Berpikir Positif

21 November 2010

Edisi 153 Tahun 3

BERPIKIR POSITIF

Shallom…salam miracle…jemaat Tuhan di Gereja Bethany GTM yang diberkati Tuhan, suatu kali kami membahas dalam obrolan santai tentang krisis yang terjadi di Indonesia, Kebetulan ada seorang teman yang pandai berbahasa Cina, dan dia mengatakan bahwa kata Krisis adalah WEI JI. WEI artinya bahaya dan JI artinya kesempatan, dan dia menerangkan lebih jauh tentang kata itu, dan saya tangkap intinya adalah dalam setiap bahaya atau keadaan yang buruk selalu ada kesempatan untuk melakukan dan mendapatkan sesuatu yang baik.

 

Dalam 1 Samuel 17:32 menyatakan, berkatalah Daud kepada Saul: “Jangan seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud ketika melihat Goliat sang musuh yang gagah perkasa adalah musuh yang tentunya sangat sulit dirobohkan, hal itu juga dilihat oleh Raja Saul dan pasukan Israel. Daud mendengarkan tantangan dan ejekan yang juga di dengar oleh Raja Saul dan pasukan Israel. Daud berada di medan perang dimana Raja Saul dan pasukan Israel berada. Daud juga hidup pada tanggal, bulan dan tahun yang sama dengan Raja Saul dan pasukannya, tetapi sikap Daud dalam menanggapi situasi yang dilihat, didengar, dan dialami itu berbeda dari sikap Raja Saul dan pasukannya.Yang membedakannya adalah Raja Saul dan pasukannya berpikir negatif dan Daud berpikir positif.

 

Melanjutkan perbincangan dengan seorang yang berbahasa Mandarin di atas mengatakan bahwa ada pepatah Cina yang menyatakan lebih “LEBIH BAIK MENYALAKAN LILIN DARIPADA MENGUTUKI KEGELAPAN.” Orang yang berpikir negatif akan terus meratapi dan mengutuki kegelapan yang terjadi. Sementara orang yang berpikiran positif akan menyalakan lilin. Ketika PLN padam sekitar jam 7 malam, maka respon anak-anak berbeda, ada yang mengatakan “Wah dak bisa apa-apa nih, nonton tv, belajar pun jadi dak bisa.” tapi ada juga yang merespon “Asyik bisa melihat dengan jelas indahnya bulan di malam hari.”

 

Menanggapi sesuatu hal yang terjadi setiap orang mempunyai tanggapan atau respon yang berbeda-beda. Ada yang berpikir negatif dan ada yang berpikir positif. Orang yang berpikir negatif melihat masalah sebagai segala-galanya. Dia akan melihat bahwa masalah itu begitu besar dan menakutkan, tidak ada jalan keluar yang tampak. Orang ini akan berputar-putar di sekitar masalah tanpa berusaha memandang jalan keluar. Dia menjadi pesimis. Tuhan akan kelihatan sebagai sosok yang jauh yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalahnya. Masalah yang dihadapinya seolah-olah masalah yang paling besar dibandingkan dari persoalan-persoalan orang lain. Dalam menghadapi setiap hal, yang pertama muncul di depan matanya adalah kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan. Keluhan dan sungut-sungut mewarnai kehidupannya. Menyalahkan orang lain menjadi akibat yang timbul secara alamiah, karena dalam suatu masalah yang timbul, orang yang berpikir negatif jarang melihat dirinya dengan baik, baik itu potensi, kekuatan, kelemahan dan kekurangannya. Yang dilihat hanya orang lain dan karena sifatnya adalah negatif, orang lain selalu dijadikan sumber kesalahan dan dirinya yang benar. Orang itu sibuk mencari kambing hitam yang sebetulnya adalah dirinya sendiri. Dia sibuk berputar-putar di padang pasir tanpa menemukan genangan/ sumur air. Orang yang berpikir negatif sebetulnya orang yang sombong dengan tanpa disadarinya.

 

Orang yang berpikir positif juga seperti yang lain tetap memiliki masalah dan tantangan, namun orang yang demikian tidak terpaku kepada masalah yang dihadapinya. Dia memiliki pengharapan yang besar dan optimis. Cara pandangnya melihat bahwa Tuhan nampak jauh lebih besar daripada masalahnya. Dia melihat dan berpikir dengan jernih tentang jalan keluar dan peluang yang ada dalam krisis. Hatinya dipenuhi dengan puji-pujian dan sukacita. Berani membayar harga dan berkorban untuk membuat solusi yang mengubah keadaan ke arah yang lebih baik. Dia bisa tersenyum dengan kegagalannya karena bisa introspeksi dengan sehat dan jujur. Orang yang berpikiran positif tidak memiliki pembendaharaan kata “Tidak bisa” dalam menjalani kehidupan dan bersemangat. Orang yang berpikiran positif baru akan mengatakan demikian setelah berdoa dan Tuhan yang akan mengambil alih.

 

Optimis bukanlah kesombongan, tetapi rasa percaya diri yang shat. Dia tahu bahwa dia merupakan Problem Solver dan bukan sebagai Trouble maker. Dia akan selalu melihat berbagai jalan dan ribuan kemungkinan yang bisa didapat sebagai jalan keluar dari suatu masalah. Dia akan maju dan pantang menyerah menghadapi situasi apapun, bahkan ketika menghadapi kegagalan. Orang yang berpikir positif bukan hanya selalu melihat peluang dan kehidupan tetapi dia tidak menghitung berapa kali ia jatuh. Dia menghitung berapa kali dia bangkit dari kejatuhan itu. Itu sebabnya sejarah dunia dibuat oleh orang-orang yang berpikir positif.

 

Ketika Raja Saul dan pasukannya cemas dan ketakutan menghadapi Goliat, Daud berkata: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Daud bukan hanya melihat peluang kemenangan dengan optimis. Tetapi dia memberikan dirinya untuk maju. Dia tidak mengajukan kakaknya atau menasehati Raja Saul yang perkasa untuk berani maju menghadapi Goliat. Daud bukan hanya berbicara, tetapi integritasnya membawanya untuk membuktikan tindakan sesuai dengan ucapannya. Dia menawarkan solusi bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan segenap kehidupannya. Di atas awan masih ada awan, dan bagi Daud di atas Goliat masih ada Tuhan yang maha besar.

 

SELAMAT NATAL…KASIH ALLAH MEMENUHI KITA SEMUA…

TUHAN YESUS MEMBERKATI…

AMIEN

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Iklan

PAHLAWAN

Rabu, 10 November 2010

Bacaan : 2 Samuel 1:17-27

1:17. Daud menyanyikan nyanyian ratapan ini karena Saul dan Yonatan, anaknya,

1:18 dan ia memberi perintah untuk mengajarkan nyanyian ini kepada bani Yehuda; itu ada tertulis dalam Kitab Orang Jujur.

1:19 Kepermaianmu, hai Israel, mati terbunuh di bukit-bukitmu! Betapa gugur para pahlawan!

1:20 Janganlah kabarkan itu di Gat, janganlah beritakan itu di lorong-lorong Askelon, supaya jangan bersukacita anak-anak perempuan orang Filistin, supaya jangan beria-ria anak-anak perempuan orang-orang yang tidak bersunat!

1:21 Hai gunung-gunung di Gilboa! jangan ada embun, jangan ada hujan di atas kamu, hai padang-padang pembawa kematian! Sebab di sanalah perisai para pahlawan dilumuri, perisai Saul yang tidak diurapi dengan minyak.

1:22 Tanpa darah orang-orang yang mati terbunuh dan tanpa lemak para pahlawan panah Yonatan tidak pernah berpaling pulang, dan pedang Saul tidak kembali dengan hampa.

1:23 Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa.

1:24 Hai anak-anak perempuan Israel, menangislah karena Saul, yang mendandani kamu dengan pakaian mewah dari kain kirmizi, yang menyematkan perhiasan emas pada pakaianmu.

1:25 Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu.

1:26 Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan.

1:27 Betapa gugur para pahlawan dan musnah senjata-senjata perang!

PAHLAWAN

Di Alkitab ada catatan kontras tentang kematian dua tokoh dalam sejarah Israel. Yakni Yonatan, putra raja Saul, dan Yoram, putra raja Yosafat. Apa yang kontras? Yonatan, kematiannya ditangisi dan sosoknya dihormati sebagai pahlawan. Secara khusus bahkan Daud menciptakan nyanyian ratapan yang mengagungkan kepahlawanannya dan ayahnya, Saul. Ia wafat sebagai orang yang dicintai (ayat 23). Sebaliknya, mengenai Yoram, 2 Tawarikh 21:20 mencatat, “Ia meninggal dengan tidak dicintai orang.”

Mengapa kematian mereka begitu berbeda? Karena mereka menjalani hidup secara berbeda! Yonatan takut akan Tuhan, berjiwa kesatria, berbudi luhur, tahu membedakan benar dan salah, sahabat yang dapat diandalkan, dan prajurit pembela bangsa yang berani berkorban. Sebaliknya, Yoram adalah pewaris takhta yang keji, pembunuh berdarah dingin yang menumpas saudara-saudaranya sendiri, dan penyesat yang menjauhkan bangsanya dari Tuhan. Yonatan mencintai Tuhan, bangsa, keluarga, sahabatnya. Maka, ia meninggal sebagai sosok yang dicintai. Yoram tak mengenal cinta, hanya kebencian, kebengisan. Layak ia mati tanpa dikelilingi cinta.

Di bulan pahlawan ini sungguh pantas kita merenungkan tentang kepahlawanan. Kepahlawanan berbicara tentang kualitas luhur dari kehidupan seseorang. Dan, semua orang bisa menjadi pahlawan. Pahlawan bagi keluarganya. Bagi masyarakat sekitarnya. Bagi dunia profesinya. Bagi kekasihnya. Bagi anak didiknya. Bagi bayi yang diadopsinya. Bagi kaum miskin yang dibelanya. Tatkala ia menabur keharuman cinta, kelak ia akan menuai keharuman nama. Itulah pahlawan. Sudahkah hidup kita berkualitas? –PAD

SESEORANG AKAN MENINGGAL SEBAGAI PAHLAWAN

KETIKA IA MENJALANI HIDUP SECARA BERKUALITAS

Dikutip : www.sabda.org

KENA BATUNYA

Kamis, 24 Juni 2010

Bacaan : 2 Samuel 9

9:1. Berkatalah Daud: “Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.”

9:2 Adapun keluarga Saul mempunyai seorang hamba, yang bernama Ziba. Ia dipanggil menghadap Daud, lalu raja bertanya kepadanya: “Engkaukah Ziba?” Jawabnya: “Hamba tuanku.”

9:3 Kemudian berkatalah raja: “Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.” Lalu berkatalah Ziba kepada raja: “Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya.”

9:4 Tanya raja kepadanya: “Di manakah ia?” Jawab Ziba kepada raja: “Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar.”

9:5 Sesudah itu raja Daud menyuruh mengambil dia dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar.

9:6 Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: “Mefiboset!” Jawabnya: “Inilah hamba tuanku.”

9:7 Kemudian berkatalah Daud kepadanya: “Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.”

9:8 Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?”

9:9. Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: “Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu.

9:10 Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku.” Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba.

9:11 Berkatalah Ziba kepada raja: “Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya.” Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja.

9:12 Mefiboset mempunyai seorang anak laki-laki yang kecil, yang bernama Mikha. Semua orang yang diam di rumah Ziba adalah hamba-hamba Mefiboset.

9:13 Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.

KENA BATUNYA

Pengalaman buruk tertentu bisa membuat orang sentimen setengah mati kepada sesuatu atau seseorang. Sebagai contoh, karena pernah ditipu orang dari suku tertentu, seseorang menjadi benci pada semua orang dari suku itu; gusar pada segala hal yang berbau suku tersebut. Padahal itu penyamarataan yang keliru.

Dulu, ketika hendak menyerang Yerusalem, Daud pernah dihina orang Yebus, penduduk Yerusalem. Mereka menyebutnya pecundang; yang akan dikalahkan orang-orang buta dan timpang. Daud pun merasa harga dirinya diinjak-injak. Dan sejak itu, ia menjadi benci pada orang-orang timpang dan buta (2 Samuel 5:8). Namun, di kemudian hari Tuhan mengizinkan sesuatu yang aneh terjadi. Ketika ia bertekad memenuhi janji kepada sahabatnya Yonatan yang telah meninggal, yaitu menunjukkan kasih kepada keturunannya, dibawalah kepadanya anak Yonatan yang bernama Mefiboset yang timpang kakinya! Demi membuktikan tekadnya untuk mengasihi, setiap hari Daud makan semeja dengannya. Lantas kita katakan: Daud kena batunya.

Perasaan sentimen bisa jadi cukup akrab dengan kita. Padahal perasaan itu menghalangi kita untuk bersikap adil dan mengasihi. Sentimen membuat kita cenderung menyamaratakan; pukul rata saja. Akibatnya, mungkin ada pihak tak bersalah yang jadi sasaran. Belum lagi jika perasaan sentimen itu kita tularkan pada orang-orang di sekeliling kita. Semua jadi ikut curiga, takut, dan tendensius akibat sebuah sentimen pribadi.

Mari bersikap lebih jujur dan adil dengan belajar mengatasi sentimen pribadi. Tak perlu menunggu sampai Tuhan mengizinkan pengalaman serupa Daud terjadi pada kita, bukan? –PAD

KASIH KERAP KALI PERLU DITUNJUKKAN DENGAN BUKTI

KHUSUSNYA PADA ORANG YANG KITA KECUALIKAN

UNTUK DIKASIHI

Sumber : www.sabda.org

CERITA BERSAMBUNG

Rabu, 16 Juni 2010

Bacaan : 1 Samuel 18:6-9

18:6. Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing;

18:7 dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.”

18:8 Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.”

18:9 Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

CERITA BERSAMBUNG

Pada masa kanak-kanak, saya berlangganan majalah Bobo si kelinci. Salah satu komik serial di dalamnya berkisah tentang Juwita dan Si Sirik. Juwita adalah gadis jelita yang baik budi. Namun, ia selalu diganggu oleh Si Sirik, nenek penyihir yang usil dan ada saja ulah tingkah jahatnya. Saya heran, pengarang komik itu tak pernah kehabisan cerita. Selalu ada cerita baru. Mengapa? Karena ada karakter Si Sirik. Sirik artinya iri atau dengki. Iri hati memang selalu punya 1.001 alasan untuk memusuhi orang lain. Selalu punya cerita untuk menjatuhkan sesama.

Cerita tentang hubungan antara Saul dan Daud dalam Alkitab sudah bukan rahasia lagi. Semula berlangsung baik, tetapi sampai di titik tertentu, hubungan itu berubah menjadi buruk. Dan itu berlangsung seterusnya hingga kematian Saul. Menjadi penuh ketegangan. Diwarnai dengan kebencian, pengejaran, serta niat untuk membinasakan dari pihak Saul. Lewat segala cara dan siasat. Tiada henti-hentinya. Sejak kapan perubahan itu terjadi? Sejak Saul mulai mendengki kepada Daud (ayat 9). Kedengkian memang induk dari segala kebencian dan kejahatan.

Kedengkian kerap kali tanpa sadar membentuk cara kita berpikir dan bertindak. Halus tak kentara, tetapi selalu “bicara”. Iri hati sering merasuk ke dalam dan merusak persaudaraan. Lihatlah kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Juga balada Kain dan Habel. Termasuk juga dalam persaudaraan kristiani. Itulah sebabnya Yakobus memperingatkan dalam suratnya, “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (Yakobus 3:16). Jadi, waspadalah! –PAD

KEBENCIAN MENJADI KISAH BERSAMBUNG

YANG TIADA HENTI

KARENA DIJALIN OLEH BENANG MERAH IRI HATI

Sumber : www.sabda.org

PENAMPILAN FISIK

Selasa, 15 Desember 2009

Bacaan : 1Samuel 16:1-13

16:1. Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”

16:2 Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman TUHAN: “Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.

16:3 Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.”

16:4 Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?”

16:5 Jawabnya: “Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.” Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

16:6. Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.”

16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

16:8 Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

16:9 Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih TUHAN.”

16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.”

16:12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.”

16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

PENAMPILAN FISIK

Dr. Joyce Brothers, seorang psikolog terkenal di Amerika, diam-diam pernah melakukan observasi di sebuah Taman Kanak-kanak. Hasil observasinya menunjukkan bahwa para guru cenderung bersikap lebih baik dan lebih sabar kepada anak-anak yang secara fisik lucu, cakep, dan menarik. Begitu juga para murid, mereka lebih cenderung mendekati temannya yang secara lahiriah menarik. Sedangkan anak-anak yang tidak menarik, cenderung dijauhi. Bahkan, kerap dianggap sebagai pembawa masalah.

Begitulah umumnya orang, cenderung lebih terfokus pada tampilan lahiriah, mengukur sesama hanya dari sisi jasmaniah. Seperti juga Samuel ketika datang ke rumah Isai atas perintah Tuhan untuk mengurapi calon raja Israel pengganti Saul (ayat 1). Waktu melihat Eliab, salah seorang anak Isai, Samuel langsung terpikat dengan paras dan perawakannya yang tinggi (ayat 6,7). Akan tetapi, Tuhan tidak demikian. Penampilan jasmaniah, bukan itu yang Tuhan lihat. Firman-Nya, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (ayat 7).

Maka, kalau kita tidak memiliki penampilan lahiriah secakep atau semenarik orang lain, jangan kecil hati atau rendah diri. Sebab, Tuhan tidak melihat hal-hal lahiriah dari kita. Tuhan melihat hati. Sebaliknya, kalau kita dikaruniai penampilan fisik yang elok dan menawan, jangan sombong. Sebab, bukan itu ukuran kualitas atau nilai kita di hadapan Tuhan. Tuhan tidak akan memperlakukan kita secara istimewa hanya karena kita memiliki wajah rupawan dan tubuh atletis –AYA

KEINDAHAN BATINIAH JAUH LEBIH BERNILAI

DARIPADA KEINDAHAN JASMANIAH

Sumber : www.sabda.org

TERGESA MEMBAWA CELAKA

Jumat, 8 Mei 2009

Bacaan : 1Samuel 13:1-14

13:1. Saul berumur sekian tahun ketika ia menjadi raja; dua tahun ia memerintah atas Israel.

13:2 Saul memilih tiga ribu orang dari antara orang Israel; dua ribu orang ada bersama-sama dengan Saul di Mikhmas dan di pegunungan Betel, sedang seribu orang ada bersama-sama dengan Yonatan di Gibea Benyamin, tetapi selebihnya dari rakyat itu disuruhnya pulang, masing-masing ke kemahnya.

13:3 Yonatan memukul kalah pasukan pendudukan orang Filistin yang ada di Geba; dan hal itu terdengar oleh orang Filistin. Karena itu Saul menyuruh meniup sangkakala di seluruh negeri, sebab pikirnya: “Biarlah orang Ibrani mendengarnya.”

13:4 Demikianlah seluruh orang Israel mendengar kabar, bahwa Saul telah memukul kalah pasukan pendudukan orang Filistin dan dengan demikian orang Israel dibenci oleh orang Filistin. Kemudian dikerahkanlah rakyat itu untuk mengikuti Saul ke Gilgal.

13:5 Adapun orang Filistin telah berkumpul untuk berperang melawan orang Israel. Dengan tiga ribu kereta, enam ribu orang pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki sebanyak pasir di tepi laut mereka bergerak maju dan berkemah di Mikhmas, di sebelah timur Bet-Awen.

13:6 Ketika dilihat orang-orang Israel, bahwa mereka terjepit–sebab rakyat memang terdesak–maka larilah rakyat bersembunyi di gua, keluk batu, bukit batu, liang batu dan perigi;

13:7 malah ada orang Ibrani yang menyeberangi arungan sungai Yordan menuju tanah Gad dan Gilead, sedang Saul masih di Gilgal dan seluruh rakyat mengikutinya dengan gemetar.

13:8. Ia menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia.

13:9 Sebab itu Saul berkata: “Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.” Lalu ia mempersembahkan korban bakaran.

13:10 Baru saja ia habis mempersembahkan korban bakaran, maka tampaklah Samuel datang. Saul pergi menyongsongnya untuk memberi salam kepadanya.

13:11 Tetapi kata Samuel: “Apa yang telah kauperbuat?” Jawab Saul: “Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas,

13:12 maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran.”

13:13 Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.

13:14 Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”

TERGESA MEMBAWA CELAKA

Alkisah pada masa Dinasti Song ada seorang petani yang tidak sabar. Ia merasa padi di sawahnya tumbuh sangat lambat. Akhirnya ia berpikir, “Jika saya menarik-narik padi itu ke atas, bukankah saya membantunya bertumbuh lebih cepat?” Lalu ia menarik-narik semua padinya. Sampai di rumah, dengan bangga ia bercerita kepada istrinya bahwa ia baru saja membantu padinya bertumbuh lebih cepat. Keesokan harinya ia pergi ke sawah dengan bersemangat, tetapi betapa kecewanya ia ketika melihat bahwa semua padi yang kemarin ditariknya ke atas sudah mati. Karena tidak sabar, “usahanya untuk membantu” malah membuatnya rugi besar.

Demikian pula dengan Saul, raja Israel. Sebelum Saul maju berperang ke Gilead melawan bangsa Filistin, Samuel sudah berpesan bahwa ia akan datang kepada Saul untuk mempersembahkan korban. Samuel meminta Saul menunggu ia datang untuk memberi instruksi (1 Samuel 10:8). Namun, Saul tidak mengindahkan perintah Samuel maupun hukum Tuhan. Ia tidak sabar menunggu Samuel. Ia lebih takut ditinggalkan rakyatnya daripada takut kepada Tuhan. Ketidaksabarannya membawa dampak yang fatal, Tuhan menolaknya sebagai raja (ayat 14).

Dalam hidup ini, kita juga acap kali tidak sabar menunggu waktu Tuhan. Ketika pertolongan Tuhan rasanya tak kunjung tiba, jangan tergesa mengambil jalan. Bukannya menyelesaikan masalah, malah kerap mendatangkan masalah baru yang lebih besar! Akar ketidaksabaran adalah tidak percaya. Jika kita sungguh-sungguh percaya Allah lebih dari mampu menolong, kita akan menanti Dia dengan sabar –GS

DALAM HIDUP ORANG YANG SABAR

SELALU ADA BANYAK KESEMPATAN UNTUK ALLAH BERKARYA