KURBAN PENGGANTI

Minggu, 11 Desember 2011

Bacaan : Ibrani 10:1-18

10:1. Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya.

10:2 Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya.

10:3 Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa.

10:4 Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.

10:5 Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki–tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku–.

10:6 Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan.

10:7. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.”

10:8 Di atas Ia berkata: “Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya” –meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat–.

KURBAN PENGGANTI

Dalam Perjanjian Lama, apabila seseorang ingin beribadah kepada Tuhan, ia harus membawa korban persembahan sebagai pengganti dosanya. Orang itu dianggap tidak layak menghadap Tuhan tanpa ada korban yang dibawa untuk dipersembahkan. Korban yang digunakan harus berupa ternak, seperti lembu, sapi, kambing, domba, burung tekukur atau merpati (Imamat 1:2, 14).

Alkitab berkata bahwa tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan (Ibrani 9:22). Untuk itulah perlu korban pengganti dosa. Korban yang digunakan harus sempurna, tak bercacat. Imam tidak akan memeriksa orang yang membawa persembahan, tetapi ia akan melihat dan memeriksa korban yang dipersembahkan. Jadi, orang itu dilayakkan menghadap Tuhan bukan karena dirinya, melainkan karena korban penggantinya!

Segala korban itu sudah disempurnakan Yesus di kayu salib. Dia tidak hanya bertindak sebagai Imam Besar untuk menjadi perantara Allah dan manusia, tetapi juga menjadi kurban pengganti. Saat kita menghampiri Allah, Dia tidak melihat diri kita yang berdosa. Dia melihat Yesus yang menjadi kurban penebus dosa. Jika kita bisa layak memiliki hubungan dengan Allah, itu semata karena kurban Yesus bagi kita. Itu sebabnya keselamatan yang kita dapat bukan hasil usaha sendiri, melainkan kasih karunia Allah.

Milikilah kesadaran bahwa kita berkenan di hadapan Tuhan semata-mata oleh karena darah Yesus, bukan karena siapa kita atau segala hal yang kita kerjakan. Dengan demikian, setiap pelayanan kita akan dilandasi oleh motivasi yang benar: kita adalah orang-orang yang dibenarkan oleh darah Kristus –PK

TUHAN TIDAK MELIHAT MANUSIA BERDOSA DIA HANYA MELIHAT KURBAN PENGGANTI!

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

MEMBERI HINGGA “SAKIT”

Minggu, 6 November 2011

Bacaan : Lukas 21:1-4 

21:1. Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.

21:2 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.

21:3 Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.

21:4 Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

MEMBERI HINGGA “SAKIT”

Ada bermacam suara hati bisa muncul tatkala kita memberi persembahan. “Sudah pantaskah apa yang saya persembahkan ini?” Atau, “Sudah benarkah motivasi saya dalam memberi?” Atau, “Apakah komentar Tuhan atas persembahan saya?” Atau, “Kiranya Tuhan mengampuni saya atas persembahan sejumlah ini.”

Ketika Yesus melihat orang-orang memberi persembahan, Dia berkata: “Janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang (kaya) itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya” (ayat 3-4). Ternyata yang dinilai banyak, bukanlah jumlahnya. Perhatikan bahwa dua uang tembaga (atau “peser” TB yang arti harafiahnya: “tipis”) si janda adalah semua miliknya. Jadi, si janda memberi lebih banyak. Uang tembaga adalah mata uang terkecil; dan si janda (Yunani: khera, artinya: kosong) adalah orang tak berpunya. Walau sedikit, jumlah itu besar bagi si “kosong”.

Sudut pandang Yesus terhadap persembahan kita sudah pasti bukan soal besarnya jumlah, melainkan besarnya kasih yang memampukan kita untuk mau memberi sampai “merasa sakit”. Saat kita berani memberi dengan rela sejumlah persembahan yang ketika diberikan terasa “sakit” sebab itu bagian dari penghidupan kita maka kita tak perlu ragu. Pemberian yang demikian sangat dihargai oleh Tuhan. Seperti Ibu Teresa pernah menulis: “Satu hal yang saya pinta dari Anda, jangan pernah takut untuk memberi. Namun, jangan memberi dari kelebihan Anda. Berikanlah saat hal itu sukar bagi Anda” –DKL

TUHAN, AJAR SAYA UNTUK TIDAK SEMBARANGAN MEMBERI

TETAPI MEMBERI DENGAN SUNGGUH DARI KASIH SEJATI DI HATI

Dikutip : www.sabda.org

RAJAWALI MENANTI AJAL

Kamis, 25 Agustus 2011

Bacaan : 2 Timotius 4:6-8

4:6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.

4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

RAJAWALI MENANTI AJAL

Seorang rekan misionaris menceritakan pengenalannya akan burung rajawali, yang banyak dijumpai di daerah pegunungan di mana ia menghabiskan masa kecilnya. Menurutnya, jika rajawali sudah lanjut umur dan tahu ia akan mati, rajawali akan terbang dan mencari tempat persembunyian di ketinggian. Di situ ia bertengger di puncak bukit, lalu seolah-olah bersiap menghadapi kematian sambil menatap matahari. Seakan-akan ia mau berkata, “Sekarang saya siap …”

Wajar bila manusia takut menghadapi kematian. Biasanya manusia melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Paling tidak, awet muda. Sebab ketuaan menunjukkan semakin dekatnya kematian. Iman kristiani berbicara tegas tentang kematian. Ke mana kita pergi dan dengan siapa kita akan bertemu se-telah mati, sudah jelas. Kuasa maut telah dipatahkan oleh Yesus (1 Korintus 15:26, 54-55). Dialah kebangkitan dan hidup (Yohanes 11:25). Siapa yang percaya kepada Yesus, kematian adalah keuntungan baginya, karena ia akan berjumpa Yesus (Filipi 1:21-23). Berjumpa di rumah-Nya yang kekal (Yohanes 14:1-3). Paulus bukan hanya mengajarkan hal ini, melainkan menghidupinya sampai ajal menjemput. Kala hukuman mati mengancam, ia melihatnya sebagai akhir yang baik dari pertandingan iman. Ia tahu Siapa dan apa yang menantinya di balik kematian. Maka, kapan pun, ia siap “pergi”.

Bagaimana perasaan Anda tentang kematian? Gelisah? Takut? Menghindar? Pasti beragam. Tergantung usia dan situasi Anda. Yang terpenting, siapkan diri Anda sebab kematian bisa mengunjungi siapa saja, kapan saja. Dengan menjadikan Kristus tumpuan pengharapan, kita sanggup berkata kepada kematian, “Aku siap ….” –PAD

INILAH PEDOMAN DI BALIK KEMATIAN:

SAAT YESUS SIAP MENYAMBUT KITA,

KITA PUN SIAP MENJUMPAI DIA

Dikutip : http://www.sabda.org

YANG KECIL SAJA

Jumat, 15 Juli 2011

Bacaan : Filipi 4:10-20

4:10. Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

4:14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.

4:15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu.

4:16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.

4:17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.

4:18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.

4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

4:20. Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.

 

YANG KECIL SAJA

Dua orang ibu tinggal di dekat pelabuhan. Setiap pagi mereka menyiapkan minuman hangat untuk para nelayan yang pulang melaut. Sebagai gantinya, mereka akan diberi beberapa ikan hasil tangkapan. Ibu yang pertama selalu berterima kasih setiap kali diberi ikan kecil maupun besar. Lain halnya dengan ibu kedua. Ia selalu panik jika diberi ikan besar. Katanya, “Maaf, bolehkah saya minta yang kecil saja?” Suatu saat, karena bingung melihat kebiasaan temannya itu, ibu pertama bertanya kepada ibu kedua, “Mengapa engkau selalu menolak diberi ikan besar?” Dengan tenang ibu itu menjawab, “Karena saya tak punya wajan yang cukup besar untuk memasaknya.” Ibu pertama tak dapat menahan tawanya, “Bukankah engkau bisa memakai pisau dan memotong-motongnya?”

Seperti dua ibu itu, setiap saat kita diperhadapkan pada hal-hal kecil dan besar, bahkan hal yang sangat besar; hal-hal yang datang dalam bentuk yang menyenangkan, juga yang tidak. Paulus dalam ayat 12 dan 13 bersaksi bagaimana Tuhan tetap berkarya dalam kekurangan maupun kelimpahan hidupnya, dan memampukannya melewati itu semua.

Kita tetap harus menghargai hal-hal kecil. Namun, kita juga jangan menolak impian, pekerjaan, dan pelayanan yang Tuhan percayakan hanya karena kita melihat semuanya itu terlalu besar dan hati kita tidak cukup luas atau iman kita terlalu kecil untuk menerima berkat-Nya. Bukan saatnya lagi “minta yang kecil saja”, karena yang kita perlukan adalah kerja ekstra dan keyakinan bahwa segala perkara, seberapa pun ukurannya, dapat kita tanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita –SL

HAL KECIL DAN BESAR DAPAT SAYA TANGGUNG

DALAM DIA YANG MEMBERI KEKUATAN KEPADA SAYA!

Dikutip : www.sabda.org

HADIRAT TUHAN DALAM KELUARGA

Shalom, salam miracle

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, dalam 2 Samuel 6:11-12  dinyatakan demikian “Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan Tuhan memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: “TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu.” Lalu Daud pergi mengangkat tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.

Keberadaan tabut Tuhan sangat menentukan kondisi bangsa Israel, ketika kehadiran tabut Tuhan dihargai oleh bangsa Israel maka bangsa itu mengalami ketentraman, keamanan, dan keberhasilan, hal sebaliknya terjadi apabila bangsa pilihan Allah itu tidak menghargai kehadiran tabut Allah. Hal demikian pernah terjadi ketika zaman Saul menjadi raja, maka kemerosotan moral terjadi, penyembahan berhala meningkat , terjadi kekerasan disana-sini, kekacauan semakin menghantui bangsa itu. Terlebih ketika tabut Tuhan direbut oleh bangsa lain, maka tidak ada perkenanan terhadap bangsa Israel.

Pada pemerintahan raja Daud, maka dia berusaha sekuat tenaga untuk kembali menghadirkan tabut Allah itu di pusat pemerintahannya, dengan kata lain dia mengerti betapa besarnya pengaruh Allah dalam menentukan kondisi bangsa yang dipimpinnya.

Dalam pembacaan 2 Samuel 6:11-12 di atas diceritakan sebelum sampai di Yerusalem, maka Daud menyimpannya terlebih dahulu pada keluarga Obed-Edom selama 3 bulan, dan keluaraga ini sangat diberkati Tuhan, bahkan dalam 2 Tawarikh 26 disana diceritakan bahwa anak-anak Obed-Edom menjadi orang-orang yang cakap dalam pekerjaannya masing-masing, juga disebut sebagai pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. Mengapa bisa demikian? Hal ini dikarenakan ada tabut Allah dalam keluarga Obed-Edom, dan juga keluarga ini sangat menghargai kehadiran tabut Allah di tengah-tengahnya. Memperlakukan kehadiran Allah dalam keluarga sangat menentukan kebahagiaan, keberhasilan keluarga itu. Demikian juga setiap keluarga kita, peranan kehadiran Allah dan tinggal dalam keluarga sangat penting.

Mengapa keluarga Obed-Edom yang dipilih untuk menyimpan Tabut Allah? Pertanyaan ini serupa dengan Mengapa Maria dipilih untuk mengandung bayi Yesus? Padahal seperti kita ketahui di bangsa Israel, banyak keluarga dari berbagai-bagai suku yang ada, keluarga para Imam, keluarga dari ahli Taurat atau keluarga raja. Hal yang sama juga perlu direnungkan ketika zaman Maria mengandung, banyak perempuan-perempuan cantik yang lain, atau istri pejabat seperti istri Herodes, atau dari salah satu keluarga dari para tokoh masyarakat ketika itu, mengapa yang dipilih Maria? Mengapa yang dipilih Obed-Edom?. Hal ini selain otoritas mutlak di tangan Tuhan, namun juga ditemukan bahwa dari kehidupan mereka ada sesuatu yang sangat luar biasa, yaitu hidup dalam aturan dan perintah Tuhan, bukan hanya mengerti kemauan Tuhan, lebih dari itu mereka menjadi pelaku Firman Tuhan. Sehingga Obed-Edom mendapat anugerah Tuhan dengan kehadiran Tabut Allah ketika itu. Anugrah Allah juga akan dinyatakan kepada kita yang mengerti dan melakukan Firman Allah dengan segenap hati. Setiap kali Allah memeilih dan menetapkan umat-Nya, maka pilihan Allah itu tepat. Ada pujian menyatakan, “…bila Kau yang membuka pintu, tak ada satupun dapat menutupnya, bila Kau yang mengangkat aku, tiada yang dapat merendahkanku…”

Di sisi lain, mari kita melihat ketika ada tabut Allah, atau ketika ada hadirat Allah, apa saja yang ada di dalamnya, antara lain:

ADA FIRMAN ALLAH

Setiap kali kita menikmati hadirat Allah, hendaknya kita menanti Firman Allah, sebab dengan Firman Allah itu, kita semakin dikuat teguhkan, terutama menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan keluarga/rumah tangga, Firman-Mu pelita bagi kakiku, terang bagi jalanku.

ADA PUJIAN PENYEMBAHAN

Dalam hadirat Tuhan, pasti kita akan senantiasa memuji dan bersyukur menyembah Tuhan. Dalam rumah tangga kita, seharusnya ada pujian penyembahan senantiasa kepada Tuhan.

ADA PERSEMBAHAN

Memberikan yang terbaik, segenap tubuh, jiwa, roh kita kepada Tuhan. Dalam Roma 12:1 dikatakan “Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai PERSEMBAHAN yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

ADA KASIH

Setiap kali kita menikmati hadirat Allah, maka akan sangat terasa kasih Allah kepada kita, dan itu akan mengalir dengan munculnya kasih kita kepada seluruh anggota keluarga dan saudara-saudara yang lain.

Saudara yang dikasihi Tuhan, berusahalah untuk menikmati kehadiran Allah dalam keluarga kita, maka Tuhan akan menyatakan kasih anugerahnya kepada kita semua.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien!!

 

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Gembala Sidang

ANDALAH PEMAINNYA!

Minggu, 13 Maret 2011

Bacaan : 1 Korintus 14:20-28

20Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!

21Dalam hukum Taurat ada tertulis: “Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.”

22Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman.

23Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?

24Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua;

25segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: “Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.”

26Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.

27Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.

28Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.

ANDALAH PEMAINNYA!

Saya tidak mendapat apa-apa, ” kata seorang pemudi seusai ibadah. Ia merasa kecewa. Memang khotbah minggu itu terasa kering. Bahasanya tidak komunikatif. Sulit dimengerti. Pesannya tidak inspiratif. Membosankan. Maklum jika ia kecewa. Namun, ada satu kekeliruan di sini. Si pemudi menempatkan diri sebagai “penonton” saja. Ia beribadah seolah-olah hanya untuk mendengarkan khotbah yang memikat. Padahal sesungguhnya ada yang lebih penting. Beribadah berarti memberi. Mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan.

Rasul Paulus meminta orang kristiani mempersembahkan sesuatu ketika beribadah. Bukan hanya uang yang kita bawa, melainkan seluruh talenta kita. Saat menyanyi, persembahkan suara terbaik Anda agar nyanyian jemaat terdengar menggugah. Saat berdoa, naikkanlah doa Anda dengan sepenuh hati agar Tuhan berkenan. Saat menjalankan liturgi ibadah, lakukanlah setiap hal dengan sungguh-sungguh agar tidak terjebak dalam ritualisme. Semua persembahan harus ditujukan untuk membangun jemaat, bukan kepentingan pribadi. Agar dengan setiap persembahan yang diberikan tiap-tiap pribadi, maka semua yang hadir pun diberkati.

Selama ini, ketika beribadah, bagaimanakah Anda menempatkan diri? Sebagai penonton atau pemain? Penonton hanya minta dihibur dan dilayani. Sebaliknya, pemain memberi dan melayani. Betapa indahnya jika setiap orang datang beribadah sebagai pemain. Saat setiap orang mau berpartisipasi aktif, dan memberi yang terbaik, maka ibadah akan menjadi hidup. Kuasa Tuhan tampak nyata. Anda tak akan pulang dengan sia-sia –JTI

ANDA ADALAH PEMAIN DALAM KEBAKTIAN

COBALAH BERMAIN DENGAN CANTIK BAGI TUHAN

Sumber : www.sabda.org

MEMBERI DENGAN SUKACITA

Minggu, 27 Februari 2011

Bacaan : 2 Korintus 9:9-12

9Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”

10Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;

11kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.

12Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.

MEMBERI DENGAN SUKACITA

Ada humor tentang seorang anak kecil yang mengamati para petugas ketika mengedarkan kantong persembahan di tengah ibadah. Saat kantong persembahan itu semakin mendekat ke barisan tempat anak itu duduk, ia membisik ayahnya walau dengan volume suara yang membuat semua orang di sekeliling mereka mendengarnya, “Ayah tidak perlu membayari aku. Kan aku masih di bawah lima tahun?”

Sebagai bagian ibadah, persembahan kadang masih kurang dipahami dan dihayati maknanya. Tak hanya oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Dan, kurangnya pengertian ini hanya menggerus motivasi untuk memberi, apalagi memberi lebih banyak.

Persembahan, adalah sarana yang akan dipakai gereja untuk dapat menjalankan segala fungsinya dengan baik. Sama seperti ketika seseorang memiliki keluarga dan harus membayar berbagai tagihan atas keluarganya, demikian pula ketika kita menyebut sebuah gereja sebagai “gereja saya”, maka kita turut bertanggung jawab atas kelangsungan kehidupannya. Bagaimana gedung dirawat, para hamba Tuhan dicukupi, program gereja berkembang, kegiatan jemaat dibuat lebih mendalam demi menumbuhkan kerohanian, bahkan bagaimana gereja dapat melayani keluar jemaat dan menjadi berkat, tentu tak lepas dari persembahan yang dibawa jemaat.

Yang penting, Tuhan mau kita memberi persembahan atas dasar sukacita, kasih, dan syukur kepada Allah yang telah begitu besar mengasihi kita (ayat 7, 12). Dan, ketika kita berani memberi, Tuhan tidak akan membiarkan kita kekurangan, sebaliknya, Dia akan membuat kita berkecukupan, bahkan berkelebihan (ayat 8)! –AW

SEMAKIN BANYAK PERSEMBAHAN DIBAWA KE RUMAH ALLAH

SEMAKIN BANYAK PULA TUHAN DAPAT BERKARYA LEWAT GEREJA

Sumber : www.sabda.org