BERHENTI DAN MENOLONG

Jumat, 15 Februari 2013

Bacaan: Lukas 10:25-37

10:25. Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

10:26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”

10:27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

10:28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”

10:30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.

10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”

10:37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

BERHENTI DAN MENOLONG

Pemilik sepeda motor yang murah hati. Itu sebutan untuk sahabat saya, Yo. Ia sangat bermurah hati setiap kali saya meminjam sepeda motornya. Ia selalu memastikan bensin dalam kondisi memadai. Jika bensin sudah hampir habis, ia akan memberikan sejumlah uang sambil berkata, “Ini sekalian diisikan, supaya tidak kehabisan bensin.” Ucapan yang sulit untuk ditolak karena disampaikan dengan cara yang sopan disertai senyuman manis.

Tindakan Yo mengingatkan saya pada kebaikan hati orang Samaria dalam perumpamaan Yesus. Orang Samaria itu mau berhenti dan menolong orang asing yang menjadi korban perampokan ketika sedang dalam perjalanan. Setelah membersihkan luka-lukanya, ia membawa korban ke penginapan dan berusaha memastikan agar pemilik penginapan merawat orang itu dengan baik. Ada kemungkinan biaya perawatan lebih dari dua dinar sehingga ia berpesan: “Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.” Dua dinar pada masa itu kira-kira senilai upah kerja dalam satu hari. Mungkin tidak terlalu banyak, tetapi kemurahan hati orang Samaria itu terhadap orang yang tidak dikenalnya tidak dapat dinilai dengan uang.

Kemurahan hati orang Samaria itu pasti membekas kuat dalam hidup si korban perampokan tadi. Begitu juga, kemurahan hati Yo terus melekat dalam ingatan saya. Bagaimana dengan kita? Ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan, sekalipun orang itu tidak kita kenal, maukah kita menjadi “orang Samaria yang murah hati”? –IDO

KEMURAHAN ORANG SAMARIA BERTANYA, “APAKAH YANG AKAN TERJADI

 SEANDAINYA AKU TIDAK MAU BERHENTI DAN MENOLONGNYA?”

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

TAHU BERTERIMA KASIH

Rabu, 7 Desember 2011

Bacaan : Lukas 17:11-19

17:11. Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.

17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh

17:13 dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”

17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.

17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,

17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

17:17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?

17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”

17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

 

TAHU BERTERIMA KASIH

Kapankah kebanyakan orang mencari Tuhan dan berteriak minta tolong kepada-Nya? Bukankah saat orang sudah merasa tak berdaya; saat semua usaha sudah dilakukan dan tak berhasil; atau saat sakit keras dan dokter sudah angkat tangan, baru ia berpaling mencari Tuhan? Ketika pertolongan Tuhan datang, barulah orang itu bersyukur dan menganggapnya mukjizat dari Tuhan. Di luar itu, orang kerap kali beranggapan bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini apalagi hal-hal yang baik dan menyenangkan adalah hal biasa sehingga lupa menaikkan syukur kepada Tuhan.

Hal ini kerap terjadi karena orang menganggap semua hal baik yang dialaminya adalah hasil kerja kerasnya. Orang menjadi lupa bahwa di balik semuanya itu, Allah turut bekerja, menolong, dan memampukan agar ia berhasil. Tuhan yang memberi manusia akal budi, kekuatan, kesehatan, kesempatan, dan kemampuan untuk mengerjakan semua itu. Tangan-Nya yang tak tampak itu terus berkarya dalam segala peristiwa “biasa”, tak biasa, atau bahkan tak terencana dalam kehidupan anak-anak Tuhan.

Yesus menyembuhkan kesepuluh penyandang kusta yang memanggil-Nya. Akan tetapi, hanya si Samaria yang tahu berterima kasih dan kembali tersungkur dalam syukur di hadapan Yesus. Ia tahu jamahan tangan kasih Tuhan tidak hanya menyembuhkan sakit fisiknya, tetapi juga mengubah hati dan menyelamatkan hidupnya (ayat 19). Mari teladani cara pandangnya ini. Ketika Tuhan menjamah hati dan mengubah hidup kita menjadi baru, seharusnya itu membuat kita melihat karya Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Syukurilah selalu! –SST

TUHAN ITU MEMBERI HIDUP DAN MENOLONG KITA UNTUK HIDUP

BIARLAH SYUKUR KITA SELALU ADA DI SEGALA WAKTU

Dikutip : www.sabda.org

PERJUMPAAN YANG MENGUBAHKAN

Senin, 8 November 2010

Bacaan : Yohanes 4:1-14

4:1. Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes

4:2 –meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya, —

4:3 Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea.

4:4. Ia harus melintasi daerah Samaria.

4:5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.

4:6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.

4:7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”

4:8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.

4:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)

4:10 Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

4:11 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?

4:12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”

4:13 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,

4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

 

PERJUMPAAN YANG

MENGUBAHKAN

Pernahkah hati Anda tertambat pada sesuatu atau seseorang? Sesuatu yang menambat hati kita pasti istimewa dan mengesankan; lalu menciptakan kenangan tersendiri dalam ingatan. Lebih dari itu, mungkin ia juga dapat mengubah jalan kehidupan kita selanjutnya.

Demikianlah yang terjadi pada suatu siang di Sikhar. Ada dua orang yang belum pernah saling jumpa. Mereka tampak berbeda. Yang satu lelaki, yang satu perempuan; yang satu Yahudi, yang lain Samaria; yang satu haus dan tak punya timba, yang satu lagi siap mengambil air dengan timba. Kedua orang ini bertemu di sumur. Alangkah mengejutkan karena lelaki tanpa timba yang haus itu justru memiliki air hidup yang membuat siapa pun yang meminumnya tak haus lagi. Sementara perempuan yang siap menimba, ternyata adalah pihak yang mendambakan air hidup itu.

Penjumpaan dan percakapan dengan lelaki itu begitu memesona dan mengubah hidup perempuan Samaria ini. Ia berubah-dari perempuan yang status sosialnya direndahkan karena kehidupan seksual yang mencengangkan, menjadi perempuan penginjil (ayat 28, 29). Ya! Setelah berjumpa dengan Yesus, ia bersaksi bahwa dahaga hatinya telah lenyap, diganti dengan air hidup yang terus mengalir. Mengapa? Sebab Yesus menyentuh hati yang haus dan mengalirkan kehidupan baru di hati perempuan itu.

Apabila Anda mengalami dahaga jiwa yang membuat Anda merasa hampa dan mencari-cari, datanglah dan mintalah air hidup kepada Yesus. Minta Tuhan berkarya; mengubah, memperbarui, dan menyegarkan segenap aspek hidup Anda-pikiran, perkataan, tindakan, karakter, dan sebagainya –DKL

KRISTUS MENAWARKAN AIR KEHIDUPAN
SUPAYA SETELAH MEMINUMNYA, KITA TAK PERNAH LAGI KEHAUSAN

Dikutip : www.sabda.org

Setiap Hari Menjadi Berkat

PESAN GEMBALA

24 JANUARI 2010

EDISI 110 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati, suatu kebahagiaan yang sangat besar ketika kita bisa membawa seseorang datang kepada Tuhan, dan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dan tidak hanya sekedar menjadi orang Kristen. Namun bagi orang yang telah kita bawa untuk mengenal kebenaran yang sejati, kebahagiaannya adalah ketika bisa bertemu muka dengan muka secara pribadi dengan Tuhan, bukan melalui orang yang menuntunnya atau yang mengajarnya, tetapi ketemu secara pribadi dan memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan.

Suatu peristiwa yang sangat jelas dan menarik terjadi pada kisah seorang wanita Samaria di sumur Yakub. Kisah ini menceritakan bahwa Yesus harus melintasi Samaria, padahal ada jalur lain yang mudah ditempuh dan lebih aman secara manusia sebab terjadi pertentangan eksistensi antara orang Yahudi dengan orang Samaria, namun Yesus melalui jalur Samaria ini walau beresiko.

Ia telah mengetahui bahwa ada seorang wanita yang sangat membutuhkan pertolongan kasih-Nya, sebab ia memiliki sejarah yang gelap dengan segala kekurangan-kekurangan di masa lalu dalam hidup wanita itu.

Wanita itu memberikan air minum kepada  Yesus, sehingga Yesus meresponi demikian “jikalau engkau tahu tentang karunia Allah, dan siapa Dia yang berkata kepadamu, “berilah Aku minum!” niscaya engkau telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (Yohanes 4:10).

Yesus tahu masalahnya bukan terletak pada banyaknya ia mempunyai suami atau hubungan-hubungannya, yang sesungguhnya itu hanya gejala-gejala dari kerinduannya yang tidak ia sadari akan suatu hubungan kekal dengan satu-satunya Allah yang mampu memberikan. Suatu keputusan yang luar biasa sebab wanita Samaria itu mengambil air hidup yang ditawarkan oleh Yesus, dan akhirnya menjadi seorang pembawa berita kebenaran/keselamatan kepada kerabatnya dan tetangga-tetangganya.

Dia memberitakan “datang dan lihatlah orang ini dan terus mengatakan kepada setiap orang yang ditemuinya dalam setiap kesempatan, dia menjadi BERKAT. Semua orang di kota Samaria mengetahui siapa wanita ini yang sudah banyak berhubungan dengan banyak pria (hubungan yang negatif). Namun ketika wanita itu mengatakan tentang Yesus, maka ada keseriusan dalam perkataan wanita itu.

Saudara, setiap orang yang bertemu secara pribadi dengan Tuhan, maka akan ada sesuatu yang berbeda sebab telah diubahkan oleh Tuhan, dari kehidupan gelap menjadi terang, dari orang yang tidak dipercaya menjadi orang yang dipercaya, dari tidak dihiraukan menjadi perhatian yang baik dari banyak orang. Sehingga kerabat dan tetangga-tetangganya berdatangan untuk mengetahui apa yang telah terjadi dengan wanita tersebut dan akhirnya menjadi percaya kepada Yesus. Melalui perkataan wanita itu menjadikan banyak orang menjadi bertobat.

Yohanes menuliskannya sebagai berikut “banyak orang menjadi percaya karena perkataannya”. Mereka percaya apa yang telah didengar dari perkataan wanita itu. Namun dikonfirmasikan lewat pengalaman pribadi bersama Yesus “dan mereka berkata kepada perempuan itu, kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia” (Yohanes 4:42).

Bagi saudara yang membaca warta ini, apakah saudara mengalami perubahan ketika pertama kali bertemu Tuhan Yesus atau tidak merasakan sama sekali sesuatu yang harusnya berbeda, kalau tidak mengalami perubahan ketika pertama kali bertemu Tuhan Yesus atau tidak merasakan sama sekali sesuatu yang harusnya berbeda, kalau tidak mengalami sesuatu yang berbeda maka tidak mungkin membawa orang lain kepada Yesus Kristus .

Bagi kita yang mengalami pengalaman pribadi dengan Tuhan dan pengalaman itu adalah yang menyenangkan maka kita bisa membawa orang lain datang kepada Kristus, ketika kita menuntun orang-orang kepada Kristus, adalah penting bahwa mereka bisa melihat Dia muka dengan muka. Dan kita mengambil waktu bersama-sama dengan Dia sehingga orang-orang tahu bahwa kita telah bersama dengan Tuhan. Bersama dengan Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin.

Dari kisah tersebut dapat kita pelajari bahwa wanita Samaria menjadi berkat bagi orang lain dan setiap orang yang telah mengenal Yesus melalui perkataan wanita itu juga menjadi berkat bagi orang lain sebab telah mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan. Mereka menjadikan setiap hari bergairah dan penuh dengan karya agung Tuhan.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, jadikanlah setiap hari dalam bulan ini dalam tahun ini menjadi berkat bagi orang lain. Seperti perempuan Samaria bertemu dengan Tuhan dan menjadikan orang lain untuk bertemu dengan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA