99 BALON

Jumat, 22 Februari 2013

Bacaan: Ayub 14:7-15

14:7. Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh.

14:8 Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu,

14:9 maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai.

14:10 Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia?

14:11 Seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering,

14:12 demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya.

14:13 Ah, kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati, melindungi aku, sampai murka-Mu surut; dan menetapkan waktu bagiku, kemudian mengingat aku pula!

14:14 Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi? Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku;

14:15 maka Engkau akan memanggil, dan akupun akan menyahut; Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu.

99 BALON

Dua bulan sebelum lahir, Eliot Mooney divonis menderita Edwards Syndrome, penyakit yang tak memungkinkannya untuk lahir selamat. Orangtuanya berdoa memohon mukjizat, dan Eliot pun lahir. Namun, kondisinya memprihatinkan: paru-parunya tak berkembang sempurna, jantungnya berlubang, dan DNAnya memberi informasi keliru pada setiap sel tubuhnya. Setelah dua minggu Eliot diizinkan pulang dengan tiga peralatan medis menempel di tubuhnya, termasuk tabung oksigen dan selang untuk memasukkan susu.

Eliot kecil bertahan dan bertumbuh walaupun tak secepat anak seusianya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Uniknya, orangtua Eliot merayakan “ulang tahun”-nya setiap hari. Sebab, satu hari saja merupakan perjuangan berat baginya untuk hidup. Maka, setiap hari mereka merayakan kemenangannya. Hingga akhirnya, pada hari ke-99, Eliot kembali kepada Yesus. Pada hari pemakamannya, 99 balon dilepaskan -masing-masing mewakili ucapan syukur atas setiap hari yang Eliot habiskan di bumi.

Ketika Ayub mengalami penderitaan yang sangat berat, kematian membayanginya. Ia disadarkan akan betapa fana hidup manusia. Namun, Ayub berkata bahwa selama Tuhan masih memberinya hidup, ia akan terus berharap. Dan, bila kelak waktunya tiba, ia akan bahagia karena itu berarti Allah merindukannya pulang!

Sudahkah kita mensyukuri setiap hari yang Tuhan beri? Mensyukuri hidup kita dan orang-orang di sekitar kita? Jangan membuang satu hari pun untuk hal sia-sia. Selama kesempatan ada, hiduplah maksimal bagi Dia. –AW

BILA ENGKAU MENAMBAH HARI-HARI DALAM HIDUP KAMI

 BIARLAH NAMA-MU SEMAKIN DITINGGIKAN LEWAT DIRI INI

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

MASIH TAKJUBKAH KITA?

Minggu, 08 Januari 2012

Bacaan : Mazmur 19:1-7 

19:1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (19-2) Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;

19:2 (19-3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.

19:3 (19-4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar;

19:4 (19-5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari,

19:5 (19-6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.

19:6 (19-7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.

MASIH TAKJUBKAH KITA?

Sekelompok siswa kelas 1 SD tampak asyik menggambar ciptaan Tuhan yang mereka temui di halaman sekolah. Setelah beberapa saat, seorang anak menunjukkan hasil karyanya kepada guru. Gambar sebuah bunga dengan kelopak putih dan bagian putik berwarna oranye. Ketakjuban terpancar jelas dari wajahnya. “Ibu guru, Tuhan hebat, ya, bisa menciptakan bunga yang warnanya tidak luntur jika tersiram air. Kalau luntur kan warna putihnya jadi kotor!” Ya, jika mencermati beragam ciptaan Tuhan, ada begitu banyak hal yang akan membuat kita takjub. Betapa hebat dan kreatifnya Dia!

Sebagaimana anak tadi, Daud juga diliputi kekaguman yang luar biasa akan Tuhan. Ia menengadah ke atas dan langit pun seolah bercerita tentang kehebatan Pelukisnya. Ia menelusuri cakrawala yang entah di mana ujungnya, terpesona dengan garis batas langit yang dibuat Tuhan itu. Ia merasakan panas matahari dan menyadari bahwa sinarnya mewartakan keagungan Sang Pencipta ke seluruh penjuru bumi. Dari pagi hingga malam, dari kutub utara hingga selatan, siapa yang dapat menutupi kesaksian Tuhan yang dahsyat tentang diri-Nya sendiri?

Hari ini, ketika hangat mentari menyapa, adakah rasa takjub akan Tuhan meliputi kita? Ketika melewati jejeran aneka pohon di sepanjang jalan, adakah gelora kekaguman akan Tuhan menyeruak dalam sanubari? Tidak ada hari yang biasa-biasa saja ketika panca indera kita benar-benar diaktifkan. Lihat, hirup, sentuh, teliti sekeliling kita, dan biarkan nada ketakjuban mengalun sekali lagi bagi Pribadi yang selayaknya menerima segala hormat dan pujian kita –SWS

KETAKJUBAN AKAN TUHAN MEMBUAT KITA SEMAKIN RINDU MENYEMBAH-NYA

Dikutip : www.sabda.org

RINDU YANG SEHARUSNYA

Senin, 02 Januari 2012

Bacaan : Mazmur 84:1-13

84:1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah. (84-2) Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!

84:2 (84-3) Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.

84:3 (84-4) Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku!

84:4 (84-5) Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela

84:5 (84-6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!

84:6 (84-7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.

84:7 (84-8) Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.

84:8. (84-9) Ya TUHAN, Allah semesta alam, dengarkanlah doaku, pasanglah telinga, ya Allah Yakub. Sela

84:9 (84-10) Lihatlah perisai kami, ya Allah, pandanglah wajah orang yang Kauurapi!

84:10 (84-11) Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.

84:11 (84-12) Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.

84:12 (84-13) Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu!

RINDU YANG SEHARUSNYA

Doug Banister dalam bukunya, Sacred Quest, bertanya: Beranikah saya berharap bahwa saya memiliki hubungan yang demikian dekatnya dengan Tuhan sehingga hati saya diisi dengan visi baru, dan keagamaan kering saya menjadi sebuah pencarian dengan hasrat yang kuat, serta penyembahan kepada Kristus yang hidup? Dapatkah saya benar- benar bertemu Kristus dengan keakraban yang membuat saya tidak lagi menelusuri tempat-tempat kecanduan saya? Dapatkah Yesus benar-benar menyentuh kesepian hati saya? Apakah ini sesuatu yang terlalu besar untuk diharapkan?

Mazmur ini menjawab: Tidak, justru itu yang seharusnya diharapkan tiap orang percaya! Seperti kerinduan pemazmur yang menggelegak, mengisi daging, jiwa, dan hatinya untuk berada dekat dengan Tuhan (ayat 2-5). Kemungkinan besar mazmur ini dinyanyikan dalam perjalanan ziarah orang Israel ke Bait Allah di Yerusalem. Hasrat akan keintiman dengan Tuhan mendorong mereka memulai perjalanan panjang tersebut (ayat 6-7). Makin lama, makin dekat dan kuat (ayat 8). Perjumpaan dengan Tuhan jauh lebih berharga dibanding hal-hal lainnya (ayat 11).

Bukankah hidup kita di dunia juga adalah sebuah perjalanan ziarah untuk mencari dan menemukan sukacita terbesar di dalam Tuhan? Adakah perjumpaan dengan Tuhan menjadi harapan yang menggelorakan hati kita? Mari bangkit dari kedangkalan rohani menuju persekutuan yang sejati dan penuh dengan Tuhan. Bawalah tiap pembaruan yang Anda rindukan terjadi dalam hubungan pribadi dengan Tuhan di tahun yang baru ini kepada-Nya –JOO

BANYAK HAL YANG BISA MENCOBA MENGISI KEKOSONGAN HATI INI

NAMUN, APA YANG DAPAT MEMUASKANNYA SELAIN HADIR-MU, TUHAN?

Dikutip : www.sabda.org

SIKAPKU, PILIHANKU

Rabu, 2 Desember 2009

Bacaan : Filipi 4:1-8

4:1. Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

4:2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.

4:3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.

4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

SIKAPKU, PILIHANKU

Sikap adalah pilihan pribadi. Apabila pikiran dipenuhi hal negatif, sehingga keluar sikap buruk seperti murung, putus asa, dendam, kita tidak boleh menyalahkan orang lain atau kondisi di sekitar, sebab itu pilihan kita. Seandainya kita mau mengubah pikiran ke hal yang optimis dan positif, maka sikap kita pun akan mengikuti. Yang unik, dalam waktu yang bersamaan, otak kita tak dapat memikirkan dua hal sekaligus. Jadi, kita harus memilih.

Hari ini kita diminta memikirkan semua yang benar, mulia, manis, sedap didengar, bajik, dan patut dipuji (ayat 8). Mungkin hidup Anda saat ini sungguh terasa pahit, getir, dan sulit, tetapi mari kita lihat Paulus. Ketika ia menasihati jemaat Filipi yang menghadapi tekanan dan kesulitan hidup, Paulus sendiri sebenarnya sedang sangat susah. Ia menuliskan surat itu dari dalam penjara, dalam kondisi teraniaya karena Injil. Namun, ia memilih bersikap positif dan optimis. Jadi, ia bisa melihat peluang untuk memberitakan Injil kepada para narapidana, pegawai penjara, bahkan pejabat istana yang menangani kasusnya (Filipi 1:12-14). Bahkan, ia menghibur banyak jemaat yang ditimpa kesulitan melalui suratnya, sebab dalam penjara ia punya banyak waktu untuk menulis, berdoa, dan memuji Tuhan.

Paulus dapat melakukan hal ini karena ia memilih untuk menambatkan hatinya kepada Allah; memenuhi hatinya dengan kasih kepada jiwa-jiwa terhilang dan jemaat yang dilayaninya. Maka, penjara hanya bisa mengurung tubuhnya. Sedang pikirannya tetap dipenuhi oleh semua yang benar, mulia, manis, sedap didengar, bajik, dan patut dipuji. Jika Anda sedang susah, mengapa harus menjadi lebih susah dengan memilih sikap pesimis atau negatif? Ayo bangkitlah! –SST

SEBUAH HARI CERAH BISA DIMENDUNGKAN OLEH KEMURUNGAN

SEBUAH HARI MENDUNG BISA DICERAHKAN OLEH SENYUMAN

Sumber : www.sabda.org