ANAK BAGI BANGSA

Sabtu, 20 Agustus 2011

Bacaan : Mazmur 144:12-15

144:12 Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!

144:13 Semoga gudang-gudang kita penuh, mengeluarkan beraneka ragam barang; semoga kambing domba kita menjadi beribu-ribu, berlaksa-laksa di padang-padang kita!

144:14 Semoga lembu sapi kita sarat; semoga tidak ada kegagalan dan tidak ada keguguran, dan tidak ada jeritan di lapangan-lapangan kita!

144:15 Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya! Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN!

ANAK BAGI BANGSA

Belaian Sayang” adalah lagu karya artis serbabisa Bing Slamet yang dinyanyikan kembali oleh beberapa penyanyi terkenal Indonesia. Lagu indah ini mengungkapkan harapan orangtua bagi anaknya yang masih bayi. Sebagian liriknya berbunyi: ibu menjaga, ayah mendoa, agar kau kelak jujur melangkah; jangan engkau lupa tanah pusaka, tanah air kita Indonesia. Bing memandang ideal jika se-orang anak bertumbuh menjadi orang yang saleh dan berguna bagi bangsanya.

Hal ideal tersebut sesungguhnya tidak jauh dari apa yang Alkitab tuliskan. Mazmur 144 menyatakan bahwa suatu bangsa akan berbahagia jika anak-anaknya yang lelaki dan perempuan bertumbuh sehat dan kuat. Sebagai “tanam-tanaman” dan “tiang-tiang penjuru, ” kiprah dan karya anak-anak lelaki dan perempuan diharapkan menopang dan menunjang bangsa. Di sini kita melihat bagaimana Alkitab mengaminkan pemahaman umum bahwa anak-anak (muda) adalah tulang punggung bangsa. Suatu bangsa akan sukses dan terpandang jika anak-anaknya sadar bahwa mereka harus berbakti kepada bangsanya. Di sini pula orang kristiani mendapat dimensi tambahan yang penting dan alkitabiah dalam mengasuh anak. Kita harus mendidik anak-anak kita untuk berguna bagi bangsa juga-bukan hanya bagi Allah dan bagi keluarga!

Saat ini, sudahkah kita terapkan dimensi tambahan itu? Sudahkah kita mengarahkan anak-anak kita untuk menggenapi seruan Alkitab ini, agar anak-anak kita juga mengambil peran untuk membangun bangsa Indonesia tercinta? Bangsa ini membutuhkan karya mereka, sumbangsih positif mereka –ST

ANAK-ANAK ADALAH SUMBANGAN BERHARGA

UNTUK MEMPERKOKOH GEREJA DAN BANGSA

Dikutip : http://www.sabda.org

Iklan

APA NAMA HARI ANDA?

Sabtu, 2 Oktober 2010

Bacaan : Keluaran 17:1-7

17:1. Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu.

17:2 Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: “Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?”

17:3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”

17:4 Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!”

17:5 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah.

17:6 Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.” Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel.

17:7 Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”

APA NAMA HARI ANDA?

Anak perempuan sulung saya menamai kamarnya: “Istana Ceria”. Dengan menamai kamarnya demikian, di situ ia merasa nyaman untuk bebas bermain, menari, dan melakukan banyak hal yang membuatnya terus ceria dan bergembira.

Musa juga pernah memberi nama tempat yang dilalui bangsa Israel, sesuai dengan peristiwa yang mereka alami di situ. Bacaan kita menceritakan bahwa ini adalah kali kedua Musa melakukannya, yakni di tempat mereka bersungut-sungut soal air minum. Pengalaman bahwa dulu Tuhan pernah menolong mereka (Keluaran 15:22-27), sepertinya tak membekas dalam hati. Mereka lebih cepat menjadi marah dan memusuhi Musa, tanpa mau mengingat mukjizat Tuhan dan menantikan pertolongan-Nya. Mereka lebih mudah bersikap tak puas dengan hidup, lalu bertengkar dengan Musa, hingga dengan demikian mereka mencobai Tuhan (ayat 4, 7). Itulah sebabnya tempat peristiwa ini terjadi diberi nama Masa (artinya: pencobaan) dan Meriba (artinya: pemberontakan atau perselisihan).

Apabila hari-hari dalam hidup Anda diberi nama, apa kira-kira nama yang akan Anda berikan? Ada banyak nama positif yang dapat kita pakai sebagai pernyataan iman, juga menjadi pengingat agar kita selalu kuat dan bersemangat saat menjalani kehidupan. Misalnya; hari yang “Teguh”, “Beriman Walau Sulit”, “Tetap Percaya”, “Berserah Walau Kalah”, “Lembut Dalam Kesukaran”, dan sebagainya. Pilihlah nama-nama yang positif untuk menamai hari Anda, sebab seperti itu pulalah Anda akan menghidupinya. Akan Anda namai apakah hari ini? Jadilah semangat oleh nama tersebut, dan jadilah berkat! –DKL

IMAN BAHWA TUHAN BERDAULAT ATAS HIDUP INI

MEMBUAT KITA YAKIN ADA KEMENANGAN DI SETIAP HARI

Sumber : www.sabda.org

KEKUATAN PIKIRAN

Rabu, 15 September 2010

Bacaan : Filipi 4:1-9

4:1. Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

4:2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.

4:3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.

4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.


KEKUATAN PIKIRAN

Sejak kecil Tara Holland sudah bermimpi menjadi Miss America. Impiannya nyaris kandas setelah beberapa kali ikut kontes dan tidak menang. Bukannya putus asa, Tara terus berusaha. Akhirnya, pada 1997 ia sungguh-sungguh terpilih menjadi Miss America. Ketika ditanya seorang wartawan apakah ia canggung berjalan di atas panggung? Tara menjawab, “Tidak, karena saya sudah berjalan di atas panggung ribuan kali dalam pikiran saya.”

Ada pepatah dalam bahasa Latin: Fortis imaginatio generat casum. Artinya, imajinasi yang jelas menghasilkan kenyataan. Sejalan dengan yang dikatakan Marcus Aurelius dalam karyanya Meditations (Perenungan): “Profil kehidupan kita akan persis sama dengan apa yang kita pikirkan”. Dengan kata lain, pikiran memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan seseorang.

Ketika yang ada dalam pikiran kita adalah hal-hal yang negatif-kepedihan, keluhan, kemarahan, kebencian, dan kegagalan, hidup kita akan terasa suram dan kelam. Sebaliknya kalau pikiran kita sarat dengan hal-hal positif-kesuksesan, kasih, sukacita, kebaikan, dan kebahagiaan, dunia pun akan terasa cerah. Pikiran ibarat kacamata kehidupan, menentukan cerah suramnya apa yang kita lihat.

Ketika menulis surat Filipi, Rasul Paulus sedang dipenjara. Dengan kondisi demikian ia punya banyak alasan untuk mengeluh. Akan tetapi, ia tidak membiarkan dirinya terjebak dalam pikiran negatif. Karena itu surat Filipi jauh dari gambaran suram dan buram. Sebaliknya, justru penuh dengan ungkapan sukacita dan luapan pengharapan –AYA

BIASAKAN BERPIKIR POSITIF

HIDUP AKAN TERASA LEBIH CERAH

Sumber : www.sabda.org

MENGALAHKAN KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN

Shalom…Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati Allah.

Dalam Filipi 4:13, Paulus menyatakan
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Mengalahkan kejahatan dengan kebaikan tidak hanya merupakan teknik yang bersifat spiritual, tetapi juga menunjukkan arti dan maksud dari penerapan kemenangan yang sudah diraih oleh Yesus Kristus.

Kalau kita pelajari bahwa kerajaan Setan menggunakan prinsip yang sebaliknya. Setan sangat senang menambah kekuatan atas orang-orang dengan cara mencobai mereka untuk melakukan hal-hal yang bersifat sebaliknya dari hal-hal yang bersifat positif.

Seperti halnya mempengaruhi umat Tuhan untuk tidak bergereja, berdoa, membaca Alkitab, melakukan penipuan kepada saudaranya sendiri, melukai perasaan orang lain, bertindak kasar terhadap isteri terhadap suami, homoseksual, pornografi. Hal-hal itu membawa mereka masuk ke dalam kutuk melalui kendali Setan.

Untuk hidup di dalam kebenaran Allah, maka kita harus mampu terlibat di dalam mempengaruhi sekeliling kita dengan kebenaran dan kebaikan.

Ketika melawan “musuh” sebenarnya kita sedang memanifestasikan aspek karakter Kristus yang merupakan lawan dari pencobaan yang sedang kita hadapi. Ambillah pernyataan Yesus berkenaan dengan roh-roh jahat yang khusus “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.” (Matius 17:21).

Suatu nasihat untuk menjauhkan diri dari makanan adalah mungkin karena murid-murid pada saat itu sedang menghadapi Iblis yang memiliki nafsu besar, seperti kerakusan dan juga nafsu birahi.

Berpuasa merupakan suatu tindakan yang memiliki arti yang sangat besar. Puasa merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengalahkan musuh. Puasa memang sangat sulit dan dengan berpuasa mengirim kita untuk berlari minta tolong kepada Yesus. Ketika tubuh kita berteriak minta makan, maka kita tahu, bahwa kita memerlukan anugerah untuk melanjutkan puasa kita, tanpa pertolongan Allah atau anugerah Allah, maka akan mengalami kesulitan atau penderitaan.

Penyangkalan terhadap keinginan besar menjadi suatu peperangan pribadi yang sangat hebat. Kelaparan dan kelemahan kita membuat kita menjadi rendah hati. Kita benar-benar memerlukan anugerah dari Tuhan untuk mempertahankan komitmen kita untuk menjauhkan diri dari makanan dan nafsu keserakahan. Kemiskinan atau kelemahan dari kecukupan kita diungkapkan dan kecukupan dari Kristus dinyatakan. Mari kita renungkan penerapan kebenaran Kristus. Kita disalibkan bersama Kristus dan sifat kita yang lama dihancurkan. Kemudian kehidupan Kristus mendiami hidup kita di dalam kemenangan. Inilah prinsip yang sudah diubahkan. Hidup-nya adalah bagi kita dan kekuatan-Nya yang sempurna ada ketika kita mengakui kelemahan. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20). “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5).

Ketika kita mengenal aktivitas penghulu-penghulu di udara dengan segala karakter khususnya, maka kita perlu menanganinya. Tidak hanya menahan dan mengalahkan pencobaan, tetapi juga dengan mendoemonstrasikan tindakan-tindakan yang positif. Mazmur 3:4-7 “Tetapi Engkau, Tuhan adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela. Aku membaringkan diri, lalu tidur, aku bangun, sebab Tuhan menopang aku! Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku”.

Gereja kita sudah ditugaskan untuk menjadi berkat bagi kota Tarakan, mari kita mulai dengan mencabut akar-akar kejahatan. Berikanlah segala kebaikan yang sudah Tuhan karuniakan kepada kita kepada orang lain atau yang membutuhkan. Kalau Gereja kita sekarang memiliki proyek. Yaitu membangun Gedung Gereja, hal ini tidak saja sebagai suatu proyek pembangunan, tetapi juga merupakan suatu kesempatan untuk membawa kita masuk ke dalam level rohani yang lebih tinggi dan menjadi berkat bagi kota Tarakan. Walaupun dana pembangunan kita tidak berlebihan atau pas-pasan, namun kita bersyukur dapat membagi berkat dengan memberi persembahan kepada beberapa Gereja yang ada di Tarakan yang juga sedang membangun. Untuk itu mari jemaat Tuhan senantiasa mendukung dalam doa, pemikiran, tenaga juga dana untuk penyelesaian proyek pembangunan Gereja Bethany GTM.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien

Gembala Sidang,
Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

PENGARUH LINGKUNGAN

Jumat, 2 Juli 2010

Bacaan : 1 Raja-raja 11:1-13; Kisah Para Rasul 2:37-40

11:1. Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het,

11:2 padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta.

11:3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN.

2:37. Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”

2:38 Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

2:39 Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.”

2:40 Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”

PENGARUH LINGKUNGAN

Perjalanan hidup Salomo dan Petrus sangat bertolak belakang. Salomo ketika muda terkenal bijaksana. Pernah suatu kali Tuhan menawarkan, “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” Salomo tidak meminta kekayaan ataupun kekuasaan, seperti umumnya didambakan manusia, ia malah meminta hikmat supaya bisa memimpin bangsanya dengan adil (1 Raja-raja 3:4-9).

Petrus sebaliknya. Ia seorang yang impulsif; spontan; meledak-ledak; kerap bertindak atas dasar emosi sesaat. Dalam banyak kesempatan ia selalu “tampil di depan”. Ketika Tuhan Yesus hendak ditangkap, ia spontan menghunus pedang dan memotong telinga salah seorang hamba Imam Besar (Yohanes 18:10, 11). Dan, ketika akhirnya Yesus ditangkap, ia pula yang mengikuti-Nya, walau dari jauh. Sampai terjadi penyangkalannya itu (Lukas 22:54-62).

Namun kemudian, keadaan justru terbalik. Salomo jatuh ke dalam penyembahan berhala, sedangkan Petrus menjelma menjadi salah satu tokoh penting dalam gereja perdana.

Begitulah, manusia pada dasarnya adalah makhluk pembelajar. Karenanya ia tidak statis atau mandek, tetapi berubah. Bisa berubah ke arah positif, bisa juga berubah ke arah negatif. Tergantung banyak hal. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah lingkungan. Sebagai raja, Salomo hidup dalam kemewahan. Ia mempunyai tujuh ratus istri dan tiga ratus gundik. Dikatakan, “Istri-istrinyalah yang mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain” (ayat 4). Sedangkan Petrus, pergaulan dan kedekatannya dengan Yesus serta komunitas para murid telah memberinya perubahan positif –AYA

LINGKUNGAN YANG SEHAT AKAN MENJADI

TANAH YANG SUBUR BAGI JIWA

Sumber : www.sabda.org

RESPONS OTOMATIS

Rabu, 2 Juni 2010

Bacaan : Ayub 2:1-10

2:1. Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN.

2:2 Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.”

2:3 Firman TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.”

2:4 Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya.

2:5 Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.”

2:6 Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.”

2:7. Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.

2:8 Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu.

2:9 Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!”

2:10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

RESPONS OTOMATIS

Semua manusia memiliki respons otomatis. Respons ini dibentuk oleh kebiasaan merespons sesuatu yang dihadapi. Contohnya, jika ada orang yang selalu mengatakan “Ah, sulit!” atau “Saya tidak bisa” pada waktu diberi tugas yang baru, maka orang tersebut akan cenderung memiliki respons otomatis yang spontan juga kerap mengatakan “sulit” dan “tidak bisa”.

Berkebalikan dengan hal itu, Ayub adalah seorang yang memiliki respons otomatis yang positif. Ketika ia mengalami keterpurukan dalam hidupnya; dari kaya menjadi miskin, dari punya anak hingga kehilangan seluruh anaknya, dari sehat menjadi sakit, ia tidak merespons semuanya secara negatif. Bahkan, ketika sang istri memintanya untuk meninggalkan Allah, dengan tegas ia berani mengatakan, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (ayat 10).

Dan, respons otomatis Ayub bukan hanya berasal dari kebiasaannya merespons situasi, melainkan juga dari pengenalannya yang benar akan kedaulatan Allah. Ayub sangat tahu bahwa Allah-lah yang berdaulat atas semuanya. Oleh sebab itu, ia tidak menjadi kecewa ketika harus menghadapi keterpurukan sekalipun.

Dalam menghadapi tantangan hidup, sangat penting memeriksa bagaimana respons otomatis kita bekerja. Semoga kita mendapatinya selalu positif. Apabila masih negatif, maka tugas kita untuk terus berlatih berpandangan positif kala berhadapan dengan tantangan. Mari kembangkan respons otomatis yang positif, ditambah dengan keyakinan akan kedaulatan Allah yang memiliki diri kita sepenuhnya –RY

RESPONS OTOMATIS NEGATIF TAK MENYELESAIKAN MASALAH

BAHKAN AKAN MEMBUAT MASALAH BERTAMBAH BERAT

Sumber : www.sabda.org