SISI-SISI BAIK

Kamis, 10 Juni 2010

Bacaan : Filipi 1:12-19

1:12. Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,

1:13 sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.

1:14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.

1:15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.

1:16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,

1:17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.

1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,

1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.

SISI-SISI BAIK

Suatu malam di sebuah perempatan, Pak Jamil dirampok. Ia tengah menyetir mobil sendirian pulang kantor. Jalan macet. Dua orang pemuda tanggung mendatanginya. Mereka mengancam dengan kapak dan meminta paksa uang dalam dompetnya. Apa boleh buat, ia menuruti permintaan mereka. Bagaimana perasaan Pak Jamil? Marah? Menyesal? “Tidak, ” katanya, “Buat apa? Itu tidak akan mengembalikan uang yang hilang. Malah syukurnya cuma uang di dompet yang mereka ambil, bukan nyawa saya. Dan syukurnya pula, saya yang dirampok bukan yang merampok. Semoga saja uang itu bisa berguna buat mereka.”

Hal serupa dialami oleh Paulus. Ketika menulis surat Filipi, ia tengah dipenjara karena memberitakan Injil. Jauh dari marah dan menyesali kondisi yang ia alami, Paulus justru melihat pemenjaraan dirinya ada hikmahnya. Yakni, menyebabkan kemajuan Injil (ayat 12); dan membuat kebanyakan saudara seimannya semakin berani memberitakan firman Tuhan (ayat 14). Karenanya, ia pun tidak kehilangan sukacita dan rasa syukurnya. Di bagian akhir suratnya, ia menegaskan kembali pengharapan dan keyakinan imannya (Filipi 4:4-9).

Begitulah, di balik setiap kejadian atau keadaan yang kita alami, termasuk yang tidak menyenangkan sekalipun, selalu ada sisi-sisi baiknya. Kuncinya, kita tidak terjebak dalam kemarahan dan kekecewaan yang berkepanjangan. Menjalani apa pun yang terjadi dengan penyerahan diri kepada Tuhan; juga dengan keyakinan bahwa di balik semua itu pasti ada hikmahnya. Mungkin hal itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi setidaknya, kita tidak akan kehilangan sukacita dan rasa syukur –AYA

KEMARAHAN DAN PENYESALAN ATAS

SEBUAH PERISTIWA BURUK

BIASANYA HANYA MENGUNDANG MASALAH BARU

Sumber : www.sabda.org

Iklan

LEBIH BAIK LAGI

Jumat, 6 November 2009

Bacaan : Filipi 1:19-26

1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.

1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.

1:21. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik;

1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.

1:25 Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,

1:26 sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

LEBIH BAIK LAGI

Sir Francis Bacon mengatakan, “Saya tidak percaya bahwa ada orang yang takut mati, mereka hanya takut pada serangan kematian.” Woody Allen berkata, “Saya tidak takut mati. Saya hanya tidak ingin berada di sana ketika hal itu terjadi.”

Yang sangat menakutkan bukanlah kematian, melainkan detik-detik menghadapi kematian. Ketika Paulus dalam tahanan dan ada kemungkinan ia akan mati di sel penjara, ia membagikan pandangannya mengenai kehidupan dan kematian, “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Benar-benar cara pandang yang luar biasa!

Kematian adalah musuh kita (1 Korintus 15:25-28), tetapi kematian bukanlah suatu akhir yang mesti ditakuti sedemikian banyak orang. Bagi orang percaya, ada sesuatu yang menunggu mereka di luar kehidupan ini, yaitu sesuatu yang lebih baik.

Seseorang pernah berkata, “Bagi kepompong, sesuatu yang sepertinya adalah akhir kehidupan, bagi kupu-kupu, hal itu barulah awal kehidupan.” George MacDonald menulis, “Alangkah anehnya ketakutan akan kematian! Kita tidak pernah takut saat melihat matahari terbenam.”

Saya menyukai ungkapan dari Filipi 1:21, “Bagi saya, hidup berarti kesempatan melayani Kristus, dan mati — ya, berarti lebih baik lagi!” (FAYH). Selama menjalani kehidupan jasmani, kita berkesempatan untuk melayani Yesus. Namun suatu hari, kita akan benar-benar berada dalam hadirat-Nya. Ketakutan kita akan luntur ketika kita melihat-Nya muka dengan muka.

Itulah “sesuatu yang lebih baik lagi” yang dimaksudkan Rasul Paulus! –CHK

BAGI ORANG KRISTIANI, KETAKUTAN AKAN KEMATIAN
JUSTRU MENUNTUN PADA KEHIDUPAN YANG PENUH KRISTUS

Sumber : http://www.sabda.org

Obat Patah Hati

Sabtu, 7 Februari 2009

Bacaan : Filipi 1:12-21

1:12. Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,

 

1:13 sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.

 

1:14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.

 

1:15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.

 

1:16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,

 

1:17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.

 

1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,

 

1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.

 

1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.

 

1:21. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

 

Obat Patah Hati

smile_web_design-749546

Amor medicabilis nullis herbis. Kalimat ini tertulis di tembok sebuah apotek tua di kota Luzern, Swiss. Artinya? “Tidak ada obat dapat menyembuhkan patah hati.” Tidak jelas mengapa si pemilik apotek menuliskan kalimat ini. Yang jelas: ia benar! Patah hati adalah padamnya semangat hidup akibat hati yang terluka. Entah karena dikhianati kekasih atau mengalami kekecewaan berat. Hati yang patah tak bisa dipulihkan dengan pil tidur, minuman keras, atau hiburan duniawi.

Obat patah hati, kata Amsal, adalah “hati yang gembira”. Namun, bagaimana kita bisa gembira kalau sedang patah hati? Teladanilah Rasul Paulus. Saat menulis surat Filipi, sudah dua tahun ia dipenjara. Ia banyak dikecewakan. Sementara di penjara ia tak bisa apa-apa, di luar banyak saudara seiman mengkhianatinya. Mereka memberitakan Injil “karena dengki dan perselisihan” (ayat 15). Mumpung Paulus absen, mereka yang selama ini merasa kalah bersaing mengabarkan Injil untuk menarik pengikut Paulus menjadi pengikutnya. Namun, Paulus melihat sisi positifnya. Gara-gara dipenjara, orang-orang istana yang mengadilinya bisa mendengar Injil (ayat 12,13). Tindakan rekan yang mau merebut popularitasnya malah membuat Injil makin tersebar. Hal-hal positif ini membuat hati Paulus bergembira. Ia sadar kemalangannya tak bisa menggagalkan rencana Tuhan.

Anda sedang patah hati? Lihatlah hal-hal yang positif! Jangan terpaku pada kemalangan Anda. Anda bisa gagal. Orang lain bisa menggagalkan impian Anda. Namun, rencana indah Allah untuk masa depan Anda tidak akan gagal! -JTI

TIDAK PERLU HADIAH ISTIMEWA UNTUK MEMBUAT HATI GEMBIRA


SYUKURILAH HAL-HAL YANG SEDERHANA

Sumber : http://www.sabda.org