persekutuan yang sejati dan penuh dengan Tuhan. Bawalah tiap pembaruan yang Anda rindukan terjadi dalam hubungan pribadi dengan Tuhan di tahun yang baru ini kepada-Nya –JOO

BANYAK HAL YANG BISA MENCOBA MENGISI KEKOSONGAN HATI INI

NAMUN, APA YANG DAPAT MEMUASKANNYA SELAIN HADIR-MU, TUHAN?

Dikutip : www.sabda.org

TULUS DAN BENAR

Kamis, 30 Desember 2010

Bacaan : Mazmur 7:1-15

1Nyanyian ratapan Daud, yang dinyanyikan untuk TUHAN karena Kush, orang Benyamin itu. (7-2) Ya TUHAN, Allahku, pada-Mu aku berlindung; selamatkanlah aku dari semua orang yang mengejar aku dan lepaskanlah aku,

2(7-3) supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan.

3(7-4) Ya TUHAN, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku,

4(7-5) jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya,

5(7-6) maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu. Sela

6(7-7) Bangkitlah, TUHAN, dalam murka-Mu, berdirilah menghadapi geram orang-orang yang melawan aku, bangunlah untukku, ya Engkau yang telah memerintahkan penghakiman!

7(7-8) Biarlah bangsa-bangsa berkumpul mengelilingi Engkau, dan bertakhtalah di atas mereka di tempat yang tinggi.

8(7-9) TUHAN mengadili bangsa-bangsa. Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas.

9(7-10) Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.

10(7-11) Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati;

11(7-12) Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.

12(7-13) Sungguh, kembali ia mengasah pedangnya, melentur busurnya dan membidik.

13(7-14) Terhadap dirinya ia mempersiapkan senjata-senjata yang mematikan, dan membuat anak panahnya menjadi menyala.

14(7-15) Sesungguhnya, orang itu hamil dengan kejahatan, ia mengandung kelaliman dan melahirkan dusta.

15(7-16) Ia membuat lobang dan menggalinya, tetapi ia sendiri jatuh ke dalam pelubang yang dibuatnya.

TULUS DAN BENAR

Almarhum penyair W.S. Rendra pernah menulis kalimat tajam yang berbunyi, “Kalian boleh saja berjaya dalam kehidupan, namun apakah kalian tidak takut menghadapi kematian kalau batinmu telah sering tak kau hormati”. Sebuah pernyataan yang menempelak kita, orang-orang yang kerap tidak peduli pada hati yang semestinya dijaga tetap bersih-menjalankan nilai-nilai kebenaran dan integritas dalam kehidupan sesehari.

Demikian juga dengan pemazmur. Ia adalah orang yang berusaha hidup benar dan tulus. Ia menjaganya sedemikian rupa, sehingga ia berani diperiksa oleh Tuhan sendiri:” Hakimilah aku, Tuhan, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas” (ayat 9). Ini bukan merupakan bentuk kesombongan rohani. Bagi sang penulis mazmur, ungkapannya itu adalah bentuk keterbukaan sekaligus kesediaannya untuk diselidiki sungguh-sungguh oleh Tuhan. Mengapa ia begitu berani? Sebab ia mengimani Tuhan sebagai Allah yang adil dan dalam keadilan-Nya itulah, Dia akan menguji hati seseorang (ayat 10). Dan, ketika Tuhan tengah menyelidiki hati seseorang, siapa pun tak dapat berdalih macam-macam, beralasan beribu rupa, atau melakukan tipu muslihat. Tidak! Sebagaimana pemazmur, yang mesti kita lakukan adalah menjaga hati tetap tulus dan bertindak benar (ayat 9, 11).

Suatu saat, hidup kita pasti akan berakhir. Akan tetapi, selagi masih ada waktu, biarlah dalam hidup ini kita selalu bekerja dan bertindak dengan ketulusan dan kebenaran-dalam hal apa pun. Supaya jika tiba saatnya kematian kelak menjemput, kita tak takut –DKL

HIDUP TULUS DAN BENAR, BISA DIANGGAP MERUGIKAN

NAMUN SUNGGUH MERUPAKAN SUMBER KETENANGAN

Sumber : www.sabda.org

KU TAK KAN MENYERAH

Senin, 11 Oktober 2010

Bacaan : Mazmur 28:6-9

28:6. Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku.

28:7 TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.

28:8 TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya!

28:9 Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya.

KU TAK KAN MENYERAH

Suatu hari saya mengamati sebuah pohon. Daunnya hijau, segar. Daun-daun itu bertumbuh: makin lebar, makin panjang, makin tua. Ada yang mengilap, ada yang berlubang, tetapi masih terus bertumbuh. Pengamatan ini ternyata sangat bermakna bagi saya. Bukankah hidup iman kita mirip daun-daun itu? Selama kita melekat kepada Kristus, kita bagai daun yang bertumbuh dan mendapat makanan dari pohonnya. Namun, apabila kita menjauh dari-Nya, maka kita bagai daun yang dipetik lepas dari pohon. Mungkin masih terlihat hijau, tetapi sudah tak ada pertumbuhan, dan tak lama lagi akan mati.

Daud, meskipun beberapa kali mengalami kegagalan dalam hidupnya, tetap berusaha untuk kembali melekat kepada Tuhan. Ketika ia harus menghadapi pengalaman yang berat dan sulit, salah satunya saat ia dikejar-kejar Saul dan pasukannya, Daud mengungkap bahwa kekuatan sejatinya ialah Tuhan (ayat 7). Ia mengaku bahwa tanpa Tuhan, ia tidak akan kuat menanggung persoalan-persoalan di hadapannya. Daud tidak memiliki banyak senjata, tetapi Tuhanlah yang menjadi perisainya. Tanpa Tuhan, tidak ada yang sanggup melindunginya dari serangan musuh. Daud terus berjuang. Dan, ia tidak menyerah sebab ia tahu kekuatannya ada pada Tuhan (ayat 8).

Bagaimana dengan kita? Apabila ada persoalan berat di depan kita, apa yang menjadi kekuatan atau senjata kita? Apabila akhirnya kekayaan, kesehatan, kedudukan, kemampuan istimewa, dan hal-hal lain yang terbatas tak lagi mampu menolong kita, jangan menyerah. Selama kita terus melekat pada Kristus, Dia ada dan patut kita andalkan –HA

KRISTUS MENEBUS KITA DENGAN MENCUCURKAN DARAH

AGAR KITA TAK MENJADI ORANG YANG MUDAH MENYERAH

Sumber : www.sabda.org

CINTA DAN KOMITMEN

Sabtu, 24 April 2010

Bacaan : Amsal 3:3-4
3:3 (3-4) Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.

3:4. (3-5) Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela

CINTA DAN KOMITMEN

Tinul, seorang penyanyi sekaligus bintang film, bercerai dari suaminya. Ketika beberapa wartawan infotainment menanyainya, apa yang menyebabkan ia dan suaminya mengambil keputusan bercerai, Tinul menjawab, “Kami sudah tidak saling mencintai. Jadi ya, tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, ” sambil mengangkat bahu.

Begitulah kalau relasi suami istri hanya didasarkan pada rasa cinta, tidak akan langgeng. Itulah sebabnya dalam pernikahan kristiani, hal komitmen juga selalu ditekankan. Komitmen, yaitu ketika keduanya berikrar bersama: akan tetap setia dan mengasihi dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam suka dan duka, sehat dan sakit, sampai kematian memisahkan.

Cinta dan komitmen ibarat dua sisi pada satu mata uang yang sama; tidak dapat dipisahkan; yang satu tidak lengkap tanpa yang lain. Cinta tanpa komitmen akan rapuh. Sebab yang namanya cinta, seperti juga perasaan lain dalam diri manusia, tidak selalu tetap, ada pasang surutnya. Sebaliknya komitmen tanpa cinta juga hambar, relasi suami dan istri akan dirasakan sebagai kewajiban belaka. Karena itu, seperti yang dikatakan dalam bacaan Alkitab hari ini, “Janganlah kiranya kasih dan setia-cinta dan komitmen- meninggalkan engkau” (ayat 3).

Cinta dan komitmen bisa saling menjaga. Ketika cinta surut, komitmen akan menggelorakannya kembali. Dan ketika komitmen melonggar, cinta akan meneguhkannya lagi. Jadi, kalau sekarang cinta Anda terhadap pasangan sedang surut, jangan menyerah, kembalilah kepada komitmen awal. Sebaliknya kalau komitmen Anda menyusut, berpalinglah kepada cinta Anda yang mula-mula. Ingat, ia adalah belahan jiwa Anda –AYA

PERPADUAN CINTA DAN KOMITMEN

AKAN MENJADI FONDASI YANG KOKOH BAGI SEBUAH RELASI

Sumber : www.sabda.org