BODOH DI MATA TUHAN

Sabtu, 21 Juli 2012

Bacaan : 2 Tawarikh 16:1-14

16:1. Pada tahun ketiga puluh enam pemerintahan Asa majulah Baesa, raja Israel, hendak berperang melawan Yehuda. Ia memperkuat Rama dengan maksud mencegah lalu lintas kepada Asa, raja Yehuda.

16:2 Lalu Asa mengeluarkan emas dan perak dari perbendaharaan rumah TUHAN dan dari perbendaharaan rumah raja dan mengirimnya kepada Benhadad, raja Aram yang diam di Damsyik dengan pesan:

16:3 “Ada perjanjian antara aku dan engkau, antara ayahku dan ayahmu. Ini kukirim emas dan perak kepadamu. Marilah, batalkanlah perjanjianmu dengan Baesa, raja Israel, supaya ia undur dari padaku.”

16:4 Lalu Benhadad mendengarkan permintaan raja Asa; ia menyuruh panglima-panglimanya menyerang kota-kota Israel. Dan mereka memukul kalah Iyon, Dan, Abel-Maim dan segala tempat perbekalan kota-kota di Naftali.

16:5 Segera sesudah Baesa mendengar hal itu, ia berhenti memperkuat Rama; ia menghentikan usahanya itu.

16:6 Tetapi raja Asa mengerahkan segenap orang Yehuda, yang harus mengangkat batu dan kayu yang dipergunakan Baesa untuk memperkuat Rama itu. Ia mempergunakannya untuk memperkuat Geba dan Mizpa.

 

16:7. Pada waktu itu datanglah Hanani, pelihat itu, kepada Asa, raja Yehuda, katanya kepadanya: “Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu.

16:8 Bukankah tentara orang Etiopia dan Libia besar jumlahnya, kereta dan orang berkudanya sangat banyak? Namun TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, karena engkau bersandar kepada-Nya.

16:9 Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan.”

16:10 Maka sakit hatilah Asa karena perkataan pelihat itu, sehingga ia memasukkannya ke dalam penjara, sebab memang ia sangat marah terhadap dia karena perkara itu. Pada waktu itu Asa menganiaya juga beberapa orang dari rakyat.

16:11 Sesungguhnya riwayat Asa dari awal sampai akhir tertulis dalam kitab raja-raja Yehuda dan Israel.

16:12 Pada tahun ketiga puluh sembilan pemerintahannya Asa menderita sakit pada kakinya yang kemudian menjadi semakin parah. Namun dalam kesakitannya itu ia tidak mencari pertolongan TUHAN, tetapi pertolongan tabib-tabib.

16:13 Kemudian Asa mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya. Ia mati pada tahun keempat puluh satu pemerintahannya,

16:14 dan dikuburkan di kuburan yang telah digali baginya di kota Daud. Mereka membaringkannya di atas petiduran yang penuh dengan rempah-rempah dan segala macam rempah-rempah campuran yang dicampur menurut cara pencampur rempah-rempah, lalu menyalakan api yang sangat besar untuk menghormatinya.

 

BODOH DI MATA TUHAN

Kisah Raja Asa sangat menarik untuk dicermati. Dalam dua pasal sebelumnya kita membaca riwayat hidupnya yang benar di hadapan Tuhan. Sebab itu, ia dikaruniai kemenangan atas musuh serta keamanan di seluruh penjuru negeri yang dipimpinnya. Namun, pasal yang kita baca hari ini memperlihatkan “kegagalan” Asa. Mengapa bisa gagal? Bukankah sebelumnya dicatat bahwa hati Asa tulus ikhlas di hadapan Tuhan?

Kegagalan Asa tampaknya sepele. Bahkan, di mata manusia, kelihatannya ia pintar. Ia tak mau repot menghadapi musuh, jadi ia bernegosiasi dengan raja Aram untuk melakukannya. Musuhnya mundur dan Asa beroleh banyak bahan bangunan untuk memperkuat kota-kota pertahanannya. Taktik yang cerdik bukan? Namun, Tuhan menyebutnya “bodoh” (ayat 9). Dulu, Asa mengandalkan Tuhan saat menghadapi musuh yang jauh lebih besar (ayat 8). Kini, ia menggunakan perbendaharaan rumah Tuhan untuk membeli pertolongan manusia (ayat 2). Ketika ditegur, Asa sakit hati. Mungkin ia merasa telah giat bagi Tuhan di masa lalu. Masakan sekarang Tuhan tega menghukumnya? Bukannya berbalik pada Tuhan, ia mengulangi kebodohan yang sama saat sakit melanda. Ia tidak mencari pertolongan Tuhan, tetapi manusia (ayat 12). Menyedihkan.

Kehidupan Asa cermin bagi kita semua. Mengandalkan Tuhan jangan sampai hanya menjadi kisah masa lalu yang indah. Mari berharap kepada-Nya selalu, bahkan dalam hal-hal paling sepele sekalipun. Jika Tuhan sedang menegur kita karena hal-hal “bodoh” yang kita lakukan, biarlah kita tidak menjadi pahit dan menjauhi pertolongan-Nya. Datanglah kepada-Nya dengan hati yang hancur, dan mohonlah pembentukan-Nya agar kita dapat kembali hidup berkenan kepada-Nya. –ATA

GIAT BAGI TUHAN TAK BERARTI JIKA ABAIKAN DIA DENGAN ANDALKAN MANUSIA.

PERTAMBAHAN

PERTAMBAHAN          

Shalom..salam miracle

Jemaat yang dikasihi Tuhan di bulan Mei 2012, gereja kita mendapatkan tema KEBAHAGIAAN, dan pada kenyataannya, banyak di antara kita yang menyaksikan tentang pemahaman kebahagiaan dan mendapatkannya, terlebih kita melakukan ibadah pencurahan Roh Kudus selama 10 hari. Kebahagiaan itu semakin dirasakan setiap kita yang bisa menangkap pesan tersebut.

Diakhir bulan Mei, dalam pertemuan ibadah doa malam, saya sampaikan bahwa bulan Juni 2012 merupakan bulan PERTAMBAHAN. Mari kita membaca Kisah Para Rasul 6:7-8 “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak, juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya. Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda diantara orang banyak.” Dari ayat ini, kita ketahui bahwa jemaat mula-mula di Yerusalem mengalami pertambahan jumlah (kuantitatif) artinya secara korporat mereka makin bertambah kebersamaan, kesehatian, bertambah baik dalam kekeluargaan, bertambah sumber daya dan kemampuan, sehingga semakin menarik perhatian banyak pihak.

Dari perkembangan jemaat mula-mula tersebut, kekeristenan semakin maju sampai sekarang ini. Jadi jemaat mula-mula setelah menerima pencurahan Roh Kudus (Pentakosta) semakin hari semakin menjadi berkat dan bertambah-tambah jumlahnya karena Tuhan yang menambahkannya, kita juga merindukan ada PERTAMBAHAN dari segi kuantitas, namun kiranya Tuhan sendiri yang menambahkannya. Menjadi tanggungjawab kita untuk senantiasa mendapatkan perkenanan dari Tuhan, sebab kita tahu dengan perkenanan Tuhan, maka Tuhan yang menambah-nambahkannya. Kunci utama untuk mendapatkan perkenanan Tuhan adalah ketika didiami dan dipakai oleh Roh Kudus, untuk itu ijinkan Roh Kudus senantiasa memenuhi kebutuhan saudara. Selain mendapatkan pertambahan kuantitas, mereka juga mengalami pertambahan kualitas, diwakili oleh Stefanus, yang semula bukan bagian dari Rasul-rasul atau 12 murid Tuhan, tetapi ketika diurapi Roh Kudus, maka kehidupannya semakin luar biasa yakni dengan bertambahnya KARUNIA dan KUASA.

KARUNIA merupakan pemberian Allah (Cuma-Cuma) kepada umat-Nya yang berkenan. Dari hal itu, kehidupan Stefanus mendapatkan pelbagai kecakapan, kemampuan, keahlian dan sebagainya, sehingga sangat bermanfaat bagi masyarakat ketika itu khususnya kepada jemaat mula-mula. Baik tua maupun muda senantiasa menantikan kecakapan Stefanus untuk dapat membantu mereka, itulah karunia yang semakin ditambahkan oleh Tuhan. Dalam gereja kita juga sangat memerlukan pelbagai macam-macam karunia, sehingga semakin lengkap dalam gereja ini. Setiap jemaat merindukan untuk mendapatkan pertambahan karunia-karunia, dengan hal itu semakin melengkapi pelayanan, dengan tujuan utama segalanya kemuliaan bagi Allah.

Berikutnya Stefanus juga mengalami pertambahan KUASA. Apa yang dilakukan oleh ROH KUDUS kepada rasul-rasul, juga terjadi dalam kehidupan Stefanus, dia melakukan banyak mujizat-mujizat dan tanda-tanda. Bisa kita telaah bahwa Stefanus juga dipakai untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kerasukan setan, terbelunggu kuasa kegelapan. Hal itu sekali lagi kuncinya adalah Roh Kudus. Gereja kita juga merindukan banyak diantara jemaat yang dipenuhi dengan kuasa Allah. Menurut kamus bahasa Indonesia, kuasa adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu dan wewenang atas sesuatu, juga memerintah. Mereka mendapatkan pertambahan kualitas. Jadi mendapatkan pertambahan kuantitas dan kualitas.

Bagaimana dapat memperoleh PERTAMBAHAN?

Yohanes 7:38 “Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” Setiap orang percaya  yang mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat maka Roh Kudus masuk dalam kehidupannya dan apabila seseorang semakin terbuka untuk karya Roh Kudus, maka Dia semakin mencurahkan/mengalirkan deras Roh Kudus, sehingga semakin dipenuhi, maka kehidupan orang percaya tersebut akan mengalirkan aliran-aliran air hidup. Menjadi berkat bagi orang lain, semakin mengasihi orang lain, semakin menunjukkan buah-buah dari Allah.

Dalam Mazmur 1:3 dikatakan “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Setiap tanah dan tanaman yang ditanam dan mendapatkan kecukupan kebutuhan air, maka tanah tersebut akan menjadi subur begitu pula tanamannya dan menghasilkan buah yang baik. Begitu pula dalam hal kekristenan, akan semakin berbuah dan buahnya baik, apabila mendapatkan aliran Roh Kudus senantiasa. Menjadi perenungan kita, apakah kita sudah mendapatkan kecukupan AIR HIDUP? Apakah kita sudah menghasilkan buah? Apakah buah Roh itu ada dalam kehidupan kita?.

Kiranya bulan Juni ini setiap jemaat mengalami PERTAMBAHAN sesuai dengan kebutuhan pribadi dalam hal mana mendapatkannya, dan juga sesuai dengan iman percayanya.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien.


INTEGRITAS SEORANG PELAYAN

Sabtu, 25 Februari 2012

Bacaan : 2 Korintus 6:1-10

6:1. Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.

6:2 Sebab Allah berfirman: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.

6:3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.

6:4 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,

6:5 dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa;

6:6 dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;

6:7 dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela

6:8 ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai,

6:9 sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati;

6:10 sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

INTEGRITAS SEORANG PELAYAN

Integritas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah “mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran”. Apabila disederhanakan, kurang lebih demikian artinya: apa yang kita pikirkan harus sama dengan kita katakan dan apa yang kita katakan harus sama dengan tindakan yang kita lakukan; di mana pun; kapan pun. Ini terlebih lagi berlaku di dalam pelayanan kita kepada Allah.

Paulus dan rekan-rekannya telah membuktikan integritas mereka sebagai pelayan Allah. Perhatikan frasa “dalam segala hal” dalam ayat 4. Mereka menjaga integritas dalam setiap bagian kehidupan. Mudah untuk mempraktikkan kasih, kesabaran, kemurnian, dan ketaatan pada Roh Kudus ketika situasi baik dan orang-orang menghormati kita. Akan tetapi, dapatkah sikap yang sama dipertahankan ketika kesusahan melanda, orang-orang mengumpat dan memfitnah kita, keuangan tidak lancar, dan maut mengancam? Itulah yang diteladankan Paulus dan rekan-rekannya (ayat 4-10). Dengan menjaga integritas sebagai pelayan Allah, mereka dapat mendorong jemaat untuk melakukan hal yang sama (ayat 1).

Mari memeriksa diri, apakah kita sudah menyatakan sikap sebagai pelayan Allah dalam seluruh bagian kehidupan, baik itu di rumah, gereja, lingkungan kerja, sekolah, dan masyarakat? Atau jangan-jangan, orang lain melihat kita sebagai batu sandungan? Mari belajar menjadi pelayan Allah yang berintegritas. Tidak menjadi batu sandungan, tetapi menjadi berkat bagi orang lain. –BWA

Status “Pelayan Allah” bukan hanya di dalam tembok gereja

Status itu berlaku di setiap waktu dan segala tempat

Dikutip : www.sabda.org