BUDAK

Kamis, 28 Oktober 2010

Bacaan : Lukas 17:7-10

17:7 “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!

17:8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

17:9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?

17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

BUDAK

Menurut Wikipedia, perbudakan adalah sebuah sistem di mana manusia menjadi hak milik orang lain. Dan sejak mereka dibeli atau ditebus oleh seseorang, maka budak itu tidak lagi punya hak atas dirinya sendiri. Ia harus mengabdi penuh pada tuannya, sama sekali tak boleh menolak jika disuruh bekerja, apalagi meminta upah-yang berupa pujian sekalipun. Bahkan dalam beberapa budaya, para pemilik budak dilegalkan untuk membunuh budak yang hak hidupnya ada di tangan mereka.

Di Alkitab kita juga mengenal istilah “hamba” sebagai ganti kata “budak”. Dan serupa dengan budak, sesungguhnya hidup kita pun sudah “dibeli lunas” oleh Tuhan dengan sangat mahal-tak terbeli oleh harta apa pun-yakni dengan darah-Nya sendiri (1 Petrus 1:19). Itu berarti hidup kita bukan hak kita sendiri lagi (Galatia 2:20), melainkan hak Tuhan sepenuhnya, yang “membeli” kita. Maka, bukan keinginan dan mau kita yang semestinya kita lakukan selagi singgah di bumi ini, melainkan kemauan dan kerinduan Tuhan Yesus, Pemilik hidup kita.

Itu sebabnya, mari kita giat melakukan pekerjaan Tuhan. Kita yang tak punya hak hidup atas diri kita sendiri tak sepatutnya menolak bekerja bagi Dia. Hidup kita-dengan segala talenta yang di-punya-adalah milik Tuhan. Maka, kita harus memakainya untuk memuliakan Dia. Lakukan segala pekerjaan baik dengan setiap talenta kita, sebaik dan semaksimal mungkin. Dan jika kita telah mela-kukannya, tak perlu kita mengharap pujian atau ucapan terima kasih. Sebab semuanya dari Dia, dilakukan oleh pertolongan-Nya, dan bagi kemuliaan-Nya saja (Roma 11:36). Dan, kita hanya “melakukan apa yang seharusnya kita lakukan” –AW

SEBAB HIDUP INI BUKAN HAK KITA LAGI

MAKA SEMUA YANG KITA LAKUKAN

HANYALAH YANG DIA INGINI

Sumber : www.sabda.org

Iklan

PANTULAN MATAHARI

Kamis, 3 September 2009

Bacaan : Yeremia 23:21-24

23:21 “Aku tidak mengutus para nabi itu, namun mereka giat; Aku tidak berfirman kepada mereka, namun mereka bernubuat.

23:22 Sekiranya mereka hadir dalam dewan musyawarah-Ku, niscayalah mereka akan mengabarkan firman-Ku kepada umat-Ku, membawa mereka kembali dari tingkah langkahnya yang jahat dan dari perbuatan-perbuatannya yang jahat.

23:23 Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah firman TUHAN, dan bukan Allah yang dari jauh juga?

23:24 Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN.

 

PANTULAN MATAHARI

Sinar matahari dapat terpantul di berbagai tempat. Orang senang bertamasya ke pantai untuk menyaksikan matahari terbit atau terbenam, menyemburatkan pantulan yang elok di lautan. Jika Anda melintasi danau atau sungai pada hari yang cerah, matahari juga terpantul di sana. Kalau Anda hanya menemukan genangan air, di situ pun Anda dapat melihat pantulan matahari. Pada waktu pagi, tengoklah embun yang menempel di daun: matahari terpantul seperti lampu kecil yang amat cemerlang!

Pantulan sinar matahari hanyalah gambaran sekilas dari kemahahadiran Allah. Dia ada di mana-mana, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Melalui Nabi Yeremia, Allah menegaskan kembali kebenaran tersebut. Dia menegur orang-orang yang mengklaim berbicara atas nama Tuhan, tetapi sebenarnya mereka hanya mewakili dewa setempat yang serbaterbatas. Nubuatan mereka picik dan menyesatkan. Alih-alih memberikan tuntunan dan penghiburan, pernyataan mereka malah menimbulkan kebingungan dan mendatangkan keputusasaan.

Krisis global saat ini dapat membuat kita diliputi keragu-raguan. Benarkah Allah mengetahui dan memedulikan situasi kehidupan kita? Sanggupkah Allah menolong kita mengatasi masalah yang pelik dan tak terkendali? Kemahahadiran Allah kiranya menghibur dan menguatkan kita. Allah tidak pernah meninggalkan kita. Dia menyertai kita senantiasa, dan kita dapat mengandalkan pertolongan-Nya. Tidak ada perkara yang terlalu kecil, sehingga Dia mengabaikannya. Tidak ada pula perkara yang terlalu besar, sehingga Dia tidak sanggup mengatasinya -ARS

JANGAN MELIHAT PADA BETAPA BESARNYA MASALAHMU

LIHATLAH PADA BETAPA BESARNYA ALLAHMU

Sumber : www.sabda.org