SUKA MENUNDA

Minggu, 16 Desember 2012

Bacaan: Amsal 12:24-28

12:24. Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa.

12:25. Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.

12:26. Orang benar mendapati tempat penggembalaannya, tetapi jalan orang fasik menyesatkan mereka sendiri.

12:27. Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.

12:28. Di jalan kebenaran terdapat hidup, tetapi jalan kemurtadan menuju maut.

 

SUKA MENUNDA

Salah satu penyakit saya semasa kuliah adalah suka menunda-nunda. Meski tak berniat untuk malas, kerap saya mengalir begitu saja menjalani hari, mengabaikan jadwal yang sebenarnya sudah saya buat. Ketika tugas harus dikumpul atau ujian tiba, saya terpaksa harus begadang. Heran juga kalau melihat bahwa semua itu sebenarnya dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat ketika saya benar-benar fokus. Jika saya sedikit lebih rajin, tentu saya tak perlu begadang dan yang saya kerjakan bisa lebih optimal.

Alkitab berulang kali memberi nasihat tentang kemalasan. Salah satunya yang kita baca hari ini. Kemalasan mengakibatkan kerja paksa. Kemalasan bisa membuat seseorang tidak menikmati, apalagi memetik manfaat dari apa yang dikerjakannya. Mungkin akhirnya ia merasa didikte orang lain yang lebih rajin (ayat 24). Mungkin akhirnya ia merasa sering gagal (ayat 27). Di sini penulis Amsal berbicara tentang sesuatu yang realistis untuk dicapai, tetapi tidak kesampaian karena usaha yang diberikan terlalu sedikit.

Kemalasan atau keengganan melakukan sesuatu pada waktunya bisa bersumber dari banyak hal. Mungkin sesuatu itu memang kurang kita sukai. Mungkin cara kita menata waktu perlu dibenahi. Temukan dan bereskanlah akar masalahnya. Setiap orang punya kecenderungan untuk bermalas-malasan. Kita lebih suka mengatur jadwal sesuka hati dari pada memperhatikan kepentingan orang lain. Kemalasan bisa merebut sukacita dan berkat dalam bekerja serta hidup bersama. Mari melatih diri untuk rajin dan persembahkan upaya terbaik kita untuk menghormati Tuhan. –ITA

KESEMPATAN YANG TUHAN BERIKAN

TAK PANTAS KITA JALANI DENGAN BERMALAS-MALASAN.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BUKAN SEKADAR BERTAHAN

Minggu, 29 Juli 2012

Bacaan : Yeremia 25:1-14

25:1. Firman yang datang kepada Yeremia tentang segenap kaum Yehuda dalam tahun keempat pemerintahan Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda, yaitu dalam tahun pertama pemerintahan Nebukadnezar, raja Babel.

25:2 Firman itu telah disampaikan oleh nabi Yeremia kepada segenap kaum Yehuda dan kepada segenap penduduk Yerusalem, katanya:

25:3 “Sejak dari tahun yang ketiga belas pemerintahan Yosia bin Amon, raja Yehuda, sampai hari ini, jadi sudah dua puluh tiga tahun lamanya, firman TUHAN datang kepadaku dan terus-menerus aku mengucapkannya kepadamu, tetapi kamu tidak mau mendengarkannya.

25:4 Juga TUHAN terus-menerus mengutus kepadamu semua hamba-Nya, yakni nabi-nabi, tetapi kamu tidak mau mendengarkan dan memperhatikannya.

25:5 Kata mereka: Bertobatlah masing-masing kamu dari tingkah langkahmu yang jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat; maka kamu akan tetap diam di tanah yang diberikan TUHAN kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.

25:6 Juga janganlah kamu mengikuti allah lain untuk beribadah dan sujud menyembah kepadanya; janganlah kamu menimbulkan sakit hati-Ku dengan buatan tanganmu, supaya jangan Aku mendatangkan malapetaka kepadamu.

25:7 Tetapi kamu tidak mendengarkan Aku, demikianlah firman TUHAN, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Ku dengan buatan tanganmu untuk kemalanganmu sendiri.

 

25:8. Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam: Oleh karena kamu tidak mendengarkan perkataan-perkataan-Ku,

25:9 sesungguhnya, Aku akan mengerahkan semua kaum dari utara–demikianlah firman TUHAN–menyuruh memanggil Nebukadnezar, raja Babel, hamba-Ku itu; Aku akan mendatangkan mereka melawan negeri ini, melawan penduduknya dan melawan bangsa-bangsa sekeliling ini, yang akan Kutumpas dan Kubuat menjadi kengerian, menjadi sasaran suitan dan menjadi ketandusan untuk selama-lamanya.

25:10 Aku akan melenyapkan dari antara mereka suara kegirangan dan suara sukacita, suara pengantin laki-laki dan pengantin perempuan, bunyi batu kilangan dan cahaya pelita.

25:11 Maka seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan ketandusan, dan bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba kepada raja Babel tujuh puluh tahun lamanya.

25:12 Kemudian sesudah genap ketujuh puluh tahun itu, demikianlah firman TUHAN, maka Aku akan melakukan pembalasan kepada raja Babel dan kepada bangsa itu oleh karena kesalahan mereka, juga kepada negeri orang-orang Kasdim, dengan membuatnya menjadi tempat-tempat yang tandus untuk selama-lamanya.

25:13 Aku akan menimpakan kepada negeri ini segala apa yang Kufirmankan tentang dia, yaitu segala apa yang tertulis dalam kitab ini seperti yang telah dinubuatkan Yeremia tentang segala bangsa itu.

25:14 Sebab merekapun juga akan menjadi hamba kepada banyak bangsa-bangsa dan raja-raja yang besar, dan Aku akan mengganjar mereka setimpal dengan pekerjaan mereka dan setimpal dengan perbuatan tangan mereka.”

 

BUKAN SEKADAR BERTAHAN

Bernostalgia di depot soto langganan semasa kuliah, saya kagum dengan bapak yang 20 tahun lalu sudah meracik soto itu. “Kok betah, Pak, kerja di sini?” Dengan sedih beliau menjawab “Yah, gimana lagi mas, saya tidak punya keterampilan lain.” Ah, kasihan betul bapak ini. Sekadar bertahan dalam pekerjaan yang tak disukai, karena tidak tahu hal lain yang dapat ia kerjakan untuk menyambung hidup.

Nabi Yeremia menyampaikan teguran Tuhan kepada bangsanya. Hal itu dilakukannya selama 23 tahun. Jelas bukan kerja yang menyenangkan sebab kebanyakan orang tak suka ditegur. Namun, ia melakukannya terus-menerus (ayat 3). Kata ini dalam bahasa aslinya, shakam, menggambarkan sesuatu yang dilakukan dengan rajin, gigih, dan bersemangat. Yeremia tak sekadar bertahan, ia sadar betul pekerjaannya penting bagi Tuhan. Bangsanya harus ditegur agar bertobat dan tak binasa! Shakam juga dapat berarti bangun pagi dengan sengaja untuk bersiap, misalnya saat akan melakukan perjalanan jauh, berperang, atau beribadah. Tampaknya sang nabi menyiapkan tiap hari dengan berjumpa Tuhan hingga firman Tuhan terus-menerus datang padanya. Ini membuatnya dapat bertahan melewati masa-masa sukar.

Bagaimana kita menjalani pekerjaan dan pelayanan selama ini? Lebih mirip penjual soto di atas atau sang nabi? Hari ini sebagian orang telah kehilangan gairah hidup. Mereka tetap beraktivitas, tetapi tanpa hati. Sekadar bertahan. Mari mengevaluasi tujuan kita bangun dan bekerja tiap hari. Buat komitmen ulang untuk tekun menyiapkan bekal rohani tiap pagi! Mohon Tuhan memberi semangat dan hikmat bagi pekerjaan yang dipercayakan-Nya. –ICW

TANPA TUHAN, ANDA TANPA ARAH, ANDA SEKEDAR BERTAHAN.

BERSAMA TUHAN, ANDA PUNYA SEMANGAT, ANDA DITUNTUN VISI.

BERISTIRAHAT

Sabtu, 5 November 2011 

Bacaan : Keluaran 31:12-17 

31:12. Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

31:13 “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu.

31:14 Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya.

31:15 Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, hari kudus bagi TUHAN: setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari Sabat, pastilah ia dihukum mati.

31:16 Maka haruslah orang Israel memelihara hari Sabat, dengan merayakan sabat, turun-temurun, menjadi perjanjian kekal.

31:17 Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.”

BERISTIRAHAT

Ada banyak cara orang beristirahat. Ada yang menikmatinya dengan berolahraga atau berjalan-jalan bersama sahabat. Ada yang berekreasi dengan bermain video game atau menikmati makanan enak. Ada juga yang menikmatinya dengan tidur atau sekadar bermalas-malasan di rumah. Saya sendiri menikmati istirahat dengan pergi ke tempat wisata alam.

Apa pun caranya, istirahat adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Namun, ada sebagian orang yang melihat istirahat sebagai sesuatu yang tidak produktif. Memang pada zaman ini, semua orang dituntut untuk bersaing dan berusaha menjadi yang paling unggul. Seorang pegawai terpaksa bekerja lembur setiap hari supaya tidak dicap sebagai pegawai yang kalah rajin dibandingkan yang lain. Seorang anak dipaksa memenuhi waktu kosongnya dengan berbagai macam kursus, supaya ia lebih unggul daripada anak-anak yang lain.

Akan tetapi, mari kita mengingat bagaimana secara khusus Tuhan menciptakan hari Sabat. Apabila mengikuti pola-Nya ketika menciptakan dunia, sesungguhnya Tuhan sedang mengajar kita untuk bekerja selama enam hari, kemudian beristirahat di hari yang ketujuh. Melaluinya, Tuhan hendak menunjukkan bahwa istirahat bukanlah sesuatu yang tidak produktif. Sebaliknya, inilah kunci keseimbangan hidup istirahat justru sangat penting untuk menyegarkan kita secara fisik dan rohani.

Maka, ketika kita lelah, jangan ragu untuk beristirahat. Secara teratur, selalu sediakan waktu untuk beristirahat. Setelah istirahat itu dijalani, kita akan dikuatkan dan disegarkan untuk kembali melanjutkan tugas dengan lebih baik –ALS

BERISTIRAHATLAH SETELAH BERKARYA

AGAR KITA PUNYA KEKUATAN UNTUK MENGERJAKAN KARYA BERIKUTNYA

Dikutip : www.sabda.org

JUDI?

Sabtu, 15 Oktober 2011

Bacaan : 2 Tesalonika 3:6-12 

3:6. Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami.

3:7 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu,

3:8 dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu.

3:9 Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti.

3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

3:11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.

3:12 Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.

JUDI?

Apa yang terkenal dari Las Vegas sebuah kota di Amerika? Banyak orang akan menjawab, “Tempat perjudiannya”. Itu benar. Judi model apa pun dapat ditemukan di sana. Tak heran, kota ini dikunjungi para penjudi dari seluruh dunia. Walaupun demikian, judi tidak hanya dilakukan orang di kota sekelas Las Vegas saja. Di kota kecil atau perkampungan pun, judi banyak dilakukan. Jahatnya, judi tidak hanya dilakukan oleh orang kaya, melainkan juga oleh orang-orang miskin. Bahkan, judi tidak hanya dilakukan orang dewasa, tetapi ada juga anak-anak sekolah yang ikut berjudi.

Judi adalah kebiasaan yang sangat buruk, sebab merusak mentalitas seseorang. Etos kerja orang dihancurkan, sebab judi dianggap jalan pintas untuk menjadi kaya, hidup enak, tanpa kerja keras. Namun benarkah dengan berjudi, orang bisa bahagia? Ternyata tidak. Sebaliknya, kita akan lebih banyak menjumpai orang yang bangkrut karena judi. Dan, jika salah satu anggota keluarga punya kebiasaan berjudi, bisa dipastikan keluarga itu akan mengalami masalah serius.

Alkitab mengecam perjudian. Bahkan dengan keras Paulus berkata, jika seseorang tidak mau bekerja, mau cari enak, janganlah ia makan. Judi adalah bentuk kemalasan, dan Alkitab jelas mencela kemalasan dalam bentuk apa pun. Selain itu, efek judi sangat tidak baik. Toh, kalau seseorang menang dalam jumlah banyak, ia membuat orang lain menderita. Sebab yang kalah bukan si penjudi saja, tetapi juga seluruh keluarganya. Maka, jauhilah judi dalam bentuk sekecil apa pun, agar ia tak menyeret kita ke perangkap yang lebih dalam –PK

BANGKITKAN DIRI KITA UNTUK MENJADI ORANG YANG RAJIN

SEBAB KEMALASAN TAKKAN MEMBAWA KITA KE MANA-MANA

Dikutip : www.sabda.org

MALAS BEKERJA

Senin, 3 Januari 2011

Bacaan : 2 Tesalonika 3:1-15

1Selanjutnya, saudara-saudara, berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan, sama seperti yang telah terjadi di antara kamu,

2dan supaya kami terlepas dari para pengacau dan orang-orang jahat, sebab bukan semua orang beroleh iman.

3Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat.

4Dan kami percaya dalam Tuhan, bahwa apa yang kami pesankan kepadamu, kamu lakukan dan akan kamu lakukan.

5Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus.

6Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami.

7Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu,

8dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu.

9Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti.

10Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

11Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.

12Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.

13Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.

14Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu,

15tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.

 

MALAS BEKERJA

Seorang pemuda mencatat kegiatannya sepanjang hari. Ini hasilnya: pukul 6.00 berbenah, berangkat kerja pukul 7.00. Tiba di kantor pukul 8.00, membuka email dan membaca berita. Pukul 9.00 berhenti untuk mengobrol dan baru bekerja pukul 10.00. Pukul 10.30 menikmati kudapan dan kembali bekerja pukul 11.30. Pukul 11.30 bersiap makan siang, keluar pukul 12.00 untuk makan, kemudian kembali bekerja pukul 13.00 sambil mengantuk atau mengobrol. Pukul 15.00, kudapan lagi. Lalu 30 menit berikutnya bersiap pulang. Pulang pukul 16.00. Sesampainya di rumah pada pukul 17.00, ia gunakan untuk bersantai. Makan malam pukul 19.00, dilanjut bermain video game atau menonton televisi. Baru berangkat tidur pukul 23.00. Jadi, total ia bekerja hanya sekitar 3 jam setiap hari, belum dipotong waktu mengantuk dan mengobrol.

Dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, Paulus memperingatkan orang-orang yang malas bekerja. Di sana, sebagian jemaat menjadi malas bekerja karena “menantikan kedatangan Yesus kembali” (1 Tesalonika 2:1-12). Paulus tidak mengatakan bahwa pengharapan ini salah. Namun, ia menasihati mereka agar tidak menjadikan hal itu alasan untuk malas bekerja. Sebab, selama manusia masih diberi kesempatan hidup di dunia, ia tetap harus bekerja agar layak untuk makan (ayat 10).

Secara seimbang, Tuhan memerintahkan kita beristirahat dan menikmati hasil pekerjaan kita. Namun, kita bertanggung jawab mengerjakan tugas kita dengan setia di hadapan Tuhan. Kemalasan adalah pengingkaran terhadap tanggung jawab tersebut. Selain itu, seperti kata penulis Amsal, kemalasan itu merusak hidup kita –ALS

BEKERJA DENGAN RAJIN

ADALAH BAGIAN DARI IBADAH KITA

Sumber : http://www.sabda.org


SEDAPAT-DAPATNYA

Selasa, 14 September 2010

Bacaan : Roma 12:9-21

12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.

12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!

12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!

12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

SEDAPAT-DAPATNYA

Tidak ada manusia yang sempurna, siapa pun orang tersebut. Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu ia akan jatuh juga. Di atas bintang masih ada langit. Semua prestasi yang dicapai manusia, pasti ada batasnya. Daya jangkau manusia selalu terbatas. Selalu saja masih di bawah standar “kesempurnaan”.

Paulus sadar akan hal itu. Itulah sebabnya tatkala ia memberi nasihat kepada jemaat, ia tidak menuntut kesempurnaan. Ia tidak menunjuk kepada anjuran yang muluk-muluk. “Janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana” (ayat 16). Bahkan, dalam hal menerapkan kebaikan pun, kita harus tetap realistis. Melakukannya sebisa mungkin, sejauh yang dapat kita upayakan. Oleh karena itu, ia menambahkan kalimat “sedapat-dapatnya”.

Di ruang praktik seorang dokter kenalan saya, terpasang tulisan di dinding yang menjadi prinsipnya dalam bekerja. Bunyinya begini:

Sedapat-dapatnya lakukanlah semua yang baik Sedapat-dapatnya dengan segala macam cara dan upaya Sedapat-dapatnya di segala waktu yang ada Sedapat-dapatnya kepada siapa saja yang kamu temui Sedapat-dapatnya selama mungkin kamu bisa melakukannya

Saya rasa ia benar. Begitulah semangat yang seharusnya merasuki orang kristiani. Tak terlalu muluk hingga tak terlaksana apa-apa, tetapi tidak juga menjadi malas. Melakukan kehendak Tuhan dengan tekad “sedapat-dapatnya”. Tak lebih dan tak kurang dari itu –PAD

MARI KITA AKUI KETIDAKSEMPURNAAN KITA

SAMBIL BERTEKAD MENJANGKAU

SEDAPAT MUNGKIN YANG KITA BISA

Sumber : www.sabda.org

PERCOBAAN ASCH

Kamis, 25 Maret 2010

Bacaan : Roma 12:1-20

12:1. Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

12:4 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,

12:5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.

12:6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.

12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;

12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.

12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!

12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!

12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

PERCOBAAN ASCH

Pada tahun 1950-an, Solomon Asch, seorang psikolog Amerika melakukan percobaan mengenai tekanan lingkungan. Sekelompok orang dikumpulkan dalam satu ruangan. Satu orang dari mereka merupakan sang objek penelitian. Dan tanpa diketahui sang objek, sesungguhnya semua anggota lain dari kelompok tersebut adalah anggota tim Asch sendiri.

Di ruangan itu mereka diminta berpendapat secara bergantian, tentang beberapa ruas garis yang tidak sama panjang. Urutannya diatur sedemikian rupa, sehingga sang objek penelitian menjawab paling akhir. Maka, Asch menemukan bahwa jika semua orang berkata bahwa garis-garis itu sama panjang, walau jawaban itu salah, si objek penelitian cenderung ikut menjawab demikian. Namun, jika setidaknya satu orang menjawab benar, si objek penelitian jadi berani menjawab dengan benar.

Percobaan ini menunjukkan betapa tidak kuatnya seseorang kalau harus melawan arus sendirian. Meskipun ketika ia tahu bahwa mengikuti arus berarti ikut salah, tetapi ketika ada orang lain yang menemaninya, ia akan menjadi jauh lebih berani. Hasil ini membuat kita lebih mengerti mengapa perintah Tuhan untuk kita tidak menjadi serupa dengan dunia disampaikan dalam konteks komunitas. Kata “kamu” di Roma 12:2 merujuk kepada komunitas orang percaya, bukan individual. Kita tidak disuruh berjuang sendirian.

Karena itu, penting bagi kita untuk mempunyai dan terus hidup dalam persekutuan-terutama persekutuan yang memiliki relasi dalam, di mana kita bisa berbagi beban dan berjuang bersama sebagai anak Tuhan. Dan bergandengan tangan, kita dapat melawan arus dunia -ALS

KETIKA ANAK TUHAN ADA BERSAMA-SAMA DAN SEPAKAT

MAKA KITA DAPAT MENJADI BERBEDA DENGAN DUNIA INI

Sumber : http://www.sabda.org