LONCENG DAN KERETA SALJU

Senin, 17 Desember 2012

Bacaan: Mazmur 100:1-5

100:1. Mazmur untuk korban syukur. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi!

100:2 Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!

100:3 Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

100:4 Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!

100:5 Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

 

LONCENG DAN KERETA SALJU

Apa lagu Natal favorit Anda? Banyak orang senang menyanyikan lagu Jingle Bells, bahkan menjadikannya bagian dari ibadah perayaan Natal. Tahukah Anda bahwa lirik asli lagu ini bercerita tentang asyiknya naik kereta salju dengan lonceng yang berdentang sepanjang jalan? Sama sekali tak berkaitan dengan kelahiran Yesus. Memang dalam bahasa Indonesia liriknya diubah, tetapi, entah berapa banyak orang yang menyadarinya. Kerap sesudah menyanyikan lirik bahasa Indonesia, orang menyambungnya dengan lirik bahasa Inggris.

Bukan hanya saat Natal, mungkin saja kita memang jarang berpikir panjang tentang apa yang kita nyanyikan saat ibadah. Tidak demikian halnya dengan pemazmur. Ia menasihati jemaat yang datang beribadah: Ketahuilah siapa Tuhan yang kamu sembah dan siapa kamu di hadapan-Nya! (ayat 3). “Ketahuilah” di sini bukan sekadar mengetahui informasi tentang Tuhan, tetapi mengenal Dia dengan karib, sehingga ketika ada pernyataan-pernyataan yang keliru tentang Dia, kita dapat segera meluruskannya. Jemaat harus tahu jelas kepada siapa penyembahan mereka ditujukan. Penghormatan, rasa syukur, dan pujian sejati lahir dari pengenalan yang karib akan Pribadi dan karya Tuhan.

Tanpa pikir panjang, kita bisa memiliki cara pandang atau membuat pernyataan yang keliru tentang Tuhan. Mempersiapkan Natal di tempat kita masing-masing, mari pikirkan baik-baik acara-acara perayaan yang diadakan, serta lagu-lagu yang diperdengarkan. Apakah Pribadi dan karya Tuhan dinyatakan dengan benar di sana? Apakah melaluinya orang akan dibawa untuk mengakui kebesaran Tuhan, makin mengasihi dan menghormati-Nya? –LIT

APA YANG KITA NYATAKAN TENTANG TUHAN

 MENGGAMBARKAN APA YANG KITA PIKIRKAN TENTANG DIA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BUKAN KANKER PERAMPASNYA

Rabu, 17 Oktober 2012

Bacaan : Mazmur 51

51:1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud, (51-2) ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba. (51-3) Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!

51:2 (51-4) Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!

51:3 (51-5) Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

51:4 (51-6) Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

51:5 (51-7) Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

51:6 (51-8) Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

 

51:7. (51-9) Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

51:8 (51-10) Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!

51:9 (51-11) Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku!

51:10 (51-12) Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

51:11 (51-13) Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

51:12 (51-14) Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

51:13 (51-15) Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

 

51:14. (51-16) Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!

51:15 (51-17) Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!

51:16 (51-18) Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.

51:17 (51-19) Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

51:18 (51-20) Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem!

51:19 (51-21) Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya; maka orang akan mengorbankan lembu jantan di atas mezbah-Mu.

 

BUKAN KANKER PERAMPASNYA

Saya hampir tidak percaya apa yang saya lihat. Wajah yang bersinar penuh sukacita di depan saya adalah seorang pasien kemoterapi karena kanker getah bening stadium empat yang dideritanya. Terakhir kami bertemu wajahnya suram bukan main, dan napasnya sesak karena 80 persen paru-parunya penuh sel kanker. Kini, dengan leluasa ia bertutur bagaimana Tuhan memakai kondisi sulit itu untuk membongkar banyak kepahitan, kebencian, dan masalah-masalah yang tertimbun di hatinya. Ketika semua itu dibereskan, sukacita mengalir deras, dan ajaibnya, kondisi fisiknya ikut mengalami kemajuan. Perebut sukacita yang sesungguhnya sudah disingkirkan

Kisahnya mengingatkan saya pada Daud yang kehilangan sukacita ketika ia berbuat dosa. Dalam Mazmur pengakuannya, ia melukiskan bagaimana dosa yang dipendam membuat batinnya bergumul, dan tulangnya remuk (ayat 5, 10). Ketika dosa dibereskan, Daud kembali menjadi orang yang berbahagia (bandingkan Mazmur 32:1-2), dan kebaikan-kebaikan Allah spontan mengalir dari bibirnya (ayat 15-16). Daud sadar bahwa sukacita itu sangat erat kaitannya dengan Roh Tuhan yang berdiam dalam dirinya (ayat 13). Kerelaan untuk taat juga merupakan karya Roh Tuhan (ayat 14)

Apakah hari ini Anda sedang kehilangan sukacita? Salah satu perampas sukacita adalah dosa. Periksalah apakah ada kebencian, kepahitan, ketidakmauan mengampuni, atau dosa lain yang belum dibereskan di hadapan Tuhan. Akui dan tinggalkan dosa. Biarkan Tuhan memerdekakan Anda, dan memberikan buah-buah sukacita melalui kehadiran Roh-Nya. –ELS

DALAM HUBUNGAN YANG HARMONIS DENGAN TUHAN,

SITUASI SULIT TAK BERKUASA MERAMPAS SUKACITA KITA

Dikutip : www.sabda.org

TUMBUH LEWAT PERSEKUTUAN

Rabu, 25 Januari 2012

Bacaan : Kolose 3:5-17

3:5. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,

3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).

3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.

3:8. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.

3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,

3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;

3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

3:12. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

TUMBUH LEWAT PERSEKUTUAN

Setelah dibaptis, Pakhomius seriusingin bertumbuh. “Bertapalah. Itu cara terampuh, ” nasihat seorang biarawan. Di tahun 315 M, tradisi bertapa memang marak. Orang memisahkan diri dari masyarakat yang korup. Menyendiri di gurun. Berdoa dan puasa. Setelah mencoba, Pakhomius merasa itu tidak tepat. “Bagaimana bisa belajar rendah hati, jika hidup sendiri? Bagaimana belajar bersabar, tanpa menjumpai sesama?” Ia pun berhenti bertapa dan mengembangkan spiritualitas persekutuan. Menurutnya, orang bertumbuh dalam pergaulan, bukan kesendirian.

Paulus memotret sifat-sifat manusia baru, antara lain: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (ayat 12). Ini buah kehidupan bersama. Belas kasihan dan kemurahan muncul saat melihat kebutuhan sesama. Kerendahan hati terbentuk saat menjumpai kelebihan orang lain. Kelemahlembutan dan kesabaran teruji saat berhadapan dengan hal-hal yang menyakitkan. Jemaat Kolose terdiri dari berbagai macam orang yang disatukan dalam kasih Kristus (ayat 11). Orang-orang “sulit” jelas ada (ayat 13). Namun, mereka diminta tetap bersatu (ayat 14). Tidak meninggalkan persekutuan. Di situlah terjadi proses pembentukan. Lewat konflik, orang saling menegur dan bertumbuh (ayat15-16).

Adakah orang yang kerap menjengkelkan Anda? Atau, Anda kecewa dengan perilaku orang-orang sulit di gereja? Ingatlah bahwa melalui mereka, sifat-sifat Anda kian diasah dan dibentuk Tuhan sebagai orang-orang pilihan-Nya. Jadi, bertahanlah! Sambut pembentukan Tuhan melalui persekutuan dengan hati bersyukur! –JTI

TANPA BELAJAR HIDUP SEHATI

TIADA PERTUMBUHAN IMAN SEJATI

Dikutip : www.sabda.org

ALLAH YANG PEKA

Minggu, 4 September 2011

Bacaan : Keluaran 2:23-25 

2:23. Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah.

2:24 Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.

2:25 Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.

ALLAH YANG PEKA

Apakah Tuhan ada? Andaikata Dia ada, mengapa Dia diam saja tatkala banyak bencana terjadi? Mengapa hidup manusia harus penuh dengan berbagai kemalangan? Mengapa kesulitan tidak pernah hengkang dari hidup ini? Demikianlah beberapa pertanyaan mendasar yang dapat muncul di hati orang yang hidupnya tengah dirundung berbagai kesusahan. Lalu, bagaimana menjelaskan hal ini kepadanya?

Dalam kitab Keluaran, kita mendapati kisah tentang Tuhan yang ternyata mau berurusan dengan persoalan manusia. Di sini setidaknya ada empat kata kerja aktif yang ditujukan kepada Tuhan: mendengar, mengingat, melihat, memperhatikan (ayat 24, 25). Tuhan rupanya adalah Allah yang personal, yang melibatkan diri secara pribadi. Dia empatik (turut merasakan) dan partisipatif (turut ambil bagian). Kita patut menaikkan syukur karena boleh mengalami kehangatan pribadi Tuhan kita yang nyatanya begitu peka. Segala urusan manusia di bumi ini, ternyata juga menjadi minat dan perhatian dari Tuhan yang bersemayam di surga.

Apakah kita sedang tidak merasakan kehadiran Tuhan? Jangan-jangan itu terjadi karena kita kurang peka akan kehadiran-Nya yang nyata di depan mata. Apabila demikian yang kita alami, cobalah lakukan hal berikut di tengah kepedihan: arahkan segala sedu sedan kita hanya kepada Dia; dengan memanjatkan doa yang mengantar kita ke pelukan-Nya; dengan membaca firman Tuhan hingga kita tahu apa yang Dia maksudkan dalam setiap peristiwa; dengan menyanyikan puji-pujian. Semuanya akan menghangatkan hati kita sehingga dapat merasakan kehadiran-Nya –DKL

TUHAN YANG BERTAKHTA DI SURGA SUCI

SESUNGGUHNYA ADALAH TUHAN YANG MEMBUMI

Dikutip : www.sabda.org

Berpikir Positif

21 November 2010

Edisi 153 Tahun 3

BERPIKIR POSITIF

Shallom…salam miracle…jemaat Tuhan di Gereja Bethany GTM yang diberkati Tuhan, suatu kali kami membahas dalam obrolan santai tentang krisis yang terjadi di Indonesia, Kebetulan ada seorang teman yang pandai berbahasa Cina, dan dia mengatakan bahwa kata Krisis adalah WEI JI. WEI artinya bahaya dan JI artinya kesempatan, dan dia menerangkan lebih jauh tentang kata itu, dan saya tangkap intinya adalah dalam setiap bahaya atau keadaan yang buruk selalu ada kesempatan untuk melakukan dan mendapatkan sesuatu yang baik.

 

Dalam 1 Samuel 17:32 menyatakan, berkatalah Daud kepada Saul: “Jangan seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud ketika melihat Goliat sang musuh yang gagah perkasa adalah musuh yang tentunya sangat sulit dirobohkan, hal itu juga dilihat oleh Raja Saul dan pasukan Israel. Daud mendengarkan tantangan dan ejekan yang juga di dengar oleh Raja Saul dan pasukan Israel. Daud berada di medan perang dimana Raja Saul dan pasukan Israel berada. Daud juga hidup pada tanggal, bulan dan tahun yang sama dengan Raja Saul dan pasukannya, tetapi sikap Daud dalam menanggapi situasi yang dilihat, didengar, dan dialami itu berbeda dari sikap Raja Saul dan pasukannya.Yang membedakannya adalah Raja Saul dan pasukannya berpikir negatif dan Daud berpikir positif.

 

Melanjutkan perbincangan dengan seorang yang berbahasa Mandarin di atas mengatakan bahwa ada pepatah Cina yang menyatakan lebih “LEBIH BAIK MENYALAKAN LILIN DARIPADA MENGUTUKI KEGELAPAN.” Orang yang berpikir negatif akan terus meratapi dan mengutuki kegelapan yang terjadi. Sementara orang yang berpikiran positif akan menyalakan lilin. Ketika PLN padam sekitar jam 7 malam, maka respon anak-anak berbeda, ada yang mengatakan “Wah dak bisa apa-apa nih, nonton tv, belajar pun jadi dak bisa.” tapi ada juga yang merespon “Asyik bisa melihat dengan jelas indahnya bulan di malam hari.”

 

Menanggapi sesuatu hal yang terjadi setiap orang mempunyai tanggapan atau respon yang berbeda-beda. Ada yang berpikir negatif dan ada yang berpikir positif. Orang yang berpikir negatif melihat masalah sebagai segala-galanya. Dia akan melihat bahwa masalah itu begitu besar dan menakutkan, tidak ada jalan keluar yang tampak. Orang ini akan berputar-putar di sekitar masalah tanpa berusaha memandang jalan keluar. Dia menjadi pesimis. Tuhan akan kelihatan sebagai sosok yang jauh yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalahnya. Masalah yang dihadapinya seolah-olah masalah yang paling besar dibandingkan dari persoalan-persoalan orang lain. Dalam menghadapi setiap hal, yang pertama muncul di depan matanya adalah kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan. Keluhan dan sungut-sungut mewarnai kehidupannya. Menyalahkan orang lain menjadi akibat yang timbul secara alamiah, karena dalam suatu masalah yang timbul, orang yang berpikir negatif jarang melihat dirinya dengan baik, baik itu potensi, kekuatan, kelemahan dan kekurangannya. Yang dilihat hanya orang lain dan karena sifatnya adalah negatif, orang lain selalu dijadikan sumber kesalahan dan dirinya yang benar. Orang itu sibuk mencari kambing hitam yang sebetulnya adalah dirinya sendiri. Dia sibuk berputar-putar di padang pasir tanpa menemukan genangan/ sumur air. Orang yang berpikir negatif sebetulnya orang yang sombong dengan tanpa disadarinya.

 

Orang yang berpikir positif juga seperti yang lain tetap memiliki masalah dan tantangan, namun orang yang demikian tidak terpaku kepada masalah yang dihadapinya. Dia memiliki pengharapan yang besar dan optimis. Cara pandangnya melihat bahwa Tuhan nampak jauh lebih besar daripada masalahnya. Dia melihat dan berpikir dengan jernih tentang jalan keluar dan peluang yang ada dalam krisis. Hatinya dipenuhi dengan puji-pujian dan sukacita. Berani membayar harga dan berkorban untuk membuat solusi yang mengubah keadaan ke arah yang lebih baik. Dia bisa tersenyum dengan kegagalannya karena bisa introspeksi dengan sehat dan jujur. Orang yang berpikiran positif tidak memiliki pembendaharaan kata “Tidak bisa” dalam menjalani kehidupan dan bersemangat. Orang yang berpikiran positif baru akan mengatakan demikian setelah berdoa dan Tuhan yang akan mengambil alih.

 

Optimis bukanlah kesombongan, tetapi rasa percaya diri yang shat. Dia tahu bahwa dia merupakan Problem Solver dan bukan sebagai Trouble maker. Dia akan selalu melihat berbagai jalan dan ribuan kemungkinan yang bisa didapat sebagai jalan keluar dari suatu masalah. Dia akan maju dan pantang menyerah menghadapi situasi apapun, bahkan ketika menghadapi kegagalan. Orang yang berpikir positif bukan hanya selalu melihat peluang dan kehidupan tetapi dia tidak menghitung berapa kali ia jatuh. Dia menghitung berapa kali dia bangkit dari kejatuhan itu. Itu sebabnya sejarah dunia dibuat oleh orang-orang yang berpikir positif.

 

Ketika Raja Saul dan pasukannya cemas dan ketakutan menghadapi Goliat, Daud berkata: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud bukan hanya melihat peluang kemenangan dengan optimis. Tetapi dia memberikan dirinya untuk maju. Dia tidak mengajukan kakaknya atau menasehati Raja Saul yang perkasa untuk berani maju menghadapi Goliat. Daud bukan hanya berbicara, tetapi integritasnya membawanya untuk membuktikan tindakan sesuai dengan ucapannya. Dia menawarkan solusi bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan segenap kehidupannya. Di atas awan masih ada awan, dan bagi Daud di atas Goliat masih ada Tuhan yang maha besar.

 

SELAMAT NATAL…KASIH ALLAH MEMENUHI KITA SEMUA…

TUHAN YESUS MEMBERKATI…

AMIEN

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

MELAYANI TUHAN

PESAN GEMBALA

02 MEI 2010

EDISI 124 TAHUN 3

MELAYANI TUHAN

Shallom…Salam miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati…Kali ini kita membahasa tentang melayani Tuhan, semua pelayanan yang kita kerjakan seharusnya tertuju kepada Allah. Dalam melayani Allah, kita mengenal siapa Allah dan apa hubungan kita dengan Dia. Sejarah mencatat bahwa ketaatan seorang bawahan atau hamba yang dengan senang dan sukarela memberikan kesetiaan, dedikasi, dan bahkan nyawanya bagi atasannya atau tuannya.

Dalam zaman Raja Alexander Agung terjadi peperangan yang sangat hebat di Sungai Granicus. Dalam peperangan tersebut Alexander Agung memimpin pasukannya, dan terjadilah peristiwa yang luar biasa ketika Raja Alexander Agung terdesak dan dalam bahaya, maka sahabatnya yang bernama Clitus, menyelamatkan nyawanya. Sahabatnya itu dengan kerelaan menyelamatkan teman sekaligus Rajanya.

Alfonso de Albuquerque sangat berdedikasi dan tetap setia kepada raja Emanuel dari Portugal, walaupun raja itu seringkali mengabaikan dia.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama dikisahkan tentang kesetiaan Daud yang melayani raja Saul, walaupun Saul dikuasai dengan iri hati dan berusaha untuk membunuh Daud berulang kali, namun Daud tetap setia dan menghormati Saul. Apabila contoh-contoh tersebut di atas dengan jelas dan berani dapat dengan setia menyerahkan diri mereka untuk melayani raja, bukankah kita harus lebih lagi melayani Allah kita yang penuh dengan kemuliaan?

Raja yang kita layani tidak lain adalah pencipta alam semesta. Dia berdaulat terhadap semua peristiwa, segala makhluk, dan manusia. Dia yang membentuk kita, mengasihi kita, dan menyelamatkan kita. Raja kita adalah Raja yang mulia, penuh hikmat, penuh kasih karunia dan kemurahan, baik, tidak berubah dan penuh kuasa.

Dalam Wahyu dikatakan demikian: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Jika manusia mau melayani raja-raa seperti Alexander Agung, yang membiarkan egonya mendorong membunuh temannya yang telah menyelamatkan nyawanya; raja Emanuel yang mengkhianati hambanya yang setia ke dalam tangan musuhnya, apa seharusnya tanggapan kita terhadap Tuhan dan Raja?

Kita harus melayani Tuhan dengan setia..!! Dalam pencobaan di Padang Gurun, Yesus menanggapi setan dengan kata-kata: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4:8). Dalam ketidakmengertian kita, kita memberikan hidup kita kepada pekerjaan, sambutan meriah, pengaruh, atau kepada keberuntungan. Ambisi pribadi telah merampas waktu kita dan menyakiti hati kita. Kita pikir kita dapat bermain-main dengan materialisme dan menaruh Allah di temapt yang telah kita bangun untuk Dia, tetapi itu tidak benar.

Yesus menjelaskan dengan berkata: “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13). Bodoh kalau kita mencoba membagi perhatian kita antara materialisme dan Bapa.

Allah kita adalah Allah yang cemburu, bukan cemburu yang emosional melainkan cemburu yang ditandai dengan semangat untuk melindungi suatu hubungan kasih. Betapa beruntungnya kita bahwa Allah yang cemburu meneguhkan hubungan kasih kita dengan Dia. Jika kita tidak memilikinya, maka hubungan akan berada dalam bahaya. Untuk kemuliaan-Nyalah dan untuk kebaikan kita sehingga dalam kekuatan-Nya kita mempunyai jaminan kasih-Nya.

Kita harus menanggapi apa yang Allah lakukan dan kasih-Nya kepada kita dengan tekun melayani Dia. Dalam perintahnya kepada jemaat di Roma, Paulus mendorong mereka untuk melayani dengan tekun: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Dia.” (Roma 12:11). Dengan kasih Allah dan dengan dikasihi Allah, kita melayani Dia dengan sepenuh hati, dengan ketaatan tanpa kompromi. Dalam semua yang kita lakukan, perhatian kita bukan pada penghormatan, kemakmuran atau kemasyuran, tetapi untuk menyenangkan Allah saja.

Yesus adalah teladan kita dalam ketekunan dan semangat. Setelah Dia menyucikan bait Allah dari mereka yang mengejar uang, “Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yohanes 2:17). Seperti Yesus, kita harus dikuasai oleh keinginan untuk melayani Tuhan kita.

Bagi kita semua, baik dalam mimbar, sekolah minggu, Y4C, dan kelompok FA, harus berusaha mengenal Allah lebih sungguh dan untuk membantu orang lain memperluas pengetahuan orang lain untuk mengenal Allah. Para pelayan yang melayani membagi kehidupannya dengan Allah dalam Doa. Sehingga mampu mendorong orang lain untuk melayani Dia dengan Kasih. Sehingga perlu menjaga kehidupan dari dosa dan segala hal yang dapat menghilangkan hubungan dengan Allah, ketika orang lain jatuh dalam dosa, maka melalui pelayanan kita dapat membawa orang itu untuk bertobat dan mengakuinya di hadapan Allah. Pelayanan kepada Allah meluapkan pelayanan kepada manusia. Jemaat yang dikasihi Tuhan…Kiranya kita semua semakin dapat melayani Allah kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

MELAYANI TUHAN

PESAN GEMBALA

02 MEI 2010

EDISI 124 TAHUN 3

MELAYANI TUHAN

Shallom…Salam miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati…Kali ini kita membahasa tentang melayani Tuhan, semua pelayanan yang kita kerjakan seharusnya tertuju kepada Allah. Dalam melayani Allah, kita mengenal siapa Allah dan apa hubungan kita dengan Dia. Sejarah mencatat bahwa ketaatan seorang bawahan atau hamba yang dengan senang dan sukarela memberikan kesetiaan, dedikasi, dan bahkan nyawanya bagi atasannya atau tuannya.

Dalam zaman Raja Alexander Agung terjadi peperangan yang sangat hebat di Sungai Granicus. Dalam peperangan tersebut Alexander Agung memimpin pasukannya, dan terjadilah peristiwa yang luar biasa ketika Raja Alexander Agung terdesak dan dalam bahaya, maka sahabatnya yang bernama Clitus, menyelamatkan nyawanya. Sahabatnya itu dengan kerelaan menyelamatkan teman sekaligus Rajanya.

Alfonso de Albuquerque sangat berdedikasi dan tetap setia kepada raja Emanuel dari Portugal, walaupun raja itu seringkali mengabaikan dia.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama dikisahkan tentang kesetiaan Daud yang melayani raja Saul, walaupun Saul dikuasai dengan iri hati dan berusaha untuk membunuh Daud berulang kali, namun Daud tetap setia dan menghormati Saul. Apabila contoh-contoh tersebut di atas dengan jelas dan berani dapat dengan setia menyerahkan diri mereka untuk melayani raja, bukankah kita harus lebih lagi melayani Allah kita yang penuh dengan kemuliaan?

Raja yang kita layani tidak lain adalah pencipta alam semesta. Dia berdaulat terhadap semua peristiwa, segala makhluk, dan manusia. Dia yang membentuk kita, mengasihi kita, dan menyelamatkan kita. Raja kita adalah Raja yang mulia, penuh hikmat, penuh kasih karunia dan kemurahan, baik, tidak berubah dan penuh kuasa.

Dalam Wahyu dikatakan demikian: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Jika manusia mau melayani raja-raa seperti Alexander Agung, yang membiarkan egonya mendorong membunuh temannya yang telah menyelamatkan nyawanya; raja Emanuel yang mengkhianati hambanya yang setia ke dalam tangan musuhnya, apa seharusnya tanggapan kita terhadap Tuhan dan Raja?

Kita harus melayani Tuhan dengan setia..!! Dalam pencobaan di Padang Gurun, Yesus menanggapi setan dengan kata-kata: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4:8). Dalam ketidakmengertian kita, kita memberikan hidup kita kepada pekerjaan, sambutan meriah, pengaruh, atau kepada keberuntungan. Ambisi pribadi telah merampas waktu kita dan menyakiti hati kita. Kita pikir kita dapat bermain-main dengan materialisme dan menaruh Allah di temapt yang telah kita bangun untuk Dia, tetapi itu tidak benar.

Yesus menjelaskan dengan berkata: “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13). Bodoh kalau kita mencoba membagi perhatian kita antara materialisme dan Bapa.

Allah kita adalah Allah yang cemburu, bukan cemburu yang emosional melainkan cemburu yang ditandai dengan semangat untuk melindungi suatu hubungan kasih. Betapa beruntungnya kita bahwa Allah yang cemburu meneguhkan hubungan kasih kita dengan Dia. Jika kita tidak memilikinya, maka hubungan akan berada dalam bahaya. Untuk kemuliaan-Nyalah dan untuk kebaikan kita sehingga dalam kekuatan-Nya kita mempunyai jaminan kasih-Nya.

Kita harus menanggapi apa yang Allah lakukan dan kasih-Nya kepada kita dengan tekun melayani Dia. Dalam perintahnya kepada jemaat di Roma, Paulus mendorong mereka untuk melayani dengan tekun: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Dia.” (Roma 12:11). Dengan kasih Allah dan dengan dikasihi Allah, kita melayani Dia dengan sepenuh hati, dengan ketaatan tanpa kompromi. Dalam semua yang kita lakukan, perhatian kita bukan pada penghormatan, kemakmuran atau kemasyuran, tetapi untuk menyenangkan Allah saja.

Yesus adalah teladan kita dalam ketekunan dan semangat. Setelah Dia menyucikan bait Allah dari mereka yang mengejar uang, “Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yohanes 2:17). Seperti Yesus, kita harus dikuasai oleh keinginan untuk melayani Tuhan kita.

Bagi kita semua, baik dalam mimbar, sekolah minggu, Y4C, dan kelompok FA, harus berusaha mengenal Allah lebih sungguh dan untuk membantu orang lain memperluas pengetahuan orang lain untuk mengenal Allah. Para pelayan yang melayani membagi kehidupannya dengan Allah dalam Doa. Sehingga mampu mendorong orang lain untuk melayani Dia dengan Kasih. Sehingga perlu menjaga kehidupan dari dosa dan segala hal yang dapat menghilangkan hubungan dengan Allah, ketika orang lain jatuh dalam dosa, maka melalui pelayanan kita dapat membawa orang itu untuk bertobat dan mengakuinya di hadapan Allah. Pelayanan kepada Allah meluapkan pelayanan kepada manusia. Jemaat yang dikasihi Tuhan…Kiranya kita semua semakin dapat melayani Allah kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA