JIWA PENGKRITIK

Rabu, 21 November 2012

Bacaan : Roma 14:1-12

14:1. Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.

14:2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja.

14:3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu.

14:4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.

14:5 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.

14:6 Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah.

14:7 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri.

14:8 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.

14:9 Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.

14:10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.

14:11 Karena ada tertulis: “Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.”

14:12 Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.

 

JIWA PENGKRITIK

Jerry Bridges bercerita tentang seorang ayah yang sering sekali mengkritik anak perempuannya seolah-olah ia tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Anak ini tumbuh sebagai anak yang merasa tertolak dan ketika dewasa ia mencari orang-orang yang bisa membuatnya merasa diterima. Ketika ayahnya sadar, anak ini sudah hidup dalam seks bebas dan menjadi pecandu kokain. Kasus ini termasuk ekstrem, tak semua kritik bisa menimbulkan dampak separah itu. Namun, pada dasarnya, semangat mengkritik dan menghakimi memang bersifat menghancurkan.

Keharmonisan jemaat di Roma pernah rusak karena jiwa pengkritik. Dari komentar Paulus, tampaknya ada dua masalah yang membuat mereka saling menghakimi. Yang pertama adalah masalah makanan (ayat 2). Yang kedua adalah masalah hari-hari khusus (ayat 5). Berbeda pendapat boleh-boleh saja, tetapi dalam kasus ini, mereka mulai saling menghakimi dan menghina. Masing-masing kelompok merasa paling benar dan atau memandang rendah kelompok yang berbeda dengan mereka. Paulus pun menegur mereka dengan keras. Seolah ia hendak berseru: Allah-lah Hakimnya! Mengapa kalian bertindak sebagai Allah bagi orang lain?

Hal-hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan jelas perlu ditegur. Namun, berhati-hatilah agar ketika melakukannya kita tidak terjebak dalam sikap merasa diri paling benar dan merendahkan orang yang punya pendapat berbeda. Ungkapkanlah ketidaksetujuan kita dengan cara yang bijak, tidak kasar, apalagi sampai membunuh karakter seseorang. Sadarilah bahwa kita pun masih jatuh bangun dalam dosa dan membutuhkan kasih karunia. –MEL

TEGURAN DALAM KASIH SANGAT DIPERLUKAN.

NAMUN, JIWA YANG SUKA MENGKRITIK DAPAT MENGHANCURKAN.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

HETOIMOS

Minggu, 30 September 2012

Bacaan : 1 Petrus 3:13-22

3:13 Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?

3:14 Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.

3:15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,

 

3:16. dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.

3:17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.

 

3:18. Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,

3:19 dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara,

3:20 yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.

 

3:21. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan–maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah–oleh kebangkitan Yesus Kristus,

3:22 yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.

 

HETOIMOS

Ketika saya kuliah, ada sebuah istilah yang menggambarkan cara belajar kebanyakan mahasiswa, yaitu SKS (Sistem Kebut Semalam). Bahan-bahan pelajaran baru dibaca semalam sebelum ujian. Entah kenapa, cara ini terasa begitu normal dilakukan. Apalagi saat ada banyak kesibukan lainnya.

Bukan demikian yang disarankan rasul Petrus dalam hal kesaksian peng

ikut Kristus. “Siap sedialah”, nasihatnya kepada jemaat mula-mula. “Hetoimos”, kata aslinya dalam bahasa Yunani yang juga dipakai Tuhan Yesus untuk memperingatkan para murid menyambut kedatangan-Nya kembali (lihat Matius 24:44; Lukas 12:40). Ini tidak berarti baru kalang kabut ketika ada orang yang bertanya tentang keyakinan mereka. Sebaliknya, jemaat harus tekun bertumbuh dalam pemahaman iman mereka dan bersiap diri untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang belum diajukan sekali pun. Mereka juga harus siap “pada segala waktu”, artinya mereka harus bisa menjelaskan iman mereka entah ketika mereka sedang digugat di mahkamah agama, maupun ketika mereka sedang ditanyai tetangga di pasar.

Mungkin kita juga lebih sering menerapkan sistem SKS daripada hetoimos. Memang ada kerinduan untuk memberitakan Kristus dengan cara yang relevan bagi beragam orang yang dikenal, namun, kita kurang tekun mempersiapkan diri untuk menjawab pergumulan-pergumulan mereka. Ketika ditanya, kita tidak siap, dan kesempatan memperkenalkan Kristus pun lewat begitu saja. Apa yang dapat kita lakukan sepanjang minggu ini untuk mulai mempraktikkan hetoimos? –ELS

HETOIMOS

SIAP SEDIALAH MENJELASKAN IMANMU KEPADA KRISTUS.

Dikutip : www.sabda.org

SIAP MENJAWAB

Kamis, 9 Februari 2012

Bacaan : 1 Petrus 3:13-17

3:13 Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?

3:14 Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.

3:15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,

3:16. dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.

3:17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.

SIAP MENJAWAB

Kata apologetika berasal dari bahasa Yunani apologia, yang berarti menjawab atau mempertahankan. Apologetika berarti memberikan penjelasan rasional atas iman kita. Sebelum dapat membagikan berita Injil, seringkali kita perlu menjawab keberatan dan menyingkirkan hambatan yang membu at orang belum mau menerima Kristus.

Istilah ini salah satunya dapat ditemukan dalam 1 Petrus 3:15, “siap sedialah pada sega la waktu untuk memberi pertanggung jawaban (apologia) kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengha rap an yang ada padamu.” Petrus mendorong orang-orang percaya yang tersebar di berbagai lokasi (1:1) untuk siap sedia menjelaskan kepada orang-orang yang belum percaya jika mereka ingin tahu apa yang menggerakkan umat kristiani rajin berbuat baik (ayat 13) dan rela menderita dalam mengikut Kristus (ayat 14-17). Hal yang indah di sini adalah Petrus mendorong jemaat bukan saja untuk hidup sesuai kebenaran, melainkan juga untuk siap menyampaikan kebenaran yang menjadi pengharapan mereka.

Bayangkan ada anggota keluarga, rekan kerja, atau tetangga Anda yang tiba-tiba bertanya tentang apa yang menjadi iman dan pengharapan yang Anda miliki di dalam Kristus. Apakah kesempatan itu akan berlalu begitu saja atau akan menjadi momen kebenaran yang berpengaruh bagi masa depan kekalnya? Bagaimana jika skenario ini bukan sekadar imajinasi, tetapi kenyataan yang sungguh-sungguh akan Anda alami? Apa yang perlu dilakukan supaya Anda siap sedia pada segala waktu? –JOO

Orang tertarik kepada Kristus dengan melihat perilaku kita

Orang mengenal Kristus dengan mendengar penjelasan kita

Dikutip : www.sabda.org