KEKAYAAN

Selasa, 21 Juni 2011

Bacaan : Yesaya 2:6-11

2:6. Sungguh, telah Kaubuang umat-Mu, yakni kaum keturunan Yakub, sebab di mana-mana mereka melakukan tenung seperti yang di Timur dan sihir seperti orang Filistin, dan orang-orang asing di antara mereka terlalu banyak.

2:7 Negerinya penuh emas dan perak dan tak terbatas harta bendanya; negerinya penuh kuda dan tak terbatas jumlah keretanya.

2:8 Negerinya penuh berhala-berhala; mereka sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri dan kepada yang dikerjakan oleh tangannya.

2:9 Maka manusia ditundukkan dan orang direndahkan–janganlah ampuni mereka!

 

2:10. Masuklah di sela gunung batu dan bersembunyilah di dalam liang tanah terhadap kedahsyatan TUHAN dan terhadap semarak kemegahan-Nya!

2:11 Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.

 

KEKAYAAN

Fortune adalah majalah bisnis di Amerika yang didirikan oleh Henry Luce pada 1930. Majalah ini dikenal oleh masyarakat dunia karena kerap menuliskan daftar orang terkaya di dunia. Dan, daftar tersebut selalu menimbulkan daya tarik tersendiri buat orang banyak. Mungkin karena kekayaan adalah hal yang selalu dicari oleh manusia.

Alkitab sendiri tidak mencatat bahwa kekayaan atau menjadi kaya itu salah. Justru Alkitab mencatat kekayaan sebagai salah satu berkat dari Tuhan (Amsal 10:22). Akan tetapi, apabila kita tidak berhati-hati, kekayaan dapat mengarahkan hati kita kepada kesombongan dan makin menjauh dari Tuhan seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel pada zaman Yesaya. Pada saat itu bangsa Israel sedang berada dalam kondisi makmur (ayat 7). Namun, kondisi tersebut tidak membuat mereka bersyukur kepada Tuhan. Mereka malah menjauh dari Tuhan, menyembah berhala, dan menjadi sombong. Allah pun menegur dan menghukum mereka.

Berhati-hati dan waspadalah dengan kekayaan. Prinsip yang mengatakan bahwa “segala sesuatu bisa dilakukan asal ada uang” memang banyak berlaku di mana-mana. Prinsip itulah yang biasanya membuat diri kita merasa mampu melakukan segala sesuatu tanpa pertolongan Tuhan, dan akhirnya membuat kita menjauh dari-Nya dan menjadi sombong takabur. Menjadi kaya bukanlah hal yang keliru. Akan tetapi, kita harus memandang kekayaan sebagai berkat atau pemberian dari Tuhan. Karena hanya dengan cara itulah kita dapat bersyukur kepada Tuhan dan menjaga hati kita untuk tidak sombong –RY

MENJADI KAYA ITU BUKAN DOSA

TETAPI MENCARI DAN MEMAKAI KEKAYAAN

DENGAN CARA SALAH, ITU DOSA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

LEBIH MURAH

Kamis, 7 Januari 2011

Bacaan : Keluaran 15:22-27

22Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air.

23Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara.

24Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: “Apakah yang akan kami minum?”

25Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,

26firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.”

27Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.

LEBIH MURAH

Suatu pagi, saya memesan tiket pesawat pada teman beberapa hari menjelang Lebaran. Ia mendapatkan tiket yang relatif murah pada musim mudik, dan berjanji akan segera mengirimkannya. Saya tunggu-tunggu, tiket tidak kunjung datang juga hingga sehari menjelang keberangkatan. Dengan agak jengkel, saya meneleponnya. Ternyata ia sedang mencari tiket yang lebih murah lagi dan, ya, ia memang berhasil mendapatkannya! “Makanya, jangan menggerutu dulu, ” kata hati saya.

Pengalaman itu menolong saya memahami tingkah bangsa Israel. Tiga hari berjalan di padang gurun tanpa mendapatkan air, begitu mendapati air di Mara, ternyata airnya pahit. Jelas saja mereka menggerutu. Namun, sungut-sungut itu menunjukkan ketidakpercayaan mereka akan pemeliharaan Tuhan. Nyatanya, Tuhan mengulurkan bantuan ketika Musa berseru kepada-Nya.

Kemudian, mereka sampai di Elim. Tempat ini berlimpah air dan diteduhi pohon kurma. Menurut beberapa arkeolog, jarak dari Mara ke Elim itu sekitar 20 kilometer atau satu hari perjalanan. Dengan kata lain, seandainya saja bangsa Israel mau bersabar sehari lagi, mereka tidak perlu mengomel pada Tuhan. Sayang, tidak diceritakan apakah di Elim mereka bersorak-sorai dengan ucapan syukur.

Kadang-kadang kita juga melewati tempat seperti Mara: ketika kita merasa merasa terjepit oleh persoalan hidup dan Tuhan seakan tidak peduli, ternyata Dia sedang menyiapkan pertolongan yang tak terduga dan lebih baik dari yang kita harapkan. Karenanya, ketika keadaan memburuk, jangan biarkan sikap negatif menggerus kepercayaan kita kepada Tuhan –ARS

PERTOLONGAN TUHAN DATANG MENURUT CARA DAN WAKTU-NYA

SERTA MELAMPAUI PERKIRAAN KITA

Sumber : www.sabda.org

TIDAK KEHILANGAN SENYUM

Selasa, 9 November 2010

Bacaan : 2 Tawarikh 20:1-18

20:1. Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim.

20:2 Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi.

20:3 Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.

20:4 Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.

20:5 Lalu Yosafat berdiri di tengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem di rumah TUHAN, di muka pelataran yang baru

20:6 dan berkata: “Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau.

20:7 Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya?

20:8 Lalu mereka mendiami tanah itu, dan mendirikan bagi-Mu tempat kudus untuk nama-Mu. Kata mereka:

20:9 Bila sesuatu malapetaka menimpa kami, yakni pedang, penghukuman, penyakit sampar atau kelaparan, kami akan berdiri di muka rumah ini, di hadapan-Mu, karena nama-Mu tinggal di dalam rumah ini. Dan kami akan berseru kepada-Mu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami.

20:10 Sekarang, lihatlah, bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir ini! Ketika orang Israel datang dari tanah Mesir, Engkau melarang mereka memasuki negerinya. Oleh sebab itu mereka menjauhinya dan tidak memusnahkannya.

20:11 Lihatlah, sebagai pembalasan mereka datang mengusir kami dari tanah milik yang telah Engkau wariskan kepada kami.

20:12 Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.”

20:13 Sementara itu seluruh Yehuda berdiri di hadapan TUHAN, juga segenap keluarga mereka dengan isteri dan anak-anak mereka.

 

20:14. Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah,

20:15 dan berseru: “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.

20:16 Besok haruslah kamu turun menyerang mereka. Mereka akan mendaki pendakian Zis, dan kamu akan mendapati mereka di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel.

20:17 Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.”

20:18 Lalu berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah. Seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalempun sujud di hadapan TUHAN dan menyembah kepada-Nya.

 

TIDAK KEHILANGAN SENYUM

Di sebuah desa kecil yang setahun sebelumnya hancur karena gempa bumi, tinggal seorang ibu sebatang kara. Ibu itu terkenal karena senyumnya yang lembut kepada setiap orang yang dijumpainya. Suatu hari seorang pemuda bertanya, “Ibu selalu tersenyum, apakah Ibu tidak pernah merasa susah?” Ibu itu menjawab, “Pernah. Setahun yang lalu saya kehilangan semuanya; suami, anak-anak, cucu-cucu, dan harta benda karena gempa bumi. Saya hanya punya baju di badan, tanpa sanak keluarga dan hidup terlunta-lunta.” “Lalu sejak kapan Ibu bisa kembali tersenyum?” tanya pemuda itu lagi. “Sejak saya menyadari, bahwa saya masih memiliki Allah, ” jawab ibu itu pula.

Bacaan Alkitab hari ini berkisah tentang bangsa Yehuda yang tengah terjepit karena ancaman orang Moab dan Amon. Di tengah kekalutan dan ketakutan itu, Yosafat mengajak seluruh bangsa berseru kepada Allah. Dan, Allah tidak tinggal diam. Dia menjawab seruan mereka melalui Yahaziel, seorang Lewi dari bani Asaf. “Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah” (ayat 15).

Mungkin sekarang kita pun tengah berhadapan dengan “orang Moab dan Amon”; kesusahan dan kemalangan yang bertubi-tubi, kegagalan dan kehilangan yang menyesakkan. Dan, kita merasa tidak sanggup lagi menghadapi semua itu. Dalam situasi demikian kita diingatkan, bahwa kita masih memiliki Allah. Allahlah, bukan kita, yang akan “berperang” menghadapi semua itu. Sehingga, seperti ibu dalam kisah tadi, kita tidak akan kehilangan senyum –AYA

ALLAH ADALAH SUMBER KEKUATAN YANG TEGUH

DI TENGAH SEGALA PENCOBAAN YANG TERJADI

Dikutip : www.sabda.org

JAWABAN-NYA TAK TERDUGA

Sabtu, 28 Agustus 2010

Bacaan : Matius 14:22-33

14:22. Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

14:23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.

14:24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

14:25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.

14:26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.

14:27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

14:28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”

14:29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

14:30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”

14:31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

14:32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.

14:33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

JAWABAN-NYA TAK TERDUGA

Jika Yesus berjalan di atas air pada saat hari cerah dan laut tenang, rasanya para murid akan tepuk tangan dan melonjak-lonjak menyambut kedatangan-Nya. Namun, saat itu malam gulita dan cuaca buruk. Murid-murid kepayahan mendayung perahu melawan badai. Kemunculan-Nya yang dramatis dan tidak lazim bukannya membangkitkan harapan, melainkan memperparah kecemasan dan ketakutan mereka. Tak heran mereka mengira Dia hantu!

Bukankah kita kerap mengalami persoalan serupa? Kita kepayahan menghadapi masalah hidup dan sangat mengharapkan pertolongan Tuhan. Namun, kita sulit mengenali Dia karena cara kedatangan-Nya di luar dugaan kita. Atau, bentuk pertolongan-Nya berlawanan dengan keinginan kita. Bukannya membaik, keadaan tampaknya malah semakin memburuk. Dan, kita mengira tengah dicobai oleh Iblis!

Benarkah? Seseorang pernah menulis puisi: Ia meminta kekuatan, dan Allah memberinya kesulitan untuk menjadikannya kuat. Ia meminta hikmat, dan Allah memberinya masalah untuk dipecahkan. Ia meminta kemakmuran, dan Allah memberinya otak dan kegigihan untuk bekerja. Ia meminta keberanian, dan Allah memberinya bahaya untuk diatasi. Ia meminta kasih, dan Allah memberinya orang bermasalah yang perlu ditolong. Ia meminta kemurahan, dan Allah memberinya kesempatan. Ia tidak menerima satu pun yang diinginkannya; ia menerima segala sesuatu yang diperlukannya. Doanya terjawab.

Lain kali, saat keadaan berlawanan dengan harapan kita, bersiaplah: Jangan-jangan Tuhan malah tengah datang mendekat! –ARS

TUHAN TIDAK BERJANJI MEMUASKAN KEINGINAN KITA

NAMUN DIA PASTI MENCUKUPKAN KEBUTUHAN KITA

Sumber : www.sabda.org

TERJUN BEBAS

Senin, 28 Juni 2010

Bacaan : Ratapan 3:19-27

3:19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”

3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

3:21. Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

3:27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.

TERJUN BEBAS

Selama 45 tahun, hidup Ken Karpman nyaris sempurna. Ia lulus dari salah satu universitas terbaik di Amerika dan menikah dengan gadis impiannya. Kariernya sebagai pialang saham terus menanjak dan memberinya penghasilan hingga Rp8, 8 miliar per tahun. Lalu tibalah saat itu. Tahun 2008 resesi menghantam perekonomian Amerika. Hidup Karpman pun “terjun bebas” dalam sekejap. Ia kehilangan pekerjaan, tabungan, dan hartanya.

Guna menghidupi keluarga, Karpman mengambil langkah drastis. Ia melamar pekerjaan sebagai pengantar piza dengan penghasilan yang amat pas-pasan, bahkan untuk orang kebanyakan. Kehidupannya pun berubah 180 derajat, tetapi ia tidak menyesalinya, “Ini hanya sebuah proses. Saya mensyukuri tiap sen yang saya dapat. Ada pelajaran berharga dari setiap potong piza yang saya antar, yaitu kerendahan hati.”

Yeremia juga pernah merasakan perubahan drastis ketika bangsa Israel ditaklukkan Babel. Yerusalem hancur. Semua berubah dalam sekejap. Dari bangsa merdeka, menjadi bangsa terjajah. Patah arangkah Yeremia? Tidak. Ia sungguh percaya Tuhan tidak pernah meninggalkan bangsanya. Karena itu ia tetap bisa melihat karya Tuhan, “Tak berkesudahan kasih Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, ” begitu ia berkata.

Hidup di dunia ini memang serba tidak pasti. Apa yang ada kini, bisa tiba-tiba hilang tak berbekas. Hari ini kita berhasil, besok gagal. Usaha yang semula maju mendadak bangkrut. Kita semula sehat, tiba-tiba sakit. Namun, tak usah khawatir. Sejauh kita berjalan bersama Tuhan, semua itu takkan “melumpuhkan” kita. Bersama Tuhan, kita akan siap menghadapi perubahan apa pun yang terjadi –AYA

KETIKA MENGALAMI PERUBAHAN DRASTIS DALAM HIDUP

INGATLAH KASIH SETIA TUHAN TAK PERNAH BERUBAH

Sumber : www.sabda.org

Pertolongan Tuhan

Pesan Gembala

 

23 November 2008

Edisi 50 Tahun 1

 

Pertolongan Tuhan

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan yang dikasihi Allah, kalau kita menjumpai orang yang menderita kusta, dimanapun tempatnya selalu dihindari orang dan dikucilkan orang banyak. Sebab dikuatirkan penyakitnya menular ke orang lain yang sering berdekatan dengan orang yang sakit kusta tersebut.

 

Terlebih di negara Israel orang kusta harus disingkirkan dari pandangan umum, dan tidak diperkenankan tinggal di kota. Di Alkitab diceritakan bahwa apabila mereka bertemu dengan orang lain yang sehat, maka mereka harus menutupi dirinya, memalingkan mukanya dan berteriak, “najis…najis.” selama masih menderita kusta mereka tidak boleh datang ke Bait Allah, juga tidak boleh menghadap Imam. Sehingga penderitaan mereka sangat luar biasa fisik dan psikis.

 

Demikian juga 10 orang kusta yang dijumpai Tuhan Yesus di perbatasan Samaria dan Galilea itu. Mereka sudah tidak ada pengharapan lagi, dan masa depan yang semakin suram. Sebelum bertemu Yesus sepertinya tidak ada jalan keluar. Jalan yang dianggap buntu tidak selamanya tertutup. Pada suatu hari mereka mendengar bahwa ada seseorang yang sanggup menyembuhkan segala macam penyakit, dan orang itu sangat mengasihi banyak orang yang sedang dalam penderitaan. Orang itu adalah Yesus.

 

Ketika Yesus akan melewati daerah yang mereka tempati, maka mereka mempersiapkan diri dan menunggu kedatangan Yesus. Begitu mereka bertemu dengan Yesus mereka berseru “Guru…kasihanilah kami…!” Mereka hanya berteriak “kasihanilah kami…!” tetapi Yesus sangat mengerti keberadaan mereka atau kebutuhan mereka. Maka Yesus memberikan kasih-Nya kepada mereka.

 

Demikian dengan kita sekarang ini ketika kita mengalami kehausan dan kelaparan KASIH, maka berserulah kepada Tuhan Yesus.

 

Jadi di saat menghadapi masalah, maka yang pertama adalah berserulah kepada Yesus. Dan yang kedua miliki kepercayaan yang tinggi kepada Kristus.

 

Perhatikan ketika orang-orang kusta itu berteiak memanggil nama Yesus, Tuhan Yesus memandang mereka dan berkata:”Pergilah, dan perlihatkanlah dirimu kepada imam.” Logikanya agak sulit untuk melakukan perkataan Yesus, dan aneh, sebab itu melanggar aturan (hukum Yahudi) yang menyatakan orang kusta tidak boleh menemui Imam. Bisa-bisa mereka diusir atau bahkan dilempari batu, mereka bertanya-tanya apakah ini jalan keluar atau bahkan mendapat masalah baru. Tetapi itulah jalan keluar yang seringkali dibuat oleh Tuhan kepada umat-Nya, seringkali hal-hal yang dianggap manusia sebagai bukan jalan keluar.

 

Cara pemecahan yang dimiliki manusia, berbeda dengan cara Tuhan. Bahkan ketika mengalami masalah dan berseru kepada Tuhan, maka kita sudah merancang terlebih dahulu jalan keluarnya, tetapi jalan Tuhan tidak sama.

 

Puji Tuhan kesepuluh orang kusta itu tidak memusingkan perintah Allah dan melakukannya, mereka sangat mempertaruhkan kehidupannya kepada Yesus. Dan mereka melakukan perintah Allah dengan percaya, maka Tuhan bertindak, sebab dikatakan bahwa sementara mereka pergi untuk memperlihatkan diri kepada Imam, maka mereka menjadi “tahir”. Mujizat terjadi saat mereka menjalankan perintah Tuhan.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan, kita semua memerlukan pertolongan Tuhan untuk itu yang harus dilakukan adalah berseru kepada Tuhan dan percayalah kepada perintah Tuhan. Tuhan Yesus memberkati… Salam Mujizat.

 

 

Gembala Sidang

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA