ADA POHON ARA

Rabu, 2 Januari 2013

Bacaan: Lukas 19:1-10

19:1. Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.

19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

19:9 Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.

19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

ADA POHON ARA

Orang banyak berdesak-desakan menjejali jalan itu. Zakeus, karena tubuhnya pendek, tidak bisa menembus kerumunan orang tersebut. Pandangannya teralang. Tapi ia sangat ingin melihat Yesus. Ia tidak putus asa; segera ia mencari cara lain. Ternyata di dekatnya ada sebatang pohon ara. Segera ia memanjatnya, agar sewaktu Yesus lewat, ia dapat melihat-Nya dari ketinggian. Dan… berhasil! Bukan hanya melihat Yesus, tetapi Yesus bahkan memanggilnya dan menumpang di rumahnya (ay. 5). Itulah awal perubahan dalam kehidupan Zakeus.

Mungkin pada tahun lalu kita menghadapi jalan buntu atau kegagalan dalam hidup. Hal itu membuat kita cenderung takut untuk merencanakan sesuatu pada tahun baru ini. Takut gagal lagi. Kita lebih banyak merenungi pintu yang tertutup daripada memikirkan jalan keluar. Kita tidak melihat pohon ara yang bisa kita panjat. Kita mulai putus asa dengan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak melangkah ke mana-mana, hanya diam di tempat, dan akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

Dari Zakeus, kita dapat belajar untuk tidak berputus asa apa pun kondisi yang ada. Kita perlu meneguhkan keinginan untuk mengupayakan yang terbaik dalam hidup ini. Mengapa kita tidak mulai melihat peluang di sekeliling kita? Kadang hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan, itu yang akan mengubah atau membawa kehidupan kita menjadi lebih baik. Bawalah setiap pergumulan dan rencana kita tahun ini kepada Tuhan dan biarlah Dia memampukan kita menyelesaikannya. Masih ada pohon ara yang dapat kita panjat tahun ini. –IST

JANGAN HANYA TERFOKUS PADA PINTU YANG TERTUTUP.

 LIHATLAH, MASIH ADA JENDELA YANG TERBUKA!

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

DERITA MEMBUKA MATA

Rabu, 16 November 2011 

Bacaan : Kisah Para Rasul 7:54-8:4 

7:54. Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi.

7:55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.

7:56 Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”

7:57 Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia.

7:58 Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.

7:59 Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.”

7:60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.

8:1. Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. (8-1b) Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.

8:2 Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat.

8:3 Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

8:4. Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.

DERITA MEMBUKA MATA

Dr. George Harley, seorang lulusan dari Universitas London, memberi hidupnya bagi pekerjaan Tuhan di Liberia, Afrika, dengan pengorbanan besar. Dalam lima tahun pertama, tidak ada seorang pun yang mau berobat dan ditolong dokter. Namun suatu hari, anak Dr. Harley meninggal dunia. Sang dokter yang begitu sedih membuat sendiri peti mati dan mengubur anak yang dicintainya. Melihat penderitaan sang dokter, masyarakat desa itu terkejut. Mereka heran bahwa orang kulit putih juga bisa menangis. Air mata sang dokter telah menyentuh hati mereka dan mengubah keadaan. Sebab bagi mereka, itulah tanda bahwa sang dokter memiliki kasih yang mendalam. Mulai dari saat itu, salah satu desa di Liberia disentuh dan dimenangkan bagi Kristus.

Mata rohani orang-orang juga terbuka ketika menyaksikan keberanian Stefanus menghadapi penghakiman massal, yang membuatnya terbunuh sebagai martir. Mereka heran mengapa Stefanus berani membela imannya sedemikian rupa. Itu membuktikan bahwa kepercayaan Stefanus jauh lebih unggul dibandingkan kepercayaan orang-orang lain. Bahkan, penderitaan Stefanus juga membuka mata batin, serta memacu semangat dan kehendak para pengikut Kristus untuk makin gencar dan berani menyebarkan Kabar Baik. Setelah penganiayaan Stefanus, anak-anak Tuhan makin tersebar bahkan sampai keluar dari Yerusalem.

Penderitaan Stefanus dan Dr Harvey, justru menjadi alat di tangan Tuhan untuk mendobrak kerasnya hati manusia. Bukan hanya mata batin para pengikut Kristus, melainkan juga mereka yang masih membutuhkan kasih Kristus –BL

BAHKAN PENDERITAAN ANAK-ANAK ALLAH

DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGGENAPI RENCANA BESAR ALLAH

Dikutip : www.sabda.org

ANAK PANAH NYASAR

Jumat, 17 Juni 2011

Bacaan : 2 Tawarikh 18:28-34

18:28. Sesudah itu majulah raja Israel dengan Yosafat, raja Yehuda, ke Ramot-Gilead.

18:29 Raja Israel berkata kepada Yosafat: “Aku akan menyamar dan masuk pertempuran, tetapi engkau, pakailah pakaian kebesaranmu.” Lalu menyamarlah raja Israel, kemudian mereka masuk ke pertempuran.

18:30 Adapun raja negeri Aram telah memberi perintah kepada para panglima pasukan keretanya demikian: “Janganlah kamu berperang melawan sembarang orang, melainkan melawan raja Israel saja.”

18:31 Segera sesudah para panglima pasukan kereta itu melihat Yosafat, mereka berkata: “Itu raja Israel!” Lalu mereka mengepung dia, untuk menyerang dia, tetapi Yosafat berteriak dan TUHAN menolongnya. Allah membujuk mereka pergi dari padanya.

18:32 Segera sesudah para panglima pasukan kereta itu melihat, bahwa dia bukanlah raja Israel, maka undurlah mereka dari padanya.

18:33 Tetapi seseorang menarik panahnya dan menembak dengan sembarangan saja, dan mengenai raja Israel di antara sambungan baju zirahnya. Kemudian ia berkata kepada pengemudi keretanya: “Putar! Bawa aku keluar dari pertempuran, sebab aku sudah luka.”

18:34 Tetapi pertempuran itu bertambah seru pada hari itu, dan raja Israel tetap berdiri di dalam kereta berhadapan dengan orang Aram itu sampai petang. Ia mati ketika matahari terbenam.

 

ANAK PANAH NYASAR

Di sebuah laga sepak bola terjadi keunikan ini. Bola digiring mendekati gawang, diumpankan ke posisi tembak yang strategis. Umpan disambut tendangan keras, tetapi membentur tiang gawang. Bola terpental, jatuh di kaki penyerang lain; ditendang lagi tak kalah keras. Kali ini bola membentur mistar gawang; terpental lagi. Untuk ketiga kalinya bola berusaha disarangkan ke gawang, tetapi malah melambung dan keluar lapangan. Orang bilang, “Itulah kalau belum saatnya gol.”

Raja Ahab licik dan jahat. Dalam pertempuran melawan Aram, ia membujuk Raja Yosafat menjalin aliansi militer dengannya. Bahkan, ia “mengumpankan” besannya itu sebagai sasaran musuh. Ia menyamar sebagai prajurit agar musuh menyangka Yosafat adalah dirinya, supaya Yosafat menjadi target. Taktik licik ini nyaris berhasil (ayat 31). Namun, Tuhan menyelamatkan Yosafat. Sebaliknya, meski Ahab menyamar, sebatang anak panah yang sembarang ditembakkan “menyasar” tepat di celah baju zirah-nya (ayat 33). Ia terluka dan mati. “Sudah waktunya” Ahab binasa, sementara “belum waktunya” Yosafat wafat. Sebab, bukan kematian Yosafat, melainkan Ahab, yang dikehendaki Tuhan.

Entah baik atau jahat, manusia hanya bisa berencana. Tuhan yang menentukan. Sadar atau tidak, ada kalanya hidup kita tertindih oleh rencana jahat pihak lain. Atasan yang sengaja menekan; rekan sejawat yang berniat menyingkirkan; kenalan yang merasa tersaingi lalu bersiasat licik; rekanan bisnis yang berniat merugikan. Pokoknya semua tindakan yang membahayakan Anda. Namun, tak ada yang akan membawa hasil, jika Dia tidak berkehendak. Percayalah, tiada rencana yang bakal terjadi jika Tuhan tidak berkenan –PAD

MANUSIA BISA MENGATUR RENCANA BAGI DIRI SENDIRI

NAMUN KEHENDAK TUHAN SAJALAH YANG TERGENAPI

Dikutip : www.sabda.org

KARENA ORGAN RUSAK

Kamis, 23 Desember 2010

Bacaan : Markus 2:1-12

1Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah.

2Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka,

3ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.

4Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.

5Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

6Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya:

7″Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”

8Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?

9Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?

10Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–:

11″Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”

12Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”

KARENA ORGAN RUSAK

Kabar buruk itu muncul menjelang malam Natal 1818. Joseph Mohr, seorang pendeta Austria, diberi tahu bahwa organ di gerejanya rusak dan perbaikannya memakan waktu lama, sehingga organ itu tidak akan dapat dipakai untuk mengiringi ibadah malam Natal. Ia kebingungan. Natal tanpa iringan musik? Ia pun duduk menggubah lagu yang dapat dinyanyikan oleh paduan suara dengan iringan gitar. Ia menulis tiga bait yang bersahaja, tetapi dengan melodi yang kuat. Malam itu, jemaat di gereja kecil itu menyanyikan “Stille Nacht” (Malam Kudus) untuk pertama kalinya. Karena organ yang rusak, kita mewarisi lagu Natal yang populer sepanjang masa.

Sesungguhnya, masalah tidak akan menghentikan orang yang beriman. Empat pembawa orang lumpuh itu tidak mau menyerah ketika pintu rumah tempat Yesus berada tertutup oleh kerumunan orang. Pada zaman itu, rumah-rumah terbuat dari batu dan mempunyai atap rata dari campuran lumpur dan jerami. Di luar, ada tangga menuju atap. Keempat orang itu membawa temannya ke atap, membongkar atap itu secukupnya, dan menurunkan si lumpuh sampai di depan Yesus. Menyaksikan iman mereka, Yesus memuji mereka dan menyembuhkan orang lumpuh itu. Iman mereka sukses menembus kebuntuan!

Apakah ada rencana Anda yang tertunda? Apakah Anda terpaksa mengubah haluan karena adanya suatu rintangan? Selama tujuan Anda benar, jangan biarkan hambatan menghentikan langkah Anda. Tuhan mungkin sedang mengarahkan Anda untuk menempuh jalur lain, jalur alternatif yang hasilnya akan jauh lebih baik daripada apabila Anda bertahan di jalur yang semula –ARS

HAMBATAN BUKANLAH JALAN BUNTU

MELAINKAN TANTANGAN UNTUK MENGUJI KREATIVITAS

Sumber : www.sabda.org