KASIH PENGUIN KAISAR

Jumat, 30 Desember 2011

Bacaan : 1 Yohanes 3:11-18

3:11. Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi;

3:12 bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.

3:13 Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu.

3:14. Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.

3:15 Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.

3:16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

3:17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?

3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

KASIH PENGUIN KAISAR

Penguin kaisar bertelur satu butir setiap musim kawin. Si jantan bertugas mengerami telur itu dengan menjepitnya di antara kaki dan lipatan lemak di sekitar perutnya selama kira-kira 64 hari. Ia berada dalam kumpulan besar penguin jantan yang berdempetan saling menghangatkan di tengah musim dingin Antartika. Sementara itu, si betina kembali ke laut untuk mencari makan. Ia akan kembali ke sarang menjelang anaknya menetas. Apabila ia terlambat, si jantan dapat memberi makan anaknya dengan cadangan yang diambil dari saluran pencernaannya sampai selama sepuluh hari. Itu akan membuatnya kehilangan setengah bobot tubuhnya. Begitu si betina muncul, giliran si jantan pergi ke laut. Selanjutnya mereka bergantian mencari makan untuk membesarkan si kecil.

Kehidupan unggas kutub tersebut menggambarkan bahwa kasih itu bukan konsep atau kata-kata manis belaka. Kasih adalah kata kerja. Kasih sejati diungkapkan melalui tindakan yang mengutamakan kesejahteraan orang lain, bahkan apabila perlu dengan mengorbankan kepentingan pribadi. Sebagaimana Kristus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, kita pun diperintahkan untuk menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Actions speak louder than words (Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata). Kasih tidak cukup hanya dinyatakan dengan perkataan, tetapi mesti diwujudkan dalam perbuatan. Sejauh mana tindakan kita mengungkapkan kasih kita bagi saudara-saudara kita? Apakah kita secara bermurah hati menyerahkan nyawa kita waktu, tenaga, talenta, uang bagi saudara-saudara yang memerlukan pertolongan? –ARS

KASIH ADALAH MEMBERI DENGAN PENUH PENGORBANAN

TANPA SYARAT DAN TANPA PAMRIH

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

JERAT KEMISKINAN

Kamis, 8 Desember 2011

Bacaan : Imamat 25:35-43

25:35 “Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu.

25:36 Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.

25:37 Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba.

25:38 Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, untuk memberikan kepadamu tanah Kanaan, supaya Aku menjadi Allahmu.

25:39. Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia.

25:40 Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu.

25:41 Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya.

25:42 Karena mereka itu hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir, janganlah mereka itu dijual, secara orang menjual budak.

25:43 Janganlah engkau memerintah dia dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu.

 JERAT KEMISKINAN

Gokal ialah nama seorang petani miskin di India. Begitu miskinnya, sampai-sampai ia dan keluarganya tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan gizi minimal mereka sehari-hari. Akibatnya, tubuh mereka makin lama makin melemah dan malah tidak sanggup mengurus ladang mereka lagi. Kehidupan mereka pun tidak membaik, tetapi malah makin miskin. Gokal hanyalah satu dari jutaan orang di dunia ini, yang terjebak dalam jerat kemiskinan. Mereka sungguh-sungguh tidak mampu keluar dari situ, bahkan terjerat makin dalam tanpa harapan untuk bisa keluar dari sana.

Tuhan tahu beratnya jerat kemiskinan. Itu sebabnya Dia memberikan peraturan khusus mengenai hal ini kepada bangsa Israel. Bagian Alkitab yang kita baca hari ini adalah penggalan peraturan tersebut: Tuhan memerintahkan bangsa Israel merawat orang-orang miskin yang ada di antara mereka. Tidak hanya itu, Tuhan juga mengadakan tahun Yobel bagi Israel, untuk membuka peluang agar orang-orang miskin yang bekerja sebagai upahan, kelak dapat bebas dari jerat kemiskinan (ayat 40-41).

Saat ini, kita juga mengemban perintah untuk menolong orang-orang miskin di sekitar kita agar mereka keluar dari jerat kemiskinan. Kita dapat meneruskan pertolongan jangka pendek, yaitu mencukupkan kebutuhan sehari-hari mereka. Namun, kita juga perlu menyediakan pertolongan jangka panjang, yaitu menyelenggarakan pendidikan, pelatihan kerja, pendampingan usaha, dan sebagainya. Kita dapat melakukannya sendiri atau menyalurkannya melalui lembaga-lembaga yang dapat dipercaya. Lakukanlah dengan kasih kepada Allah, yang senang melihat kita peduli –ALS

BERBAGILAH DENGAN YANG KURANG AGAR KESAKSIAN ANAK TUHAN MAKIN BERKUMANDANG

Dikutip : www.sabda.org

Doa Puasa Raya Hari Ke-32 Jumat, 26 Agustus 2011

KASIH ITU PILIHAN PERTAMA & TERUTAMA

Galatia 5 : 14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini,

yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”

Kalau kita mengatakan mengasihi Tuhan, tetapi tidak mengasihi saudara-saudara kita maka sebenarnya kita belum mencapai tingkat mengasihi Allah.

Jadi kita harus tahu mana yang harus dikedepankan / diutamakan dalam

melakukan perintah firman Tuhan, yaitu : MENGASIHI ! Mengasihi adalah pilihan hidup orang percaya yang pertama dan terutama. Kasih bukan pilihan nomer paling belakang.

Sebab itu KASIH menjadi HUKUM yang TERUTAMA. Lakukanlah !!

Markus 12 : 30 – 31 – Hukum Kasih. –

KESEMPATAN & BUKTI NYATA

Yohanes 3 : 16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga

Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang

percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

– Kasih itu kesempatan untuk kita menerima dan memberi berkat dan

keselamatan Tuhan bagi semua orang. Kasih itu adalah Bukti Nyata yang

sudah Tuhan praktekan dan kita hanya meneladani Kasih-Nya .

– Kasih itu kesempatan bagi kita memperkokoh persekutuan FA, Kasih itu

Bukti bahwa kita adalah Tubuh Kristus yang Satu. Untuk itu marilah kita

melakukan Kasih dengan Nyata sebagai kesempatan dan bukti yang indah.

Roma 12 : 9 ; 13 : 10 – Kasih itu perbuatan !

I Korintus 13 : 1

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang

berkumandang dan canang yang gemerincing.

KASIH KARUNIA KEPUASAN

Yohanes 6:25

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka

berkata kepadaNya: Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?”

Dalam diri manusia ada lobang kekosongan, dan kekosongan ini tidak

dapat di isi dengan keluarga, kekayaan dan hanya dapat diisi dengan kehadiran

Allah supaya bisa dipuaskan yaitu Yesus sendiri (Filipi 4: 9-19).

Dan kepuasan bukan sesuatu yang instant tapi harus dipelajari.

Ada 3 cara pandang untuk belajar dipuaskan:

1. Belajarlah untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain (Filipi

4:11, Yohanes 4:13-14).

2. Belajarlah menyesuaikan diri terhadap perubahan (jangan takut pada

perubahan) Setiap orang akan mengalami perubahan secara physik

mental, kita menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Sekalipun

kita hadapi situasi yang buruk, tetap hadapi dengan Tuhan maka akan

mendatangankan kebaikan.

3. Belajarlah percaya kepada Tuhan dan FirmanNya (Filipi 4:13,19).

Menjadi pribadi-pribadi yang dipuaskan.

Mazmur 103: 5

Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu

menjadi baru seperti pada burung rajawali.”

BUTUH DUA ORANG

Rabu, 15 Juni 2011

Bacaan : Kejadian 13:1-9

13:1. Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia.

13:2 Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.

13:3 Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai,

13:4 ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN.

 

13:5. Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah.

13:6 Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.

13:7 Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu.

13:8 Maka berkatalah Abram kepada Lot: “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.

13:9 Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.”

 

BUTUH DUA ORANG

Selalu dibutuhkan dua orang untuk bertengkar”, demikian kata sebuah pepatah lama. Benar, ketika ada dua pihak yang sama-sama berniat memperebutkan “kemenangan pribadi”, maka pertengkaran pun “sukses” diciptakan. Padahal, jika salah seorang mau menyadarkan dirinya untuk berhenti memusatkan perhatian pada masalah dan mengarah pada pencarian solusi, maka pertengkaran takkan berpanjang umur. Sebuah fakta yang kerap “tertutupi” saat dua orang terlibat adu argumentasi atau perselisihan.

Para gembala ternak Abraham dan Lot juga pernah bertengkar dan berkelahi karena ladang dan air untuk menggembala tidak cukup bagi mereka (ayat 6, 7). Maka, masalah itu diteruskan kepada Lot dan Abraham. Sangat wajar jika kemudian mereka “meneruskan” pertengkaran tersebut, sebab masing-masing bisa merasa punya hak yang patut dipertahankan. Syukurlah, Abraham mampu mengendalikan dirinya dan melihat bahwa kekerabatannya dengan Lot-lah yang harus dipertahankan (ayat 8). Itu sebabnya ia memilih untuk segera menghentikan pertengkaran dengan cara mengalah.

Kita belajar dari Abraham bahwa saat hamba-hambanya bertengkar, Abraham tak berpikir pesimis, “Ah, mungkin hubunganku dengan Lot harus berakhir di sini.” Sebaliknya, ia melihat bahwa Lot tetaplah kerabatnya sampai kapan pun. Itu sebabnya ia menujukan pikirannya pada “apa yang bisa dilakukan supaya hubungannya dengan Lot tak sampai terputus”. Maka, keputusan dan tindakannya bukan lagi didasarkan pada emosi sesaat, melainkan pada kebijaksanaan yang bermanfaat. Kiranya Tuhan memberi kita hikmat seperti ini, ketika sebuah pertengkaran diperhadapkan pada kita –AW

KETIKA BERTENGKAR, JANGAN BERPIKIR

MENGAKHIRI HUBUNGAN

PIKIRKAN SEGALA CARA UNTUK

MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN

Dikutip : www.sabda.org

INDAHNYA PERSEKUTUAN

Kamis, 3 Maret 2011

Bacaan : Roma 12:9-17

9Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.

10Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

11Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

12Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

13Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

14Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

15Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

16Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! 1

7Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!

INDAHNYA PERSEKUTUAN

Seorang pemuda kehilangan sepeda motornya yang diparkir di halaman gereja. Ia sangat terpukul. Setelah dua belas bulan mengangsur dengan gaji pas-pasan, sepeda motornya raib! Para pemuda berdoa baginya. Lalu, sebuah pertanyaan muncul: “Mengapa hanya berdoa? Ti-dak bisakah kita berbuat sesuatu?” Tanpa sepengetahuan si pemuda, puluhan rekannya berusaha mengumpulkan uang. Ada yang menyisihkan penghasilannya setiap bulan. Ada yang berjualan kue. Setahun kemudian, mereka berhasil membeli sepeda motor baru dan diserahkan kepada si pemuda pada persekutuan malam Natal. Momen itu sangat indah. Penuh tawa dan air mata. Baik yang memberi maupun yang menerima, semua dilimpahi berkat Tuhan.

Tuhan sering membentuk kerohanian kita melalui persekutuan. Tak seorang pun bisa memiliki kerohanian yang dewasa semata dengan berdoa, berpuasa, atau mendalami Alkitab secara pribadi. Itu sebabnya, Rasul Paulus meminta jemaat untuk selalu terlibat dalam per-sekutuan. Dalam setiap persekutuan, ada bermacam-macam orang. Ada yang hatinya sedang sesak (ayat 12), hidup berkekurangan (ayat 13), berdukacita (ayat 15), bahkan mungkin ada yang jahat (ayat 17). Tidak mudah mengasihi dan memahami mereka. Konflik dan salah paham biasa terjadi. Namun, justru lewat semua itu kita belajar mengasihi dengan tulus. Belajar menangis dan tertawa bersama. Belajar sehati sepikir.

Tuhan membentuk kita lewat orang lain. Maka benamkanlah diri Anda dalam persekutuan. Di situlah Anda memiliki kesempatan untuk berlatih: Mewujudkan kasih dalam tindakan nyata! –JTI

PERSEKUTUAN BAGAIKAN GUNTING TAJAM

YANG TUHAN PAKAI UNTUK MEMANGKAS KEEGOISAN KITA

Sumber : www.sabda.org

TUTTI FRATELLI

 

Rabu, 24 November 2010

Bacaan : 1 Yohanes 3:14-18

14Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.

15Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.

16Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

17Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?

18Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

TUTTI FRATELLI

Konon yang menggerakkan Henry Dunant untuk mendirikan organisasi Palang Merah Internasional adalah suatu pertempuran di sebuah daerah bernama Solferino, Italia, pada 1859. Saat itu, jatuh 38.000 korban luka maupun meninggal dari kedua belah pihak. Namun, hampir tidak ada orang yang peduli. Karena itu, Dunant menggerakkan warga sekitar untuk merawat, tanpa memedulikan latar belakang korban, di pihak mana ia berada. Tutti fratelli (semua adalah saudara) merupakan slogan mereka hari itu.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita menemukan prinsip serupa dengan kisah di atas. Rasul Yohanes mengingatkan jemaat agar selalu berbuat baik kepada sesama-hidup tanpa membuat “kotak-kotak pemisah”. Berbuat baik dan mengasihi berarti juga belajar peka akan kebutuhan sesama kita; ketika sesama mengalami kekurangan, kita tidak menutup pintu hati kita (ayat 17). Jemaat, yang telah me-ngenal kasih Kristus serta menjalani hidup baru, dengan demikian diajak untuk mengasihi bukan hanya dengan perkataan atau sebatas lidah, melainkan juga dengan perbuatan nyata (ayat 18).

Dalam kitab-kitab Injil pun kita menemukan bahwa berkali-kali Tuhan Yesus mengajar kita-anak-anak-Nya-untuk mengasihi dan berbuat baik tanpa pilih-pilih. Bangsa Yahudi atau Samaria, kaya atau miskin, sahabat atau musuh. Perintah ini mengembalikan kita pada hakikat keberadaan manusia, yang sesungguhnya adalah saudara-bersaudara. Tak ada penghalang yang layak membatasi kita untuk tidak berbuat baik kepada sesama. Biarlah gereja Tuhan memulai lagi gerakan kasihnya. Sebab dari sikap hidup yang seperti itu pulalah Injil tersebarkan –ALS

SEBAB DUNIA INI ADALAH SATU KELUARGA

MAKA SETIAP ORANG HARUS SALING MENERIMA DENGAN KASIH

Sumber : www.sabda.org

INISIATIF UNTUK BERBUAT BAIK

Selasa. 23 November 2010

Bacaan : Yakobus 2:13-17

13Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.

14Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?

15Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,

16dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?

17Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

INISIATIF UNTUK BERBUAT BAIK

Berniat tidak menambah dosa pada masa tuanya, seorang kakek memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan dunia luar dan hanya berdiam diri di kamarnya. Hari-harinya diisi dengan memuji Tuhan dan membaca firman Tuhan. Ia hanya bisa menikmati dunia luar dari jendela kamarnya. Suatu hari, kakek itu melihat-dari jendela kamarnya-seorang anak kecil yang sedang menyeberang jalan tepat di depan rumahnya. Tiba-tiba beberapa anak berandalan datang menghampirinya dan merebut uang si anak kecil. Sayangnya, kakek ini tetap hanya melihat tanpa melakukan tindakan apa pun yang dapat menyelamatkan anak kecil itu.

Kadang kita menganggap bahwa saat kita tidak melakukan apa-apa, maka kita telah menghindar dari dosa. Yakobus menuliskan pentingnya perbuatan baik itu terwujud dalam perbuatan nyata, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (ayat 17). Yakobus bahkan mencontohkan orang yang berkata: “Selamat jalan, kenakanlah pakaian hangat dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (ayat 16). Jika kita tahu sebuah tindakan itu baik, tetapi tidak kita lakukan, itu sama artinya kita telah berdosa (Yakobus 4:17).

Kenyataannya, banyak orang melihat kejahatan atau hal-hal yang tidak baik di sekitarnya memilih untuk diam karena menghindari masalah yang lebih besar atau sekadar cari aman. Namun, apakah kita punya keberanian untuk berbuat yang seharusnya? Berdiam diri tidak berarti menghindari dosa. Sebaliknya, firman Tuhan mengatakan bahwa kita berdosa jika tidak melakukan apa-apa, padahal kita tahu bagaimana seharusnya berbuat baik –GK

SEGERALAH AMBIL BAGIAN UNTUK BERTINDAK

SAAT SEBUAH PERBUATAN BAIK TERBUKA UNTUK KITA LAKUKAN

Sumber : www.sabda.org