TIDAK SEMBARANGAN BERBUAH

Minggu, 14 April 2013

Bacaan   : Lukas 3:1-20

3:1. Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene,

3:2 pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.

3:3 Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu,

3:4 seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.

3:5 Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan,

3:6 dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.”

3:7 Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang?

3:8 Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!

3:9 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.”

3:10 Orang banyak bertanya kepadanya: “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?”

3:11 Jawabnya: “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.”

3:12 Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: “Guru, apakah yang harus kami perbuat?”

3:13 Jawabnya: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.”

3:14 Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?” Jawab Yohanes kepada mereka: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”

 

3:15. Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias,

3:16 Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

3:17 Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”

3:18 Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak.

3:19 Akan tetapi setelah ia menegor raja wilayah Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya,

3:20 raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.

 

TIDAK SEMBARANGAN BERBUAH

Yohanes Pembaptis adalah “panitia” penyiapan jalan bagi Yesus. Mungkin bisa dibandingkan dengan panitia yang repot mengurus kedatangan seorang presiden. Rute harus diatur, jalanan terpaksa dikosongkan sementara demi kelancaran arus lalu lintas, segala sesuatu yang tampak kumuh dan reyot disulap jadi tertata, bersih, dan indah. Susunan acara telah diatur rancak, menarik. Intinya: sibuk berbenah secantik dan semulus mungkin

Nah, mari kita lihat panitia seperti apakah Yohanes ini. Dari kacamata kesantunan Timur, Yohanes jelas-jelas mengejutkan. Betapa tidak! Ia mempersiapkan hadirnya Yesus dengan menunjukkan bahwa nubuatan Yesaya (ay. 4-6) sudah waktunya digenapi, dipenuhi, dinyatakan. Bagi Yohanes, penggenapannya melalui reformasi batin yang mewujud dalam perilaku etis baik dalam lingkup pribadi maupun sosial (ay. 10 dst). Prinsipnya, perlu ada pertobatan. Bukan sekadar pernyataan bertobat, tetapi munculnya perubahan hidup yang lahir dari pengalaman batin yang bertobat itu.

Lukas menyebutnya sebagai “buah-buah pertobatan”. Ini bagian umat, bukan melulu bagian Allah. Umatlah yang didorong untuk menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dengan kata lain, Yohanes mengingatkan, agar kita jangan sekadar berbuah, namun buah itu harus lahir dari pertobatan. Bersumber dari transformasi batin, bermuara dalam karya nyata bagi lingkungan sekitar melalui kenyataan yang baru dalam hidup sehari-hari. –DKL

TANPA DILANDASI PERTOBATAN DAN TRANSFORMASI BATIN,

 PERUBAHAN HIDUP HANYA BERLANGSUNG SEMENTARA DAN SEMU.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Iklan

TANDA ABU

Rabu, 13 Februari 2013

Bacaan: Yunus 3

3:1. Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:

3:2 “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.”

3:3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.

3:4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”

3:5. Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.

3:6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.

3:7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.

3:8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.

3:9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”

3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

TANDA ABU

Seorang pria Afrika mendatangi kepala sukunya untuk menyerahkan 8 ekor sapi. Ia mengaku bahwa ketika dulu bekerja pada sang kepala suku, ia mencuri 4 sapi. Kini sapi-sapi itu telah beranak hingga menjadi 8 ekor dan ia hendak mengembalikan semuanya. Ketika ia ditanya, siapa yang menangkapnya dan memintanya mengaku, ia menjawab, “Yesus.” Ia berani melakukannya karena ia mendapatkan damai sejati saat Yesus mengampuninya.

Mendengar itu, kepala suku membebaskannya. Namun berhari-hari sesudahnya, ia tak dapat tidur. Pertobatan pria itu terus membayanginya karena ia sendiri pernah melakukan kesalahan yang sama. Namun, ia bingung karena, jika ingin bertobat dan mendapat damai sejati, ia harus mengembalikan 100 ekor sapi!

Ketika Niniwe mendengar peringatan Yunus tentang hukuman Tuhan, mereka percaya dan menanggapinya dengan benar. Dari orang dewasa, anak-anak, bahkan sampai ternak mereka, berpuasa. Raja pun memakai kain kabung dan duduk di atas abu, sebagai tanda penyesalan. Semua memiliki tekad yang sama: memohon ampun dan berbalik dari kejahatan (ay. 8). Dan, oleh belas kasihan-Nya yang tak masuk akal bagi manusia, Niniwe tak jadi dihukum (ay. 10).

Abu adalah tanda perkabungan, penyesalan. Abu menjadi simbol yang mengingatkan janji kita kepada Tuhan untuk mati terhadap dosa masa lalu dan memiliki cara hidup yang baru bersama kebangkitan Kristus. Pasti bukan langkah mudah. Namun, Tuhan menawarkan damai sejati dan kelepasan dari segala beban rasa bersalah ketika kita melakukannya. –AW

PERTOBATAN BERARTI KITA MENGASIHI JURUSELAMAT KITA

 LEBIH DARIPADA KITA MENYAYANGI DOSA KITA -KENT CROCKETT

Dikutip : www.sabda.org

BEDA PENILAIAN

Senin, 24 September 2012

Bacaan : Lukas 15:1-7

15:1. Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.

15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:

15:4 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?

15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,

15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

 

BEDA PENILAIAN

Ia baik dan pintar, ” cerita keponakan saya tentang teman favoritnya. Beberapa teman tidak ia sukai Alasannya antara lain: mereka nakal, suka mengganggu, pelit meminjamkan mainan. Celotehnya menyadarkan saya betapa sejak kecil kita sudah punya kecenderungan untuk menilai orang menurut tolok ukur tertentu, entah itu kebaikannya, reputasinya, atau kelakuannya terhadap kita. Dan, penilaian itu memengaruhi cara kita bersikap.

Sungut-sungut orang Farisi dan ahli Taurat adalah cermin penilaian mereka terhadap sekelompok orang. Tolok ukurnya adalah diri sendiri. Melabeli kelompok lain berdosa, menyiratkan mereka mengelompokkan diri sendiri sebagai orang-orang yang tidak berdosa. Keramahan Yesus pada kelompok “berdosa” membuat mereka tak nyaman (ayat 2). Yesus mengoreksi cara pandang ini, mengajak mereka untuk memakai tolok ukur Allah. Dalam sudut pandang-Nya juga ada dua macam kelompok orang, tetapi dua-duanya berdosa. Bedanya, yang satu sadar akan dosanya, yang lain tidak (ayat 7). Yang satu bertobat, yang satu tidak merasa butuh pertobatan. Dan surga bersukacita untuk orang berdosa yang bertobat.

Melihat orang lain dalam dosa, ingatlah bahwa kita tidak lebih baik. Kita tak dapat menyelamatkan diri sendiri, namun Allah dalam kasih-Nya telah mencari dan menemukan kita. Mari periksa lingkaran pergaulan kita. Apakah kita cenderung berteman dengan orang-orang tertentu dan menjauhi yang lain? Mengapa? Daftarkan hal-hal yang biasanya menjadi tolok ukur kita dalam mengasihi orang lain. Mintalah agar Allah memperbarui cara pandang kita dengan cara pandang-Nya. –JOE

PANDANGLAH SESAMA DARI SUDUT PANDANG ALLAH.

KASIHILAH MEREKA DENGAN KASIH DARI PADA-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

SYUKURIN!

Sabtu, 26 Mei 2012

Bacaan : Obaja 1:8-16

1:8 Bukankah pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan melenyapkan orang-orang bijaksana dari Edom, dan pengertian dari pegunungan Esau?

1:9 Juga para pahlawanmu, hai Teman, akan tertegun, supaya semua orang di pegunungan Esau lenyap terbunuh.

 

1:10. Karena kekerasan terhadap saudaramu Yakub, maka cela akan meliputi engkau, dan engkau akan dilenyapkan untuk selama-lamanya.

1:11 Pada waktu engkau berdiri di kejauhan, sedang orang-orang luar mengangkut kekayaan Yerusalem dan orang-orang asing memasuki pintu gerbangnya dan membuang undi atasnya, engkaupun seperti salah seorang dari mereka itu.

1:12 Janganlah memandang rendah saudaramu, pada hari kemalangannya, dan janganlah bersukacita atas keturunan Yehuda pada hari kebinasaannya; dan janganlah membual pada hari kesusahannya.

1:13 Janganlah masuk ke pintu gerbang umat-Ku pada hari sialnya, bahkan janganlah memandang ringan malapetaka yang menimpanya pada hari sialnya; dan janganlah merenggut kekayaannya pada hari sialnya.

1:14 Janganlah berdiri di persimpangan untuk melenyapkan orang-orangnya yang luput, dan janganlah serahkan orang-orangnya yang terlepas pada hari kesusahan.

1:15 Sebab telah dekat hari TUHAN menimpa segala bangsa. Seperti yang engkau lakukan, demikianlah akan dilakukan kepadamu, perbuatanmu akan kembali menimpa kepalamu sendiri.

1:16 Sesungguhnya, seperti kamu telah minum di atas gunung-Ku yang kudus, segala bangsapun akan minum dengan tidak henti-hentinya; bahkan, mereka akan minum dengan lahap, dan mereka akan menjadi seakan-akan mereka tidak pernah ada.

 

SYUKURIN!

Syukurin, ” gumam seorang teman ketika tokoh antagonis sebuah film dihajar habis-habisan. Memang beberapa sutradara begitu pintar menyusun plot cerita hingga tidak jarang memancing reaksi dari dasar hati penonton. Dalam kenyataan, kita senang melihat orang jahat menelan buah pahit perbuatannya. Bisa jadi itu salah satu jawaban doa kita. Akan tetapi, apakah Tuhan juga senang dengan hal itu?

Bangsa Edom bersukacita ketika Israel saudaranya mengalami malapetaka, bahkan ikut menindas bangsa yang sudah terpuruk itu (ayat 10-11). Catatan Perjanjian Lama menunjukkan kehancuran kerajaan Israel dan Yehuda diakibatkan oleh pemberontakan mereka terhadap Tuhan. Salahkah jika Edom menyambut penghancuran mereka dengan bersemangat? Tuhan dengan jelas menentang Edom (ayat 12-14). Dalam bagian lain, Tuhan sendiri berkata bahwa Dia menghendaki pertobatan, bukan kematian orang fasik (lihat Yehezkiel 33:11). Seharusnya Edom gentar dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Jika Tuhan tidak segan menghajar umat pilihan-Nya sendiri, bagaimana mungkin mereka berpikir mereka bisa luput (ayat 15-16)?

Penghukuman Tuhan dimaksudkan agar manusia bertobat dan terhindar dari penghukuman kekal. Ketika ada saudara yang jatuh dalam dosa dan didisiplin Tuhan, seharusnya kita berbelas kasih dan mendoakan agar pengalaman itu membawa mereka makin mengenal Tuhan dan taat kepada-Nya. Dan, seharusnya kita tidak mengulangi kisah mereka. Dengan gentar di hadapan Tuhan yang kudus, kita perlu memohon kasih karunia untuk menjalani hidup yang berkenan di hadapan-Nya. –ELS

KITA ADALAH SESAMA PENDOSA YANG MENERIMA PENGAMPUNAN.

BENCILAH DOSA, TETAPI KASIHILAH SESAMA YANG TERBELENGGU DOSA.

Dikutip : www.sabda.org

PENYESALAN YANG BENAR

Rabu, 25 April 2012

Bacaan : Matius 27:1-10

27:1. Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus.

27:2 Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.

27:3 Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua,

27:4 dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Tetapi jawab mereka: “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!”

27:5 Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.

27:6 Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata: “Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah.”

27:7 Sesudah berunding mereka membeli dengan uang itu tanah yang disebut Tanah Tukang Periuk untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing.

27:8 Itulah sebabnya tanah itu sampai pada hari ini disebut Tanah Darah.

27:9 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,

27:10 dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku.”

 

 

PENYESALAN YANG BENAR

Pernahkah Anda merasa bersalah dan menyesal setengah mati setelah melakukan sesuatu? Saya cukup sering mengalaminya. Seringkali rasa sesal itu begitu kuat mencengkeram saya sehingga sepanjang hari saya tidak bisa melakukan hal lain. Saya malu dan marah pada diri sendiri dan biasanya tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Bahkan, pernah berpikir ingin lenyap dari dunia ini.

Saya pikir, itulah yang juga dirasakan Yudas setelah menjual Yesus (ayat 3). Menyesal. Akan tetapi, rupanya menyesal (Yunani: metamellomai) tidak menjamin adanya pertobatan. Tenggelam dalam penyesalannya, Yudas pergi menggantung diri (ayat 5). Mungkin ia terlalu malu untuk kembali dan mengakui kesalahannya kepada murid-murid yang lain. Ia kehilangan kesempatan menerima pengampunan Tuhan. Kontras dengan Petrus yang menangisi dosanya, tetapi kemudian kembali mengikut Tuhan (lihat pasal 26:75, Yohanes 21). Dalam bagian Alkitab yang lain dukacita Yudas disebut sebagai dukacita dari dunia (lihat 2 Korintus 7:10). Pusatnya adalah diri sendiri. Sementara, dukacita yang menurut kehendak Allah “menghasilkan pertobatan”. Kata pertobatan dalam bahasa Yunani adalah metanoia, yang artinya berubah pikiran atau berbalik dari dosa.

Sungguh baik jika kita menyadari kesalahan kita dan menyesal. Namun, jangan biarkan penyesalan membuat kita tidak bisa melanjutkan hidup seperti Yudas. Datanglah kepada Tuhan dalam pengakuan yang jujur. Carilah rekan yang dewasa rohani untuk mendampingi dalam proses tersebut. Metanoia. Tinggalkanlah dosa dan mulailah babak baru bersama Tuhan. –ELS

MENYESAL SAJA MEMBAWA DUKA.

MENYESAL DAN BERUBAH MEMBAWA KEMENANGAN.

Dikutip : www.sabda.org

ORANG KRISTEN DUNIA

Rabu, 29 Februari 2012

Bacaan : Lukas 24:36-49

24:36. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!”

24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.

24:38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?

24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.”

24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.

24:41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?”

24:42 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.

24:43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.

24:44 Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”

24:45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.

24:46 Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,

24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.

24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

24:49 Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.”

ORANG KRISTEN DUNIA

David Bryant membedakan dua macam orang Kristen. Pertama, orang Kristen duniawi (worldly Christian), yaitu mereka yang sudah di selamatkan, tetapi tidak tertarik membawa keselamatan pada dunia, sebaliknya mereka memandang dunia sebagai sarana bagi keuntungan dan kepentingan pri badinya. Kedua, orang Kristen dunia (world Christian), yaitu orang yang sudah diselamatkan, dan mengarahkan kehidupannya di dunia untuk misi, membawa berita keselamatan kepada segala bangsa.

Dalam pengajaran Tuhan Yesus, kita melihat bahwa keselamatan dan misi adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Perhatikan bacaan kita hari ini. Setelah meneguhkan para murid tentang kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran-kebenaran penting bagi pelayanan mereka selanjutnya. Dia merangkumkan bahwa seluruh isi kitab Taurat, kitab para nabi, dan kitab mazmur menunjuk pada penggenapan keselamatan di dalam Diri-Nya (ayat 46). Namun bukan hanya itu, garis besar Kitab Suci juga adalah tentang bagaimana berita keselamatan ini harus disampaikan kepada segala bangsa (ayat 47).

Orang Kristen duniawi-orang yang puas dengan berkat keselamatan bagi diri sendiri-dan orang Kristen dunia-orang yang merindukan keselamatan itu juga sampai kepada segala bangsa. Dari dua kelompok ini, Anda termasuk yang mana? Gaya hidup dan prioritas macam apa yang harus kita ubah jika kita ingin bertumbuh sebagai orang-orang Kristen dunia-orang-orang yang merindukan agar semua bangsa dapat kembali bersukacita di dalam Tuhan? –JOO

Resep menghasilkan orang Kristen duniawi:

Ajarkanlah keselamatan tanpa misi

Dikutip : www.sabda.org

DOA PERTOBATAN

Minggu, 15 Januari 2012

Bacaan : Yohanes 17:14-26

17:14 Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

17:15 Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.

17:16 Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

17:17. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

17:18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;

17:19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.

17:20. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;

17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:

17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

17:24. Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.

17:25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;

17:26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”

DOA PERTOBATAN

Martin Luther mengatakan bahwa tiap orang kristiani seharusnya mengalami dua pertobatan. Pertobatan pertama adalah menanggapi panggilan Tuhan untuk keluar dari dunia masuk ke dalam gereja. Yang kedua adalah diutus kembali ke dalam dunia untuk membawa pesan dan mewujudkan kerajaan Allah.

Perkataan Luther ini menggaungkan doa Yesus menjelang akhir hayat-Nya. Benar bahwa para pengikut Yesus memang dipanggil keluar dari kegelapan dunia menjadi warga kerajaan Allah. Mereka berbeda dari dunia (ayat 14, 16). Tetapi, orang-orang ini tidak langsung dibawa pergi dari dunia (ayat 15). Mereka justru diutus kembali ke dalam dunia, hidup di tengah-tengah masyarakat (ayat 18). Persekutuan orang percaya atau gereja, dalam bahasa Yunani disebut ekklesia, yang secara harfiah berarti “dipanggil keluar”. Orang percaya juga disebut sebagai garam dunia (lihat Matius 5). Dunia yang tidak sedap dan sedang membusuk memerlukan keasinan dan kehadiran garam, yaitu para pengikut Yesus yang memenuhi hakikat dan panggilan keberadaannya.

Ketika berbalik dari dosa dan memercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita telah mengalami pertobatan pertama. Namun, sudahkah kita juga mengalami pertobatan yang kedua? Bagaimanakah hubungan kita dengan dunia di mana Tuhan menempatkan kita: tempat kerja, lingkungan pergaulan, keluarga besar, bahkan orang-orang yang belum percaya? Apa yang dapat kita lakukan agar kehadiran kita sungguh menjadi utusan kabar baik kerajaan Allah dan mewujudkan “tubuh” kehadiran Kristus di sana? –JOO

BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA

SEBERAPA BESAR KASIH ANAK-ANAK-NYA?

Dikutip : www.sabda.org