KERAMAHAN DARI HATI

Sabtu, 18 Agustus 2012

Bacaan : Titus 3: 1-7

3:1. Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.

3:2 Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.

3:3 Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.

3:4 Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,

3:5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

3:6 yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,

3:7 supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.

 

KERAMAHAN DARI HATI

Banyak bangsa mengedepankan keramahan sebagai nilai lebihnya di mata bangsa lain. Bangsa kita pun demikian. Namun, kadangkala upaya ini membuat keramahan tak lagi muncul dari hati. Misalnya saja, saat kita mengunjungi bank, kita menerima sapaan pegawai atau pun petugas keamanannya. Kata-kata sapaannya tertata dan seragam, tetapi tanpa rasa dan tak kontak dengan yang disapa. Mimik wajah dan bahasa tubuh terlihat tak alamiah. Hasil latihan. Sebaliknya, sekalipun mungkin bukan dengan bahasa “sekolahan”, di toko-toko kelontong kecil ataupun di pasar, kita sering lebih merasa hangat disambut. Keramahan yang muncul karena tugas atau dari hati, dapat dirasakan bedanya.

Paulus berpesan melalui Titus agar jemaat, pengikut Yesus, selalu ramah terhadap semua orang. Berlaku ramah bukan hanya kepada sesama pengikut Yesus, melainkan juga kepada semua orang, kepada mereka yang berlaku baik terhadap jemaat maupun yang tak menyukai jemaat. Mengapa? Paulus mengingatkan, bahwa kita diselamatkan juga bukan karena perbuatan baik kita (ayat 4-5). Semuanya adalah anugerah Tuhan. Anugerah itulah yang kita teruskan kepada sesama melalui sikap yang ramah.

Keramahan bagi sebagian orang butuh pembiasaan. Dalam suasana Idul Fitri ini, bagaimanakah kita menunjukkan keramahan kepada kerabat, handai taulan, tetangga, mitra usaha, atau pun rekan sejawat yang merayakannya? Mintalah Roh Kudus menolong Anda merangkai kata yang tepat, sehingga mereka bisa melihat kasih Tuhan yang meluap dari hati Anda. –MUN

NYATAKANLAH KERAMAHAN DALAM KATA-KATA

YANG MELUAP DARI HATI YANG PENUH KASIH KRISTUS.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

PENGALAMAN DIKASIHI

Minggu, 3 Juni 2012

Bacaan : 2 Timotius 1:1-18

1:1. Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,

1:2 kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

1:3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.

1:4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.

1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

1:6. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

1:8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.

1:9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman

1:10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

1:11 Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru.

1:12 Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

1:13 Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

1:14 Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.

1:15. Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil berpaling dari padaku; termasuk Figelus dan Hermogenes.

1:16 Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara.

1:17 Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku.

1:18 Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.

PENGALAMAN DIKASIHI

Saya sedih sekali ketika dalam sebuah pertemuan diakonia gereja, seorang ibu mengatakan bahwa pelayanan kepada anak-anak jalanan tak ubahnya seperti membuang garam ke laut. Pada kesempatan lain, seorang pemuda menyatakan bahwa mengajari anak-anak di daerah kumuh perkotaan sebagai suatu kegiatan yang nyaris tak memberikan kemajuan berarti. Bagi mereka, upaya besar yang diberikan bagi anak-anak ini tidak sebanding dengan hasil yang didapat.

Dalam surat pribadinya kepada Timotius, Paulus memuji iman anak rohaninya ini (ayat 2). Menariknya, Paulus mengamati kualitas iman yang tulus ikhlas semacam ini lebih dulu ada di dua generasi di atasnya (ayat 5). Anak-anak berisiko dalam kasus di atas tak seberuntung Timotius. Timotius memiliki sang nenek, Lois, serta ibunya, Eunike, yang kehidupan imannya berimbas nyata membentuk imannya. Selain itu, Timotius juga memiliki Paulus yang memuridkan, meneguhkan, dan memberi teladan padanya (ayat 6-18).

Di dunia ini ada begitu banyak anak yang tidak memiliki orang dan lingkungan yang membentuk mereka menjadi pribadi yang baik. Hari demi hari mereka dipaparkan pada kehidupan penuh risiko kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi. Tak mengherankan jika suatu saat mereka menjadi korban sekaligus pelaku kejahatan. Kita punya banyak kesempatan mendoakan dan mewujudkan kehadiran kerajaan Allah di antara mereka. Seperti apa yang diperbuat nenek Lois, ibu Eunike, dan Paulus pada Timotius, mari bergerak memberi ruang dan pengalaman dikasihi bagi bagi anak-anak yang kurang beruntung. –SCL

PENGALAMAN DIKASIHI DAN DIBIMBING PADA MASA KECIL

ADALAH BEKAL MENGASIHI DAN MELAYANI SEUMUR HIDUP.

Dikutip : www.sabda.org

TERJUN BEBAS

Senin, 28 Juni 2010

Bacaan : Ratapan 3:19-27

3:19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”

3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

3:21. Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

3:27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.

TERJUN BEBAS

Selama 45 tahun, hidup Ken Karpman nyaris sempurna. Ia lulus dari salah satu universitas terbaik di Amerika dan menikah dengan gadis impiannya. Kariernya sebagai pialang saham terus menanjak dan memberinya penghasilan hingga Rp8, 8 miliar per tahun. Lalu tibalah saat itu. Tahun 2008 resesi menghantam perekonomian Amerika. Hidup Karpman pun “terjun bebas” dalam sekejap. Ia kehilangan pekerjaan, tabungan, dan hartanya.

Guna menghidupi keluarga, Karpman mengambil langkah drastis. Ia melamar pekerjaan sebagai pengantar piza dengan penghasilan yang amat pas-pasan, bahkan untuk orang kebanyakan. Kehidupannya pun berubah 180 derajat, tetapi ia tidak menyesalinya, “Ini hanya sebuah proses. Saya mensyukuri tiap sen yang saya dapat. Ada pelajaran berharga dari setiap potong piza yang saya antar, yaitu kerendahan hati.”

Yeremia juga pernah merasakan perubahan drastis ketika bangsa Israel ditaklukkan Babel. Yerusalem hancur. Semua berubah dalam sekejap. Dari bangsa merdeka, menjadi bangsa terjajah. Patah arangkah Yeremia? Tidak. Ia sungguh percaya Tuhan tidak pernah meninggalkan bangsanya. Karena itu ia tetap bisa melihat karya Tuhan, “Tak berkesudahan kasih Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, ” begitu ia berkata.

Hidup di dunia ini memang serba tidak pasti. Apa yang ada kini, bisa tiba-tiba hilang tak berbekas. Hari ini kita berhasil, besok gagal. Usaha yang semula maju mendadak bangkrut. Kita semula sehat, tiba-tiba sakit. Namun, tak usah khawatir. Sejauh kita berjalan bersama Tuhan, semua itu takkan “melumpuhkan” kita. Bersama Tuhan, kita akan siap menghadapi perubahan apa pun yang terjadi –AYA

KETIKA MENGALAMI PERUBAHAN DRASTIS DALAM HIDUP

INGATLAH KASIH SETIA TUHAN TAK PERNAH BERUBAH

Sumber : www.sabda.org