SIAPA TUAN KITA?

Jumat, 24 Februari 2012

Bacaan : 1 Tesalonika 2:1-12

2:1. Kamu sendiripun memang tahu, saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia.

2:2 Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat.

2:3 Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya.

2:4 Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita.

2:5 Karena kami tidak pernah bermulut manis–hal itu kamu ketahui–dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi–Allah adalah saksi–

2:6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus.

2:7. Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.

2:8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.

2:9 Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.

2:10 Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya.

2:11 Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang,

2:12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

SIAPA TUAN KITA?

Ada sebuah lelucon mengenai seorang pendeta yang masuk ke toko buku Kristen dan memilih beberapa buku. Setelah melihat-lihat har ganya, ia mendekati pelayan toko dan bertanya: “Apakah ada harga khusus untuk hamba Tuhan?” Hmm … ada se orang hamba yang sedang meminta fasilitas khusus. Menggelikan bukan?

Paulus dan teman-temannya pernah dicurigai sedang mencari hormat atau keuntungan pribadi me lalui pelayanan. Paulus membantah hal tersebut dan menegaskan prinsipnya dalam pe la yanan . Ia tahu siapa tuannya dan kepada siapa ia mencari perkenan. Baginya, Allah adalah Sang Tuan yang telah memercayainya (trust) dan memercayakan (entrust) berita Injil kepadanya. Karena itu hanya kepada Allah-lah ia ha rus mempertanggungjawabkan semua pelayanannya. Keinginannya hanya satu: menyukakan hati Allah yang empunya pelayanan (ayat 4). Sekalipun baik untuk memperoleh pujian dari manusia, namun bukan itu yang seharusnya dicari dalam pelayanan (ayat 6). Karena kalau pujian manusia yang kita kejar, maka bisikan dari Sang Tuan bisa saja kita abaikan.

Di dalam pelayanan mungkin kerap kali kita lupa siapa “tuan” kita. Kita lebih sering membuka telinga ke samping daripada ke atas. Kita lebih suka dan lebih sering mencari komentar dari orang-orang di sekeliling kita daripada komentar Tuan kita. Lalu berdasarkan komentar itu kita mengarahkan pelayanan kita. Selama ini, terhadap komentar siapakah kita lebih merasa nyaman atau terganggu? Para “tuan” dan sahabat kita di dunia, ataukah Tuan kita di surga? –PBS

Kenali dan hormati Tuan kita.

Cari perkenan pujian hanya dari pada-Nya.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

MENGALAHKAN KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN

Shalom…Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati Allah.

Dalam Filipi 4:13, Paulus menyatakan
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Mengalahkan kejahatan dengan kebaikan tidak hanya merupakan teknik yang bersifat spiritual, tetapi juga menunjukkan arti dan maksud dari penerapan kemenangan yang sudah diraih oleh Yesus Kristus.

Kalau kita pelajari bahwa kerajaan Setan menggunakan prinsip yang sebaliknya. Setan sangat senang menambah kekuatan atas orang-orang dengan cara mencobai mereka untuk melakukan hal-hal yang bersifat sebaliknya dari hal-hal yang bersifat positif.

Seperti halnya mempengaruhi umat Tuhan untuk tidak bergereja, berdoa, membaca Alkitab, melakukan penipuan kepada saudaranya sendiri, melukai perasaan orang lain, bertindak kasar terhadap isteri terhadap suami, homoseksual, pornografi. Hal-hal itu membawa mereka masuk ke dalam kutuk melalui kendali Setan.

Untuk hidup di dalam kebenaran Allah, maka kita harus mampu terlibat di dalam mempengaruhi sekeliling kita dengan kebenaran dan kebaikan.

Ketika melawan “musuh” sebenarnya kita sedang memanifestasikan aspek karakter Kristus yang merupakan lawan dari pencobaan yang sedang kita hadapi. Ambillah pernyataan Yesus berkenaan dengan roh-roh jahat yang khusus “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.” (Matius 17:21).

Suatu nasihat untuk menjauhkan diri dari makanan adalah mungkin karena murid-murid pada saat itu sedang menghadapi Iblis yang memiliki nafsu besar, seperti kerakusan dan juga nafsu birahi.

Berpuasa merupakan suatu tindakan yang memiliki arti yang sangat besar. Puasa merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengalahkan musuh. Puasa memang sangat sulit dan dengan berpuasa mengirim kita untuk berlari minta tolong kepada Yesus. Ketika tubuh kita berteriak minta makan, maka kita tahu, bahwa kita memerlukan anugerah untuk melanjutkan puasa kita, tanpa pertolongan Allah atau anugerah Allah, maka akan mengalami kesulitan atau penderitaan.

Penyangkalan terhadap keinginan besar menjadi suatu peperangan pribadi yang sangat hebat. Kelaparan dan kelemahan kita membuat kita menjadi rendah hati. Kita benar-benar memerlukan anugerah dari Tuhan untuk mempertahankan komitmen kita untuk menjauhkan diri dari makanan dan nafsu keserakahan. Kemiskinan atau kelemahan dari kecukupan kita diungkapkan dan kecukupan dari Kristus dinyatakan. Mari kita renungkan penerapan kebenaran Kristus. Kita disalibkan bersama Kristus dan sifat kita yang lama dihancurkan. Kemudian kehidupan Kristus mendiami hidup kita di dalam kemenangan. Inilah prinsip yang sudah diubahkan. Hidup-nya adalah bagi kita dan kekuatan-Nya yang sempurna ada ketika kita mengakui kelemahan. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20). “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5).

Ketika kita mengenal aktivitas penghulu-penghulu di udara dengan segala karakter khususnya, maka kita perlu menanganinya. Tidak hanya menahan dan mengalahkan pencobaan, tetapi juga dengan mendoemonstrasikan tindakan-tindakan yang positif. Mazmur 3:4-7 “Tetapi Engkau, Tuhan adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela. Aku membaringkan diri, lalu tidur, aku bangun, sebab Tuhan menopang aku! Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku”.

Gereja kita sudah ditugaskan untuk menjadi berkat bagi kota Tarakan, mari kita mulai dengan mencabut akar-akar kejahatan. Berikanlah segala kebaikan yang sudah Tuhan karuniakan kepada kita kepada orang lain atau yang membutuhkan. Kalau Gereja kita sekarang memiliki proyek. Yaitu membangun Gedung Gereja, hal ini tidak saja sebagai suatu proyek pembangunan, tetapi juga merupakan suatu kesempatan untuk membawa kita masuk ke dalam level rohani yang lebih tinggi dan menjadi berkat bagi kota Tarakan. Walaupun dana pembangunan kita tidak berlebihan atau pas-pasan, namun kita bersyukur dapat membagi berkat dengan memberi persembahan kepada beberapa Gereja yang ada di Tarakan yang juga sedang membangun. Untuk itu mari jemaat Tuhan senantiasa mendukung dalam doa, pemikiran, tenaga juga dana untuk penyelesaian proyek pembangunan Gereja Bethany GTM.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien

Gembala Sidang,
Pdt. Ir. Joko Susanto, MA