TELADAN

Sabtu, 22 September 2012

Bacaan : Titus 2:1-10

2:1. Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat:

2:2 Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.

2:3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik

2:4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya,

2:5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.

2:6 Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal

2:7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,

2:8 sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.

2:9 Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah,

2:10 jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.

TELADAN

Saya mengenal seorang bapak yang sangat rajin mendorong anaknya datang beribadah di gereja. Setiap Minggu pagi ia akan membangunkan anaknya, membantunya bersiap-siap, lalu mengantarnya ke sekolah minggu. Namun, setelahnya, ia sendiri tidak mengikuti kebaktian dan pergi ke tempat lain. Entah bagaimana anak ini memahami makna ibadah di gereja dengan teladan bapaknya yang demikian. Tanpa pemahaman yang benar, kemungkinan ia akan meninggalkan gereja setelah bapaknya tiada.

Sikap yang demikian tidaklah disarankan Paulus kepada Titus, anak rohaninya yang sedang melayani di Kreta. Titus dinasihatkan agar menjadi seorang yang dapat diteladani. Ia harus lebih dulu melakukan apa yang baik ketika menasihatkan orang untuk menguasai diri dalam segala hal (ayat 6).

Titus diharapkan untuk setia memberitakan firman dengan benar (ayat 8) dan juga dapat menghidupi apa yang diajarkannya, sebab pemberitaan yang keliru dan kesaksian yang buruk dari umat Tuhan akan memberi celah bagi orang untuk tidak menghormati Tuhan (bandingkan ayat 5). Sebaliknya, teladan yang diberikan dengan penuh kerendahan hati membuat lawan tak bisa mencela dan Tuhan dipermuliakan (bandingkan ayat 10).

Sudahkah kita menjadi teladan dalam pelayanan kita? Apakah ucapan dan tindakan kita sudah selaras dalam kebenaran? Adakah hal-hal yang perlu kita perbaiki agar pelayanan tidak terhalang? Dalam keterbatasan kita, menjadi teladan pasti melibatkan banyak aspek hidup pribadi yang perlu dikoreksi. Namun, jika hal itu akan membuat Tuhan makin dihormati orang, bukankah kita akan bersukacita melakukannya? –SLI

SEBAGAIMANA YANG DILAKUKAN KRISTUS,

MENJADI TELADAN BERARTI MELAKUKAN LEBIH DULU.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

ELING

Selasa, 1 Juni 2010

Bacaan : Ulangan 26:1-11

26:1. “Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, dan engkau telah mendudukinya dan diam di sana,

26:2 maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana.

26:3 Dan sesampainya kepada imam yang ada pada waktu itu, haruslah engkau berkata kepadanya: Aku memberitahukan pada hari ini kepada TUHAN, Allahmu, bahwa aku telah masuk ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang kita untuk memberikannya kepada kita.

26:4 Maka imam harus menerima bakul itu dari tanganmu dan meletakkannya di depan mezbah TUHAN, Allahmu.

26:5 Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan TUHAN, Allahmu, demikian: Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya.

26:6 Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat,

26:7 maka kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami.

26:8 Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat.

26:9 Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

26:10 Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya TUHAN. Kemudian engkau harus meletakkannya di hadapan TUHAN, Allahmu; engkau harus sujud di hadapan TUHAN, Allahmu,

26:11 dan haruslah engkau, orang Lewi dan orang asing yang ada di tengah-tengahmu bersukaria karena segala yang baik yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu dan kepada seisi rumahmu.”

ELING

“Agama: eks kristen.” Saya kaget membaca informasi ini di akun Facebook mantan teman sekolah saya. Dulu ia termasuk rajin ke gereja. Tidak jelas apa yang terjadi atas dirinya dalam dua puluh tahun terakhir. Yang jelas kini ia telah menjadi orang berada. Memimpin perusahaan ternama. Kerja kerasnya mengumpulkan harta rupanya tidak dipandang sebagai berkat Tuhan, melainkan hasil usaha sendiri. Sayang! Ia kehilangan sikap eling. Sikap ingat asal-usul, sadar bahwa kita bisa menjadi seperti sekarang selamat, sukses, sehat karena campur tangan Tuhan.

Orang Israel punya cara unik untuk menjaga sikap eling. Setiap kali panen tiba, tiap keluarga harus menyisihkan hasil panen mereka untuk dipersembahkan. Sebelum diberikan, sang ayah harus memberi kesaksian tentang kebaikan Tuhan pada masa lalu, di depan imam dan keluarganya. Ia menceritakan bagaimana Tuhan telah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, menuntun di sepanjang jalan sampai tiba di Tanah Perjanjian. Ia harus menyatakan bahwa hasil panen yang ada di tangannya adalah bukti pemeliharaan Tuhan. Lalu persembahan diberikan dan semuanya sujud di hadapan Tuhan. Ritual ini menolong mereka untuk terus mengakui penyertaan Tuhan. Eling. Tidak takabur.

Supaya kita selalu eling, sering-seringlah bersaksi tentang kebaikan Tuhan. Anda baru sembuh dari sakit? Mendapat berkat? Mengalami pertolongan Tuhan? Jangan diam saja. Saksikan pada keluarga dan rekan. Katakan bahwa semua itu Anda alami karena kebaikan Tuhan. Niscaya Anda akan selalu eling. Dan, tidak pernah menjadi “eks kristen” –JTI

TUHAN MEMBERI ANDA HIDUP SELAMA 86.400 DETIK HARI INI

BERAPA YANG ANDA GUNAKAN UNTUK MENGINGAT KEBAIKAN-NYA?

Sumber : www.sabda.org

Hidup Sehat

fruit-1Kesehatan tidak bisa dipisahkan dari kesuksesan. Jika kita memiliki kesehatan yang prima, kita pun bisa bekerja dengan penuh semangat, penuh vitalitas dan konsentrasi penuh. Namun jika kita sakit-sakitan, sedikit banyak tentu hal tersebut berpengaruh terhadap pekerjaan ataupun kesuksesan kita. Saat saya sakit, saya juga tidak bisa berbuat banyak. Bukankah demikian juga halnya dengan Anda? Menurut sebuah penelitian, seberapa bagus tingkat kesehatan kita akan ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan kita. Itu sebabnya jika kita ingin memiliki kesehatan yang baik, kita harus mulai mengubah pola pikir, pola makan dan pola hidup kita. Itulah tiga hal yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan.

Satu, pola pikir. Apa yang kita pikirkan sangat berpengaruh terhadap kesehatan kita. Cara berpikir yang positif akan membuat tubuh kita jadi sehat, sebaliknya cara berpikir yang negatif akan membuat tubuh kita mengalami gangguan. Pikiran yang negatif akan membuat emosi kita menjadi terganggu dan keadaan emosi yang tidak stabil akan berdampak pada kesehatan tubuh kita.

Dua, pola makan. Dewasa ini orang sudah mulai sadar pentingnya pola makan. Orang sudah mulai menerapkan pola makan yang baik. Mereka sudah mulai memilih makanan yang sehat, seperti sayuran, buah, mengurangi makanan berlemak, zat makanan tambahan (pengawet, perasa, pemanis, dll). Mereka sadar bahwa dengan mengubah pola makan, maka kesehatannya akan terjaga.

Tiga, pola hidup. Pola hidup akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan kita. Jika pola hidup kita tidak sehat, seperti merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, kurang istirahat, terbiasa untuk begadang sampai tengah malam, maka kesehatan kita pasti akan terganggu. Seperti halnya mesin, jika kita merawat tubuh dengan baik dan teratur, maka pekerjaan yang kita hasilkan juga akan baik. Sebaliknya jika tubuh kita terlalu dipaksa terus menerus untuk kebiasaan buruk, maka tubuh kita juga cepat rusak.

Kebiasaan hidup akan mempengaruhi kesehatan. Kesehatan akan mempengaruhi kesuksesan.

Bacaan: Lukas 11:33-36
Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.– Amsal 11:17