MAHKOTA SANG JUARA

Kamis, 7 Februari 2013

Bacaan: 1 Korintus 9:24-27

9:24. Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

MAHKOTA SANG JUARA

Di Singapura rutin diadakan perlombaan lari maraton. Seorang teman saya pernah berpartisipasi dalam acara itu. Ia memang tidak menjadi juara, tapi sebagai peserta yang berhasil melewati garis akhir, ia berhak mendapatkan sebuah baju yang menandakan keberhasilannya tersebut. Baju ini mendatangkan kebanggaan tersendiri baginya. Ia mengakui, baju itu mengingatkannya bahwa segala kerja kerasnya baik dalam mempersiapkan diri maupun selama menempuh perlombaan ternyata tidaklah sia-sia.

Hal serupa juga dirasakan oleh para atlet lomba lari jarak jauh pada zaman Paulus. Pada saat itu, sang juara akan disemati sebuah mahkota yang membuatnya disanjung oleh seluruh masyarakat. Demi mendapatkan mahkota tersebut, seorang atlet akan mati-matian berjuang menanggung segala kesusahan baik selama ia mempersiapkan diri maupun saat ia menjalani perlombaan sesungguhnya. Paulus memakai hal itu untuk menggambarkan bagaimana kita seharusnya menjalani hidup sebagai orang Kristen.

Paulus mengingatkan bahwa mahkota yang kita kejar jauh lebih mulia daripada mahkota yang tersedia bagi para atlet lomba lari itu. Untuk memperolehnya, banyak kesusahan dan tantangan yang menghadang dan berusaha meruntuhkan iman kita. Tantangan iman kita bermacam-macam, bisa berupa peristiwa buruk, penganiayaan dari orang yang membenci iman kita, argumentasi yang menyerang kekristenan, dan sebagainya. Berhadapan dengan semua itu, sepatutnya kita tetap setia menjaga iman sampai Tuhan memanggil kita pulang –ALS

KESETIAAN KITA BERTAHAN DALAM PERJUANGAN IMAN

 TERBAYAR OLEH KEMULIAAN MAHKOTA YANG KITA TERIMA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

HARUS JADI NOMOR SATU?

Selasa, 20 November 2012

Bacaan : 1 Korintus 9:24-27

9:24. Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

HARUS JADI NOMOR SATU?

Seorang pemuda menulis di blog-nya: “Belakangan saya merasa, hidup ini adalah sebuah persaingan. Orang-orang bersaing untuk mendapat kepuasan, kesuksesan, dan berbagai hal lainnya. Mulai dari tukang jualan, tukang ojek, supir angkot, mahasiswa, karyawan, semuanya ingin mendapatkan yang lebih baik daripada orang lain. Dalam kehidupan spiritual pun orang bersaing mendapatkan amal baik sebanyak-banyaknya demi pintu surga-Nya ….” Apakah Anda juga menganggap kehidupan ini adalah sebuah medan persaingan?

Membaca tulisan Paulus dalam ayat 24 ada kesan bahwa orang kristiani harus bisa bersaing dan jadi nomor satu. Namun, jika kita perhatikan lagi, Paulus sebenarnya sedang memberi ilustrasi tentang sikap berusaha sebaik mungkin untuk memperoleh hadiah yang telah disediakan. Dalam perlombaan, hadiah utamanya hanya satu, tetapi dalam kehidupan kristiani, kita semua dapat menerima hadiah yang disediakan Tuhan. Paulus tidak sedang mendesak jemaat untuk saling bersaing. Sebaliknya, ia sedang mendorong mereka untuk melakukan segala sesuatu bagi Tuhan dengan intensitas yang sama seperti seorang pelari dalam lomba.

Kompetisi yang sehat dapat menjadi arena yang baik untuk mendorong orang memberikan apa yang terbaik. Namun, jiwa bersaing yang selalu ingin menang sendiri adalah sikap yang egois, lahan subur bagi iri hati, cemburu, dan perseteruan. Kita kehilangan sukacita ketika orang lain berhasil karena cenderung memandang mereka sebagai lawan. Pertanyaan yang seharusnya diajukan untuk memacu diri bukanlah: “Apakah kita menang?”, melainkan, “Apakah kita telah melakukan yang terbaik?” –ITA

MEMBERIKAN YANG TERBAIK ADALAH

WUJUD PENGHORMATAN KITA KEPADA TUHAN.

Dikutip : www.sabda.org

RAJAWALI MENANTI AJAL

Kamis, 25 Agustus 2011

Bacaan : 2 Timotius 4:6-8

4:6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.

4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

RAJAWALI MENANTI AJAL

Seorang rekan misionaris menceritakan pengenalannya akan burung rajawali, yang banyak dijumpai di daerah pegunungan di mana ia menghabiskan masa kecilnya. Menurutnya, jika rajawali sudah lanjut umur dan tahu ia akan mati, rajawali akan terbang dan mencari tempat persembunyian di ketinggian. Di situ ia bertengger di puncak bukit, lalu seolah-olah bersiap menghadapi kematian sambil menatap matahari. Seakan-akan ia mau berkata, “Sekarang saya siap …”

Wajar bila manusia takut menghadapi kematian. Biasanya manusia melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Paling tidak, awet muda. Sebab ketuaan menunjukkan semakin dekatnya kematian. Iman kristiani berbicara tegas tentang kematian. Ke mana kita pergi dan dengan siapa kita akan bertemu se-telah mati, sudah jelas. Kuasa maut telah dipatahkan oleh Yesus (1 Korintus 15:26, 54-55). Dialah kebangkitan dan hidup (Yohanes 11:25). Siapa yang percaya kepada Yesus, kematian adalah keuntungan baginya, karena ia akan berjumpa Yesus (Filipi 1:21-23). Berjumpa di rumah-Nya yang kekal (Yohanes 14:1-3). Paulus bukan hanya mengajarkan hal ini, melainkan menghidupinya sampai ajal menjemput. Kala hukuman mati mengancam, ia melihatnya sebagai akhir yang baik dari pertandingan iman. Ia tahu Siapa dan apa yang menantinya di balik kematian. Maka, kapan pun, ia siap “pergi”.

Bagaimana perasaan Anda tentang kematian? Gelisah? Takut? Menghindar? Pasti beragam. Tergantung usia dan situasi Anda. Yang terpenting, siapkan diri Anda sebab kematian bisa mengunjungi siapa saja, kapan saja. Dengan menjadikan Kristus tumpuan pengharapan, kita sanggup berkata kepada kematian, “Aku siap ….” –PAD

INILAH PEDOMAN DI BALIK KEMATIAN:

SAAT YESUS SIAP MENYAMBUT KITA,

KITA PUN SIAP MENJUMPAI DIA

Dikutip : http://www.sabda.org

PELATIH IMAN

Jumat, 19 Agustus 2011

Bacaan : 1 Korintus 9:24-27

9:24. Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

PELATIH IMAN

Apakah kegiatan sehari-hari seorang atlet maraton? Ia akan menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk berlatih; berlari menempuh jarak yang jauh. Esoknya, rutinitas yang sama terulang kem-bali. Maka, sangat wajar jika para atlet merasa jenuh. Mereka kadang jadi malas berlatih, bahkan bisa merasa tidak ingin berlari. Namun apa yang dilakukan sang pelatih ketika melihat pelarinya merasa demikian?

Pelatih akan mendorong para atletnya untuk tetap mendisiplin diri dan terus berlatih. Itu sebabnya terkadang seorang pelatih bisa tampak begitu kejam; seakan-akan ia tak mau tahu keletihan pelarinya. Sampai-sampai si pelari mungkin bisa membenci pelatihnya. Namun, ketika kemenangan berhasil dicapai, maka pelari itu akan sangat berterima kasih kepada sang pelatih yang telah bersikap begitu tegas mendisiplin dirinya.

Hal yang sama juga Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Kita adalah para pelari yang harus menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir. Untuk mencapai kemenangan itu, Tuhan akan menjadi Pelatih kita dan mempersiapkan kita begitu rupa agar kita sampai ke garis akhir. Namun, saat kita menerima didikan dan disiplin dari Tuhan-Pelatih iman kita, sangat mungkin kita merasa tidak nyaman secara daging. Bukankah terkadang kita juga letih dan jenuh secara rohani? Namun, Tuhan tidak mau membiarkan itu. Dia rindu melihat kita menyelesaikan pertandingan dengan baik. Jadi, latihan dan pen-disiplinan Tuhan yang berat itu sebenarnya untuk kebaikan kita sendiri; agar kita dipersiapkan untuk menjadi orang-orang yang berkemenangan –PK

TERUSLAH BERTEKUN DALAM LATIHAN IMAN

SEBAB KITA SEDANG DIPERSIAPKAN

UNTUK MENJADI PEMENANG

Dikutip  : http://www.sabda.org

DIBUANG SAYANG

Sabtu, 2 Januari 2010
Bacaan : 1 Korintus 9:19-27

9:19. Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

9:20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.

9:21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.

9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.

9:23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

9:24. Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

DIBUANG SAYANG


Di meja kerja saya ada sebuah “kotak dibuang sayang”. Di dalamnya
saya taruh banyak pena yang sudah tidak berfungsi lagi. Mau dibuang
sayang, sebab banyak di antaranya merupakan hadiah dari para
sahabat. Pena-pena itu masih indah dipajang. Lagipula punya nilai
sejarah. Jadi, saya biarkan saja mereka di sana bertahun-tahun.
Tidak bisa lagi dipakai. Sudah didiskualifikasi.

Rasul Paulus tidak mau dirinya kelak menjadi seperti pena pajangan.
Ia tidak mau dirinya nanti “ditolak” Tuhan. Maksudnya bukanlah
ditolak masuk surga, melainkan didiskualifikasi. Dipandang tidak
layak lagi dipakai sebagai alat-Nya. Dimasukkan dalam “kotak dibuang
sayang”. Itu bisa terjadi jika ia terjebak dalam kenikmatan hidup.
Sebagai pemimpin jemaat, ia memiliki banyak hak, kuasa, dan
fasilitas (1 Korintus 9:1-6,15,19). Jika semua itu yang
dipentingkan, ia akan kehilangan orientasi kepada Tuhan. Oleh sebab
itu, Paulus berupaya keras untuk “melatih dan menguasai dirinya”.
Artinya, terus menjaga kemurnian hati dalam pelayanan. Bukannya
menjadi “bos” di gereja, Paulus lebih suka belajar menjadi “hamba
bagi semua orang”, supaya Injil Kristus dapat diterima oleh sebanyak
mungkin orang.

Jika seorang kristiani tak lagi dapat berfungsi sebagai garam dan
terang, ia laksana pena pajangan yang telah kehilangan fungsinya.
Maka, jangan biarkan diri terjebak dalam kenikmatan hak, kuasa, dan
fasilitas, sampai-sampai kita hanya sibuk untuk diri sendiri. Mari
belajar mengosongkan diri, supaya Tuhan dapat efektif memakai kita
sebagai hamba-Nya. Jangan sampai kita didiskualifikasi _JTI

JANGAN PUAS MENJADI ORANG YANG DISELAMATKAN TUHAN
JADILAH ORANG YANG DIPAKAI TUHAN

SELAMAT JALAN

Jumat, 30 Oktober 2009

Bacaan : 2Timotius 4:1-8

4:1. Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:

4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.

4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

4:5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!

4:6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.

4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

SELAMAT JALAN

Kata kematian yang diucapkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 4:6 memiliki arti penting. Alkitab versi King James menggunakan kata keberangkatan (departure) untuk menggantikan kata kematian pada ayat itu. Kata keberangkatan berarti “melonggarkan” atau “melepaskan tambatan”. Paulus menggunakan kata yang sama saat mendesah, “Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan tinggal bersama-sama dengan Kristus” (Filipi 1:23).

Keberangkatan adalah istilah kelautan yang berarti “berlayar” — membongkar sauh, melepas tambatan yang mengikat kita pada dunia ini, dan pergi. Kata itu merupakan kata ganti yang bagus untuk “meninggal dunia”.

Bagi orang percaya, kematian bukan akhir, melainkan awal. Itu berarti kita meninggalkan dunia yang lama ini dan menuju tempat yang lebih baik untuk menyempurnakan tujuan hidup kita. Kematian merupakan saat bersukacita dan bergembira serta berkata lantang, “Selamat jalan!”

Namun, semua perjalanan dipenuhi ketidakpastian, terutama saat melewati lautan yang belum pernah dilayari. Kita lebih takut akan jalan yang kita lalui daripada kematian itu sendiri. Siapakah yang tahu bahaya seperti apa yang menghadang kita?

Namun, perjalanan itu sudah dipetakan. Seseorang telah melaluinya, dan Dia kembali untuk membawa kita melaluinya dengan selamat. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman, Allah selalu menyertai kita (Mazmur 23:4). Tangan-Nya memegang kemudi, sementara Dia membimbing kita ke rumah surgawi yang telah disiapkan-Nya bagi kita (Yohanes 14:1-3) –DHR

ORANG-ORANG YANG TAKUT AKAN ALLAH
TIDAK PERLU TAKUT AKAN KEMATIAN

Sumber : www.sabda.org

SIAP DILATIH!

Kamis, 8 Oktober 2009

Bacaan : Filipi 4:10-19

4:10. Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

4:14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.

4:15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu.

4:16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.

4:17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.

4:18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.

4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

SIAP DILATIH!

Casey Seymour, pemain dan pelatih sepak bola yang sukses, memerhatikan bahwa setiap anggota timnya tidak menyukai latihan fisik 10-kali-100 di akhir latihan. Sebelum para pemain boleh meninggalkan lapangan, mereka harus berlari sejauh 100 yard [kira-kira 90 meter] sebanyak 10 kali dengan kecepatan penuh dan istirahat sesedikit mungkin. Jika gagal mengalahkan waktu yang telah ditetapkan, mereka harus mengulanginya lagi.

Para pemain membenci latihan itu — sampai tiba saatnya bertanding. Saat itu, mereka menyadari bahwa mereka dapat bermain dengan kekuatan penuh sepanjang pertandingan. Usaha mereka telah terbayar dengan menduduki posisi juara!

Rasul Paulus menggunakan perumpamaan tentang latihan dan pertandingan dalam surat-suratnya. Saat ia menjadi misionaris bagi orang-orang bukan Yahudi, ia tunduk kepada perintah dan latihan dari Allah di tengah penderitaan serta kesukaran yang besar. Dalam Filipi 4, ia berkata, “Aku telah belajar” (ayat 11). Baginya dan bagi kita masing-masing, mengikuti Yesus merupakan proses belajar seumur hidup. Kita belum dewasa secara rohani saat diselamatkan, sama seperti seorang atlet di sekolah yang belum siap bermain sepak bola secara profesional. Kita bertumbuh dalam iman saat mengizinkan Allah, melalui firman-Nya dan Roh Kudus, memberi kita kuasa untuk melayani-Nya.

Melalui kesulitan hidup, Paulus belajar untuk melayani Allah dengan baik. Demikian pula halnya dengan kita. Kesulitan memang tidak menyenangkan, tetapi itu semua patut dihargai! Semakin mudah kita diajar, maka semakin dewasalah kita. Sebagai anggota tim Kristus, mari kita menyiapkan diri untuk dilatih –DCE

KARYA ALLAH DALAM DIRI KITA BELUM BERAKHIR
MELAINKAN BARU SAJA DIMULAI SAAT KITA
MENERIMA KRISTUS

Sumber : www.sabda.org