DIHARGAI SIAPA?

Selasa, 29 Mei 2012

Bacaan : Matius 6:1-4

6:1. “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

 

DIHARGAI SIAPA?

Dokter Nathan Barlow memilih untuk melayani di Etiopia selama lebih dari enam puluh tahun. Ia mengabdikan hidupnya untuk menolong para penderita mossy foot di daerah bekas gunung berapi. Mereka mengalami pembengkakan dan borok di kaki dan paha bawah, dan mudah terserang berbagai infeksi. Seperti penyandang lepra, orang-orang ini terkucil dari pergaulan masyarakat. Nathan Barlow adalah orang pertama yang menolong mereka. Tidak banyak orang mengenal dokter ini. Ketika ia meninggal dunia, sedikit saja perhatian diberikan. Saya kagum membaca kisahnya. Minimnya penghargaan tidak membuat Dr. Barlow berhenti melayani.

Yesus mengritik mereka yang pamer kebaikan agar dikagumi orang (ayat 2). Pelayanan seharusnya ditujukan kepada Bapa surgawi yang memberi upah (ayat 1b, 4b). Sedekah tampaknya sebuah tindakan yang penuh kasih dan kepedulian, namun Tuhan tahu motivasi si pemberi sedekah yang tidak dilihat orang. Menurut Yesus, pelayanan tak perlu gembar-gembor. Meski tak ada yang menyaksikan, tetap dilakukan. Tuhanlah satu-satunya yang patut menjadi sorotan, diagungkan melalui pelayanan kita (lihat juga Matius 5:16).

Richard Foster dalam bukunya, Celebration of Discipline, membedakan antara pelayanan semu dan sejati. Pelayanan semu dilakukan melalui usaha manusia, menuntut pahala lahiriah, dan akan berhenti ketika tak ada lagi keuntungan yang dapat diperoleh. Pelayanan sejati bersumber dari Tuhan, mengutamakan perkenan- Nya, dan bertahan sebagai gaya hidup sehari-hari. Mari memeriksa pelayanan kita. Adakah kita benar-benar melakukannya bagi Tuhan? Akankah kita tetap setia meski tidak dihargai orang? –WIS

PELAYANAN SEJATI DIGERAKKAN OLEH KASIH KEPADA TUHAN.

PERKENAN-NYA CUKUP UNTUK MEMBUAT KITA BERTAHAN.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

HIDUP BUKAN SANDIWARA

Jumat, 26 November 2010

Bacaan : Matius 6:1-6

1″Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

2Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

3Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

4Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

5″Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

HIDUP BUKAN SANDIWARA

Ketika membaca koran-koran nasional, kita kerap menjumpai kisah-kisah bagaimana para politisi berusaha semaksimal mungkin membuat citra yang baik di mata masyarakat. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan biaya yang besar, terutama dalam masa kampanye, bahkan mengundang konsultan-konsultan asing untuk membuat pencitraan yang profesional. Tujuannya tentu saja untuk memberikan persepsi yang baik-baik tentang diri mereka kepada masyarakat, tetapi menyembunyikan atau menyamarkan semua hal yang buruk-buruk.

Demikian juga pada zaman Tuhan Yesus, orang Farisi dan ahli Taurat sangat mementingkan pencitraan mereka di mata masyarakat. Mereka menonjolkan kehidupan beragama mereka dan tidak segan-segan mempertontonkannya kepada publik. Mereka melakukan itu karena mereka membutuhkan status dan penghormatan dari masyarakat. Status mereka itulah yang juga memberi mereka kuasa untuk memanipulasi masyarakat.

Yesus tidak segan membongkar kemunafikan mereka dan mengingatkan bahwa sesungguhnya kita hanya butuh pencitraan di mata Tuhan, yang melihat segalanya. Apa pun yang kita lakukan adalah untuk Tuhan dan bukan untuk dipertontonkan kepada orang lain. Dengan demikian kita tidak akan kecewa, bahkan kalaupun perbuatan baik atau jerih pelayanan kita tidak dihargai atau dilihat orang lain.

Dulu, ada sebuah lagu yang kurang lebih berkata bahwa hidup ini hanya “panggung sandiwara”. Namun, tidak demikian untuk kita. Sebagai anak Tuhan, kita tak perlu membuat-buat pencitraan untuk memperoleh penghargaan manusia. Sebab penghargaan kita adalah dari Allah sendiri –HSL

HIDUP KITA BUKAN PANGGUNG SANDIWARA

DI MANA KITA BISA MENYEMBUNYIKAN HIDUP KITA YANG SEJUJURNYA

Sumber : www.sabda.org

MERUNTUHKAN BENTENG

Kamis, 3 Juni 2010

Bacaan : Kisah Para Rasul 10:25-36

10:25 Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus.

10:26 Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: “Bangunlah, aku hanya manusia saja.”

10:27 Dan sambil bercakap-cakap dengan dia, ia masuk dan mendapati banyak orang sedang berkumpul.

10:28 Ia berkata kepada mereka: “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.

10:29 Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan ketika aku dipanggil, lalu datang ke mari. Sekarang aku ingin tahu, apa sebabnya kamu memanggil aku.”

10:30 Jawab Kornelius: “Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan

10:31 dan ia berkata: Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan di hadapan-Nya.

10:32 Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus; ia sedang menumpang di rumah Simon, seorang penyamak kulit, yang tinggal di tepi laut.

10:33 Karena itu segera kusuruh orang kepadamu, dan dengan senang hati engkau telah datang. Sekarang kami semua sudah hadir di sini di hadapan Allah untuk mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadamu.”

10:34. Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.

10:35 Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.

10:36 Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.

MERUNTUHKAN BENTENG

Di Inggris pada abad ke-18, hanya wanita bangsawan yang dapat memakai gaun katun bercorak karena harganya mahal. Maka ketika itu, gaun katun corak menjadi simbol kekayaan. Akan tetapi, perubahan industri abad ke-19 mengubah segalanya: produksi katun corak yang lebih mudah membuat harganya sangat turun, sehingga wanita kaum pekerja pun kerap memakainya. Tidak terima dengan perkembangan ini, para wanita bangsawan lantas mengganti tren dengan kain putih polos. Demikianlah, saat sebuah “jembatan” nyaris tercipta, para wanita bangsawan itu malah lebih suka membuat “benteng”.

Bahkan, kita pun tak dapat memungkiri bahwa hingga sekarang, pembatas-pembatas di antara manusia masih ada_ada yang tampak, ada yang tidak, memisahkan antara “kita” dan “mereka”. Mungkin kita mengajarkan kasih Kristus kepada anak-anak, tetapi bisa jadi kita juga melarang mereka bergaul dengan orang yang tidak sederajat. Bahkan, mungkin ada orangtua yang “mengutip” secara tak lengkap ayat Alkitab dan mengatakan bahwa kita sebagai “terang” tak dapat bergaul dengan mereka yang “gelap”.

Pada zaman Petrus hidup, kaum Yahudi mewarisi budaya yang melarang keras pergaulan dengan kaum non-Yahudi. Namun, Tuhan meminta Petrus memenuhi undangan Kornelius, seorang perwira Romawi. Sebelum dipertemukan dengan Kornelius, Petrus mendapat penglihatan dari Allah bahwa karunia dan kasih Kristus terbuka juga bagi orang-orang dari segala latar belakang. Dan Kornelius pun menjadi pengikut Kristus.

Apabila Allah pun meruntuhkan “benteng” yang memisahkan, jangan kita malah membangunnya kembali. Saatnya membangun banyak “jembatan” yang mempersatukan –OLV

MARI BANGUN BANYAK JEMBATAN YANG MEMPERSATUKAN

SEBAB TUHAN RINDU SELURUH DUNIA DISELAMATKAN

Sumber : www.sabda.org

PAMERAN KEBAIKAN

Sabtu, 13 Juni 2009

Bacaan : Matius 6:1-6, 16-18

6:1. “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

 

6:5. “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

6:16. “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,

6:18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

 

PAMERAN KEBAIKAN

Seorang konglomerat meninggal dunia. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka. Dalam tempo yang singkat, tempat itu penuh dengan papan ucapan belasungkawa berhiaskan bunga-bunga. Dikirim dari berbagai perusahaan. Ucapannya seragam: “Segenap pemimpin dan karyawan PT X turut berdukacita …” Logo dan nama perusahaan ditulis besar-besar, untuk dipamerkan. Tuluskah ungkapan duka itu? Benarkah si pengirim turut berdukacita? Atau, ini hanya upaya marketing agar perusahaan mendapat nilai plus di mata keluarga yang berduka?

Banyak orang berbuat baik pada sesama, tetapi motifnya untuk kepentingan pribadi. Perbuatan baik itu dipamerkan untuk menarik simpati. Para pemimpin agama pada zaman Yesus suka melakukan hal-hal rohani di depan orang agar tampak suci. Mereka memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa bukan untuk memuliakan Tuhan, melainkan untuk mendapat pujian dan pengakuan. Mungkin saja pameran rohani ini sukses. Banyak orang terkesan. Namun, Tuhan sama sekali tidak terkesan! Baca lebih lanjut